“Banyugeni” Pengganti BBM

Mahalnya harga BBM berdampak pada kehidupan ekonomi rakyat. Tak sedikit yang mengeluhkan kebijakan pemerintah yang dirasa tidak berpihak kepada rakyat kecil. Harga kebutuhan pokok pun melambung. Rakyat semakin susah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika dilihat dengan seksama, rakyat kecil makin terhimpit sedangkan golongan yang di atas hampir tidak terpengaruh.  Apalagi para pejabat yang duduk di pemerintahan, mungkin tak akan pernah merasakan bagaimana sulitnya memenuhi kebutuhan hidup seperti sekarang ini.

Lepas dari itu, inti pokok permasalahan yang sedang kita hadapi ternyata hanya satu. Semua bersumber dari naiknya harga BBM. Sebagai salah satu negara anggota OPEC, seharusnya naiknya harga minyak dunia justru membuat kita senang karena dagangan minyak yang kita produksi menjadi mahal. Devisa negara menjadi bertambah karena minyak diekspor. Bukan sebaliknya, malah membuat rakyat mengeluh mengingat BBM di dalam negeri justru mengalami kenaikan pula.

Satu pertanyaan yang belum terjawab, masihkah RI tergabung sebagai negara anggota OPEC atau negara pengekspor minyak? Pada kenyataannya negeri ini minyaknya sebagian besar hasil impor karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu tak salah kiranya kalau julukan sebagai negara pengekspor minyak itu mesti diganti sebagai negara pengimpor minyak. Sayangnya, di dunia ini belum ada organisasi negara pengimpor minyak. Lha, harus bagaimana nih?

Kenyataan di atas pada akhirnya banyak memberikan inspirasi bagi anak bangsa untuk turut memikirkan energi alternatif pengganti minyak dari bahan fosil. Negara kita ini melimpah kekayaan alamnya dan lahannya pun terbentang luas. Pernah didengungkan bahan bakar nabati sebagai alternatif pengganti minyak, misalnya minyak dari tanaman jarak. Orang jaman dulu memanfaatkan minyak jarak untuk penerangan.

Tanaman jarak di dalam negeri terlalu melimpah dan perawatannya pun tidak sulit. Jarak biasanya tumbuh di lahan kosong dan kering dan selama ini masih dibiarkan tumbuh liar tanpa ada yang mengelolanya. Contohnya di sebelah tempat kerja saya ada lahan kosong sekitar 2000 meter persegi yang ditumbuhi pohon jarak semua.  Belum lagi di tempat lain yang lebih luas. Seandainya saja ada investor yang mau meliriknya untuk diolah barangkali rakyat tidak perlu lagi antri minyak tanah.

Lalu bagaimana dengan kendaraan bermotor dan mesin-mesin?

Sejumlah anak bangsa yang peduli akan hal ini telah mencoba-coba bereksperimen untuk mendapatkan pengganti BBM. Masih ingatkan dengan Joko Suprapto “Blue Energy” yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan? Kelihatannya memang seperti impian belaka sebab orang masih sangsi bagaimana air bisa menjadi bahan bakar. Tapi bukan tidak mungkin, beberapa tahun mendatang hal itu akan terwujud. Bukankah penemu pesawat terbang, telepon, lampu listrik bahkan impian mencapai bulan dulunya juga dianggap sebagai ide orang gila karena mencoba sesuatu yang mustahil dilakukan?

Selain “Blue Energy” masih ada beberapa anak bangsa kreatif yang mencoba bikin bensin dengan berbagai versinya. Misalnya saja Adji Koesoemo dari Yogyakarta yang membiakkan plankton laut di air tawar. Dengan campuran zat tertentu maka dihasilkan 30% minyak mentah, 10% ampas dan 60% air. Satu meter kubik air tawar yang di dalamnya dibiakkan plankton menghasilkan 9-14 liter minyak mentah.

Ada lagi yang bikin bensin dari bahan dasar air, seperti Djoko Sutrisno Yogyakarta. Ia mencampur air dan bensin untuk bahan bakar motor dan mobil dengan memasang tabung elektroda pada kendaraan. Semua bahan dicampur dengan kalium hidroksida. Intinya memisahkan unsur hidrogen untuk diambil sebagai bahan bakar. Biayanya cuma Rp. 75 ribu dan langsung dipasang di sepeda motor atau mobil.

Voll Johanes Bosco dari Palu juga punya eksperimen yang sama. Ia membuat bahan bakar yang terdiri dari campuran 80% air dan 20% premium. Dengan caranya, Voll juga bisa membuat semua itu, seperti halnya Adji dan Djoko dari Yogyakarta. Demikian juga dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, sudah melakukan penelitian dalam hal ini. Mereka menghasilkan apa yang disebut dengan “banyugeni”. Semua menggunakan air sebagai bahan dasar bahan bakar alternatif karena secara teori hal itu sangat mungkin.

Saya juga pernah baca bahwa di belahan dunia lain ada yang memanfaatkan minyak goreng bekas (Jawa = jlantah) untuk bahan bakar meskipun harus melalui proses tersendiri. Rumah makan, kantin warung-warung kakilima bahkan di dapur kita sendiri  pasti tersedia. Tinggal ambil saja daripada tidak berguna dan hanya dibuang.

Ada pula yang mencoba bikin bahan bakar dengan unsur amoniak atau zat yang hampir sama kandungannya dengan air kencing. So pasti, ini akan membuat orang sangat senang. Karena kalau pas ia mau pipis tinggal buka dan seerrrrr… masukin ke tangki langsung terima beres. Terpaksanya kehabisan, boleh juga minta sama orang agar pipis di tangki bahan bakar kendaraannya.

Pemerintah dan berbagai pihak semestinya mendukung segala upaya anak bangsa, bukannya malah berpikir negatif terhadap hal ini. Tak usah muluk-muluk, dimulai dari sesuatu yang kecil dan sederhana. Misalnya mulai dari alat-alat, cara pengolahannya maupun teknologi sederhananya. Asal bisa digunakan atau paling tidak bisa menghemat bensinnya dulu. Kalau memang tak ada efek sampingnya pada mesin, baru meningkat ke level yang lebih besar. Dan seandainya itu semua berhasil hingga bisa diproduksi secara massal -tentunya dengan biaya murah- pasti tak perlu repot-repot mengimpor air hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sebagaimana halnya minyak bumi.

Lebih baik kita berpikir positif saja sembari menunggu dan berharap bahwa energi alternatif tak terbatas itu munculnya dari negeri kita Indonesia.

12 thoughts on ““Banyugeni” Pengganti BBM

  1. iya mas..
    memang kasian rakyat jelata.
    tapi jangka panjangnya kenaikan harga BBM ini untuk mencegah negara ini mati suri..
    karena memang bukan pemerintah ngarang2 aja kenaikan BBM tapi memang seluruh dunia mengalaminya…

    btw mungkin kebocoran dana sana sini yg harus dikurangi..
    para koruptor itu harus benar2 digantung baru uang kita nggak lari kemana mana…

    *Nah, menggantung para koruptor + menyita hasil korupsinya itu yang masih sulit dilakukan.

  2. Oalah mas, tak kiro maksud sampeyan banyugeni ki sing di dol nang pajeksan kae lho…hahahaha….ya semoga saja ada hikmah dari ini semua, yang paling diharapkan kemunculannya ya orang2 yang kreatif dan inovatif tadi muncul ke permukaan dengan ide2 briliannya…semoga…

    *Ayo mas, punya ide apa lagi nih…

  3. memang perlu diteliti ulang penemuan2 itu, apakah benar efektif, merusak mesin atau tidak…..curiga sih boleh utk mencegah pemanfaatan oleh orang2 yg tidak benar, tp secara proporsional aja…..

    *BPPT gimana nih??

  4. kemarin2 aku nonton laporan mas tentang penelitian bahwa minyak satu hari nanti pasti akan habis, jadi manusia yg amat tergantung sama minyak harus mencari penggantinya sebelum saat itu tiba

    *penelitian harus terus dilakukan sebelum semuanya terlambat

  5. kalau air bisa menjadi bahan bakar, dijamin Indoensia akan kaya raya…
    btw, gmn kabarnya Pak Joko sekarang ya?

    *Betul pak, terutama yang punya seribu sungai. Entah ya, Pak Joko sepertinya hilang begitu saja. Kalo Pak Djoko Jogja masih tetap melanjutkan coba2 banyugeni-nya.

  6. Indonesia penuh orang2 pintar dan kreatif, sumber dayanya juga komplit.
    Menurut saya, kebijakannya yg kurang tepat dan kurang cepat mengambil keputusan.
    Nah, sekarang banyak yg menemukan teknologi alternatif pengganti minyak bumi ini. Apakah pihak terkait akan cepat tanggap, atau ntar ilmuwan2 itu digaet sama negara luar? Kalo sudah digaet negara luar, maka utk menggunakan produknya kita juga harus membelinya dari negara luar yg sudah punya hak patennya.

    Bahannya dari perut bumi Indonesia, idenya dari Indonesia, ntar kuli/pekerja yg menghasilkan juga orang Indonesia, yg beli juga orang Indonesia (dgn harga yg sangat mahal tentunya..)
    Cuma keuntungannya aja yg buat luar..
    Gimana bisa sejahtera ya kita? Hmmm…

    *Seharusnya pengalaman yang lalu dijadikan pelajaran agar bangsa ini tak hanya pasrah jadi kulinya saja sedang keuntungannya dinikmati oleh orang2 tertentu.

  7. soal jarak saya pernah dengar bisa dimanfaatkan sebagai energi alternatif. memang kendalanya sekarang investor dan pengolahan bahan bakar alternatif kadang masih mahal dan belum efisien. saya pernah baca soal energi alternatif hidrogen yang environmentally friendly, cuma sampai sekarang meski efisien soal penyimpanan hidrogen ini yg masih sulit dan butuh biaya mahal. oya, solar dan wind energy kayaknya juga bisa jadi alternatif yg gak kalah oke. utk kedepan saya yakin jika makin banyak investor dan penelitian di sektor ini, blue energy akan berkembang dan luas penggunaannya. btw thanks udah mampir di blogku ya. salam kenal juga.

    *Dalam hal energi alternatif ini Indonesia sebenarnya punya melimpah selain apa yang telah tersebut di atas, seperti energi gelombang laut untuk pembangkit tenaga listrik yang sedang dicoba di Yogyakarta

  8. denger2 blue energy nya Joko yg diteliti Universitas Muhamadiyah itu ternyata cuma akal2 an yah??

    kayanya Indonesia tuh aneh, ndak menyejahterakan rakyat…..abiss produksi minyaknya dijual semua ke LN….punya batu bara….listrik di negri sendiri byar pet….(mending batubaranya dijual ke LN dari pada di jual ke negeri sendiri)…punya gas juga sami mawon…….elpiji di negeri sendiri susah nyarinya

    karena LN brani bayar lebih……..

    *Betul mbak, dan UMY sudah melaporkan Joko ke polisi untuk diproses secara hukum.

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s