Asyura

Asyura adalah hari kesepuluh di Bulan Muharam tahun Hijriyah. Dalam pandangan Islam hari kesepuluh merupakan hari yang istimewa. Ditandai dengan beberapa peristiwa penting dari sejarah para nabi. Karena keistimewaan hari Asyura inilah maka Sultan Agung Hanyokrokusuma ketika menciptakan kalender Jawa Islam mengambil nama Sura sebagai bulan pertama. Sura diambil dari kata Asyura dan diabadikan sebagai nama bulan pada tahun Jawa.

Dalam Kalender Jawa Sultan Agung, nama-nama bulan mengadopsi dari nama bulan pada kalender Hijriyah sehingga ada kesesuaian dengan kondisi masyarakat Jawa Islam pada waktu itu. Nama-nama bulan tersebut adalah : Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, Besar. Dari adopsi nama di tahun Hijriyah itulah kemudian muncul nama Bulan Sura, yang diambil dari hari ke sepuluh Bulan Muharam.

Di beberapa daerah di Indonesia, pada hari ke sepuluh ini biasanya digelar pengajian akbar atau acara-acara lain dalam rangka memperingati keistimewaannya. Kalau di Banjarmasin ada acara membuat bubur Asyura yang kemudian bubur tersebut dibagi-bagikan kepada masyarakat sebagai sedekah. Demikian pula di daerah lainnya banyak yang menggelar acara seperti ini.

Karena keistimewaan dan keutamaan hari Asyura, maka pada hari tersebut umat Islam disunahkan untuk melaksanakan puasa sehari. Namun ada juga yang melaksanakannya selama dua hari yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharam.

Dari Ibnu Abbas RA beliau berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)

Memang, berpuasa sunah pada tanggal 10 Muharam merupakan salah satu tuntunan yang diajarkan oleh Islam. Dan ini juga dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW di samping puasa sunah lainnya seperti puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah, puasa 6 hari di bulan Syawal, puasa senin kamis dan puasanya nabi Daud.

Sabda Rasulullah saw : “puasa hari asyura menghapus dosa setahun sebelumnya” (HR Muslim)

Kalau kita menengok kembali ke belakang, hari Asyura erat kaitannya dengan peristiwa penting dari sejarah para nabi sejak nabi Adam sampai nabi Muhammad.

Ada satu riwayat yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam telah berhijrah dan tiba di Madinah, beliau mendapati Yahudi yang ada di Madinah ternyata juga bershaum pada hari tersebut. Maka Rasulullah bertanya kepada mereka sebagaimana dikisahkan oleh sahabat Abdullah bin Abbas RA :

Bahwa Nabi shalallahu’alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah, beliau mendapat Yahudi berpuasa pada hari asyura. Maka beliau bertanya (kepada mereka) : “Hari apakah ini yang kalian bershaum padanya?” Maka mereka menjawab : “ini merupakan hari yang agung, yaitu pada hari tersebut Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun bersama kaumnya. Maka Musa bershaum pada hari tersebut dalam rangka bersyukur (kepada Allah). Maka kami pun bershaum pada hari tersebut”

Maka Rasulullah bersabda : “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka Rasulullah pun kemudian bershaum pada hari tersebut dan memerintahkan (para shahabat) untuk bershaum pada hari tersebut. (HR. Bukhari dan  Muslim)

Di Yogyakarta, bulan Muharam atau Sura ini dilaksanakan pemasangan patok pasar malam untuk perayaan sekaten. Beda dengan masyarakat Jawa yang mengintensifkan tirakatnya pada malam pergantian tahun, maka masyarakat Islam justru lebih konsentrasi pada hari ke sepuluh bulan Muharam ini dengan melaksanakan puasa sunah.