HALAMAN PUTIH

Media Informasi Dan Berbagi Cerita

Susahnya Jadi Orang Miskin Baru 14 Maret 2011

Istilah OKB atau orang kaya baru sudah sering kita dengar. Bisa jadi ia termasuk keluarga kita sendiri, teman, tetangga, kenalan atau malah diri kita yang beruntung menjadi OKB. Ada banyak jalan menjadi OKB sengaja atau pun tak sengaja. Kekayaan bisa diperoleh dari pemberian, warisan, menang undian, korupsi atau dari hasil merampok sampai pesugihan menjadikan orang mendapat julukan sebagai OKB. Tak banyak orang yang jadi kaya mendadak apalagi jadi OKB secara massal itu sangat jarang terjadi.

Lain halnya dengan OMB atau orang miskin baru. OMB dapat terjadi secara massal dan tak disangka sebelumnya. Dalam sebuah keluarga, dalam satu kampung atau desa sangat mungkin orang menjadi OMB secara mendadak. Hal ini kebanyakan disebabkan oleh adanya bencana alam atau suatu kelalaian, kecerobohan maupun keteledoran pihak tertentu.

Contoh yang paling bisa dilihat bencana tsunami di Aceh, gempa bumi di DIY, lumpur panas Lapindo Brantas di Sidoarjo, banjir, tanah longsor, kebakaran dll di berbagai daerah sehingga menimbulkan kerugian yang cukup besar. Mendadak orang kehilangan rumah, harta benda, tanah bahkan keluarga. Saat itu juga para korban langsung menjadi OMB sama sekali tak mempunyai apa-apa lagi. Hidup mengandalkan bantuan dari orang lain.

Lalu siapa yang bertanggung jawab terhadap semua itu? Tak ada seorang pun yang bisa disalahkan dalam hal ini. Jika mengacu pada UUD 1945 pasal 34 ayat 1 : “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara” maka negara dalam hal ini pemerintah yang berperan dalam membantu penghidupan mereka.

Kebutuhan makanan, pakaian, tempat berteduh dan juga kebutuhan lainnya sangat diperlukan pada saat bencana terjadi. Bisa dipastikan para OMB ini bingung dan pusing memikirkannya. Pikiran pasti kacau dan tak jernih lagi.

Kita ambil contoh dari gempa bumi DIY 27 Mei 2006 lalu. Hampir seluruh wilayah Kab. Bantul dan Kota Jogja bagian selatan juga sebagian wilayah Klaten hancur berantakan. Banyak rumah roboh, bangunan ambruk dengan korban yang begitu banyak.

Kehidupan langsung berubah secara drastis. Orang-orang lantas menghuni tenda dan barak-barak penampungan untuk sekedar berteduh karena tak punya rumah lagi. Kebutuhan makan dan pakaian juga mendesak. Kalau pemerintah pada waktu itu tak segera memberikan bantuannya maka rakyat akan semakin sengsara. OMB tidak membutuhkan janji-janji, tetapi wujud nyata dari apa yang sudah dijanjikan.  Kalau cuma janji saja, semua orang bisa membuat pernyataan. Susahnya jadi orang miskin baru…!

Bencana Merapi beberapa waktu yang lalu pun membawa kerugian materiil dan inmateriil. Tetap saja rakyat kecil yang susah menjadi semakin susah saja. Bahkan dampak letusan Merapi itu pun kini masih terjadi dengan putusnya jalur utama Yogyakarta – Magelang. Di samping itu rumah, lahan pertanian milik masyarakat dan fasilitas umum lainnya juga rusak akibat lahar dingin yang mengalir terbawa arus saat hujan deras mengguyur.

Masyarakat OMB akhirnya hanya bisa pasrah dan tak lagi berharap sesuatu yang belum pasti. Mereka punya pendapat daripada menunggu sesuatu yang tak jelas, lebih baik bangun rumah sekenanya asal bisa untuk berteduh dan hidup normal. Tak lagi bertahan di tenda yang dingin itu. Nah, kearifan lokallah di sini yang kemudian berbicara. Semangat gotong royong masyarakat yang kemudian bertindak.

Bencana serupa pun kini melanda Jepang. Gempa berkekuatan lebih dari 8 SR itu mengguncang negeri yang perkembangannya sangat pesat paska bom atom Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945. Bahkan tsunami yang terjadi setelahnya juga dahsyat hantamannya dan sampai di perairan utara Indonesia bagian timur.

Namun apakah di Jepang akan ada OMB atau orang miskin baru setelah bencana tersebut?

Entahlah, yang jelas Jepang merupakan salah satu negeri maju yang kaya pengalaman dengan kejadian gempa. Tentu pemerintah dan rakyat Jepang jauh lebih tanggap terhadap hal yang demikian itu.

Orang miskin baru memang benar-benar susah. Hidup mengandalkan bantuan kemanusiaan, sandang, pangan dan papan untuk sementara nebeng. Yang sudah lama menjadi orang miskin saja merasakan susah, apalagi yang baru merasakan menjadi orang miskin baru.

Susahnya jadi orang miskin baru.