HALAMAN PUTIH

Media Informasi Dan Berbagi Cerita

Perhitungan Waktu 4 Januari 2011

Sejak ribuan tahun silam manusia memerlukan perhitungan waktu dan mereka sudah mempunyai cara untuk melakukannya. Para petani sejak dahulu sudah mempelajari bahwa setiap memulai pembibitan atau menuai tanaman tergantung pada musim yang berganti secara tetap. Mereka menyelidiki musim-musim tersebut untuk menetapkan perhitungan penanggalan. Perhitungan berdasarkan musim ini mengantarkan mereka pada sistem penanggalan matahari.

Walau pada akhirnya ada juga yang mempergunakan penanggalan berdasarkan peredaran bulan, hal itu wajar saja karena secara mudah bisa diketahui bahwa bulan muncul dan tenggelam secara berulang. Sebelum Islam turun di tanah Arab sudah ada perhitungan penanggalan bahkan nama-nama bulan waktu itu juga sudah ada.

Ada berbagai macam kalender selain kalender Masehi dan Hijriyah seperti kalender India, Yahudi, Cina, Eropa, Jepang, Jawa dll. Kalender yang biasa dipakai oleh umat di dunia ini adalah kalender Masehi dan kalender Hijriyah. Kalender Masehi telah disepakati sebagai kalender internasional sedangkan kalender Hijriyah adalah kalender Islam dan sangat penting sebagai penentu kegiatan keagamaan seperti puasa, hari raya dan peringatan hari besar Islam lainnya.

Kalender-kalender atau penanggalan yang selama ini kita gunakan terbagi menjadi 12 bulan yang di dalamnya terdapat hari-hari yang berbeda jumlahnya setiap bulan. Sehari semalam ada 24 jam. Di Inggris dikenal istilah a.m (ante meridien) menunjukkan waktu antara pukul 12.00 malam sampai pukul 12.00 siang dan p.m (post meridien) menunjukkan waktu antara pukul 12.00 siang sampai pukul 12.00 malam. Di Indonesia dikenal istilah siang dan malam. Untuk waktu 12 jam kedua ditambah dengan 12 sehingga setelah pukul 12.00 siang menjadi pukul 13.00 hingga pukul 24.00 (00.00). Pergantian hari terjadi setiap malam sejak pukul 00.00 untuk kalender Masehi. kalender Hijriyah dan kalender Jawa hari sudah berganti sejak waktu Maghrib.

Karena rotasi bumi searah jarum jam, maka siang atau malam selalu dimulai dari timur berurutan ke arah barat. Dengan demikian siang dan malam saling bergantian sambung menyambung. Awal perhitungan hari dilakukan dengan perjanjian dan batas tempat yang disebut Batas Garis Tanggal Internasional yaitu garis bujur. Garis itu terletak membujur dari kutub utara sampai kutub selatan di tengah-tengah Samudra Pasifik sehingga tak banyak menggangggu. Hari pertama dimulai dari sebelah barat garis terus ke barat sampai kembali ke garis tanggal internasional tersebut sampai kembali lagi ke wilayah timur.

Adanya garis bujur tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan waktu di berbagai belahan dunia. Keliling katulistiwa 360 derajat. Sekali bumi berputar memakan waktu 24 jam. Satu jam meliputi daerah waktu 360 : 24 = 15. Jadi setiap 15 derajat berbeda waktu 1 jam. Namun karena pertimbangan untuk tiap wilayah, maka garis pergantian jam disesuaikan dengan keperluan wilayah masing-masing negara.

Indonesia terletak pada 95 – 111 derajat Bujur Timur berarti sepanjang 46 derajat atau melewati 3 wilayah waktu, maka Indonesia terbagi menjadi 3 wilayah waktu yaitu :

1. Waktu Indonesia Timur (WIT) meliputi wilayah Maluku dan Papua

2. Waktu Indonesia Tengah (WITA) meliputi wilayah Sulawesi, NTT, NTB, Bali, Kalimantan Selatan dan Timur

3. Waktu Indonesia Barat (WIB) meliputi wilayah Jawa, Sumatra, Kalimantan Tengah dan Barat