Desember

Masih menulis seputar musim hujan nih…

Belahan dunia manapun pasti akan mengalami perubahan musim. Kita yang berada di Indonesia secara geografis hanya mengalami dua musim saja, karena negeri kita beriklim tropis.

Berbeda dengan negara-negara yang beriklim sub tropis. Mereka mengalami empat pergantian musim dan pada bulan Desember ini sedang musim salju. Barangkali sama dengan di negeri kita ya, sedang banyak-banyaknya salju yang turun. Apalagi bertepatan dengan perayaan Natal yang identik dengan salju, cemara, Santa Claus dengan kereta salju dan kostum merahnya.

Salju yang turun sedemikian banyaknya sudah pasti membuat orang enggan keluar rumah. Kebutuhan sehari-hari biasanya sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Belanjanya borongan sehingga pada saat orang tidak mungkin untuk keluar rumah dengan cuaca yang buruk persediaan bahan makanan dan lain-lain sudah tercukupi.

Hampir sama dengan tempat kita yang sedang musim hujan. Bulan desember ini, hujan lagi deras-derasnya turun dari langit. Sepanjang hari dengan hujan lebat yang turun orang-orang pun enggan keluar rumah, kalau tidak terpaksa untuk satu keperluan tertentu. Belum lagi jika lingkungan tempat tinggalnya merupakan langganan terkena banjir.

Kita semua tahu bahwa di musim hujan seperti ini banyak hal yang terjadi. Mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sosial, pekerjaan, kesehatan, penyakit, hingga bencana alam seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung dll.

Meskipun hujan sedang menjadi-jadi pada bulan Desember ini, ternyata banyak juga orang yang mengelar hajatan mantu atau menikahkan anaknya. Orang Jawa bilang bahwa Desember adalah “gede-gedening sumber”. Entah, apakah itu bisa dimaknai sebagai besarnya keuangan untuk menggelar hajatan ini, atau banyaknya pengeluaran masyarakat pada umumnya atau juga sumber air alias sumur dan penampung air hujan lainnya meluap.

Namun, jika melihat dari perspektif orang Jawa, bulan Desember ini memang bertepatan dengan bulan Zulhijjah atau sasi Besar. Bulan yang baik untuk menggelar hajat apapun termasuk menikahkan anak. Sebab usai Zulhijjah adalah bulan Suro, dimana pada bulan ini orang Jawa sangat menghindari untuk menggelar acara apapun. Bahkan boleh dibilang bulan Suro adalah bulan keramat dan sakral.

Hal inilah yang akhirnya membuat orang menggelar hajatan habis-habisan. Dari sekian banyak acara, yang mendominasi adalah hajatan mantu itu tadi. Coba saja bayangkan, tetangga saya misalnya, khusus bulan Desember ini telah mendapat undangan pernikahan sebanyak 21 buah. Jika dirata-rata, maka setiap minggunya harus menghadiri acara pernikahan lima sampai enam acara. Itupun dengan waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda. Barangkali Anda pun ada yang demikian, bahkan melebihinya.

Perlu kebijakan tersendiri dalam menyikapi hal tersebut. Entah itu dari segi pembagian waktu, siapa yang berangkat, transportasi dan waktu dalam perjalanan sampai porsi amplop harus diisi berapa tak luput mendapat perhatian tersendiri. Ya, kalau keuangan mencukupi dan ada rejeki yang lebih. Lha, kalau pas-pasan kan mesti cari-cari dulu walau nanti nombok jadinya.

Saya saja bulan Desember ini harus menghadiri empat undangan pernikahan. Yang punya hajat masih terhitung keluarga atau famili sendiri. Waktunya berurutan mulai minggu pertama kemarin hingga minggu terakhir bulan Desember. Hari libur bukannya untuk berlibur tapi justru harus menghadiri acara resepsi pernikahan. Rata-rata memang pada mengambil hari Minggu, sehingga diharapkan para undangan akan dapat menghadirinya.

Tentu berbeda, hal yang dirasakan antara para undangan dan pengantin yang dinikahkan. Kalau para undangan mungkin banyak yang bersungut-sungut karena pengeluaran keuangan jadi bertambah, apalagi yang punya hajat pasti tambah banyak deh. Sedangkan sang pengantin berharap-harap cemas sekaligus senang.

Senangnya akan semakin bertambah ketika akad nikah sudah sah dan rangkaian acara pernikahan sudah terlaksana. Kemudian pada waktu malamnya hujan turun dengan lebat tanpa henti semalaman. Ditambah hawa dingin yang menerpa membuat orang-orang nyenyak dalam tidurnya bisa jadi karena kelelahan, tapi tidak bagi pengantinnya.

Para pengantin baru pasti sangat senang dengan suasana seperti ini. Entah apa saja yang mereka lakukan selagi orang-orang pada tidur nyenyak, yang jelas suasana di atas sangatlah mendukung dan benar-benar menyenangkan bagi pasangan yang baru saja menikah. Bukankah demikian???

17 thoughts on “Desember

  1. katanya ujan itu membawa kesan romantis…itu kalo ujannya kecil2 ajah, klo ujan gode yang ada was2 takut kebanjiran hehehhee

    — —
    *ditambah angin puting beliung, wow serem…

  2. Orang tua dulu bilang bulan September, Oktober, November dan Desember musim hujan. Itu katanya, karena ada kata-kata BER yg artinya EMBER.

    Wah, tapi tampaknya itu anggapan ngak bisa lagi jadi acuan.

    Soal nikah di bulan ini. Mungkin ada kaitannya juga dg musim hujan, utk kemantin baru.

    Hehehehehehehe

    Ngak ada yg nyambung

    — —
    *EMBER maksudnya untuk menampung air hujan kali ya…

  3. Jika ada orang punya hajat, sebetulnya yang diharapkan doa restunya…bukan kadonya.
    Cuma karena masyarakat timur, jadinya nggak enak kalau nggak menyumbang.

    — —
    *Betul banget Bu, adanya ewuh pekewuh yang berlaku dalam masyarakat kita ini maka siapapun akan tetap berusaha agar bisa menyumbang . Apalagi jika yang punya hajat itu sudah sangat dekat dengan kita. Menyumbang sekaligus mendoakan jadinya. Eh, kebalik ya…

  4. Hujan? Paling enak meringkuk di sofa yang empuk, pakai selimut yang hangat, baca buku yang asyik, nyeruput kopi yang harum, dan dengerin musik yang merdu ….

    — —
    *sampai bablas ketiduran dengan hangatnya ya Bu…

  5. Desember dimalaysia ini adalah bulan yang ditakuti…
    Monsoon ,katanya….

    Hujannya ngeri..kadang 3 hari berturut2 gak berenti2…
    nah kalo separoh malaysia udah banjir baru mereka bilang hujan bakal berkurang…

    lucu ya..tandanya kok banjir…

    — —
    *Kalo di Indonesia baru hujan sehari semalam aja dah bisa bikin banjir, tanah longsor sampai ada jatuh korban.

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s