Umat Sebelum Kita Juga Berpuasa

Satu bulan penuh kita berpuasa. Organ tubuh yang telah bekerja secara penuh sepanjang tahun untuk sementara waktu istirahat pada siang hari. Memang, mungkin dalam waktu satu sampai lima hari pertama puasa, badan terasa lemas, kurang gairah dan terkadang timbul rasa kantuk yang berat. Itu adalah hal yang biasa, karena tubuh mulai menyesuaikan diri dengan kondisi puasa. Namun lama-lama kita akan terbiasa seiring dengan berjalannya waktu.

Dalam kondisi puasa, dimana asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh menjadi berkurang akan terasa berat bagi yang belum terbiasa menjalani. Bisa jadi orang akan mengeluh sampai tidak kuat melaksanakannya. Yang kemudian terbayang dalam ingatan adalah ingin membatalkan puasa. Kalaupun tahan sampai saatnya berbuka puasa, tentu mereka sudah mempersiapkan segala jenis makanan atau minuman untuk disantapnya.

Hal ini adalah perwujudan sebuah nafsu yang masih melekat dalam diri manusia. Padahal ketika berbuka, segelas air dan sepiring nasi saja rasanya sudah cukup membuat perut kenyang. Dan semua makanan yang ada, urung dihabiskan saat itu. Ternyata kemampuan tubuh menerima makanan saat berbuka puasa tak sebesar nafsu yang ada dalam diri manusia.

Di Bulan Ramadhan, inti utamanya adalah memperkuat ruhani sehingga hawa nafsu pun akan menjadi lemah karenanya. Dengan menahan lapar dan haus maka kekuatan tubuh akan berkurang. Meskipun jasmani menjadi loyo, namun ruhani justru meningkat energinya. Kadar keimanan yang kuat dan mengakar pada orang yang sedang berpuasa akan membuat dirinya lebih agresif dalam menjalankan ibadah di Bulan Ramadhan.

Kita dapat melihat di berbagai tempat, aktivitas yang berkaitan dengan ibadah sangat menonjol. Sejak dini hari, orang mulai bangun untuk bersantap sahur yang dilanjutkan kemudian dengan Sholat Subuh berjamaah di masjid yang setelahnya ada ceramah atau kuliah Subuh. Demikian pula di malam hari, aktivitas ruhani lebih banyak dilakukan. Dari ceramah menjelang berbuka, taddarus Al Qur’an, Sholat Tarawih ataupun aktivitas lain yang sangat kental nilai ibadahnya.

Sesuai dengan firman Allah di dalam surat Al Baqarah ayat 183, manusia yang beriman diwajibkan berpuasa adalah untuk meraih derajat taqwa di sisi Allah. Ibadah puasa bukan hanya ritual tahunan yang dilakukan oleh umat Nabi Muhammad saja. Ayat di atas juga juga menyebut bahwa umat terdahulu pun melakukan puasa sebagaimana yang kita lakukan saat ini.

Dalam sebuah tafsirnya, Ibnu Katsir mengatakan bahwa sejak Nabi Nuh sampai Nabi Isa puasa wajib dilakukan tiga hari setiap bulannya. Bahkan Nabi Adam diperintahkan Allah untuk tidak memakan buah khuldi, ditafsirkan sebagai bentuk puasa pada masa itu. Firman Allah : “Janganlah kamu mendekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Baqarah: 35)

Demikian pula dengan Nabi Musa bersama kaumnya, melakukan puasa selama 40 hari. Nabi Zakaria menjalankan puasa tidak makan dan minum, juga tidak berbicara (QS. Maryam : 10) kecuali dengan isyarat saja. Maryam, ibunda nabi Isa tak ketinggalan. Beliau pun berpuasa sebagaimana yang tercantum dalam Surat Maryam ayat 26. Termasuk Nabi Isa sendiri, juga melaksanakan puasa.

Dalam Surat Al Baqarah ayat 249, Allah menjelaskan tentang puasanya Thaluth yang hanya diperbolehkan berbuka dengan seteguk air saja, tidak lebih. Puasanya Nabi Daud, sepanjang hidup dilakukan dengan sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa. Oleh Rasulullah SAW puasa Nabi Daud ini disebut sebagai sebaik-baik puasa.

Puasa tak hanya dilakukan oleh makhluk hidup yang bernama manusia. Binatang dan tumbuh-tumbuhan ternyata juga melakukan puasa. Ini merupakan sunnah kehidupan yang tak perlu kita ragukan lagi, karena telah berjalan sesuai dengan apa yang telah dikehendaki-Nya.

Ayam berpuasa selama mengerami telurnya. Ular pun demikian, baginya berpuasa adalah untuk menjaga struktur kulitnya agar tetap keras terlindung dari sengatan matahari dan duri hingga ia tetap mampu melata di muka bumi. Sama juga dengan ulat yang merupakan pemakan daun, sebelum menjadi kupu-kupu, ia berpuasa terlebih dahulu. Daun-daun yang dimakannya itu menjadi bekal puasa di dalam kepompong.

Tumbuhan, seperti pohon jati, ketepeng dan berbagai jenis tanaman keras lain berpuasa saat musim panas dengan cara menggugurkan seluruh daunnya. Ternyata itu dimaksudkan untuk mengurangi penguapan sehingga air tetap tersimpan sebagai bekal kelangsungan hidupnya.

Allah memerintahkan bagi kaum yang beriman untuk berpuasa bukan sekedar asal perintah saja. Namun di dalamnya terkandung maksud lain yang sangat berguna bagi manusia itu sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. Terlebih, kewajiban puasa dilaksanakan di Bulan Ramadhan, bulan yang sangat mulia. Setiap amal kebaikan dibalas dengan pahala 10 kali hingga 700 kali dan segala dosa kesalahan mendapat ampunan.

Ketika energi ruhani semakin meningkat, di situlah akan terasa betapa ringan menjalankan ibadah puasa dan ibadah sunnah lainnya di Bulan Ramadhan. Kalau binatang dan tumbuhan saja berpuasa, tentu saja manusia juga berpuasa. Insya Allah, derajat taqwa akan dapat diraih.

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui