HALAMAN PUTIH

Media Informasi Dan Berbagi Cerita

Sisi Lain Perpustakaan Kita 19 Mei 2010

pinjam gambar dari sini

Peran perpustakaan dalam proses pendidikan dan usaha mencerdaskan kehidupan masyarakat tidaklah kecil. Ditinjau dari fungsi-fungsinya, perpustakaan mempunyai fungsi yang tidak bisa diabaikan. Fungsi –fungsi itu antara lain fungsi intelektual sebagai sumber ilmu pengetahuan, fungsi informasi untuk mencari informasi yang dibutuhkan pemakainya, fungsi rekreasi sebagai tempat bacaan umum dan hiburan serta fungsi kultural sebagai tempat menyimpan dan memelihara benda-benda bernilai hasil karya manusia.

Dewasa ini pengertian perpustakaan sudah lebih berkembang. Anggapan masyarakat bahwa perpustakaan selalu identik dengan buku-buku dan majalah atau media cetak tidak seluruhnya benar sehingga anggapan tersebut perlu diluruskan lagi. Istilah perpustakaan sudah mengalami perluasan makna, bukan lagi sekedar gedung atau bangunan.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan menyebutkan bahwa Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka”.

Masih menurut undang-undang yang sama, “Koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah, dan dilayankan.

Pada masa sekarang, perpustakaan tak hanya mengoleksi buku-buku dan majalah atau media cetak saja. Lebih dari itu, koleksi bukan dalam bentuk buku (non book material) juga tersedia antara lain berupa karya rekam seperti kaset, video, piringan hitam, slide dan film. Kemudian dalam bentuk mikro seperti mikro film dan mikrofis. Lalu dalam bentuk digital seperti CD dan juga file-file yang bisa dibaca dengan menggunakan komputer. Koleksi tersebut bisa dikatakan sebagai buku tetapi dalam pengertian luas.

Selain itu perpustakaan telah memanfaatkan teknologi informasi seperti CD-ROM, jaringan komputer, dan internet. Khusus internet dapat digunakan untuk penelusuran informasi secara online. Informasi terhubung dengan basis data atau pangkalan data dari jarak jauh sehingga data bisa diakses dari tempat lain dengan jaringan komputer. Banyak sudah perpustakaan di Indonesia yang sudah menyediakan layanan ini.

Selain layanan di atas, ada lagi layanan istimewa yang bisa diberikan oleh perpustakaan. Pemakai tak perlu segan-segan meminta bantuan atau petunjuk pada pustakawan (librarian) untuk mencarikan informasi yang diinginkannya. Pustakawanlah yang akan melakukan penelusuran informasi sampai ketemu. Perpustakaan juga menerapkan Current Awareness Services (CAS) atau kesediaan informasi terbaru dan Selected Destimination Information (SDI) atau kesediaan informasi terpilih dan mutakhir. Pengetahuan atau informasi terbaru dan paling up to date bisa diperoleh dengan layanan tersebut.

Jika sebuah perpustakaan sudah banyak menyediakan layanan seperti apa yang dikemukakan di atas maka dapat dibayangkan bagaimana bangunan atau gedung perpustakaannya. Biasanya suasana dan keadaan di dalamnya sangat representatif dan nyaman sehingga kesan positif akan nampak. Sebuah perpustakaan yang maju dan bonafid akan menyingkirkan kesan negatif yang telah melekat dalam anggapan masyarakat selama ini.

Di era informasi seperti sekarang ini, perpustakaan dapat dilihat sebagai pusat atau sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai barometer tingkat kemajuan, kecerdasan dan peradaban suatu bangsa. Bagaimana perkembangan dan kemajuan perpustakaan, begitulah tingkat kemajuan bangsa atau masyarakat yang ada di sana. Seharusnya perpustakaan di berbagai institusi di negara kita mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman.

Pada kenyataannya banyak juga perpustakaan yang masih terkesan berjalan seadanya tanpa ada usaha untuk mengubah anggapan masyarakat yang sudah terlanjur negatif? Kalau masalahnya ada pada anggaran atau biaya, rasanya hampir semua lembaga atau institusi mempunyai kesamaan dalam hal ini.

Di satu perpustakaan, anggaran mungkin sudah lebih dari cukup bahkan lebih, sedangkan di perpustakaan lainnya anggaran yang dialokasikan minim atau kurang diperhatikan. Sebuah masalah klasik dari waktu ke waktu.

Begitulah sisi lain perpustakaan di negeri kita.