Meraih Derajat Taqwa

Allah memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa adalah dengan tujuan memperoleh derajat taqwa (QS. Al Baqarah : 183). Puasa tak hanya dilaksanakan oleh umat Nabi Muhammad SAW saja, namun juga telah dilaksanakan oleh umat-umat terdahulu jauh sebelum Rasulullah Muhammad SAW dilahirkan.

Puasa adalah satu-satunya ibadah yang paling efektif bagi manusia untuk merasakan kedekatan dirinya dengan Allah. Selain itu, merupakan empati bagi manusia dengan sesamanya. Dengan berpuasa, kita dapat merasakan bagaimana keadaan orang-orang yang serba kekurangan dalam hidupnya. Bahkan untuk makan pun tidak menentu, apakah besok bisa makan atau bagaimana masih menjadi beban pikiran tersendiri.

Puasa juga merupakan ibadah tersamar atau tidak bisa dipamerkan kepada orang lain. Hanya yang bersangkutan dan Allah saja yang tahu kesungguhannya melaksanakan puasa apakah batal atau tidak. Orang yang terlihat lemas, mengantuk dan loyo belum tentu menunjukkan bahwa orang tersebut sedang berpuasa. Sebaliknya orang yang terlihat segar bugar dan bersemangat belum tentu pula menunjukkan bahwa orang tersebut tidak berpuasa.

Yang pelu kita perhatikan ialah bahwa puasa sangat berkaitan erat dengan spiritualitas manusia itu sendiri. Ketika berpuasa, orang akan meminimalkan peran jasmani atau organ tubuh dan memaksimalkan rohani atau ruhnya. Sehingga di bulan Ramadhan setiap aktivitas yang bernilai ibadah oleh Allah SWT akan dibalas dengan pahala berlipat-lipat.

Dalam waktu 24 jam, kehidupan manusia akan sarat dengan aktivitas ibadah. Sejak bersantap sahur sampai tidur kembali pada malam harinya. Kebaikan apapun yang dilakukan di bulan Ramadhan mengandung nilai ibadah yang cukup tinggi.

Akan tetapi ada orang berpuasa yang hanya mendapatkan lapar dan haus saja. Mereka adalah orang yang melaksanakan puasa namun dalam setiap kata dan perbuatan justru menggugurkan pahala puasanya. Misalnya saja menggunjing, berkata dusta, mencuri, mengumpat, menipu dan segala perbuatan yang bersifat negatif. Puasanya memang tidak batal, tetapi yang diperolehnya hanyalah sekedar lapar dan haus saja.

Bulan Ramadhan, suatu bulan dimana saat itu pintu surga dibuka selebar-lebarnya dan pintu neraka ditutup serapat-rapatnya. Di bulan ini Allah mengobral pahala secara besar-besaran. Sayang rasanya kalau hal itu dilewatkan begitu saja.

Kebanyakan orang akan melewatkan siang hari di bulan Ramadhan dengan tidur karena menganggap bahwa tidur bagi orang berpuasa adalah ibadah. Beristirahat boleh saja, namun tidur sepanjang hari berarti menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Ada kewajiban yang mesti kita laksanakan sebagai hamba Allah, disamping kewajiban-kewajiban sebagai warga masyarakat maupun kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan aktivitas kita di tempat tertentu seperti di tempat kerja misalnya.

Berbahagialah mereka yang terjaga puasanya dengan melakukan ibadah, amal-amal shaleh dan perbuatan lain yang positif. Insya Allah, Allah SWT akan membalas setiap amal perbuatan yang baik ini dengan balasan yang berlipat ganda. Setiap amal kebaikan akan mendapat balasan 10 kali lipat hingga 700 kali lipat.

Satu hal yang penting dari melaksanakan puasa Ramadhan adalah melatih kesabaran terutama yang berkaitan dengan hawa nafsu. Kadang kita tidak sabar ketika siang hari perut terasa lapar melilit sehingga waktu berbuka langsung balas dendam dengan melahap makanan apa saja yang tersedia. Padahal segala tindak yang berlebihan adalah perbuatan syaitan.

Demikian juga dengan menahan amarah atau emosi. Perlu kesabaran yang lebih saat bulan Ramadhan ini agar kita tidak melampiaskan emosi kita kepada hal-hal yang tidak berguna bahkan yang menjurus kepada perbuatan merusak atau menyakiti. Karena sesungguhnya marah itu berasal dari unsur api, sedangkan syaitan diciptakan juga berasal dari api yang menyala.

Sebagai hamba Allah, kita senantiasa menjaga diri dan keluarga kita dari siksa api neraka baik di bulan Ramadhan ataukah di luar bulan Ramadhan. Bukan mustahil tujuan puasa untuk meraih derajat taqwa dapat kita capai.

Orang yang telah meraih derajat taqwa sudah tentu akan taat dan patuh terhadap perintah Allah serta menjauhi laranganNya. Ia takut kepada Allah dengan kapasitas sebagai hamba yang mengabdi. Ia senantiasa mawas diri, perbuatan serta amal ibadahnya semata-mata hanya karena Allah. Jika merasa berbuat salah, dengan segera ia memohon ampun dan mengimbangi kesalahan tersebut dengan amal shaleh.

Allah menggambarkan manusia yang mencapai posisi demikian itu yang disebut dalam Al Qur’an dengan gelar yang sangat indah “ibadurrahman”, yang berarti hamba yang pengasih. Mereka yang sudah bergelar Ibadurrahman akan selalu berhati-hati dalam bertindak pada kehidupan di dunia ini.

Ibadah, amal shaleh dan kebaikan yang dilakukannya sudah tidak lagi terpaku pada bulan-bulan tertentu. Namun di bulan Ramadhan frekuensi dan intensitas ibadah akan lebih meningkat lagi. Tak hanya siang hari, ia akan menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan dengan aktivitas ibadah baik berupa taddarus Al Qur’an, shalat malam, I’tikaf maupun bermunajat kepada Allah SWT.

About these ads

12 comments on “Meraih Derajat Taqwa

  1. ya..nafsu semoga kita bisa menahan nafsu baik selama ramadhan ataupun sesudahnya..karena nafsu bisa membuat kita berantakan..menekan nafsu agar menjadi orang yang bertaqwa..semoga

    *Nafsu sering membuat manusia menjadi tak terkendali

  2. Nah itu dia Mas. Ada yang merasa sebagai orang berilmu kemudian mengutip hadits bahwa ‘tidur seorang berilmu lebih baik daripada sholat orang yang tak berilmu’. Maka ‘orang yang merasa berilmu’ tadi pun memilih terlelap sepanjang hari di bulan Ramadhan.

    *lupa sama ibadah dan kewajibannya

  3. mudah2an subuh penuh, isya penuh bukan cuma di bulan ramadhan mas. tapi setelahnya teteup penuh. duh, ya gusti Allah, coba ya subuh sama penuhnya seperti jumatan.

    *iya nih, kok malah pada menghilang setelah Ramadhan

  4. Met puasa yaaa…btw langsung sayah link biyar nggak lupa ke sini lagi :p
    Oia, puasa emang hanya kita dan Allah yang tau…sesuatu yang bersifat rahasia :p meski ngaku2 di orang kita puasa, tapi kan orang nggak tau kalo kita puasa or enggak :p but hubungan ma Allah SWTnya yang kita nggak bisa sembunyi hehehe *angguk2* :D

    *Betul, tak ada yang tahu selain Allah.

  5. susah sekali ya mas…membayangkan istirahat yang terpotong saja sudah berat, apalagi yg lain2nya. Subhanallah, jika ingin mencapai kebaikan itu sangat berat.

    *hanya karena iman yang kuat kita mampu melakukannya

  6. menahan emosi itu kadang lebih susyah daripada menahan lapar dan haus , apalagi dalam keadaan lapar :D

    btw bagaimana ibadah puasanya mas…semoga lancar2 aja yah….

    *alhamdulillah mudah2an tetap lancar sampai Ramadhan usai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s