Tujuh Resep Agar Tetap Lengket

Bulan syawal disebut sebagai bulan peningkatan. Peningkatan iman, peningkatan amal ibadah, peningkatan kualitas hidup maupun peningkatan dalam beragama. Namun di sebagian masyarakat, Syawal juga dianggap sebagai peningkatan pengeluaran, karena pada bulan ini banyak hajatan di gelar. Dari sungkeman di keluarga, syawalan atau halal bi halal, syukuran sampai pada hajat mantu atau pernikahan.

Bulan ini saja saya sudah mendapat tiga undangan pernikahan dari tetangga dan teman sekantor. Lumayan, setiap minggu saya mendatangi hajatan mantu hingga tanggal 25 September nanti. Yang jelas pengeluaran tak terduga pun menambah jadwal merogoh isi kantong.

Satu hajatan mantu yang menarik perhatian saya adalah ada satu materi yang disampaikan yang cukup bagus bagi kita, khususnya untuk pasangan penganten yang baru menikah yaitu mengenai bekal untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang disampaikan oleh seorang kawan, kyai pengasuh pondok pesantren di Krapyak, Jogjakarta.

Berikut isi materi yang dapat saya rangkum untuk menjadi bekal kita semua.

Dalam menjalani kehidupan bahtera rumah tangga bagai orang mengarungi samudera nan luas dan penuh gelombang. Siang, malam. Panas dan hujan bahkan badai dan gelombang harus kita lalui. Cuaca yang tidak pernah dapat kita prediksi bisa datang dengan tiba-tiba. Kita harus selalu siap untuk menghadapinya.

Perjalanan yang panjang dan sangat melelahkan dengan tujuan pantai kebahagiaan, tentunya kita harus mempersiapkan berbagai keperluan keperluan dan bekal agar perjalanan kita lancar. Dan yang tidak kalah penting adalah persiapan diri dan mental agar ketika datang badai dan gelombang kita siap menghadapinya, tidak grogi, takut atau bahkan gentar dengan gelombang dahsyat itu.

Untuk memulai perjalanan itu ada tujuh hal yang perlu diperhatikan :

1. Kita perlu mempersiapkan kapal yang kokoh agar tidak mogok ditengah jalan.

Kapal yang kokoh adalah rumah tangga harus dibangun atas dasar taqwa, cinta, suka sama suka dan didukung dengan kedua belah pihak keluarga yang merestui serta mengharap ridho ilahi. Niat dan bulatkan tekad atas dasar Lillahita’ala insya Allah rumah tangga akan kokoh dengan landasan Taqwa.

2. Mesinnya betul-betul bagus. Mesin yang bagus adalah hati.

Suami istri harus punya tujuan sama. Berumah tangga bukan hanya sekedar melepas nafsu birahi, tetapi harus punya tujuan mencetak generasi penerus bangsa yang kuat, tangguh serta bertaqwa kepada Allah SWT. Tanpa punya perasaan sehati, mana mungkin tujuan akan tercapai. Maka suami istri harus tahu kepribadian masing-masing. Ini yang dinamakan Ta’aruf.

3. Bahan bakar yang cukup dan memadai.

Bahan bakar adalah akhlaq, karena kalau hanya punya cinta dan perasaan tapi tidak dibarengi dengan akhlaq mulia jangan harap kita bisa menguasai medan perjuangan itu. Akhlaq adalah bertujuan saling menghargai, menghormati, menyayangi, penuh dengan senyuman. Ini dinamakan Tabassum yang sangat dianjurkan rasulullah SAW.

4. Membawa peta untuk pedoman perjalanan agar tidak nyasar atau tersesat.

Petanya adalah Al Qur’an dan Hadits. Ketika menemukan kesulitan, keresahan maka bacalah Al Qur’an kembalikan kepada Allah. Suami dan istri harus saling mengingatkan dan Ta’awun atau kerja sama dalam menghadapi kesulitan hidup.

5. Membawa peralatan atau onderdil kalau-kalau diperjalanan macet.

Peralatannya adalah nasehat. Sepenuh apa pun cintanya suami terhadap istri atau istri terhadap suami, kesalahpahaman pasti ada. Maka kita butuh nasehat-nasehat orang tua, ustadz atau orang yang lebih berpengalaman untuk memperbarui cinta atau memperbarui tujuan hidup yang salah. Maka setelah kita mendapat nasehat akan ada tumbuh saling menghargai kesalahpahaman itu. Ini dinamakan Takarrum atau saling menghargai.

6. Nahkoda yang lihai mengemudikan kapal itu.

Nahkodanya adalah suami. Suami harus pandai memainkan peranan, harus bisa menjadi panutan, harus cerdas melihat situasi agar penumpangnya tenang, aman dan nyaman. Tentunya menjadi supir atau nahkoda tidak boleh ugal-ugalan. Bahkan seburuk apapun cuaca yang dihadapinya, nahkoda tetap tenang, perlahan tapi pasti tetap dia lalui. Maka seluruh penumpang pasti akan menghormati dan menghargainya. Penghargaan itu akan datang dengan sendirinya. Mungkin berupa ucapan, ciuman, pelukan bahkan dengan kepasrahan diri penumpang itu yang tak lain adalah istri. Inilah yang dinamakan Tala’ub.

7. Membawa bekal yang cukup.

Bekal yang cukup berupa kepasrahan. Dalam menjalani kehidupan rumah tangga kita harus banyak berusaha dan berdo’a. Karena usaha tanpa do’a akan sia-sia, do’a tanpa usaha adalah angan-angan belaka. Suami istri harus bisa bekerja sama untuk melindungi perjalanan panjang. Suami tahu kebutuhan istri, sebaliknya istri sangat tahu kebutuhan suami. Maka toleransi sangat dibutuhkan dan ini yang dinamakan Tasamuh.

Demikianlah tujuh hal yang oleh pak Kyai dinamakan dengan “tujuh resep agar tetap lengket”. Ketujuh hal tersebut bertujuan jelas, pasti dan sampai dengan selamat di atas ridho Allah SWT. Insya Allah, selalu untuk selamanya. Kedua pasangan akan selalu diberkati oleh Allah SWT sebagaimana do’a yang selalu diucapkan orang kepada pasangan pengantin baru, sesaat setelah mereka menikah :

“Barokallahu Laka Wa Baroka’alaika Wa Jama’a Baynakumaa Fii Khoir”

Semoga Allah memberkahimu, dan semoga Allah melimpahkan barokahNya padamu, dan semoga Dia menempatkan kalian berdua di dalam kebaikan.

Amien Yaa Robbal’alamiin.

Materi ini boleh diamalkan dan disebarluaskan kepada para penganten baru dan juga mereka yang sudah lama menikahnya. Demikian pesan dari beliau pak Drs. KH. Muhadi Zainuddin, Lc.

(Sumber : Drs. KH. Muhadi Zainuddin, Lc. – Pengasuh Pondok Pesantren Al Muhsin, Krapyak, Yogyakarta)