Ritual Dan Tradisi Di Bulan Sura

Beberapa waktu yang lampau tulisan ini pernah tampil di blog saya yang sampai sekarang masih terkunci rapat. Diantara pembaca mungkin ada yang sudah pernah mengikutinya waktu itu. Kini saya posting kembali sekedar untuk mengajak pembaca baru menikmati tahun baru Jawa dengan berbagai ritualnya itu.

Tahun baru Hijriyah 1 Muharam bertepatan dengan tahun baru Jawa 1 Sura. Hal ini bisa terjadi karena tahun Jawa adalah kalender yang diciptakan oleh Sultan Agung adalah hasil adaptasi dengan kalender Hijriyah, sedangkan tahunnya meneruskan tahun saka. Jadi sampai kapanpun tahun baru Hijriyah dan tahun baru Jawa besar kemungkinan akan terus terjadi secara bersamaan waktunya.

Pergantian tahun bagi masyarakat Jawa, terutama penganut paham kejawen tidak identik dengan keramaian. Berbeda dengan pergantian tahun lainnya, maka malam 1 Sura ini justru diperingati secara tenang dan hening. Tidak nampak acara-acara atau pesta peringatan yang sifatnya hura-hura. Meskipun demikian aktivitas masyarakat yang berpaham kejawen bukannya tidak ada. Ternyata, banyak yang melewatkan malam pergantian tahun dengan laku tirakat atau ritual tertentu. Aktivitas ini tidak hanya dilakukan oleh penganut paham kejawen saja. Tak sedikit masyarakat umum yang mengikuti tirakat pada malam 1 Sura dengan laku yang berbeda. Demikian juga dengan tujuan, tempat maupun kepentingannya.

Di Jogja dan sekitarnya, laku tirakat yang sering dilakukan masyarakat paling banyak adalah mendatangi Gunung Merapi dan pantai selatan, yaitu Pantai Parangkusumo. Ini berkaitan erat dengan penguasa pantai selatan yang dikenal sebagai Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul.

Selain di pantai selatan, ada yang melakukan kungkum (berendam) semalam suntuk di sungai besar atau di muaranya. Terutama Kali Opak, sungai yang alirannya langsung menuju pantai selatan sering di datangi orang. Namun ada juga yang bertapa di goa-goa, di hutan atau tempat lain yang dianggap sakral. Bahkan ada yang melakukan ritual mandi setahun sekali yang pelaksanaannya bertepatan dengan tanggal 1 Sura bagi orang tertentu.

Sementara itu di malam 1 Sura orang pada mubeng benteng, yaitu berjalan mengelilingi benteng kraton dengan ritual tapa bisu atau tidak berbicara sedikitpun sampai ritual selesai. Ritual lainnya adalah puasa ngebleng tanpa makan dan minum selama 40 hari sejak tanggal 1 Sura. Memang, bervariasi orang melaksanakan ritual dengan cara dan kebiasaan masing-masing.

Di samping ritual yang dilakukan oleh masyarakat, Kraton Jogja, Surakarta dan beberapa kraton lainnya menggelar upacara jamasan pusaka, seperti kereta, keris, tombak dan pusaka-pusaka lain. Jamasan atau memandikan pusaka kraton ini pasti didatangi oleh banyak orang. Tujuannya adalah mengambil sisa air yang digunaan untuk jamasan yang diyakini akan mendatangkan berkah.

Di makam raja-raja Mataram Imogiri ada tradisi menguras enceh (gentong) pusaka yang terletak di depan makam. Airnya habis diperebutkan oleh orang banyak yang juga diyakini mampu mendatangkan berkah bagi yang mendapatkannya. Sisa air ini kemudian digunakan untuk berbagai keperluan. Misalnya digunakan untuk mandi, dibuang ke sawah dan lain-lain sampai ada yang diminum segala.

Di bulan Sura ini pula jarang orang berani menyelenggarakan hajat besar seperti perkawinan misalnya. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, bulan Sura adalah bulan yang tidak baik untuk melangsungkan hajat apapun. Wajar saja kiranya karena sebagian besar masyarakat Jawa menganggap bahwa bulan Sura adalah bulan yang sangat sakral. Takut terjadi kenapa-napa kalau nekat menggelar hajat. Bagi yang meyakininya, adalah jauh lebih penting ngalap berkah ke kraton atau tempat lain yang mengelar upacara. Tradisi yang sudah berjalan dari waktu ke waktu sejak jaman Mataram Islam dulu. Sedangkan hajat pribadi bisa dilangsungkan di luar bulan Sura.

Jika tahun baru Masehi atau Imlek disambut dengan perayaan atau keramaian yang terkesan penuh dengan hura-hura, beda sekali dengan tahun Jawa. Kesan yang muncul adalah penuh dengan nuansa spiritual, magis, hening dan tenang.

About these ads

5 comments on “Ritual Dan Tradisi Di Bulan Sura

  1. kdg2 ritual2 atau tradisi2 budaya itu sebenarnya hanya simbol atau perumpamaan, tp malah ditelan mentah2 oleh kebanyakan orang.

    — —
    *ya, banyak hal yang sebenarnya bisa ditafsirkan secara rinci

  2. kungkum semalam apa ndak katisen ya mas :) …. cara orang memang berbeda2 dlm menyambut datangnya thn baru baik tahun baru Islam maupun Masehi ya mas

    — —
    *namanya juga laku ritual mbak, tentu mereka sanggup katisen

  3. Sepasang angsa putih yang sempat “dijepret” mbak Ely apa ada hubungannya dengan ritual tahun baru 1 Sura? Nglantur…….

    — —
    *he… he… mungkin saja mbah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s