Rupiah

Uang adalah benda yang berlaku dan diterima secara umum sebagai alat pembayaran atau transaksi pembelian. Setiap negara memiliki mata uangnya masing-masing termasuk Indonesia yang memiliki rupiah sebagai alat pembayaran yang sah. Selain berfungsi sebagai alat pembayaran, mata uang juga berlaku sebagai salah satu lambang kedaulatan negara.

Pada masa-masa awal kemerdekaan, di Indonesia dikenal tiga macam uang yaitu uang rupiah De Javasche Bank yang diedarkan oleh Bank Sirkulasi Belanda, uang gulden (mata uang Belanda) dan uang Jepang. Namun ketika RI mulai merasakan perlunya memiliki mata uang sendiri, maka dicetaklah rupiah ke dalam berbagai pecahan mata uang antara lain pecahan 5, 10, 25 dan 100 rupiah dengan bahan kertas. Saat itu hanya pecahan Rp. 100,- yang dicetak lengkap dengan nomor serinya sedangkan pecahan yang lain masih belum.

Rupiah atau dulu Oeang Repobliek Indonesia (ORI) dinyatakan sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah sejak tanggal 30 Oktober 1946. Uang kertas RI dicetak pertama kali pada tanggal 20 Maret 1955 dengan pecahan Rp. 1,- dan Rp. 2.50,-. dan dicetak oleh perusahaan percetakan NV Pertjetakan Uang Kebayoran Baru (Perkeba). Perusahaan ini kemudian dinasionalisasikan dan diubah namanya menjadi PT Pertjetakan kebayoran. Sedangkan pecahan lainnya yaitu Rp. 5,- dan Rp. 10,- dicetak di Amerika sebagai uang kertas.

Setelah uang logam dicetak dan beredar di masyarakat, selang dua tahun kemudian giliran uang kertas dicetak di Indonesia. PN Arta Yasa yang diresmikan tanggal 30 September 1957 yang mencetak pertama kalinya. Hingga kini pemerintah RI telah beberapa kali mencetak rupiah dengan gambar atau motif dan pecahan yang beragam. Bahkan saat ini pecahan terbesar yang beredar di masyarakat adalah pecahan nominal Rp. 100.000,-

Selama ini uang rupiah yang pernah beredar di negara kita kebanyakan bergambar binatang, tumbuhan dan gambar pahlawan nasional. Uang logam pecahan Rp. 100,- edisi 1973 yang tipis bergambar gunungan dan edisi 1979 yang tebal bergambar rumah Minang adalah koin paling lama beredar dan dipakai sebagai alat pembayaran yang sah. Baru beberapa tahun ini uang tersebut dinyatakan ditarik dari peredaran. Sedangkan uang kertas sudah berkali-kali mengalami perubahan terutama gambar dan pecahannya.

Di samping pecahan-pecahan yang beredar di masyarakat, pemerintah juga mencetak uang edisi terbatas. Misalnya uang yang diedarkan oleh Bank Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1990 terbuat dari emas mulia 23 karat. Mata uang tersebut masing-masing bernilai Rp. 125 ribu, Rp. 250 ribu dan Rp. 750 ribu. Tentu saja tidak setiap orang pernah melihat, apalagi memiliki uang rupiah jenis ini. Orang perbankan tentu lebih mengetahui seluk-beluk tentang hal keuangan dan yang berkaitan dengan itu

Di masa Orde Baru, nilai tukar rupiah terhadap uang dollar cukup bagus. Akan tetapi sejak krisis menimpa negeri ini, nilai tukar rupiah terhadap dollar terus mengalami penurunan. Tak hanya Indonesia saja yang mengalami krisis ekonomi, negara-negara Asia lainnya hampir bersamaan mengalami krisis ekonomi. Nilai tukar rupiah saat itu sempat menembus Rp. 15.000,- per dollar.

Badai krisis yang berkepanjangan pun membuat rupiah terus melemah terhadap dollar. Karena kondisi uang rupiah demikian terpuruk, maka muncul imbauan agar para pejabat, pengusaha dan berbagai kalangan lainnya tidak menyimpan uangnya dalam bentuk dollar. Dari sinilah kemudian didengung-dengungkan gerakan cinta rupiah sebagai wujud rasa memiliki terhadap mata uang sendiri.

Gerakan sebagai perwujudan rasa nasionalisme ini dilakukan oleh para pejabat, tak terkecuali mbak Tutut, putri sulung Pak Harto yang sangat antusias menyimpan uangnya dalam rupiah (entah sebagian atau semuanya). Langkah yang dilakukannya sempat ditayangkan oleh media televisi.

Selanjutnya para pejabat dan kalangan atas pun mengikuti langkah mbak Tutut. Barangkali motif yang melatarbelakanginya juga berbeda. Sekedar gengsi atau ingin disebut sebagai orang yang berjiwa nasionalis.Gerakan cinta rupiah pun merebak di kalangan menengah ke atas. Yang di kalangan bawah hanya bisa menonton lewat televisi saja. Boro-boro punya uang dollar, mencari rupiah saja sudah sangat sulit mengingat harga kebutuhan sehari-hari selalu mengalami perubahan menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi.

Kini krisis keuangan global terjadi kembali seperti satu dasa warsa yang lalu. Nilai rupiah dikhawatirkan akan mengalami kondisi yang buruk bila krisis ini terus berlanjut. Rupiah yang semakin terpuruk tentu sangat berpengaruh terhadap sektor ekonomi, industri dan sektor lainnya. Ujung-ujungnya, rakyat kecil juga yang menjadi korban.

Rupiah selain sebagai alat pembayaran yang sah dan lambang kedaulatan negara RI, ternyata dipakai pula sebagai nama perempuan. Rupiah, dari pengucapannya sudah menunjukkan bahwa perempuan yang memiliki nama ini adalah berasal dari keturunan Jawa. Hampir sama dengan Supiyah, Ponirah, Tukirah, Tumirah dan sebagainya yang kebanyakan juga dipergunakan sebagai nama perempuan Jawa.

Tapi tahukan Anda, bahwa Rupiah Banda adalah nama wakil presiden negara Zambia saat ini. Bukan berasal dari keturunan orang Jawa atau Indonesia.

Note : Banda (Bhs Jawa) = harta, Rupiah = uang

14 thoughts on “Rupiah

  1. kalo rapiah laen lage ya mas, yang ini sih keluarga buah2an tapi teteup aja kudu dibeli dengan rupiah🙂

    ——-
    *kecuali yang punya kebun sendiri bang….

  2. aku masih cinta rupiah, saking cintanya malah gak tahu uang kertas yg udah gak berlaku masih kesimpen juga😀

    ——-
    *bisa dijadikan koleksi dong…

  3. Huehueheu rupiah is the best kali yak secara mudah didapet di Indo dan juga merupakan mata uang gaji gue huehehehe😀
    Oia, gue suka rupiah yang koin 500-an. Udah terkumpul banyak hehehe😀 kalo ada yang punya koin 500-an biasanya tuker2an ma seribuan kertasku😀

    Btw itu beneran ya nama wakil presiden Zambia? Betapa kaya nama ituh😀

    ——-
    *betul, baru dipilih 2006 lalu

  4. kalo aku suka ngumpulin yg nomor serinya bagus.
    atau yg tahun emisi lama, siapa tau sepuluh thn kemudian nilai tukarnya bertambah🙂 *emang dollar*😛

    ——-
    *seperti mata uang jaman dulu

  5. Bank Indonesia pernah mengeluarkan pecahan Rp. 100.000,- bergambar Soekarno-Hatta dengan bahan semacam plastik. Uang itu susah dilipat, dan ketika saya pakai untuk belanja di Jeddah, pemilik toko nggak mau menerima, katanya susah ditukarkan di bank. Dia minta pecahan serupa yang terbuat dari kertas.
    Kayaknya uang ‘plastik’ itu sekarang sudah nggak dikeluarkan lagi.

    ——
    *Yang jenis itu kalo kena setrika langsung mengkeret bahkan leleh, yang keluaran baru bahannya sudah ganti

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s