HALAMAN PUTIH

Media Informasi Dan Berbagi Cerita

Rumah Bukan Sekedar Tempat Berteduh 10 Januari 2011

 

Tempat tinggal atau yang sering kita sebut dengan rumah merupakan sebuah harta yang tinggi nilainya. Meskipun kecil, sederhana dan tidak terbuat dari beton pun sebuah rumah akan menjadi istana bagi yang  memilikinya. “Rumahku adalah istanaku, rumahku adalah surgaku”, demikian sebuah ungkapan mengatakan.

Orang ingin memiliki rumah dengan berbagai macam alasan yang berbeda. Ada yang ingin hidup mandiri tak menumpang pada orang tua atau mertua, ada yang ingin tinggal di rumah milik sendiri bukan mengontrak, ada yang ingin dianggap kaya dengan memiliki rumah mewah dan ada pula yang ingin menjadikan rumah sebagai tempat bisnis dengan cara dikontrakkan atau dijadikan kos-kosan.

Desain, bentuk rumah dan bahannya tentu juga berbeda tergantung selera masing-masing orang. Namun demikian faktor kemampuan keuangan juga turut mempengaruhinya. Orang yang keuangannya minim tentu akan membangun rumah yang sederhana namun lumayan, tidak kepanasan dan tidak pula kehujanan. Orang kaya bisa dipastikan membangun rumah yang mencerminkan kemampuan keuangan yang dimilikinya. Besar, mewah, desainnya bagus dan hebat, berlantai dua atau tiga dengan fasilitas yang lengkap pula.

Namun ada satu hal yang dilupakan orang. Rumah ternyata bukan hanya sekedar tempat berteduh atau cukup sebagai tempat tinggal yang dapat melindungi dari panas dan hujan saja. Lebih dari itu, fungsi sebuah rumah yang paling mendasar adalah privasi, kenyamanan dan ketenangan hati bagi yang menempatinya. Walau demikian faktor keamanan tetap diperhitungkan. Inilah sebenarnya yang sering terlupa dari pikiran orang.

Bayangkan saja seandainya ada rumah yang pintu, jendela atau atapnya masih terbuka, pasti orang merasa enggan untuk menempatinya. Meski sudah ditutup dengan sesuatu namun bila masih bersifat sementara tetap juga ada rasa tidak tenang dan tidak nyaman. Kemungkinan besar rumah tersebut masih dibiarkan kosong sembari menunggu selesainya penyempurnaan rumah. Kalau gelandangan atau mereka yang hidup di jalan tentu hal ini bukan merupakan suatu masalah.

Ada banyak pengalaman yang membuat privasi menjadi suatu fungsi mendasar dari sebuah rumah. Pengalaman saat bencana terjadi di sejumlah kota di Indonesia yang telah lalu semakin membuka mata bahwa hidup bertahan di tenda bersama orang banyak menyebabkan privasi menjadi terganggu. Biarpun merasa lebih aman dan tenang tetap saja banyak yang merasakan privasi pribadinya tak lagi utuh. Terutama bagi kaum wanita atau mereka yang sudah berkeluarga. Hidup satu tenda bersama orang banyak menjadi tidak senyaman dan setenang di rumah sendiri.

Privasi pribadi yang sering dilakukan di rumah tak bisa lagi dilakukan di tempat seperti itu dengan bebas. Orang pasti butuh ganti pakaian, berhias atau berdandan, wanita menyusui juga butuh privasi, begitu juga halnya yang suami istri sudah tak lagi bebas bermesraan, nah lho.

Hal yang paling ringan saja seperti tidur termasuk privasi pribadi juga, lebih-lebih bagi kaum wanita. Saat tidur kita sama sekali tak tahu apa yang terjadi dengan diri kita, perilaku kita dan juga pakaian kita. Barangkali ada orang yang menyaksikan kita tidur dengan kondisi yang tak sempurna misalnya mengigau, ngiler, pakaian tersingkap dll, memalukan to jadinya.

Kondisi-kondisi demikian membuat kita merasa bahwa rumah memang tidak hanya sekedar tempat berteduh dari teriknya panas matahari, guyuran air hujan dan terpaan angin. Privasi menjadi suatu pertimbangan yang utama. Rumah mewah, gedongan, lux atau terletak di kawasan elit sekalipun kalau seluruh ruangan atau kamarnya bisa terlihat dari luar maka orang yang menempatinya pasti akan terganggu privasinya. Ketika suatu saat terjadi bencana yang mengharuskan orang untuk bertahan di tenda, maka saat itu yang dibutuhkan tak hanya makanan atau pakaian tetapi privasi pribadi juga sangat dibutuhkan.

Ya, rumah memang bukan hanya sekedar tempat berteduh.