Kalender Hijriyah Dan Kalender Jawa

Kalender Hijriyah

Kalender Hijriyah dikenal pula sebagai kalender Islam. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, pada tahun ketiga pemerintahannya yang menyadari akan pentingnya kalkulasi ulang terhadap perhitungan masa yang sudah ada karena bulan-bulan tersebut belum ada tahunnya. Dengan demikian maka timbul pertanyaan, misalnya pada bulan Ramadhan itu bulan Ramadhan tahun lalu ataukah sebelumnya? Akhirnya Khalifah Umar mengundang tokoh-tokoh dalam bidang tersebut. Kemudian disepakati bersama bahwa awal tahun (tahun 1 Hijriyah) adalah pada saat hijrahnya Nabi dari mekkah ke Madinah bersama umat beliau. Tanggal dan bulannya tatap dan tak berubah, yaitu saat hijrah nabi adalah pada pada tanggal 2 Rabi’ul Awal dengan tahun yang telah disepakati yaitu tahun pertama hijriyah. Jadi hijrah Rasulullah SAW adalah tanggal 2 Rabi’ul Awal 01 H.

Tahun hijriyah perhitungannya berdasarkan peredaran bulan. Bulan saat mulai kelihatan hingga habisnya adalah 29 hari 8 jam 43 menit. Setahun dihitung 354 hari untuk tahun biasa (non kabisat) dan 355 hari untuk tahun kabisat. Kalau untuk kalender masehi satu siklus adalah 4 tahun (siklus kecil) maka untuk kalender Islam siklusnya adalah 30 tahun dengan ketentuan bahwa tiap-tiap 30 tahun ada 11 tahun kabisat dan 19 tahun biasa. Tahun hijriyah tak mengenal siklus besar.

Asal mula perhitungan untuk satu siklus adalah 354 11/30 hari. Jumlah hari untuk satu siklus adalah (30 X 354) + 11 = 10631 hari. Untuk mengetahui bahwa suatu tahun adalah tahun kabisat atau bukan adalah angka tahun dibagi 30, apabila ada sisa 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26 dan 29 adalah tahun kabisat sedangkan selain itu dianggap sebagai tahun biasa. Pada tahun biasa umur bulan Dzulhijjah (bulan ke-12) adalah 29 hari sedangkan pada tahun kabisat umurnya 30 hari.

Kalender Masehi perhitungannya berdasarkan peredaran matahari, maka dari itu pada tanggal dan bulan yang sama posisi matahari adalah sama sehingga jadwal waktu sholat yang disusun berdasarkan tanggal dan bulan Masehi berlaku abadi. Tanggal 01 Muharram 01 H berdasarkan yang telah disepakati oleh ahli hisab bertepatan dengan tanggal 15 Juli 622 M.

Adapun nama-nama bulan pada tahun hijriyah itu adalah : Muharam, Shafar, Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah.

Kalender Jawa

Tahun Jawa disebut juga tahun Saka memberlakukan perhitungan berdasarkan peredaran bulan sebagaimana kalender Hijriyah. Dalam kalender Jawa ini terdapat perputaran waktu khusus (siklus) yaitu Windu, Pasaran, Selapan dan Wuku. Setelah Islam masuk maka banyak istilah yang diubah menjadi istilah Islam. Nama hari pada kalender umum di Indonesia hari Ahad sampai Sabtu juga istilah dari Islam.

Pada Jaman Kerajaan Mataram, kalender Jawa Islam dibuat yang merupakan sebuah kalender perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Budha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Kalender ini dikenal pula dengan Kalender Jawa Sultan Agungan. Pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung menyebarluasakan agama Islam di pulau Jawa dalam suatu wadah negara Mataram memprakarsai untuk mengubah penanggalan saka. Ada analisis, agar penyebaran Agama Islam itu tidak memunculkan konflik, maka lewat budayalah penyebaran itu dilakukan. Hal itu sudah dimulai oleh para wali sejak pemerintah Kasultanan Demak pada beberapa dekade sebelumnya.

Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender komariah atau lunar yaitu perhitungan penanggalan berdasarkan peredaran bulan, namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan yang dilakukan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun yang dipakai saat itu tahun 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

Satu Windu = 8 tahun, sedangkan nama-nama tahun pada satu Windu adalah tahun pertama disebut Wawu, kedua (Jimakir), ketiga (Alip), keempat (Ehe), kelima (Jimawal), keenam (Je), ketujuh (Dal) dan kedelapan (Be).

Satu siklus pasaran ada 5 hari. Lima pasaran itu adalah 1 (legi), 2 (pahing), 3 (pon), 4 (wage), 5 (kliwon). Untuk selapanan, satu selapan adalah 7 siklus pasaran tersebut yaitu dari 7 X 5 = 35 hari. Misalnya tanggal 1 Januari 2000 untuk hari pasarannya adalah Sabtu Legi, selapannya adalah 35 hari lagi yaitu 5 Februari 2000 yang hari pasarannya adalah sama yaitu Sabtu Legi. Satu wuku = satu minggu berjumlah 30 wuku, jadi dalam satu siklus wuku adalah selama 30 minggu.

Dalam Kalender Jawa Sultan Agungan, nama-nama bulan mengadopsi dari nama bulan pada kalender Hijriyah sehingga ada kesesuaian dengan kondisi masyarakat Jawa Islam pada waktu itu. Nama-nama bulan tersebut adalah : Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, Besar.

Pembuatan Kalender Jawa Islam itu sekaligus juga untuk merangkul seluruh rakyat Jawa untuk menyatu di bawah kekuasaan Mataram. Dan pada gilirannya kemudian dijadikan sebuah momentum politik menggalang kekuatan untuk menyerbu Belanda dengan VOC-nya di Batavia pada tahun 1628 dan 1629.

Pada prinsipnya antara Kalender Jawa dan Kalender Jawa Sultan Agungan tidak ada perbedaan. Sebab Kalender Jawa versi Sultan Agung juga tetap menggunakan apa yang sudah ada pada kelender Jawa bertahun Saka dengan beberapa penyesuaian dari kalender Hijriyah.