Berbuat Kerusakan

Tentu Anda semua masih ingat peristiwa atau kejadian di tahun 1998. Unjuk rasa gencar dilakukan oleh para mahasiswa yang tergabung dalam berbagai wadah. Hal itu membuat kita semakin prihatin. Betapa tidak, gerakan mahasiswa itu tidak hanya dilakukan di satu tempat saja, akan tetapi nyaris di berbagai kampus dari berbagai daerah. Hampir tidak ada kampus yang tak melakukan aksi semacam itu.

Tak jarang aksi tersebut akhirnya diwarnai dengan bentrokan antara aparat keamanan dan pelaku aksi itu sendiri. Kita menyadari bahwa aksi yang kebanyakan dilakukan oleh para mahasiswa itu rata-rata mempunyai tuntutan yang sama yakni menuntut diadakannya reformasi di bidang politik, ekonomi, hukum maupun bidang yang lain. Dan yang paling penting adalah mundurnya Pak Harto dari jabatan presiden.

Namun yang terjadi waktu itu sungguh membuat kita tak habis mengerti. Setiap unjuk rasa yang dilakukan oleh para mahasiswa, yang telah berubah menjadi gerakan massa hampir selalu berbuntut dengan terjadinya insiden serta kericuhan. Dan hal ini berakibat jatuhnya korban baik dari pihak aparat keamanan dan juga pelaku unjuk rasa. Tak sedikit dari mereka yang mengalami luka-luka bahkan mengakibatkan korban jiwa di kedua belah pihak.

Bukan hanya itu akibat insiden yang terjadi, kita menyaksikan sendiri atau paling tidak kita baca di koran adalah rusaknya berbagai fasilitas umum. Entah itu milik perorangan, fasilitas kampus ataukah fasilitas-fasilitas milik warga masyarakat. Ini patut kita sesalkan, padahal aksi itu sendiri sepengetahuan kita adalah untuk memperjuangkan nasib dan kesejahteraan rakyat, bangsa dan negara yang makin lama makin tak menentu. Tapi buntutnya malah membuat kita prihatin. Kerusakan yang diakibatkan oleh amukan massa tersebut tentu saja menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.

Terlepas dari siapa pelaku perusakan, apakah itu mahasiswa ataukah ada pihak lain yang sengaja memancing di air keruh. Yang jelas perbuatan merusak, membuat kekacauan dan yang sejenisnya dalam agama tidak dibenarkan. Allah Swt berfirman :

“Janganlah kamu berbuat bencana di muka bumi, sesudah baiknya. Mintalah kepada-Nya dengan ketakutan dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS. Al A’raf : 56).

Jika Allah saja memperingatkan kepada manusia agar tak membuat bencana atau kerusakan di muka bumi, apakah kita manusia akan menyepelekan begitu saja peringatan tersebut. Kita seharusnya sadar bila kita tak mengindahkan peringatan Allah sama halnya dengan menentang. Dan Allah Swt tiada mengasihi orang-orang yang berbuat bencana dan kerusakan. (QS. Al Qashash : 77).

Tindakan pengrusakan yang dilakukan oleh amukan massa saja tak bisa dibenarkan. Lebih-lebih kalau hal itu justru malah dilakukan oleh aparat keamanan tentunya sangat tidak bisa dibenarkan. Aparat keamanan mestinya bisa menahan diri dan berlaku lebih bijaksana. Tidak asal main pukul dan penthung atau main injak dan tendang. Sebab ini tidak mencerminkan sikap arif dari aparat yang notabene adalah pengayom, pengaman dan pelindung masyarakat.

Rasanya memang terlalu berlebihan jika warga masyarakat yang tak tahu menahu tentang unjuk rasa apalagi turut melakukan aksi tiba-tiba saja sampai babak belur kena pukul, kena gebuk atau kena hantam dan menjadi korban semena-mena oleh sejumlah oknum aparat keamanan. Belum lagi tindakan yang mengakibatkan rusaknya fasilitas pendidikan dan fasilitas milik warga masyarakat serta sisa-sisa gas air mata yang belum habis, sungguh sangat disayangkan dan sangat mengecewakan. Dan Allah Swt telah memperingatkan:

“Apakah kiranya jika kamu menjadi wali (berkuasa) kamu berbuat bencana di muka bumi dan memutuskan silaturrahmi”. (QS. Muhammad : 22).

Bukannya kita tidak setuju adanya aksi unjuk rasa, bukan pula kita tak setuju kalau aparat bertindak mengendalikan massa. Tetapi tindakan-tindakan yang dilakukan dan tak dapat dipertanggungjawabkan itulah yang tidak bisa kita terima. Karena akibat yang ditimbulkan ternyata sangat merugikan kepentingan umum dan yang pasti beban bangsa dan negara akan semakin bertambah berat. Akan sangat kita sesalkan jika peristiwa yang membawa korban dan mengakibatkan kerusakan itu terulang kembali atau terus berlanjut.

Kalau selama ini yang gencar melakukan tuntutan adalah para mahasiswa, kiranya itu wajar saja. Sebab mereka hidupnya di tengah masyarakat. Tentu mereka mendengar sendiri keluhan-keluhan dari masyarakat dan sebagai mahasiswa mereka tak bisa berdiam diri begitu saja melihat kenyataan yang dihadapi terutama oleh rakyat kecil.

Para wakil rakyat seharusnya juga mendengar dan mengetahui serta ikut membantu menyalurkan suara-suara rakyat kepada pihak yang bersangkutan tidak hanya berdiam diri saja. Bukankah menjadi wakil rakyat adalah suatu amanah? Dan orang yang telah diberi amanah wajib menyampaikan amanah itu (QS. An Nisa : 58). Bukankah para wakil rakyat itu juga hidup di tengah masyarakat dan hidup sebagai warga masyarakat?. Mustahil rasanya jika tidak mendengar dan mengetahui suara-suara yang langsung berasal dari rakyat.

Tindakan berbuat kerusakan seperti tersebut di atas pun masih sering kita saksikan sekarang ini. Misalnya kericuhan dalam pertandingan sepakbola, kereta api lewat dilempari orang, penghancuran tempat ibadah, corat-coret dan merusak fasilitas umum, teror bom hingga merusak keperawanan anak gadis orang tanpa ikatan yang sah.