HALAMAN PUTIH

Media Informasi Dan Berbagi Cerita

Pak Tani Butuh Pacul 27 November 2012

Siapa pun tahu bahwa beras yang kita konsumsi sehari-hari itu berasal dari padi. Nah, siapa yang menanam padi? Demikian juga beraneka ragam hasil bumi lainnya, tak lain adalah Pak Tani. Kerjaan sehari-hari Pak Tani memang di sawah. Ia juga yang memelihara tanaman padinya agar tetap tumbuh subur sehingga berasnya enak. Hama atau gulma yang mengganggu tanamannya dibersihkannya tanpa mengeluh sedikitpun. Semua itu dia kerjakan untuk mencukupi kebutuhan pangan.

Sebelum padi ditanam, biasanya tanahnya diolah terlebih dahulu. Kalau pengairannya lancar dan terjamin tidak perlu menunggu musim hujan tiba. Tanah dibajak, kotoran yang tersisa diangkat. Kotoran tanah dalam hal ini bisa berupa ranting kayu dan segala sesuatu yang sulit membusuk sehingga mengotori sawah. Setelah itu, baru kemudian ditanam benih padi.

Dalam masa penantian panen, Pak Tani dengan rajin memberi pupuk dan mengairi sawahnya dengan tertib. Kadangkala nyemplung juga ke tengah sawah untuk membersihkan gulma yang tumbuh tak terkendali. Selain itu, pematang sawah pun tak luput dari tangan dinginnya. Rumput yang tumbuh dicabuti agar pematang tetap bersih dan mudah dilalui.

Ketika padi mulai menguning, Pak Tani pula yang bertugas mengusir burung-burung pemakan padi yang banyak bertengger di atas tanaman padinya. Tak jarang ia berteriak-teriak hanya sekedar membuat kaget makhluk pemakan padi itu. Biasanya pada tahap ini, Pak Tani juga tidak lupa membuat orang-orangan atau “memedi sawah” kata orang Jawa bilang. Orang-orangan tadi dikalungi kaleng berisi kerikil atau batu agar burung terkejut dan hengkang dari sawah saat memedi sawah tersebut digoncang-goncangkan.

Setelah usia padi genap memasuki masa panen, padi diambil dari sawah untuk diproses menjadi beras. Dan kita semua tahu bahwa beras yang sehari-harinya masuk ke perut dalam wujud nasi itu adalah hasil kerja keras Pak Tani. Tanpa dia, mungkin kita tak akan bisa menikmati nasi. Sungguh kerja Pak Tani perlu dihargai dengan harga yang sangat tinggi. Teriknya panas tak dirasa, hujan lebat juga tetap bekerja tanpa kenal lelah.

Ironisnya, penghargaan yang seharusnya diterima Pak Tani ternyata tidak dinikmatinya. Mengapa? Walau harga beras di pasaran menjadi semakin tinggi, namun Pak Tani tidak justru serta merta menjadi kaya atau banyak duit. Ia pun sempat mengeluh, karena untuk membeli beras tetap saja harganya melambung bukannya murah. Tak ada sejarahnya harga beras turun secara drastis. Kalau pun ada yang murah, beras raskin dapatnya. Yang untung justru para distributor atau pedagang besar.

Lalu dimana jasa Pak Tani ini ditempatkan?

Meski harga beras tetap melambung tinggi, Pak Tani yang notabene sebagai produsen tetap tidak menangguk untung besar. Panen padinya tidak memberikan hasil yang memuaskan. Hasil yang didapatnya hanya kembali ke sawah lagi yang digunakan untuk mengolah tanah, membeli benih, membayar tambahan tenaga, membeli pupuk dll. Kalaupun sisa, itu tidak seberapa dibanding untung yang didapat oleh para pedagang besar.

Indonesia, yang katanya sempat menjadi negara swasembada beras tempo dulu ternyata tak berkelanjutan sampai saat ini. Buktinya, impor beras tetap dilakukan dengan alasan untuk mencukupi kebutuhan beras nasional yang katanya kurang. Informasi lain mengatakan ketersediaan beras cukup, jadi mana yang benar? Padahal lahan yang ada di Indonesia ini tidak kurang bahkan lebih dari cukup, sebab Indonesia kan negara agraris.

Celakanya, lahan pertanian makin lama makin menyempit karena sudah digunakan untuk mendirikan bangunan perumahan. Coba aja lihat di Jakarta, berapa lahan pertanian yang masih tersisa? Di Kota Jogja saja lahan pertanian hanya tinggal beberapa saja. Itu pun terhimpit oleh perumahan yang sudah berdiri. Bahkan di sekitar tempat tinggal saya, yang dulu punya sekitar 1,5  hektar kini tinggal 1500 meter persegi.

Meskipun demikian, Pak Tani tetap saja dengan aktivitasnya dari waktu ke waktu, yakni menyediakan beras untuk kepentingan pangan nasional. Ia tidak ngambek, atau lantas demo besar-besaran sampai mogok menanam padi. Kalau itu terjadi, wah… bisa kacau pangan nasional kita. Pemerintah pasti juga bakalan bingung.

Saat kita makan nasi, jarang yang ingat sama Pak Tani. Saat kita beli beras tak ada yang menyebut-nyebut jasa Pak Tani. Yang diingat hanya harga yang selalu melambung tinggi . Yang disebut-sebut hanya jenis berasnya, enak ataukah tidak. Mungkinkah para petinggi yang duduk di atas sana juga ingat akan nasib Pak Tani? Saya yakin tak ada yang ingat, yang diingat barangkali adalah bagaimana agar makan tetap bisa makan dengan beras yang enak.

Sebenarnya Pak Tani tidak membutuhkan penghargaan, tidak perlu disebut-sebut namanya. Ia hanya butuh pacul atau cangkul. Ya, Pak Tani butuh pacul itu saja, namun pacul dalam arti luas menyangkut segala aspek termasuk pupuk, fasilitas pertanian, bantuan modal, hibah dan sebagainya yang berkaitan agar produksi beras tetap bagus dan melimpah. Kecuali petani seperti Bob Sadino, nah itu lain ceritanya.

Ya, saya rasa cuma itu. Pak Tani butuh pacul.

Anda yang orang Banjarmasin janganlah tertawa membaca yang terakhir ini, karena Pak Tani benar-benar butuh pacul.