Habis Terang Datang Gelap

Lebih dari 60 tahun Indonesia merdeka namun masih dihadapkan pada masalah energi. Krisis energi yang belakangan ini menjadi sorotan masyarakat bertambah buruk menyusul dilakukanya pemadaman listrik oleh PLN di sejumlah daerah di Indonesia termasuk DKI Jakarta, meskipun akhirnya kebijakan tersebut dibatalkan. Sektor industri pun mengalami kegalauan akibat pemadaman bergilir itu. Hal ini pasti dirasakan dampaknya karena akan sangat berpengaruh terhadap biaya operasional perusahaan.

Entah mengapa diversifikasi energi yang dulu didengungkan pemerintah sampai saat ini masih belum terasa geliatnya, padahal seluruh rakyat menantikan keberhasilan pemerintah dalam mengatasi krisis energi di tanah air. Memang, energi tidak hanya berkutat pada BBM saja namun juga menyangkut penerangan yang menjadi hajat hidup orang banyak sampai ke pelosok negeri. Kalau dulu ada program listrik masuk desa yang sekarang sudah dirasakan manfaatnya, kini haruskah program tersebut menjadi mental kembali lantaran listrik yang dimiliki PLN saat ini terbatas jumlahnya? Padahal masih banyak daerah yang belum terjangkau listrik.

Kita semua tahu bahwa listrik masih dimonopoli oleh pemerintah. Sebagai BUMN, PLN seharusnya mampu mencukupi kebutuhan listrik bagi masyarakat dari berbagai kalangan, terutama masyarakat kecil. Ibu Kartini pernah menulis “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Untunglah PLN tidak mengadopsinya menjadi sebuah slogan, karena kenyataannya yang terjadi adalah habis terang datanglah gelap, giliran pemadaman listrik.

Pemadaman bergilir yang telah dirasakan di berbagai daerah ternyata menimbulkan keluh kesah juga bagi kalangan pelajar dan mahasiswa. Tanpa listrik, para siswa akan terganggu konsentrasi belajarnya. Beda dengan jaman dulu, saat itu sarana listrik memang belum memasyarakat seperti sekarang ini. Coba kita bayangkan seandainya pas waktu ujian akhir nasional terjadi pemadaman listrik, saya yakin mereka yang mengikutinya akan gelisah dan kecewa. Demikian pula para orang tua akan merasa cemas jika listrik yang padam ini akan mengganggu konsentrasi belajar anak.

Sektor lain selain industri juga akan terkena dampak naiknya biaya operasional perusahaan. Misalnya saja rumah sakit, kantor-kantor pemerintah dan swasta, lembaga perguruan tinggi, dan juga lembaga-lembaga lain yang sehari-harinya menggunakan listrik. Pemakaian genset sudah jelas membutuhkan biaya tinggi untuk bahan bakarnya. Sedangkan yang belum memiliki genset, otomastis akan terhenti aktivitasnya sementara waktu. Pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan menjadi terbengkalai dan mesti ditunda. Ingat, jaman sekarang hampir semua kegiatan administrasi memakai komputer dalam menyelesaikan pekerjaan. Dan para Blogger juga akan menghentikan aktivitas ngeblog, posting, komen atau blogwalking. Nah, bagaimana rasanya??

Pemerintah akhirnya menghimbau agar kita semua hemat energi. Saya rasa himbauan ini lebih tepat kalau ditujukan kepada rakyat kalangan atas, pejabat-pejabat dan juga wakil rakyat di atas sana serta siapapun yang memakai fasilitas negara. Yang paling banyak menggunakan listrik dalam skala besar kan mereka, gratis lagi. Yang dikalangan bawah paling-paling mereka pasang yang 450 atau 900 watt. Itu pun dengan konsekuensi bila pemakaian lebih banyak maka biaya tagihan pun akan membengkak. Untuk membayar tagihan pemakaian normal saja sudah terasa berat, apa iya mau ditambah-tambah lagi, diboros-borosin? Secara logika hal ini tidak mungkin dilakukan kecuali listriknya nyolong. Jadi kalau dihimbu untuk hemat, sejak dulu kita sudah hemat bahkan terpaksanya mengurangi pemakaian untuk hal-hal yang tidak penting.

Melihat kondisi yang sudah sedemikian sulitnya, rasanya pemerintah harus mencari alternatif guna mengatasi krisis energi ini. Misalnya saja para pejabat yang tinggal di rumah dinas listriknya tidak gratis. Demikian pula kantor-kantor yang memakai fasilitas negara tetap harus membayar tagihan listrik. Semua sama tanpa kecuali, itu kalau menghendaki imbauan penghematan benar-benar ditaati. Dan belum terhitung mereka yang nyolong listrik, dan masih eksis hingga sekarang. Selain itu, diversifikasi energi yang menjadi program pemerintah mestinya dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, tak hanya jalan di tempat. Demikian juga konsumsi bahan bakar bagi pembangkit listrik yang dimiliki PLN, kalau ada yang lebih murah dan bagus mengapa tetap mempertahankan yang mahal?

Selama ini belum ada penyedia layanan listrik oleh swasta. Bila dari PLN tidak mencukupi, kiranya pemerintah bisa membuka kran kepada swasta untuk menyediakan listrik. Sebagaimana halnya dahulu televisi, pada akhirnya stasiun televisi swasta juga turut berperan meramaikan informasi dan hiburan bagi masyarakat.Bisa jadi, swasta lebih memiliki alternatif menggunakan pembangkit listriknya, seperti energi surya, gelombang laut atau dengan tenaga angin dll. Rakyat bebas memilih mau pasang dari pihak mana terserah. Yang pasti pilihan akan jatuh pada penyedia yang terus terang dan terang terus alias tanpa giliran pemadaman.

Ada beberapa pendapat mengatakan bahwa sudah saatnya sekarang ini dilakukan audit pemakaian listrik. Audit tak hanya untuk sektor keuangan saja, namun audit listrik pun bisa dilakukan sehingga akan ketahuan siapa saja yang boros dalam pemakaian listrik. Hilangnya listrik dimana, kemana dan dilakukan oleh siapa, di situ nanti akan ketahuan. Dan pelakunya boleh disamakan dengan pelaku tindak korupsi uang negara. Pelaku korupsi sudah pasti merugikan negara dan rakyat.

Bagaimana, audit listrik setuju khan???

Iklan

17 thoughts on “Habis Terang Datang Gelap

  1. baru tahu aku mas , kalau di rumah dinas itu pejabat nggak hrs bayar listrik, enak temen yo. Bener, di tetangga ortu dulu rata2 listriknya yg 450 , kalau banyak makai biasanya anjlok, jadi memang mau tak mau hrs irit

    *tak perlu dihimbau lagi…

  2. grafik penggunaan listrik meningkat secara eksponensial.. sementara laju penambahan daya listrik sedikit bahkan nyaris konstan….

    *bahkan mungkin berkurang

  3. hmm..yg ngauditnya ini siapa dulu ams? macem mana kredibilitasnya??? klo ngga ya podo wae hehehe

    *semacam KPK gitu-lah, siapapun diobok2

  4. mulailah pake linux dan bersepeda ke kantor/sekolah. motor ama mobil pemborosan aja huh. dipake pas liburan atau keluar kota aja. 😀

    *sotoi*

    *polusi dapat dikurangi

  5. saya masih belum bisa hemat listrik, yang paling parah adalah TV yang jarang mati, meskipun nggak ada yang nonton…

    *malah TV-nya nonton orang tidur kalau malam

  6. Perlu audit untuk mengetahui permasalahannya, dan bagaimana jalan keluarnya.Setiap orang perlu hemat energi, karena sekecil apapun sumbangan masing-masing orang, secara total akan sangat berarti.

    *hemat energi hemat biaya

  7. berarti hanya di Indonesia dong orang kaya n kantor2 pemerintah itu gratis…
    dimalaysia semua bayaaar booo…

    hmhmh Indonesia..Indonesia…
    ngurut dada..

    padahal kalo ada yg ngejelekin Indonesia disini kita duluan yang maju angkat senjata…
    tapi…hiks…

    *maju tak gentar membela yang bayar (eh, itu kalo di Indonesia ya?)

  8. sesungguhnya yang tengah terjadi di negeri ini bukanlah krisis energi, karena kalau dilihat data cadangan sumber energi yang dimiliki masih jauh melebihi kebutuhan….
    hanya saja yang terang terjadi adalah krisis pengelolaan sumber energi tersebut, lha terus piye?

    *berarti memang ada yang salah

  9. audit pemakaian listrik??
    setuju.. aku sih udah membiasakan diri hemat energi..
    yg bikin sebel, kita2 hemat energi, tp perusahaan melakukan ‘cheating’ nyantol/nyuri listrik besar2an.. imbasnya, (langsung or gak langsung) listrik rumah tangga harus rela nerima pemadaman bergilir..

    *padahal di level ini yang paling irit

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s