HALAMAN PUTIH

Media Informasi Dan Berbagi Cerita

Meraih Malam Kemuliaan 8 Agustus 2012

Ramadhan telah masuk pada periode sepuluh hari terakhir. Pada saat inilah Allah mengobral ganjaran atau pahala kepada hamba-Nya yang melakukan amal kebaikan. Kalau pada sepuluh hari pertama Ramadhan merupakan masa dimana Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, dan sepuluh hari kedua merupakan periode pengampunan dosa-dosa, maka pada sepuluh hari yang terakhir adalah masa pembebasan diri dari api neraka.

Namun demikian untuk lebih menambah semangat kita berpuasa di bulan Ramadhan, jangan lupakan juga bahan bakar puasa Ramadhan yang ada di sini.

Pada sepuluh hari terakhir ini pula, umat Islam yang berpuasa dianjurkan untuk berbondong-bondong melakukan I’tikaf di masjid. Karena pada malam-malam ganjil Allah menurunkan suatu malam yang penuh dengan kemuliaan yang disebut sebagai Lailatul Qadar. Inilah hal yang paling istimewa yang terjadi di bulan Ramadhan. Titik puncak obral pahala dari Allah SWT terjadi pada malam yang mulia ini. Setiap amal kebaikan yang dikerjakan sama nilainya dengan seribu bulan atau kurang lebih 83 tahun (QS. Al Qodar : 1-5).

Dapat dibayangkan, ketika kita melakukan shalat, sedekah, taddarus, infaq dan ibadah lainnya berapa nilai ganjaran yang bakal kita peroleh. Kalau setiap amal kebaikan di bulan Ramadhan saja sudah mendapatkan balasan ganjaran sebesar sepuluh kali lipat, apalagi di malam kemuliaan. Satu kali saja amalan dilakukan sudah sama dengan bila kita melakukan satu amalan selama 83 tahun. Allah tidak tanggung-tanggung mengobral ganjaran bagi hamba-hamba-Nya.

Namun, semua itu bukan berarti bisa kita dapatkan begitu saja tanpa usaha. Konsekuensi yang harus dilakukan untuk memperoleh anugrah dari Allah itu tentu saja dengan upaya yang tidak ringan. Perlu kesungguhan bila ingin mendapatkan karunia memperoleh Lailatul Qadar.

Di beberapa daerah sering ada istilah malam selikuran dengan berbagai cara untuk menyambutnya. Hal ini dimaksudkan agar tumbuh niat dan kesungguhan untuk mengoptimalkan ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Banyak orang berharap akan Lailatul Qadar dengan melakukan I’tikaf di masjid selama sepuluh hari terakhir itu. Dan menurut beberapa rujukan, malam kemuliaan itu biasanya turun pada malam-malam ganjil.

Rasulullah bersabda : “Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil (khususnya) pada sepuluh hari terakhir Ramadhan” (HR. Bukhari dari Aisyah).

Semasa hidupnya, Rasulullah selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadhan sampai beliau wafat, demikian disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari-Muslim dari Aisyah.

Masih banyak lagi hadits-hadits yang menerangkan untuk mencari Lailatul Qadar pada malam ganjil. Karena istimewanya malam itu, maka malaikat pun berbondong-bondong turun ke bumi untuk mengatur segala urusan. Lailatul Qadar sendiri merupakan rahasia Allah, tak seorangpun mengetahui kapan ia diturunkan. Sampai-sampai Rasulullah berpesan untuk mencarinya di malam ganjil pada sepuluh hari yang terakhir.

Seandainya Lailatul Qadar sudah ditentukan waktunya dan bukan merupakan sebuah rahasia lagi, niscaya orang tak akan mau bersusah payah menyongsong datangnya malam itu. Cukup langsung kerjakan amal kebaikan dan beri’tikaf pada waktu tertentu saja, maka mereka akan langsung mendapatkannya. Tetapi karena ini masih merupakan rahasia besar, maka mau tidak mau kita mesti rajin dan intens dalam menghidupkan malam di sepuluh hari yang terakhir Ramadhan.

Terlebih lagi, kalau sebelumnya terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan awal Ramadhan. Bukankah ada banyak malam ganjil? Malam ke 21 bagi satu umat bisa jadi malam yang ke 22 bagi umat Islam yang lain, demikian pula sebaliknya. Dan bisa jadi semua malam adalah malam ganjil, tak ada malam-malam genap. Dan Lailatul Qadar akan turun pada malam yang mana? Hanya Allah yang mengetahuinya.

Lalu bagaimana baiknya melakukan I’tikaf?

Meskipun dalam hadits dinyatakan untuk mencari Lailatul Qadar pada malam ganjil, menurut hemat saya, I’tikaf sebaiknya dilakukan setiap malam dan tidak terpaku pada malam ganjil atau genap. Sebab kalau hanya terpaku pada malam ganjilnya saja, itu menandakan bahwa kita ini termasuk golongan orang yang malas, mau dapat enaknya. Inilah mengapa waktu turunnya Lailatul Qadar tidak diketahui dan merupakan rahasia Allah semata. Itu semua dimaksudkan agar manusia lebih giat dan bersungguh-sungguh dalam menyongsong malam kemuliaan itu.

Kalau perlu, I’tikaf boleh dilakukan semenjak hari pertama Ramadhan pada setiap malam. Toh, di masjid kita bisa melakukan shalat malam, taddarus Al Qur’an, dzikir dan amalan lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bila hal ini sudah biasa dilakukan, Insya Allah pada sepuluh hari yang terakhir kita tak berpikir lagi apakah ini malam ganjil atau malam genap. Ibadahnya dapat, niatnya untuk beri’tikaf pun tidak percuma.

Apabila suatu saat kita mendapat karunia dari Allah SWT dengan ditunjukkan datangnya Lailatul Qadar apa yang mesti dilakukan?

Rasulullah SAW mengajarkan untuk membaca : “Asyhadual Laa Ilaaha Ilallah, Astaghfirullah, As’alukal Jannata Wa Audzubika Minannaar. Allahumma Innaka Afuwwun Tuhibbul Afwa Fa’fuanna”

Mari kita tingkatkan amal ibadah kita di sepuluh hari terakhir Ramadhan dan beri’ktikaf di masjid. Siapa tahu kita dikaruniai Allah dengan memperoleh malam kemuliaan itu. Insya Allah segala dosa kita diampuni, kita terhindar dari api neraka dan termasuk ke dalam golongan orang yang masuk surga.

Ammiin, Yaa Rabbal ‘alamiin.