HALAMAN PUTIH

Media Informasi Dan Berbagi Cerita

Mabuk Di Kelas 26 April 2011

Ini kenangan jaman SMA dulu. Aku punya teman – sebut saja ia Adek – yang sering tidak masuk sekolah, bolos pelajaran, minum minuman keras bahkan pernah mabuk di dalam kelas saat pelajaran sedang berlangsung. Kenakalan semacam itu sepertinya sudah menjadi kebiasaan baginya. Walau demikian Adek tak pernah melakukan perbuatan yang sifatnya merugikan orang lain seperti mencuri, memeras, gangguin teman, berkelahi, merusak fasilitas sekolah dll.

Adek ini adalah teman sekelasku. Jadi sesuatu yang berkaitan dengan dirinya baik yang terjadi di dalam kelas atau di luar lingkungan sekolah sudah tak membuatku kaget lagi. Semua teman satu kelas sudah maklum akan keadaan dirinya. Hari ini masuk sekolah, besok tidak berangkat. Besok masuk kelas siangnya sudah bolos.

Satu keistimewaan Adek yang kami ketahui bersama adalah dia pintar maen gitar. Tak aneh kalau dia memilih ekstra kurikuler musik atau band yang latihannya setiap Selasa sehabis pulang sekolah. Lagu apa saja bisa ia mainkan. Ia juga yang menjadi motor bagi grup band sekolah yang kebetulan semua personilnya berasal dari kelasku.

Lucunya meski ia sering bolos sekolah namun untuk yang satu ini Adek tak pernah bolos. Ia masuk sejak pagi, full mengikuti pelajaran sampai usai sebab sorenya ada acara latihan band. Malah kupikir ia justru lebih mengutamakan ekstra kurikuler musik ini daripada pelajaran sekolah.

Kebiasaan Adek yang suka minum minuman keras sampai mabuk itu tak terendus pihak sekolah, hanya teman-teman dekatnya saja yang tahu. Sebab Adek melakukan kebiasaan itu bukan di dalam lingkungan sekolah. Yang menjadi sorotan ya kebiasaannya bolos dan sering tak masuk sekolah sehingga ruang BP sering menjadi langganan. Upacara bendera tiap hari Senin jarang ia ikuti, senam massal tiap Jumat pagi pun tak diikutinya. Kalau kedua kegiatan itu berlangsung maka ia bersembunyi di WC, kebun belakang sekolah atau di tempatnya pak bon dan tak jarang ia sembunyi di luar lingkungan sekolah.

Satu cerita kenangan yang sampai saat ini tak dapat kulupakan ialah ketika Adek mabuk di dalam kelas namun tidak sampai muntah-muntah. Waktu itu jam pelajaran pertama Bahasa Indonesia. Mungkin sebelum berangkat ke sekolah Adek minum dan pengaruh minuman kerasnya masih belum hilang ketika ia mengikuti pelajaran. Kebetulan saat itu aku duduk satu meja dengannya karena teman sebelahku tak masuk sekolah. Aroma yang tercium memang menunjukkan bahwa Adek habis minum. Demikian pula dengan matanya yang masih merah dan pandangannya yang tak berisi. Guru kelas tak mengetahui hal itu, namun siswa sekelas tahu saking hapalnya dengan kebiasaan Adek. Selanjutnya kekonyolan dan cerita lucu pun bermula di sini.

Materi yang diajarkan guru pada pelajaran Bahasa Indonesia kali ini adalah sastra, khususnya tentang syair atau puisi. Kami sekelas disuruh membuat syair dan setelah ikami harus membacakannya urut sesuai daftar presensi guru. Kulihat Adek tak mengerjakan apa pun. Ia malah santai melamun, entah apa yang ada di dalam benaknya. Mungkin pengaruh minuman keras masih belum memulihkan kesadarannya.

Giliran namanya dipanggil membuatku merasa tak enak karena dudukku bersebelahan dengan Adek. Kuberitahu Adek bahwa ia disuruh membacakan syair yang dibuat. Lalu dengan entengnya ia bilang padaku, “beres, tenang aja itu perkara mudah”.

Sejenak kemudian mulailah ia secara sembarangan ngoceh tak karuan tapi kok ya pantas gitu loh. Aku masih ingat betul apa yang diocehkannya itu.

Anganku….

Anganku melayang jauh menembus awan

Sebebas burung terbang tinggi di angkasa

Dalam kenikmatanku terbang melayang

Lupa hari ini, Lupa hari esok, Lupa tentang masa depan

Ah, sudahlah aku tak peduli apa yang terjadi

Karena jiwaku pun melayang tak berada di sini

Selesai Adek membacakan syairnya, kami sekelas serentak tertawa terbahak-bahak. Guru pelajaran Bahasa Indonesia malah menyanjung sambil tertawa, “bagus…bagus… ternyata pintar juga ya kamu bikin syair”.

Syairnya pas banget dengan kondisi Adek yang lagi mabuk. Aku hanya bergumam, “dasar orang mabuk, ngocehnya pun dibilang bagus”. Tapi kok pas juga ya. Mendengar satu kelas gayeng dan ramai seperti itu karena kekonyolannya, Adek pun tertawa terkekeh-kekeh bangga.

Saat istirahat pertama tiba, seperti biasa Adek bolos kembali. Tak tahulah, pergi entah kemana. Belakangan kuketahui bahwa syair Adek itu merupakan adaptasi dari sebuah lagu beraliran rock.