HALAMAN PUTIH

Media Informasi Dan Berbagi Cerita

Asap Putih Lebih Berbahaya Dari Asap Hitam 7 Juni 2011

Asap merupakan zat yang timbul dari proses pembakaran. Seringkali kita melihat asap dari kepulan dapur saat kita memasak, cerobong pabrik, pembakaran sampah dan juga knalpot kendaraan bermotor atau mesin-mesin yang lain. Dari berbagai pembakaran yang prosesnya bermacam-macam dihasilkan asap yang berbeda warnanya yaitu asap putih dan asap hitam. Asap yang berbeda warna tersebut menimbulkan bahaya cemaran tersendiri.

Kaitannya dengan judul di atas maka artikel ini hanya akan membahas mengenai asap yang berasal dari kendaraan bermotor. Jika dibandingkan, mungkin muncul pertanyaan sebenarnya manakah yang lebih berbahaya, asap putih ataukan asap hitam?

Dilihat dari jenis bahan bakar yang digunakan untuk menyalakan mesin kendaraan bermotor, maka sebenarnya asap putih lebih berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Namun di beberapa negara seperti Amerika Serikat, bahan bakar bensin dipisahkan menjadi dua jenis yaitu jenis yang sudah diberi campuran timah hitam dan jenis yang tidak mengandung timah hitam.

Asap hitam biasanya keluar dari knalpot kendaraan yang berbahan bakar solar yang secara nyata menimbulkan pencemaran dan menganggu penglihatan bagi pengendara lain. Asap putih keluar dari knalpot kendaran bermotor yang menggunakan bahan bakar bensin. Ketika terjadi kemacetan lalu lintas kedua asap ini kerap bercampur menjadi satu.

Unsur-unsur pencemaran udara dari pembakaran BBM adalah karbon monoksida (CO), ada juga nitrogen oksida (NO) dengan indeks kecil x, jadi NOx. Selain itu jumlah hydrocarbon yang berasal dari bahan bakar itu sendiri, yaitu yang tidak turut terbakar. Kemudian untuk kepentingan teknis permesinan maka di dalam bensin dicampurkan bahan timah hitam (lead). Akibat pembakaran tidak sempurna, racun muncul bersama asap yang keluar dari knalpot kendaraan tadi.

Bensin mengandung CO dan NOx lebih tinggi dibanding solar. Sebab itulah, secara keseluruhan pencemaran yang diakibatkan oleh mesin industri berbahan bakar solar lebih kecil dibanding kendaraan bermotor. CO mengandung racun sangat kuat, jika terhisap oleh paru-paru akan lebih mudah mengikat hemoglobin (butir darah merah). Sedangkan oksigen akan berkurang kadarnya sehingga manusia dapat mati lemas karenanya. Karena itu para pemilik kendaraan bermotor dianjurkan apabila akan memanasi mesin kendaraannya sebaiknya di luar garasi agar di dalam ruangan tidak terjadi penyebaran CO yang sangat berbahaya.

Sedangkan solar yang biasanya mengeluarkan asap hitam, sebenarnya adalah karbon. Karbon jika dibiarkan akan mengendap dengan sendirinya. Ia hanya menimbulkan kotor namun tidak beracun. Namun bukan berarti kita bisa dengan bebas menghirupnya. Ini pun mestinya kita hindari. Walau bagaimanapun juga emisi gas buang tetap tidak baik bagi kesehatan tubuh kita.

Kota yang kepadatan lalu lintasnya sudah melebihi ambang batas, otomatis pencemaran udaranya juga tinggi. Bila mesin kendaraan emisi gas buangnya tidak terkendali maka kondisi udara di tempat terjadinya kemacetan lalu lintas juga parah. Di beberapa kota besar di Indonesia yang tingkat kemacetan lalu lintasnya luar biasa, jika dilakukan pengukuran emisi gas buang kendaraan bermotor akan menunjukkan bahwa pencemaran gas karbon monoksida (CO) sudah cukup tinggi. Ini akan lebih diperparah apabila di sepanjang jalan tidak ada filter atau paru-paru kota yaitu pohon perindang. Pepohonan ini sebenarnya bisa menyerap berbagai macam gas beracun yang berasal dari asap kendaraan bermotor.

Berhati-hatilah jika berada di belakang kendaraan bermotor terutama yang mengeluarkan asap putih, karena ternyata asap putih lebih berbahaya daripada asap hitam.