15 Alasan Merindukan Ramadhan (repost)

Ibarat seorang kekasih, maka Ramadhan selalu diharapkan kedatangannya. Setiap muslim selalu mempersiapkan diri menyambut datangnya Ramadhan. Begitu pula saat Ramadhan hampir berakhir, rasanya tak ingin berpisah. Sedih rasanya saat menapaki hari terakhir di bulan Ramadhan, meskipun esok harinya fajar 1 Syawal telah menunggu.

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa : “Andaikan setiap hamba Allah mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Mengapa Ramadhan begitu istimewa bagi kaum muslimin? Alasan apa yang menyebabkan Ramadhan begitu dirindukan kehadirannya dan mengapa setiap Ramadhan usai ada rasa sedih dan rindu tatkala berpisah dengannya?

Berikut ini adalah alasan-alasan mengapa Ramadhan selalu dirindukan oleh kaum muslimin yang beriman.

1. Derajat Taqwa
Taqwa adalah tujuan diperintahkannya kaum yang beriman untuk berpuasa sebagaimana yang disebutkan dalam Surat Al Baqarah ayat 183. Derajat taqwa merupakan derajat yang paling tinggi dan paling mulia di sisi Allah..
Kemudahan-kemudahan bagi hamba yang bertaqwa antara lain :
– memperoleh jalan keluar dari semua masalah (QS. Ath-Thalaaq : 2 & 4)
– dicukupi semua kebutuhannya (QS. Ath-Thalaaq : 3)
– ketenangan jiwa, tak khawatir dan sedih hati (QS. Al A’raf : 35)

2. Bulan Pengampunan
Dalam hadits disebutkan : “Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanannya dan karena mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa sebelumnya diampuni” (HR. Bukhari – Muslim dan Abu Dawud)

3. Pahala dilipatgandakan
Rasulullah bersabda : “Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Setiap satu kebaikan sepuluh lipat gandanya hingga tujuh ratus kali lipat” (HR. Bukhari-Muslim)

4. Pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup
“Kalau datang bulan Ramadhan, maka terbuka seluruh pintu surga, tertutup pintu neraka dan setan-setan dibelenggu” (HR. Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah)

5. Ibadah istimewa
Dalam hadits qudsi Allah berfirman : “Setiap amalan anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa. Itu milikku dan Aku yang membalasnya karena ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku” (HR. Bukhari-Muslim).

6. Dicintai Allah
Hadits qudsi : “Kalau Aku telah mencintai seseorang , Aku menjadi pendengaran untuk telinganya, menjadi penglihatan untuyk matanya, menjadi pegangan untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya” (HR. Bukhari)

7. Dikabulkannya Doa
Firman Allah : “Tiga doa yang tidak ditolak oleh Allah, orang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan doanya orang yang teraniaya. Allah mengangkat doanya kea wan dan membukakan pintu-pintu langit. Demi kebesaran-Ku engkau pasti Aku tolong meski tidak sekarang” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Firman Allah : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, katakanlah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku” (QS. Al Baqarah : 186)

8. Turunnya Lailatul Qodar
Allah menyatakan dalam firman-Nya : Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan mereka mengatur segala urusan. Malam itu adalah malam yang penuh dengan kemuliaan sampai terbit fajar” (QS. Al Qodar : 4-5)
Di sepuluh hari terakhir ini pula orang melaksanakan I’tikaf dan berharap Lailatul Qodar datang menemui dirinya.

9. Puasa meningkatkan kesehatan
Manfaat puasa antara lain : mengistirahatkan organ pencernaan pada siang hari, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mengeluarkan racun dan zat-zat yang tidak diperlukan dari dalam tubuh, mempercepat regenerasi sel, meningkatkan fungsi biologis dan syaraf, menghambat perkembangan dan pertumbuhan bakteri, virus dan sel-sel kanker, memperbaiki fungsi hormone dan lain-lain.

10. Dua harapan
“Setiap orang berpuasa selalu mendapat dua kegembiraan, yaitu tatkala berbuka puasa dan saat bertemu dengan Tuhannya (di akhirat)” (HR. Bukhari)

11. Masuk surga melalui pintu khusus Ar Royyaan
“Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut Ar Royyaan yang akan dilewati oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti. Tidak diperbolehkan seseorang melewatinya selain mereka. Ketika dipanggil, mereka akan segera bangkit dan masuk semuanya kemudian ditutup” (HR. Bukhari).

12. Minum air telaga milik Rasulullah
“Mereka (para sahabat berkata) : “wahai Rasulullah, tidak setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa. Beliau berkata : Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi buka puasa meski dengan sebutir kurma, seteguk air atau susu. Barang siapa memberi minum orang yang berpuasa, maka Allah akan memberinya minum seteguk dari telaga dimana ia tidak akan haus hingga masuk surga” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi).

13. Harta dan jiwanya tersucikan
Setiap muslim wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk mensucikan jiwa. Demikian pula dengan harta yang telah terkumpul selama satu tahun dan telah mencapai nishabnya, maka wajiblah dizakati. Harta dan jiwa yang disucikan ini di akhirat nanti akan dapat menghindarkan diri dari api neraka. Harta yang barokah akan mendatangkan ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan. Sebaliknya harta yang tidak barokah akan mengundang kekhawatiran dan ketidaktenangan dalam hidup.

14. Qaulan Tsaqilaa
Di bulan Ramadhan ditekankan untuk melakukan shalat malam dan tadarus Al Qur’an terutama pada sepertiga malam terakhir. Untuk semaraknya syiar Ramadhan, diperbolehkan shalat malam di sepertiga malam yang pertama dengan berjamaah di masjid yang popular disebut sebagai shalat Tarawih. Orang-orang yang suka melakukan shalat malam wajahnya bakal memancarkan cahaya kewibawaan. Allah juga menganugrahi qaulan tsaqilaa yaitu perkataan-perkataan yang berbobot dan berwibawa. Ucapan-ucapannya selalu mengandung kebenaran dan bernilai tinggi, jauh dari kesan mengobral kata-kata.

15. Berkumpul dengan sanak keluarga
Hari kemenangan setelah Ramadhan adalah Idul Fitri 1 Syawal. Silaturrahim saling memaafkan biasanya dilakukan oleh setiap orang. Kalau pada bulan Ramadhan moment mohon ampun dilakukan hanya kepada Allah, maka di bulan Syawal maaf memaafkan dilakukan antara manusia dengan manusia. Khususnya dengan kerabat dekat yang biasanya menyempatkan diri untuk pulang ke rumah orang tuanya. Dari sini kemudian muncul mudik lebaran dengan berbagai transportasi yang gunakan. Selanjutnya dapat kita lihat, dimana-mana terjadi pemandangan yang khas yang popular disebut sebagai syawalan atau halal bi halal dalam satu keluarga besar, instansi atau lembaga dan lain-lain.

Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Mulai malam ke 21 di bulan Ramadhan, orang-orang mulai melakukan apa yang dinamakan I’tikaf. Tujuan melakukan ibadah ini biasanya adalah mencari suatu malam yang paling mulia atau malam Qadar (Lailatul Qadar). Di sebagian masyarakat sering dikenal dengan tradisi selikuran.

Apabila seseorang dianugerahi kemuliaan oleh Allah dengan kata lain mendapatkan Lailatul Qadar maka dosa-dosanya diampuni dan ia memperoleh kemuliaan yang berlipat ganda. Ibadah yang dilakukan pada malam Qadar ini nilainya lebih baik dari ibadah selama 1000 bulan atau kurang lebih 83 tahun (QS. Al Qodar : 1-5)

Subhanallah….

Rasulullah SAW pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan menggiatkan ibadah dengan mengajak seluruh keluarga beliau untuk melakukan I’tikaf di masjid. Demikian pula kita hendaknya juga semakin meningkatkan ibadah kita. Jangan malah loyo atau lemes, justru di sinilah ujian beratnya. Menghidupkan malam di sepuluh hari terakhir sangat dianjurkan.

Kita bisa mengisinya dengan bertadarus Al Qur’an, berdzikir, memperbanyak shalat sunnah, bersedekah, mengkaji ilmu-ilmu agama dll ibadah yang bernilai positif. Insya Allah semua itu akan mendapat balasan dari Allah. Meskipun demikian harapan akan bertemu dengan Lailatul Qodar adalah merupakan tujuan utama bagi setiap orang sehingga banyak yang rela mengurangi tidur pada malam harinya.

Barangkali dalam pengertian banyak orang bahwa Lailatul Qodar akan turun pada satu malam terutama di malam-malam ganjil antara malam ke 21 sampai 29 Ramadhan. Otomatis banyak yang mencarinya hanya pada malam tersebut sedangkan malam genapnya kembali dengan kebiasaan semula tidur nyenyak. Lalu bagaimana jika terdapat perbedaan awal puasa?

Kita tidak tahu pasti kapan turunnya malam kemuliaan tersebut, karena hal itu merupakan rahasia Allah dan hanya Dia yang berhak mempertemukan seseorang dengan Lailatul Qodar. Begitu pula mengenai waktunya tak seorang pun yang tahu persis pada jam berapa. Hal ini sesungguhnya menunjukkan bahwa kita harus siaga setiap saat jika ingin memperoleh kemuliaan tersebut. Bukan hanya berjaga pada saat tertentu saja. Kebanyakan orang jaman sekarang maunya yang instant dan mudah tanpa usaha keras untuk memperolehnya.

Begitu pun dengan malam Qodar, yang bisa didapatkan oleh orang yang selalu siaga dan berjaga-jaga jauh hari di awal Ramadhan, insya Allah. Ketika sepuluh hari terakhir tiba maka ia tinggal meningkatkan intensitas ibadahnya saja. Bukankah tidak ada jaminan bahwa Lailatul Qodar itu turun hanya di malam yang ganjil saja?

Sejak awal Ramadhan ada orang yang sudah memperbanyak amalan dan ibadah. I’tikaf sudah dilakukan sejak hari pertama puasa, begitu pula tadarus Al Qur’an, dzikir, sedekah, zakat, shalat tarawih maupun shalat sunnah lainnya dan terakhir tinggal menghidupkan malam sampai berakhirnya Ramadhan.

Yang kita tak tahu adalah kapan akan memperoleh keberuntungan tersebut padahal kita begitu menginginkannya. Namun apa yang kebanyakan orang lakukan? Biasanya orang masih malas sejak awalnya karena berpendapat bahwa malam ke 21 itu masih jauh. Masih ada kesempatan untuk bermalas-malasan, toh jika sepuluh hari terakhir tiba maka banyak orang yang berduyun-duyun ke masjid untuk beri’tikaf. Saat itulah orang lantas kelabakan mempersiapkan diri. Sedangkan bagi yang sudah terbiasa menghidupkan malamnya sejak awal puasa maka ia tidak akan kaget lagi.

Siapapun boleh memohon apa saja kepada Allah, namun di sepuluh hari terakhir ini yang paling tepat adalah bermohon ampun kepada Allah atas segala dosa-dosa yang telah dilakukan. Dalam I’tikaf hendaknya juga direnungi apa saja yang telah kita lakukan sebagai langkah evaluasi diri dalam rangka membentuk pribadi yang berkualitas. Apakah amal baik yang kita lakukan sudah maksimal ataukah perbuatan buruk yang justru lebih banyak kita kerjakan.

Semoga doa kita dikabulkan Allah SWT dan iman serta ketaqwaan kita pun semakin meningkat.

Allahumma Innaka Afuwwun Kariim Tuhibbul Afwa Fa’fuanni……

(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun maka ampunilah segala dosa dan kesalahan hambaMu ini)

Doa tersebut merupakan doa yang sering dibaca ketika melakukan I’tikaf terutama di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Demikian yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya.

Nah, tidakkah Anda ingin memperoleh malam yang lebih baik dari 1000 bulan….?