HALAMAN PUTIH

Media Informasi Dan Berbagi Cerita

Perusahaan Keluarga Yang Bukan Lagi Milik Keluarga 2 September 2012

Umumnya, perusahaan keluarga yang masih eksis sampai sekarang telah berusia lebih dari 50 tahun. Sejarah perusahaan keluarga dimulai dari bisnis kecil yang semakin lama makin berkembang. Seiring dengan perkembangannya, perusahaan kemudian melebarkan sayapnya ke berbagai daerah atau bidang bisnis yang lain.

Komitmen utama dalam perusahaan keluarga adalah mempertahankan budaya perusahaan. Budaya yang dilandasi oleh tradisi dan nilai-nilai dari keluarga itu sendiri menjadi dasar bagi perusahaan keluarga untuk mengembangkan bisnisnya. Namun dalam perkembangan selanjutnya, komitmen tersebut banyak yang diabaikan. Perusahaan tidak lagi mempertahankan budaya keluarga semata. Perusahaan telah melangkah lebih jauh dengan mengedepankan profesionalisme.

Banyak perusahaan telah berusia lebih dari 50 tahun dan sampai sekarang masih eksis menjalankan bisnisnya. Perusahaan-perusahaan besar seperti Nyonya Meneer berdiri tahun 1919, Bakrie & Brothers tahun 1942, perusahaan rokok Sampoerna 1913, Bank NISP 1941, PT. Bentoel 1930, Toko Gunung Agung 1953, Pabrik Ban Gadjah Tunggal 1951 juga Harian Kedaulatan Rakyat 1945 merupakan perusahaan keluarga yang bermula dari bisnis kecil keluarga.

Perusahaan-perusahaan tersebut mampu berkembang dengan pesat memakan waktu yang panjang. Kini di berbagai daerah banyak cabang dan anak perusahaan yang telah berdiri. Masih banyak lagi di Indonesia perusahaan swasta selain perusahaan tersebut di atas yang telah berusia di atas 50 tahun namun tetap eksis dalam bisnisnya.

Kepemilikan perusahaan mungkin telah sampai pada generasi kedua bahkan ketiga. Sedangkan generasi pertama atau perintis bisnis itu sendiri telah meninggal dunia. Profesionalisme yang telah diterapkan oleh perusahaan membuat pemiliknya tak lagi menguasai saham mayoritas. Hal ini mungkin dipicu oleh faktor internal dan eksternal yang membuat pemilik perusahaan menyerahkan pengelolaan perusahaannya kepada orang lain, bukan lagi pada keluarganya. Misalnya masalah yang menimpa perusahaan yang tidak bisa diselesaikan, menyebabkan kepemilikan beralih kepada orang lain atau pihak ketiga.

Seperti pada Bank NISP, kini sahamnya telah dikuasai oleh Overseas Chinesee Banking Corporation sebesar 70,62%. Demikian pula dengan PT Bentoel, akibat perselisihan keluarga yang tidak dapat diselesaikan, kini sahamnya dikuasai sepenuhnya oleh PT. Bhakti Investama milik taipan Hary Tanoesoedibjo. Kemudian Bakrie & Brothers, 52% sahamnya diambil alih oleh kreditur karena perusahaan ini tak mampu melunasi utangnya akibat krisis moneter tahun 1997. Keluarga Bakrie hanya memegang 2,5% saham saja.

Sementara itu Charles Saerang, yang merupakan generasi ketiga keluarga Nyonya Meneer membeli seluruh saham milik keluarga. Ini dilakukan untuk menghindari perpecahan keluarga akibat perebutan kepemimpinan perusahaan pada keluarga tersebut. Dengan demikian dari keluarga Nyonya Meneer hanya Charles dan kakaknya yang masih memiliki saham. Yang paling heboh adalah berita ketika Putera Sampoerna menjual seluruh sahamnya kepada Phillip Morris dengan harga US $2 Miliar atau senilai dengan Rp. 18 Triliun. Itu semua merupakan satu contoh yang terjadi di masa lalu.

Tak banyak keluarga yang rela menyerahkan kepemilikannya kepada orang lain kalau tidak didasari alasan tertentu. Namun di tangan para professional, biasanya bisnis berjalan dengan baik dan pertumbuhannya juga semakin meningkat. Profesionalitas dalam bekerja akan menjadi lebih rasional dan tak mengandalkan emosi saja. Kalau masih dikelola oleh satu keluarga faktor emosi turut berperan dalam pengambilan keputusan. Tak jarang hal inilah yang menyebabkan terjadinya perpecahan. Itu juga diakui oleh Charles Saerang sebagai pemilik Perusahaan Jamu Nyonya Meneer.

Untuk tetap eksis dalam bisnis dalam kurun waktu yang lama memang bukan suatu hal yang mudah. Dunia selalu mengalami perubahan, demikian pula halnya dengan perusahaan besar. Jika tak mampu menyesuaikan diri dengan tren yang ada, bisa jadi perusahaan tak akan dapat bertahan. Di samping itu hambatan yang datang dari para pesaing pun menjadi problem tersendiri. Perusahaan yang mampu bertahan di era yang pernuh dengan perubahan. pasti memiliki ciri khas dan kultur yang kuat.

Hermawan Kartajaya mengungkapkan bahwa di perusahaan yang mampu bertahan lebih dari 50 tahun akan ditemukan 3 winning charasteristic, yaitu kemampuan beradaptasi, budaya perusahaan yang kuat dan inovasi tiada henti. Demikian Hermawan dalam bukunya 4G Marketing.

Perusahaan besar seperti yang telah disebutkan di atas memiliki semua itu. Kita bisa menyaksikan dalam promosi atau iklan-iklannya yang gencar di media televisi atau surat kabar. Konsep pemasaran terlihat sangat menawan dengan berbagai variasi untuk meningkatkan penjualan produknya. Iklan-iklan yang variatif memaksa audiens untuk memakai produk, minimal mencobanya. Selain itu inovasi di berbagai bidang juga terkonsep sebagai suatu strategi untuk meningkatkan pertumbuhan perusahaan. Hanya perusahaan yang sekelas saja yang mampu menjadi pesaing dalam hal ini.

Kalau dicermati lebih lanjut, ternyata banyak sekali perusahaan di Indonesia atau di mancanegara yang tadinya milik keluarga kemudian diambil alih oleh orang lain. Di Amerika saja ada sekitar 70% perusahaan yang tadinya berawal dari bisnis kecil keluarga. Keluarga pendiri perusahaan memang masih memiliki saham tetapi bukan lagi sebagai pemilik mayoritas.

Ya, perusahaan yang tadinya milik keluarga secara utuh dalam perkembangannya sudah bukan lagi milik keluarga.(Sumber: Majalah Swa)