Bikin Sewot Aja

Banyak cerita dan pengalaman yang membuat orang sewot karena mempertanyakan sesuatu yang menjadi haknya. Misalnya makanan, hutang, kendaraan, gaji, barang berharga, ponsel bahkan hal lain yang sifatnya sepele. Salah satunya pernah saya alami, ceritanya begini :

Suatu hari seorang teman meminjam sepeda motor. Waktu itu masih jaman kuliah, tentu saja sepeda motor yang kumiliki sangat vital sebagai sarana transportasi dari rumah ke kampus yang jaraknya cukup lumayan. Temanku ini pinjam selama satu hari. Entah untuk keperluan apa, selama sehari itu pula motor tak ada bersama saya. Kebetulan, hari itu adalah hari Minggu alias hari libur bagi semua pegawai dan juga institusi pendidikan. Jadi kupikir tak mengapa liburan di rumah saja, tak pergi ke mana-mana. Kalau pun ada keperluan keluar rumah yang tak terlalu jauh bisa kutempuh dengan sepeda.

Akan tetapi, sampai sore hari temanku tadi tak juga nongol. Bahkan kabarnya pun tak ada, menelepon juga tidak. Kucoba menunggu sampai malam, namun temanku tidak juga datang. Aku sempat berpikiran juga kalau-kalau keperluan temanku sampai ke luar kota atau ada sesuatu yang terjadi padanya.

Ketika pagi tiba, temanku masih juga tak memberikan kabar. Padahal hari itu aku ada kuliah pagi dan untuk sampai di kampus dengan cepat, sarana transportasi yang pas adalah sepeda motor. Kalau naik bis pasti penuh sesak dan sudah pasti jalanan macet pada jam sibuk. Akhirnya kuputuskan tidak jadi kuliah pagi dengan pertimbangan yang sudah kupikirkan sebelumnya.

Siangnya lepas waktu dzuhur kucoba menemui temanku tadi di rumahnya. Jarak antara rumahku dan rumahnya cukup dekat, kira-kira 10 menit jalan kaki. Di depan rumah, sepeda motorku terlihat ada di sana. Ketika kutanyakan apakah keperluannya sudah selesai, ia menjawab sudah selesai kemarin sore. Kutanyakan lagi kenapa ia tak segera mengembalikan sepeda motor sore itu juga atau malam harinya, sebab esok hari kendaraan itu kupakai untuk berangkat kuliah.

Apa jawabnya?

“Malas ah, soalnya aku udah capek seharian, jadi sori aja sepeda motor aku tahan dulu di sini”, katanya dengan enteng.

“Khawatir banget sih, jadi orang jangan pelit-pelit amat lah, baru dipinjam satu hari aja udah kaya orang kehilangan barang yang diembat maling” lanjutnya tanpa perasaan bersalah.

Nah, lho…..! Siapa yang salah kalau sudah begini?

Dijelaskan pun rasanya tak ada gunanya lagi, karena sudah kuterangkan sebelumnya bahwa itu motor esok mau dipakai buat berangkat kuliah.

Kejadian tersebut tak urung membuatku sewot juga plus dongkol dll. Dia bukannya minta maaf karena telah membuatku gelisah menunggu, eh malah mengatakan aku orang pelit. Padahal dianya aja yang tak merasa dan tak tahu diuntung. Iya gak…?

Kacau dah nih, acara kuliah juga batal gara-gara sepeda motor.

Rasanya wajar aja to, mempertanyakan apa yang menjadi milik kita sendiri? Karena itu adalah hak kita yang tidak mengganggu kepentingan orang lain. Sudah ah, bikin sewot aja. Lagi pula ini sudah terjadi lama sekali, sebuah kejadian yang menjengkelkan.

Nah, pernahkah Anda dibikin sewot orang hanya karena mempertanyakan sesuatu yang menjadi hak Anda?