Mengendalikan Hawa Nafsu

Kita telah menapak pada sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadhan. Sebagai orang yang beriman, kita sudah terbiasa merasakan lapar dan dahaga setelah selama lebih dari dua puluh hari berpuasa. Namun inti dari puasa itu sendiri sebenarnya bukanlah menahan lapar, haus maupun berhubungan suami istri di siang hari bulan Ramadhan. Itu semua hanyalah sebagian kecil dari apa yang sering dikatakan sebagai mengendalikan hawa nafsu.

Hawa nafsu itu sendiri sangat berkaitan erat dengan pribadi kita masing-masing. Hawa nafsu yang sering muncul menghampiri kita tidak kenal waktu. Munculnya bisa pagi, siang, sore atau malam hari. Diri kita tak luput dari nafsu dan keinginan-keinginan selama bulan Ramadhan ini. Hawa nafsu dapat mengalir ke dalam diri kita melalui anggota-anggota tubuh seperti telinga, mata, hidung, mulut, tangan, kaki bahkan pikiran kita.

Mengendalikan lapar, haus dan hubungan suami istri mungkin sudah sangat mudah kita lakukan, karena ketiga hal itulah yang benar-benar bisa membatalkan puasa. Namun untuk hal lain seperti mengendalikan mulut dari berkata dusta dan sia-sia misalnya mengumpat atau menggunjing tidak mudah dilakukan. Meski tidak membatalkan puasa secara keseluruhan, tindakan tersebut dapat merusak kualitas puasa seseorang.

Demikian juga dengan anggota tubuh lainnya. Tangan mestinya terkendali dari mengambil sesuatu yang bukan haknya dan perbuatan negatif lainnya. Kaki juga begitu, mestinya kita bisa mengendalikannya untuk tidak melangkah ke arah yang menyimpang dengan mendatangi tempat-tempat maksiat. Mata seharusnya tidak dipergunakan untuk melihat hal-hal yang dapat membangkitkan syahwat. Bahkan pikiran mestinya terkendali dengan tidak memikirkan hal-hal yang bersifat erotis dan porno. Kalau semua itu bisa kita kendalikan, insya Allah puasa kita akan bersih dan sempurna di mata Allah.

Sebagai manusia, tentu saja tidak mudah mengendalikan semua itu. Ada saja celah yang bisa dirasuki oleh nafsu-nafsu yang muncul mengusik kekhusu’an puasa kita. Yang paling kentara ialah ketika kita merasakan lapar atau haus amat sangat di siang hari. Di situlah kemudian bisikan nafsu muncul dan mengalir ke pikiran sehingga kita kemudian sibuk mencari berbagai macam makanan untuk kita santap saat berbuka puasa. Namun begitu saat buka puasa datang, tiba-tiba saja kita menjadi tidak berselera dengan berbagai makanan tadi. Segelas air dan sepiring nasi terasa sudah cukup mengisi perut kita. Lalu, dimanakah keinginan yang menggebu ketika siang hari itu?

Perut tidak akan bisa menampung semua makanan secara bersamaan kecuali dengan cara bertahap. Kalau itu dipaksakan maka kita akan tergolong sebagai orang yang berlebih-lebihan. Porsi yang pas untuk perut sebenarnya hanyalah seperti untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga lagi untuk udara.

Tak sedikit yang salah kaprah dan beranggapan bahwa mengendalikan nafsu itu hanya dilakukan di siang hari saja. Malam harinya bebas melakukan apa saja yang kita kehendaki. Mestinya malam hari pun hawa nafsu tetap terkendali bukannya malah seakan balas dendam karena siang harinya kita terkekang tak boleh ngapa-ngapa. Dan perbuatan seperti menipu, merampok, memperkosa, membunuh dan sebagainya pun kerap mewarnai kehidupan masyarakat di bulan Ramadhan. Tak perduli apakah itu siang ataukah malam.

Jika kita perhatikan, ada saja mereka yang berlaku seperti itu. Mengendalikan hawa nafsu hanya pada siang hari saja, sedangkan malam harinya maksiat tetap jalan, perbuatan jelek tetap dilakukan. Anggota tubuh yang sudah terkendali mendadak menjadi liar ketika malam tiba. Malam hari yang seharusnya dijadikan sebagai ajang untuk lebih memperbanyak ibadah justru diiisi dengan berbagai aktivitas sia-sia.

Kalau yang terjadi demikian, kualitas puasa akan rusak dan menjadi tidak sempurna. Biar bagaimanapun juga, siang dan malam adalah suatu rangkaian yang tidak terpisahkan. Kalau siang bisa mengendalikan emosi, malam hari pun seharusnya begitu juga. Bukan lantas marah-marahnya dilampiaskan pada malam hari dengan sejadi-jadinya. Sebagai orang yang beriman seyogyanya kita bisa menghindari semua hal tersebut.

Mudah-mudahan kita terlindung dari hal yang demikian itu sehingga kualitas puasa kita tetap terjaga. Jika ditambah dengan berbagai amal saleh lainnya, insya Allah itu akan menjadi penyempurna puasa kita di hadapan Allah SWT. Masih ada satu lagi yang mesti kita tunaikan yaitu zakat fitrah di samping zakat mal yang juga mesti diperhitungkan dan infaq serta sedekah lebih diperbanyak.

Mari, di sepuluh hari yang terakhir ini kita lebih intensif mendekatkan diri kepada Allah sembari i’tikaf di masjid, karena di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ada satu malam yang istimewa yaitu Lailatul Qadar. Siapa pun yang beribadah dan beramal saleh pada malam itu akan memperoleh kemuliaan. Setiap kebaikan akan sama nilainya dengan seribu bulan atau kurang lebih selama 83 tahun.

Kita memang tidak tahu pasti kapan persisnya. Dalam hadits memang dinyatakan bahwa jika kita ingin mencari Lailatul Qadar maka carilah di malam ganjil, bisa malam tanggal 21, 23, 25, 27 atau di 29 Ramadhan. Jika kita lihat, banyak yang menyibukkan diri beribadah hanya pada tanggal ganjil tersebut cuma untuk mencari Lailatul Qadar, sedangkan pada malam genap intensitasnya justru mengendor.

Mereka yang beribadah dan beramal saleh hanya karena Allah sajalah yang sudah tak lagi bertumpu pada tanggal atau malam-malam ganjil. Semua dilakukan bahkan sejak hari pertama Ramadhan, termasuk melakukan I’tikaf pada malam harinya. Jika Allah telah memberikan hidayah kepada siapapun yang dikehendakiNya, maka segala sesuatunya akan terasa sangat ringan dan mudah dilakukan.

Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah dan kebaikan kita serta mengampuni dosa-dosa kita semua sehingga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertaqwa.

Insya Allah
Amiin, Amiin Ya Rabbal’alamiin

About these ads

11 comments on “Mengendalikan Hawa Nafsu

  1. harusnya sih malahan gak mengenal kata puasa tuh kalo mengendalikan hawa nafsu….sehari2 yg normal juga mestinya begitu….
    yah, namanya aja manusia…

    *betul sekali mbak, tak hanya di bulan Ramadhan

  2. Sabda Rasulullah, perang yang paling besar adalah perang melawan hawa nafsu diri sendiri. Jadi, memang tidak mudah mengendalikan hawa nafsu. Puasa yang seharusnya menjadi ajang penempaan diri, seringkali hanya dilakukan sebagai pemenuhan kuwajiban. Akibatnya, selesai puasa ya sudah …. tidak ada peningkatan apa-apa.

    *intinya mengalahkan diri sendiri

  3. begitulah, jika makna puasa hanya sebatas seremoni aja, dan yang begini ini menyuburkan semangat para kapitalis untuk menginvasi momen puasa sebagai komoditas..

    *cari keuntungan di segala suasana

  4. Puasa memang tak sekedar hanya menahan lapar dan haus….tapi juga menahan godaan lainnya. Banyak dari kita, bisa menahan lapar dan haus, tapi tak bisa menahan hawa nafsu, amarah dsb nya.
    Semoga kita menjadi makhluk yang mendapat karunia oleh Nya.Amien

    *Insya Allah….

  5. Memang sangat sulit mengendalikan nafsu, semoga kita bisa menahan diri dari hawa nafsu terutama di bulan yang suci ini. Terima kasih utk pencerahan yg bagus

    *Sama-sama mbak, semoga kita termasuk ke dalam golongan orang2 yang bertaqwa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s