Kumpul Keluarga

Masih dalam suasana lebaran idul fitri, saya mohon maaf karena tak semua rekan-rekan blogger sempat saya kunjungi. Kesibukan bersama keluarga di dunia nyata pada minggu pertama bulan Syawal membuat saya tak bisa beranjak sehingga dunia maya mesti dikesampingkan sejenak. Di mana-mana orang sangat disibukkan dengan acara silaturrahmi, kunjung-mengunjungi, syawalan bahkan sungkeman di hari pertama idul fitri. Semarak lebaran sangat dirasakan dalam kehidupan masyarakat kita, terlebih dalam lingkungan keluarga dekat.

Arus balik kembali ke tempat masing-masing mencapai puncaknya pada hari Minggu kemarin. Tentu banyak kesan dan cerita yang bisa kita peroleh dari mereka yang baru kembali dari mudiknya. Intinya hanya satu yakni saling bersilaturahmi dengan keluarga, handai taulan atau siapa saja yang masih bisa kita jumpai. Kini, meski lebaran telah usai dan aktivitas berangsur normal, namun aromanya masih dapat kita rasakan. Aroma syawalan yang di setiap tempat masih dapat kita jumpai sepanjang bulan Syawal ini.

Acara mudik sebelum lebaran adalah suatu hal yang setiap tahun akan selalu berulang dan mewarnai kehidupan masyarakat kita. Tak hanya mereka yang memiliki orang tua lengkap saja yang mudik ke kampung halamannya. Mereka yang sudah yatim piatu pun bahkan tidak melewatkan kesempatan yang sangat baik ini. Berlebaran bersama keluarga yang kita cintai pasti akan selalu dirindukan dan dinanti-nantikan.

Hal di atas menjadi suatu rutinitas yang dilakukan menjelang hari raya Idul Fitri. Namun rutinitas tersebut dapat berubah seiring berjalannya waktu, terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga. Yang tadinya bujangan tanpa pendamping akan melewatkan idul fitrinya disertai oleh suami atau istri. Yang tadinya hanya berdua suami istri, mungkin akan merasakan kebahagiaan ketika keluarganya bertambah dengan hadirnya sang buah hati. Setiap tahun anggota keluarga kita dapat bertambah hingga beberapa generasi di bawahnya.

Sejalan dengan itu, tak menutup kemungkinan bahwa kita juga akan merasakan berkurangnya anggota keluarga. Sebuah keluarga yang dulunya lengkap, bisa jadi sekarang sudah berkurang satu, dua atau tiga orang karena dipanggil menghadap Sang Maha Pencipta sebelum Idul Fitri tiba. Entah orang tua yang sudah dipanggil, eyang, paman, bibi, kakak, adik, anak dan sebagainya. Kepergian salah satu anggota keluarga tentu saja akan membuat suasana lebaran menjadi terasa lain. Ada sesuatu yang hilang setelah sekian lama bersama dan berkumpul.

Perasaaan kehilangan dan kondisi keluarga yang tak lengkap ini tak hanya disebabkan oleh meninggalnya salah satu anggota keluarga kita saja. Ada sejumlah keluarga yang tak bisa berkumpul kembali sebagaimana tahun-tahun sebelumnya di hari pertama Idul Fitri. Tradisi berkumpul saat hari pertama lebaran berubah seiring dengan berubahnya kehidupan mereka. Hal seperti ini paling banyak dialami oleh mereka yang memiliki anak perempuan. Biasanya anak perempuan kalau sudah bersuami cenderung mengikuti suaminya termasuk merayakan Idul Fitri pada hari pertama.

Jika kita perhatikan, di hari pertama idul fitri hampir semua istri akan merayakan lebaran bersama suami dalam lingkungan keluarga besar suaminya terlebih dahulu. Setelahnya baru di keluarga istri, sesaat setelah merayakan lebaran atau pada hari kedua. Mereka yang mudik pun kebanyakan akan pulang menuju ke tempat para suami, di rumah orang tua suaminya lebih dahulu. Sehingga dalam hal ini, keluarga suami akan selalu bisa lengkap berkumpul karena mereka membawa serta anak dan istrinya.

Di sisi lain, yaitu keluarga pihak istri akan menjadi tidak lengkap di hari pertama dengan ketidakhadiran salah satu atau salah dua anaknya yang perempuan karena masih berada di tempat suaminya. Kemungkinan siang hari atau sore harinya atau besoknya baru bisa lengkap dengan kehadirannya bersama suaminya, dengan catatan tempatnya mudah dijangkau dan tidak terlalu jauh. Bagi mereka yang dapat pasangan masih satu kampung atau satu kota, barangkali yang semacam ini tak perlu dirisaukan.

Banyak orang tua yang anak perempuannya telah bersuami merasa kehilangan karena anaknya tak bisa berkumpul merayakan Idul Fitri di hari pertama. Tapi juga merasa senang karena anak laki-lakinya yang telah beristri datang dengan membawa serta istri dan anak-anaknya. Memang, yang demikian ini tidaklah 100% benar, karena pada kenyataannya ada juga keluarga yang bisa komplit merayakan lebaran bersama pada hari pertama.

Plus minusnya berlebaran khususnya di hari pertama bulan Syawal akan selalu dirasakan setiap tahunnya seiring berubahnya keadaan keluarga kita. Kita memang tak ingin itu terjadi, tapi kita juga tak dapat menolak manakala itu terjadi. Yang dapat dilakukan hanyalah tetap menjalin silaturrahmi bagaimanapun keadaan keluarga kita. Siapapun pasti akan menyayangkan jika salah satu anggota keluarganya tak kelihatan hadir di rumah. Apalagi lagi jika dalam sebuah keluarga itu ada semacam tradisi sungkeman, seperti yang berlaku di lingkungan kraton atau keluarga para bangsawan pada hari pertama tepat tanggal 1 Syawal.

Khususnya kaum perempuan yang telah bersuami akan dibuat bingung. Mereka berada diantara dua pilihan yang sama beratnya. Di satu pihak mereka harus mendampingi suaminya, di sisi yang lain mereka diharapkan oleh orang tua dan saudara-saudaranya. Untuk yang satu ini tak jarang menimbulkan sedikit ketegangan antara orang tua istri dan para suami. Masing-masing pihak, baik keluarga besar suami maupun keluarga besar istri sama-sama menginginkan kehadiran anak-anaknya untuk berkumpul pada waktu yang sama.

Lalu, bagaimana dengan pilihan para istri???

12 thoughts on “Kumpul Keluarga

  1. Wahh betul juga komentarnya Anang, kalau menikahnya tetangga dekat, sama enaknya……apalagi kerjanya di kota sama, rumahnya pun satu kota….hehehe

    Tapi betul juga, dulu saya hari pertama Lebaran ke rumah nenek pihak ayah, baru ke nenek pihak ibu. Dan karena nenek pihak ibu merayakan di hari kedua Lebaran, tetap aja semua senang karena bisa ketemu dengan seluruh keluarga besar yang pulang kampung. Atau jangan-jangan dulu nenek menggelar acara di hari kedua, untuk menyiasati ya, karena sebagaian besar anaknya perempuan.

    *mungkin saja bu, nenek sudah mengerti dengan keadan ini

  2. Hhehehe. Kakak ipar semua kalo Lebaran pasti ngumpul di rumah jadi di rumah ituh pasti komplittt… baru setelah itu ke rumah ortu mereka masing2. Tapi ada yang ortunya di luar pulau jadi rumah ortu suami mereka pasti full and komplit kalo Lebaran😀

    *pasti senang bisa kumpul

  3. mustinya mah gantian ya. tahun ini lebaran pertama sama keluarga suami. tahun berikutnya sama keluarga istri. jd fair. kan ga harus ikut suami terus.
    klo saya krn emg cuma saya yg lebaran jd ya sudah pasti mudiknya ke keluarga saya di medan🙂

    *perlu kesepakatan antara suami istri tentunya

  4. keluarga memang segalanya……….
    kita hidup dimulai dari keluarga masing-masing….
    dan kitapun berjuang demi keluarga…..
    setiap saatpun kita senantiasa ingin bersama keluarga!

    *dari keluarga menjadi keluarga dan semakin banyak

  5. kalo saya gantian saja… thn ini di keluarga istri… thn depan di keluarga saya… pokoknya sama-sama sepakat gpp…

    selamat Idul Fitri 1429H… mohon maaf lahir & batin juga…

    sebagai tambahan, saya membuat tulisan tentang “Idul Fitri, Kembali Fith-rah ataukah Kembali Fith-run?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/10/idul-fitri-kembali-fith-rah-ataukah.html
    (link di atas adalah tulisan ke-1 dr 2 buah link tentang Muhasabah Idul Fitri)

    semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

    *makasih dan salam juga mas

  6. Saya beruntung karena menikah dengan saudara misan (satu kakek dan satu nenek) pulang mudik kerumah mertua atau kerumah orang tua sendiri sami mawon. Setuju dengan Mas Anang He..3x

    *Seperti paman saya dong mbah. Sudah saudara misan, masih satu kampung pula

  7. kampung suami Purworejo..
    kampungku Palembang…

    kita konsisten gantian..
    orang tua juga udahngerti..
    jadi no problemo…

    met lebaran juga mas..
    maaf lahir bathin

    *sama2 pengertian, apalagi jaraknya berjauhan

  8. setuju. berkumpul bersama di hari raya adalah sesuatu yang menyenangkan, terserah mo kemana aja seh, ke mertua ato ke ortu sendiri, klo buat saya sama ajah kayanya hehehe

    *yang penting ada makan2nya he… he…

  9. waduh..untung aku gak pernah ngalamin kejadian kayak gitu selain orang tua yg udah meninggal semua mertua pun nggak ngerayain lebaran.

    Yang penting saling pengertian dan kompromi aja. Btw maaf lahir dan batin ya

    *pengecualian bagi yang sudah tak punya ortu

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s