HALAMAN PUTIH

Media Informasi Dan Berbagi Cerita

Kemuliaan Manusia 9 September 2008

Filed under: Mutiara Kehidupan — Muhammad Mufti @ 19:46

Manusia adalah makhluk paling mulia yang diciptakan Allah SWT di muka bumi. Kemuliaannya mengalahkan semua jenis makhluk termasuk malaikat. Sehingga ketika para malaikat diperintahkan untuk bersujud sebagai tanda hormat kepada Adam, mereka segera melaksanakan perintah Allah tanpa bertanya lagi.

Kemuliaan manusia tak hanya dapat dilihat dari segi fisiknya saja. Namun juga dari akal yang dianugerahkan Allah di dalam dirinya. Dengan akalnya manusia bisa mengetahui mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah. Dengan akal ini pula Adam mampu belajar dan menyebutkan segala jenis benda yang diciptakan oleh Allah.

Tak salah kiranya jika Allah menjadikan manusia sebagai khalifah untuk mengelola bumi. Di bumi, manusia boleh memilih berbagai keperluan untuk kelangsungan hidupnya. Makanan, pakaian, tempat tinggal dan berbagai macam asesoris boleh ia pilih untuk menghiasi kehidupannya. Tak ada manusia mau makan barang kotor, misalnya dari tempat sampah atau got pembuangan air. Apalagi kotoran, bangkai dan yang semacamnya.

Hal ini berbeda dengan makhluk yang namanya binatang atau tumbuhan. Dari sononya binatang memang tak memiliki akal sehingga berkelana kemana saja tanpa pakaian pun tak ada yang risih melihatnya. Demikian pula dengan tempat tinggalnya yang tak menentu. Bisa berpindah-pindah, tergantung keadaan lingkungan sekitarnya. Kalau ada binatang yang memakai pakaian layaknya manusia, berarti itu binatang sirkus yang sengaja dijadikan tontonan bagi manusia.

Pada satu sisi, kemuliaan manusia akan tetap melekat pada dirinya manakala ia mampu menempatkan diri dengan sebaik-baiknya. Berlandaskan agama dan ketaqwaannya kepada Allah, kemuliaan manusia tak akan berkurang, meskipun di dunia ia tak memiliki apa-apa. Kekayaan, kedudukan, uang, jabatan ataupun gengsi tak akan mempengaruhi kemuliaan manusia, selama ia tetap berpegang teguh pada norma-norma agama.

Kadangkala banyak orang merasa gengsi jika ia tak mempunyai jabatan atau kedudukan tertentu di masyarakat. Banyak pula yang merasa rendah karena hidupnya miskin, tak punya harta atau rumah yang mewah. Padahal kemuliaan seseorang tidak ditentukan atas dasar yang demikian itu. Sesungguhnya kemuliaan seseorang di sisi Allah adalah taqwa.

Di sisi lain, derajat manusia bisa merosot ke tingkat paling rendah bahkan lebih rendah dan hina daripada hewan. Hal ini dapat terjadi, karena manusia itu sendiri tak mampu menempatkan sifat kemanusiaannya pada tempat yang baik. Untuk itulah agama diperlukan agar manusia mampu menempatkan nilai-nilai kemanusiaannya pada jalur yang benar dan diridhoi Allah SWT.

Dapat kita bayangkan manakala manusia berlaku seperti binatang. Serakah, mau menang sendiri, membunuh seenaknya, memperkosa, mengambil yang bukan haknya, hingga perilaku yang dapat dikategorikan sebagai perilaku binatang seperti telanjang di depan umum dan disaksikan oleh orang banyak. Sering yang semacam ini dijumpai dalam kehidupan kita dan sudah menjadi hal yang biasa.

Apa bedanya orang kaya, pejabat atau konglomerat yang tinggal di rumah mewah dengan fasilitas lengkap dengan orang miskin di gubuk reyot dan tak punya apa-apa?

Kalau dilihat dari segi materi jelas sangat berbeda, namun dari sisi kemuliaan sebagai manusia belum tentu si kaya lebih mulia dari si miskin. Karena di sisi Allah nilai kemuliaan memang bukan ditentukan dari materi atau status.

Suatu contoh kecil, siapa pun pasti akan mau kalau diberi uang Rp. 100 ribu meskipun penampilan fisik uang tersebut kumal, lecek, bau dan tidak menunjukkan uang baru dicetak atau keluar dari bank. Sobek pun masih ada yang mau karena bisa ditukar di bank. Tapi mengapa dengan penampilannya yang bau, kumal dan lecek itu orang masih ingin memilikinya? Tak lain ialah karena nilainya yang memang seratus ribu itu. Apapun kondisi yang ada pada uang tersebut tak berpengaruh padanya, nilainya tetaplah 100 ribu.

Dalam kehidupan ini banyak yang merasa risih melihat orang berpakaian kumal, lepek dan bau karena keadaannya yang miskin. Namun siapa tahu dibalik keadaannya yang demikian itu nilai ketaqwaannya kepada Allah justru melebihi mereka yang berstatus sebagai pejabat maupun orang terpandang lainnya. Sama seperti uang yang 100 ribu tadi. Orang hanya tertipu oleh penampilan fisik belaka.

Apa gunanya kaya kalau jauh dari Tuhan dan lepas dari agama. Coba kita saksikan, para petinggi di sana yang terbukti melakukan korupsi, pasti statusnya tak berbeda dengan maling ayam yang tertangkap. Jika para petinggi keadilan benar-benar mau berbuat adil, tentu mereka tak akan dipandang sebagai pejabat atau orang kaya. Sayangnya, petinggi keadilan pun ada yang rela disogok sehingga saat perbuatannya ketahuan dan terbukti statusnya menjadi sama. Koruptor dan maling ayam nilainya sama saja. Sama-sama pencuri yang merugikan, yang beda hanya pada status diri dan hasil curiannya.

Karena itulah, agama yang dilandasi dengan keimanan dan taqwa akan dapat menjaga nilai kemanusiaan yang kita miliki. Semakin dekat diri kita dengan Tuhan, maka kita pun akan semakin punya nilai. Sebaliknya jika kita sudah jauh dari agama dan melupakan Tuhan, bisa jadi wujud kita adalah manusia namun nilai kita sebagai manusia sudah semakin menipis, pupus bahkan hilang sama sekali.

Kemuliaan manusia bukan dari apa yang dimiliki di dunia namun dari apa yang diperbuatnya bagi kehidupan di dunia maupun di akhirat sebagaimana yang disebut dalam Al Qur’an :

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia ke dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali orang yang beriman dan mengerjakan¬† amal shaleh maka bagi mereka pahala yang tiada putus.” (QS. At Tiin :4-6)

About these ads
 

8 Responses to “Kemuliaan Manusia”

  1. Endang Says:

    Tapi penampilan memang perlulah, mas…..kalo perbandingannya kumal kusam bin lecek banget dengan rapi jali, ya kurang pas menurut saya….tidak ada orang yg keningnya tidak berkerut melihat orang kumal masuk gedung kantoran…..Hanya saja, soal ibadah memang tidak bisa diukur dari penampilan.

    *Itu sekedar perbandingan yang ekstrim untuk urusan di dunia. Tentunya mereka yang ada urusan di kantoran pasti juga akan menjaga penampilan mereka.

  2. Anang Says:

    dont judge the book by its cover kadang ada benernya juga ya pak….

    *Seperti pohon jambu biji di depan rumah saya mas. Buahnya sekilas bagus dan mulus, setelah dibuka isinya ancur lebur, busuk dan berulat.

  3. masciput Says:

    setuju sama mas anang

  4. @mas anang
    setuju…

    Tapi manusia bisa jadi lebih buruk dari binatang,manakala ke imanan dan ketakwaan mulai hilang, hati hati nurani tak ada, bertindak di kendalikan nafsu saja..

    *itu yang banyak terjadi jaman sekarang

  5. Eucalyptus Says:

    Karena akal manusia bisa menjadi mulia, karena akal pula manusia bisa berbuat hina, bahkan lebih hina daripada makhluk Tuhan yang tak berakal.
    BTW makasih ya ucapan selamatnya. Amin…

    *beruntunglah mereka yang menjadi mulia karena akalnya

  6. edratna Says:

    Jika semua menyadari bahwa dihadapan Tuhan yang dilihat adalah amalnya, maka orang tak perlu serakah…..dan memikirkan harta terus menerus.

    Namun harta yang cukup juga perlu, agar paling tidak perut terisi dan pakaian bersih, karena ini juga penting untuk bisa berpikir jernih.

    *Harta memang bukan segalanya, namun harta juga diperlukan karena fakir itu sangat dekat dengan kekufuran.

  7. tutinonka Says:

    Soal kekumalan, sebenarnya itu bertentangan dengan iman sendiri. Kalau tidak salah ada hadits (?) yang mengatakan: kebersihan adalah sebagian dari iman. Jadi, janganlah menjadi umat muslim yang dekil dan tidak menjaga kebersihan diri. Nabi SAW sendiri adalah orang yang menyukai kebersihan dan wangi-wangian.

    Setuju dengan Mbak Edratna. Iman memang nomor satu, tapi kecukupan materi juga sangat perlu. Dengan kecukupan materi, kita bisa memberi, bukan meminta. Semangat ini seharusnya dipupuk dalam kerangka semangat bekerja, bukan hanya berdoa saja tapi tidak berbuat apa-apa.

    Mohon maaf jika ada yang tidak tepat dalam tulisan saya …

    *Betul, kebersihan adalah sebagian dari iman. Tapi kita juga perlu melihat kenyataan yang ada, karena ternyata masih banyak orang fakir di sekitar kita yang tak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya walaupun ibadahnya mantap. Kumal memang identik dengan kefakiran. Namun jika sekiranya UUD 45 pasal 34 itu benar-benar diwujudkan di negara ini, mungkin itu sedikit banyak bisa membantu. Ditambah dengan tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Oleh karena itulah Nabi memerintahkan mengumpulkan zakat dari mereka yang memiliki kelebihan harta.

  8. Elys Welt Says:

    bagaimana pendapat para koruptor mbaca postingan ini ?

    *mari kita tanyakan ke koruptor


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s