Sejarah Singkat Kalender Masehi

Perhitungan kalender Masehi berdasarkan pada rotasi bumi (perputaran bumi pada porosnya) dan revolusi bumi (peredaran bumi mengelilingi matahari). Menurut sistem Yustisian 1 tahun = 365,25 hari dan hitungan kesatu (tahun pertama masehi) dimulai pada kelahiran Yesus menurut keyakinan kaum Nasrani. Dasar perhitungan menurut sistem Yustisian tersebut adalah : pertama, rotasi bumi disebut satu hari = 24 jam dan kedua revolusi bumi disebut satu tahun = 365,25 hari.

Berdasarkan perhitungan tersebut, Kaisar Romawi pada tahun 47 SM menetapkan kalender dengan ketentuan :

  1. Satu tahun berumur 365 hari dengan kelebihan 6 jam setiap tahun
  2. Setiap tahun yang keempat atau angkanya habis dibagi 4 maka umurnya menjadi 366 hari disebut tahun kabisat (tahun panjang), sedangkan tahun biasa (non kabisat atau tahun pendek) berumur 365 hari. Cara menetapkannya ialah apabila tahun tersebut habis dibagi 4 berarti tahun kabisat. Misalnya tahun 1995 : 4 = 498,7 bukan tahun kabisat sedangkan tahun 1996 : 4 = 499 adalah tahun kabisat.

Perkembangan selanjutnya pada abad ke-16 terjadi pergeseran dari biasanya yaitu musim semi yang biasanya jatuh pada tanggal 21 Maret telah maju jauh, maka dilakukan suatu koreksi. Apabila sebelum perhitungan satu tahun adalah 365,25 hari maka sejak saat itu satu tahun menjadi 365,2425 hari. Itu berdasar pada perhitungan bahwa revolusi bumi bukan 365 hari lebih 6 jam tetapi tepatnya 365 hari 5 jam 56 menit atau 365 hari lebih 6 jam kurang 4 menit.

Oleh sebab itu pada tanggal 21 Maret 1582 terjadi pergeseran sehingga awal musim semi jatuhnya lebih maju di Eropa. Untuk koreksi akibat adanya pembulatan 4 menit selama 15 abad tersebut maka Paus Gregorius XIII menetapkan sebagai berikut :

  1. Setiap tahun tang habis dibagi 100 meskipun habis dibagi 4 yang menurut ketentuan sebelumnya adalah tahun kabisat tidak lagi menjadi tahun kabisat. Hal itu karena pembulatan satu hari untuk tahun kabisat setiap 4 tahun tersebut mendahului beberapa menit dari sebenarnya, maka diadakan pembulatan lagi pada setiap 100 tahun.
  2. Setiap 400 tahun sekali diadakan pembulatan satu hari, jadi meski habis dibagi 100 maka tetap menjadi tahun kabisat. Dasar perhitungannya adalah dengan kelebihan 4 menit setahun maka 400 tahun menjadi 1600 menit = 26 jam 40 menit.
  3. Untuk menghilangkan kelebihan dari pembulatan yang telah terjadi sebelumnya maka dilakukan pemotongan hari, yaitu sesudah tanggal 4 Oktober 1582, hari berikutnya langsung menjadi tanggal 15 Oktober 1582. jadi tanggal 5 – 14 Oktober 1582 (selama 10 hari) tidak pernah ada dalam penanggalan Masehi.

Dengan dasar perhitungan koreksi tersebut maka sejak tahun 1600 sampai 2000 terjadi koreksi 3 kali yaitu tahun 1700, 1800 dan 1900. Hal ini adalah karena sesuai ketentuan sebelum tahun 1582 setiap tahun habis dibagi 4 adalah tahun kabisat. Namun sejak tahun 1582 berlaku ketentuan baru bahwa setiap tahun yang habis dibagi 100 tidak menjadi tahun kabisat kecuali untuk tahun yang habis dibagi 400. Dengan demikian tahun 1600 dan 2000 tetap tahun kabisat karena habis dibagi 400. tahun yang habis dibagi 4 yang tidak menjadi tahun kabisat untuk masa setelah tahun 2000 adalah tahun 2010, 2200, 2300 sedangkan tahun 2400 tetap tahun kabisat karena habis dibagi 400.

Kesimpulan yang bisa didapat pada perjalanan tahun Masehi dari tahun 1 – 2000 adalah :

  • tahun 1 – 1582 semua tahun yang habis dibagi 4 adalah tahun kabisat
  • tanggal 5 – 15 Oktober 1582 tidak pernah ada dalam kalender penanggalan
  • tahun 1700, 1800, 1900 bukan merupakan tahun kabisat (3 tahun terjadi koreksi 3 hari)

Siklus tahun Masehi adalah 4 tahunan untuk siklus kecil (4 X 365) + 1 = 1461 hari sedangkan siklus besarnya setiap 400 tahun (100 X 1461) – 3 = 146097. Bulan Februari pada tahun biasa (bukan kabisat) berumur 28 hari sedang pada bulan tahun kabisat berumur 29 hari. Bulan yang berumur 31 hari adalah bulan Januari, Maret, Mei, Juli, Agustus, Oktober dan Desember. Bulan yang berumur 30 hari ialah bulan April, Juni, September dan Nopember.

Perhitungan Waktu

Sejak ribuan tahun silam manusia memerlukan perhitungan waktu dan mereka sudah mempunyai cara untuk melakukannya. Para petani sejak dahulu sudah mempelajari bahwa setiap memulai pembibitan atau menuai tanaman tergantung pada musim yang berganti secara tetap. Mereka menyelidiki musim-musim tersebut untuk menetapkan perhitungan penanggalan. Perhitungan berdasarkan musim ini mengantarkan mereka pada sistem penanggalan matahari.

Walau pada akhirnya ada juga yang mempergunakan penanggalan berdasarkan peredaran bulan, hal itu wajar saja karena secara mudah bisa diketahui bahwa bulan muncul dan tenggelam secara berulang. Sebelum Islam turun di tanah Arab sudah ada perhitungan penanggalan bahkan nama-nama bulan waktu itu juga sudah ada.

Ada berbagai macam kalender selain kalender Masehi dan Hijriyah seperti kalender India, Yahudi, Cina, Eropa, Jepang, Jawa dll. Kalender yang biasa dipakai oleh umat di dunia ini adalah kalender Masehi dan kalender Hijriyah. Kalender Masehi telah disepakati sebagai kalender internasional sedangkan kalender Hijriyah adalah kalender Islam dan sangat penting sebagai penentu kegiatan keagamaan seperti puasa, hari raya dan peringatan hari besar Islam lainnya.

Kalender-kalender atau penanggalan yang selama ini kita gunakan terbagi menjadi 12 bulan yang di dalamnya terdapat hari-hari yang berbeda jumlahnya setiap bulan. Sehari semalam ada 24 jam. Di Inggris dikenal istilah a.m (ante meridien) menunjukkan waktu antara pukul 12.00 malam sampai pukul 12.00 siang dan p.m (post meridien) menunjukkan waktu antara pukul 12.00 siang sampai pukul 12.00 malam. Di Indonesia dikenal istilah siang dan malam. Untuk waktu 12 jam kedua ditambah dengan 12 sehingga setelah pukul 12.00 siang menjadi pukul 13.00 hingga pukul 24.00 (00.00). Pergantian hari terjadi setiap malam sejak pukul 00.00 untuk kalender Masehi. kalender Hijriyah dan kalender Jawa hari sudah berganti sejak waktu Maghrib.

Karena rotasi bumi searah jarum jam, maka siang atau malam selalu dimulai dari timur berurutan ke arah barat. Dengan demikian siang dan malam saling bergantian sambung menyambung. Awal perhitungan hari dilakukan dengan perjanjian dan batas tempat yang disebut Batas Garis Tanggal Internasional yaitu garis bujur. Garis itu terletak membujur dari kutub utara sampai kutub selatan di tengah-tengah Samudra Pasifik sehingga tak banyak menggangggu. Hari pertama dimulai dari sebelah barat garis terus ke barat sampai kembali ke garis tanggal internasional tersebut sampai kembali lagi ke wilayah timur.

Adanya garis bujur tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan waktu di berbagai belahan dunia. Keliling katulistiwa 360 derajat. Sekali bumi berputar memakan waktu 24 jam. Satu jam meliputi daerah waktu 360 : 24 = 15. Jadi setiap 15 derajat berbeda waktu 1 jam. Namun karena pertimbangan untuk tiap wilayah, maka garis pergantian jam disesuaikan dengan keperluan wilayah masing-masing negara.

Indonesia terletak pada 95 – 111 derajat Bujur Timur berarti sepanjang 46 derajat atau melewati 3 wilayah waktu, maka Indonesia terbagi menjadi 3 wilayah waktu yaitu :

1. Waktu Indonesia Timur (WIT) meliputi wilayah Maluku dan Papua

2. Waktu Indonesia Tengah (WITA) meliputi wilayah Sulawesi, NTT, NTB, Bali, Kalimantan Selatan dan Timur

3. Waktu Indonesia Barat (WIB) meliputi wilayah Jawa, Sumatra, Kalimantan Tengah dan Barat