HALAMAN PUTIH

Media Informasi Dan Berbagi Cerita

Untuk Indonesia Raya 17 Agustus 2011

Artikel ini hanya sekedar ungkapan isi hati saja mengenai kondisi negeri kita tercinta dan berbagai masalah yang sedang dihadapinya. Bukan kecaman atau hujatan, namun semata-mata untuk mengingatkan diri kita semua bahwa kita adalah bangsa yang besar. Bangsa yang merdeka karena berjuang dan bersatu dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan itu serta berpartisipasi aktif mengisi kemerdekaan sehingga apa yang menjadi tujuan negara seperti yang tercakup dalam pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 dapat tercapai

Menurut Pak Koesbini, lagu kebangsaan Indonesia Raya merupakan lagu yang paling megah. Memang betul, megah irama musiknya, megah pula syair lagunya. Terlebih jika sudah dinyanyikan secara formal dalam suatu upacara resmi kenegaraan. Seluruh badan ini mungkin akan bergetar mendengar dan merasakan kebesaran lagu kebangsaan kita. Coba, tanyakan pada saudara-saudara kita yang berada di luar negeri sana. Pasti mereka akan mengalami perasaan yang sama. Termasuk di pesta olahraga atau pertandingan internasional yang membawa nama Indonesia.

Semua itu bisa dirasakan hanya oleh Bangsa Indonesia. Meskipun kita hidup di negeri orang dan telah berpindah kewarganegaan, kalau masih merasa sebagai Bangsa Indonesia – sekali lagi Bangsa Indonesia – pastilah akan tergetar hatinya, perasaannya bahkan seluruh tubuh dan jiwanya kalau Indonesia Raya diperdengarkan. Hanya mereka yang bukan Bangsa Indonesia saja yang cuek.

Pada kenyataannya kini, tak sedikit mereka yang cuek dengan lagu Indonesia Raya. Mereka lahir dan hidup di bumi Indonesia, mereka mengaku Bangsa Indonesia, mereka mencari makan di Indonesia tetapi rasa kebangsaannya telah luntur. Lagu Indonesia Raya hanya dianggap sebagai lagu biasa, tak ada istimewanya sama sekali. Mereka terkesan dingin ketika lagu Indonesia Raya diperdengarkan. Bahkan di kampung-kampung hampir tak lagi kita jumpai upacara memperingati Hari Ulang Tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Upacara lebih sering dijumpai pada sekolah-sekolah, instansi pendidikan, dan kantor pemerintah.

Dulu, ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya pada upacara peringatan HUT RI terdengar, orang-orang yang melewati tempat upacara langsung berhenti sejenak sampai lagu Indonesia Raya selesai. Sekarang…??? Ini bukan mengkultuskan, tapi sekedar sebagai penghormatan saja terhadap lagu kebangsaan.

Saya menilai bahwa hasil temuan Roy Suryo tentang lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza beberapa waktu yang lalu sebenarnya hanyalah mengingatkan kepada kita sebagai Bangsa Indonesia. Kita patut mempertanyakan pada diri kita masing-masing apakah rasa kebangsaan masih kita miliki. Apakah cita-cita Sumpah pemuda 1928 masih melekat pada diri kita.

Dalam syair Indonesia Raya sendiri sebenarnya telah disebutkan bahwa kita berdiri dan hidup di Indonesia adalah sebagai pandu ibu pertiwi atau tanah air tumpah darah kita. Tetapi cukupkah kita hanya berdiri sebagai pandu saja?

Tidak, masih ada terusannya. Marilah kita berseru Indonesia bersatu. Apakah sekarang kita bersatu? Antar etnis saling menyerang, sesama rakyat saling berbaku hantam, perpecahan terjadi di berbagai daerah. Antar pertai politik saling menjatuhkan. Pemerintah dan rakyat tidak akur dan masih banyak lagi. Padahal dengan bersatu dalam ketenangan segala urusan akan menjadi mudah diselesaikan.

Mana tugas kita sebagai penjaga ibu sejati? Nyatanya, satu persatu wilayah kita ada yang lepas. Dimulai dari Propinsi Timor-timur, sekarang sudah menjadi negara sendiri dan Bangsa Indonesia dianggap sebagai penjajah negeri itu. Lalu, Pulau Sipadan dan Ligitan masuk ke wilayah negera lain. Entah mana lagi nanti. Tapi kita berharap hal itu tak akan terjadi lagi. Bersatu bukan hanya rakyatnya, namun juga wilayahnya dengan seluruh budaya dan tradisi yang ada di dalamnya harus tetap dijaga kesatuannya dalam bingkai NKRI.

Juga disebutkan dalam syair, Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya. Apa yang sudah kita bangun? Badan kita, fisik rakyat yang kuat? Kemiskinan masih banyak, pengangguran ribuan, untuk makan saja harga kebutuhan pokok mahal dan semakin melambung tinggi, sedangkan rakyat tidak semuanya mampu mendapatkan itu. Dari mana mereka akan membangun badan yang sehat dan kuat, kalau gizi saja tidak tercukupi karena tekanan ekonomi. Pembangunan di berbagai daerah juga kurang merata karena hanya terpaku di Pulau Jawa. Ini yang menyebabkan beberapa daerah bergejolak dan ingin memisahkan diri dari Indonesia.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk membangun jiwa agar rasa kebangsaan menjadi semakin tebal kalau generasi mudanya rusak. Narkoba, miras dan penyakit masyarakat yang lain justru menyerang generasi penerus bangsa ini. Operasi miras memang dilakukan, tapi pabrik pembuatnya jalan terus. Pecandu narkoba kelas teri ditangkap dan dihukum, tapi bandar kelas kakap tetap bebas berkeliaran. Di samping itu banyak generasi muda yang sudah terpengaruh oleh budaya barat. Bagaimana bisa membangun jiwa? Sedangkan ajaran agama tidak akrab lagi dalam kehidupan yang modern ini.

Indonesia adalah tanah yang subur. Apa pun bisa diupayakan untuk kesejahteraan rakyatnya yang bisa didapat dari darat seperti hutan, perkebunan, ladang dan barang tambang. Begitu pula dengan hasil lautnya, Indonesia tidak kalah dengan Jepang maupun negara kepulauan lainnya. Pantaslah kalau Koes Plus bilang, Bukan lautan hanya kolam susu, Kail dan jala cukup menghidupimu, Tiada badai tiada topan kau temui Ikan dan udang menghampiri dirimu. Bahkan tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman. Sungguh nikmat sekali bukan?

Tapi, mengapa semua itu tidak mampu membuat rakyat sejahtera. Mengapa tidak semua rakyat bisa menikmati hasilnya? Kemana sajakah larinya hasil dari semua itu selama ini? Korupsi semakin meraja lela dan tak terkendali. Berbagai kasus korupsi yang ketahuan pun banyak yang tak selesai perkaranya. Bahkan, konon penjahat korupsi justru tetap merasa senang dan tenang menikmati hasil jarahannya itu. Sungguh ironis, melihat kenyataan yang ada.

Kalau kita mengatakan bahwa kita ini sudah merdeka, harusnya kita perlu menanyakan lebih jauh merdeka dari apa. Kalau merdeka secara fisik dari penjajahan, memang iya. Tetapi dari segi ekonomi, sosial budaya, apalagi teknologi ternyata masih jauh.

Di negeri ini produk luar negeri membanjiri pasar dan supermarket. Contohnya aja fast food, lebih terkenal daripada produk lokal sejenis. Begitu pula dalam hal budaya, generasi muda lebih tertarik untuk bergaya hidup bebas ala barat. Mode pakaian, rokok, sepeda motor, mobil, rumah dan sebagainya dipenuhi oleh buatan luar negeri. Padahal kualitas produk kita belum tentu kalah dengan buatan luar negeri. Dan pasar tradisional pun makin terpuruk dengan bermunculannya mini market, supermarket maupun swalayan dengan sistem waralaba.

Coba tanya, banggakah kita menggunakan produk lokal?

Hanya kesadaran kita sebagai bangsalah yang mampu mempertebal rasa kebangsaan Indonesia itu sendiri. Kalau bukan kita, lantas siapa lagi. Pemerintah, aparat, generasi tua maupun generasi muda dan seluruh lapisan masyarakat harus menyadari bahwa kita adalah pandu negeri. Pandu yang mestinya mampu mempersatukan seluruh elemen bangsa, agar amanat Sumpah Pemuda dengan bangunlah jiwanya bangunlah badannya dapat tercapai untuk kesejahteraan rakyat. Untuk Indonesia Raya.

Satu lagi yang menjadi catatan saya, betapa menyedihkannya kalau arsip-arsip penting seperti dokumen rekaman lagu Indonesia Raya asli dan yang lainnya tidak kita miliki. Negara lain saja memilikinya, mengapa kita justru tidak? Bagaimanapun juga, arsip penting menyangkut segala sesuatu tentang Indonesia di masa lalu adalah sangat berharga. Sebab itu merupakan sebuah dokumen penting, sebagai catatan sejarah yang akan sangat berguna bagi perjalanan hidup Bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Seharusnya semua itu kita miliki dan ada di negeri kita tercinta.

Merupakan tugas pemerintah dan kita semua dalam hal ini untuk bisa mendapatkan kembali catatan sejarah Bangsa Indonesia yang berada di negeri orang. Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai semangat dan jasa para pahlawannya.