HALAMAN PUTIH

Media Informasi Dan Berbagi Cerita

Hijrah Menuju Kebaikan 14 November 2012

Konsep hijrah yang selama ini kita pahami adalah pindahnya Rasulullah Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Beliau meninggalkan tanah kelahirannya yang berpenduduk kaum kafir Quraisy menuju negeri Yastrib, yang kemudian menjadi Madinah. Orang-orang yang berhijrah mengikuti nabi tersebut lantas mendapat sebutan sebagai kaum muhajirin, sedangkan penduduk Madinah yang menampung kaum muhajirin itu kemudian disebut sebagai kaum anshor.

Akan tetapi sebenarnya hijrah itu sendiri  bisa mempunyai dua arti, yaitu hijrah makani (hijrah secara fisik atau berpindah tempat) dan hijrah maknawi (hijrah dalam arti filosofis). Hijrahnya Rasulullah dimaknai sebagai hijrah secara fisik atau tempat). Dari sinilah awal mulanya penetapan tahun hijriyah, didasarkan pada peristiwa hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah.

Raqib Al-Ishfahani, seorang pakar leksikografi Al Qur’an memberikan makna hijrah ke dalam tiga arti yaitu :

  1. Meninggalkan negeri yang berpenduduk kafir ke negeri yang berpenduduk muslim
  2. Meninggalkan akhlak buruk atau perbuatan tercela kepada kebaikan (akhlakul karimah)
  3. Menundukkan hawa nafsu untuk martabat kemanusiaan (mujahadah an-nafs)

Kalau melihat ketiga poin di atas, kiranya poin pertama tersebut tidaklah diperlukan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri kita, karena penduduk Indonesia ini mayoritas adalah muslim. Namun kalau melihat kondisi masyarakat kita dewasa ini, mungkin poin kedua dan ketiga tersebut bisa kita jadikan pertimbangan untuk berhijrah.

Moral yang makin tidak tertata sudah mendominasi berbagai sektor kehidupan. Mulai dari tawuran pelajar, korupsi, kasus narkoba, pungli, mafia peradilan, tender yang tidak dilakukan secara jujur hingga mafia narkoba yang ditengarai masuk istana menjadi segelintir bukti bahwa moral sebagian masyarakat sudah semakin parah.

Belum lagi para calo  yang menawarkan jasa perekrutan pegawai negeri yang menjanjikan lolos seleksi alias diterima dengan membayar sejumlah uang menambah perbendaharaan kebejatan moral di lingkungan aparatur negara. Padahal, jika mereka itu sudah bermoral baik tentu hal-hal tersebut tak akan pernah dilakukan sehngga tes seleksi pun akan berjalan lebih jujur, adil dan transparan hasilnya.

Agaknya akan lebih tepat kiranya jika di tahun baru hijriyah ini kita mencoba untuk menghayati lagi makna hijrah secara komprehensif. Tak hanya hijrah dalam artian berpindah tempat saja, tetapi hijrah kepada kebaikan baik itu moral, sikap, sifat, perilaku maupun tindakan dan perbuatan hendaknya dapat kita lakukan.

Demikian pula seandainya kita merasa sesuatunya sudah terlihat baik, tak ada salahnya untuk lebih ditingkatkan lagi sehingga kualitas diri kita di hadapan Allah SWT pun akan selalu bernilai dan berkualitas. Sebagaimana yang selalu diharapkan orang dari waktu ke waktu, dari tahun ke tahun bahkan sepanjang waktu. Kita berhijrah menuju kepada kebaikan.