Mengapa Bayi Lucu Dan Menggemaskan?

Bayi adalah makhluk yang sangat dinantikan kehadirannya. Setiap pasangan menikah selalu berharap bisa mendapat anugerah bayi atau anak dari pernikahannya. Beruntunglah para pasangan muda yang cepat dan mudah dikaruniai bayi oleh Yang Maha Kuasa. Bagi pasangan yang usia perkawinannya sudah lebih dari satu tahun namun belum memperoleh keturunan pasti sangat sedih karenanya. Lantas berbagai cara ditempuh hanya untuk bisa mendapatkan bayi sebagaimana pasangan lain yang sudah lebih dahulu mendapatkannya.

Kelahiran seorang bayi membawa kebahagiaan dan keberkahan tersendiri bagi kedua orang tuanya dan juga kerabat lainnya. Coba aja bayangkan kalau yang lahir itu bayi kembar dua, tiga atau empat. Satu aja yang dilahirkan sudah membuat kita senang dan bahagia, apalagi kembar, pasti kita akan merasa takjub dan kagum. Entah yang lahir itu bayi laki-laki ataukah perempuan pasti akan langsung disambut dengan gembira. Bayi kecil, mungil dan lucu yang telah lahir itu beberapa waktu kemudian diberi nama dengan nama yang bagus dan indah.

Seiring berjalannya waktu, usia bayi pun bertambah. Dari bayi merah menjadi besar dan berkembang hingga mencapai berat dan panjang tertentu dari asal lahirnya. Pada usia yang sudah lebih dari 2 bulan bayi mulai bisa merespon komunikasi dari orang tuanya, bayi “wis iso dililing” kata orang Jawa. Saat itulah terlihat kelucuan, keluguan dan sifat jenaka seorang bayi.

Hal itu membuat siapa saja yang melihat dan memandangnya menjadi tertarik dan berusaha membuat bayi untuk tertawa. Ketika bayi berhasil tersenyum bahkan tertawa dengan riangnya, lagi-lagi terlihat kelucuannya. Senyum manis tanpa gigi dan wajah yang lugu tanpa dosa itu membuat semua orang menjadi senang.

Semakin bertambah usianya, bayi terlihat semakin lucu. Polah, tingkah dan perilaku yang ditunjukkan bayi menjadikan kedua orang tua bayi semakin senang dan bahagia pula. Apa pun diupayakan agar bayi tetap sehat dan tumbuh berkembang karena dengan demikian kelucuan bayi semakin menjadi-jadi.

Ketika bayi mulai bisa diajak berbicara bahkan bisa mengucap beberapa patah kata yang masih belum jelas, kembali kelucuan nampak pada dirinya. Bayi menangis juga masih menunjukkan kelucuan dan juga rasa iba bagi yang melihatnya. Terkadang lucunya bayi juga nampak dari caranya bergerak dan merespon sesuatu yang dilihatnya. Mungkin apa yang dilihat seorang bayi merupakan suatu keanehan.

Begitulah bayi, sifat lucu dan lugu tetap melekat dalam kodratnya sebagai makhluk yang belum mampu berbuat dosa. Bayi adalah makhluk yang suci, bagaikan kertas putih bersih yang siap diwarnai dengan berbagai macam warna oleh orang tuanya. Berbahagialah Anda yang masih memiliki bayi.

Bercanda dengan bayi adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Pantas saja bila pasangan yang sudah lama menikah namun belum dikaruniai seorang bayi sangat berharap agar segera punya momongan. Mereka yang punya anak sudah gede pun masih senang bila punya bayi lagi. Melihat, memandang, menggoda dan bercanda dengan bayi orang lain saja sudah sangat menyenangkan. Lebih-lebih jika bercanda dengan bayi yang dilahirkan sendiri bukan bayinya orang lain, pasti sangat terasa deh perbedaannya. Namanya juga bayi, dimana pun kita melihatnya kesan lucu yang ada padanya membuat semua orang gemes, gregetan, pengen mencubit, mencium dan sebagainya.

Satu pertanyaan menarik buat kita semua, “Mengapa bayi kok lucu dan menggemaskan?”