Gelar

Gelar merupakan sebuah sebutan, penghargaan atau julukan yang diberikan kepada seseorang atas sesuatu hal yang sudah dilakukannya. Jika gelar dihubungkan dengan sebuah tempat maka akan menjadi pagelaran. Pagelaran Kraton Yogyakarta misalnya, difungsikan untuk berbagai macam keperluan. Gelar yang berkaitan dengan pertunjukan dinamakan pergelaran. Misalnya pergelaran musik, pergelaran wayang kulit, pergelaran film dll. Sedangkan gelaran dalam Bahasa Jawa lebih dikenal sebagai tikar atau alas duduk.

Gelar yang melekat pada diri seseorang tidak diperoleh dengan begitu saja. Namun ada usaha tertentu yang dilakukan sehingga seseorang berhak menyandang sebuah gelar. Bisa dengan menempuh pendidikan dalam jangka waktu tertentu atau karena sesuatu hal yang pernah dilakukan. Sebuah pengecualian adalah gelar kehormatan yang bisa saja diberikan untuk menghormati seseorang tanpa memandang apakah ia pernah berjasa ataukah tidak.

Di Indonesia, kita mengenal banyak gelar yang bisa disandang oleh seseorang. Ada gelar akademis yang diperoleh seseorang karena ia telah berhasil menyelesaikan pendidikannya. Entah itu pada jenjang Diploma, S1, S1 hingga S3. Misalnya Ahli Madya (A. Md) untuk gelar pendidikan dari Diploma III. Sementara dari S1 bergelar sebagai sarjana, S2 bergelar master sedangkan dari S3 gelarnya Doktor.

Gelar jasa diberikan atas perjuangan dan pengabdian yang dilakukan oleh seseorang baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup. Meskipun tidak mutlak, namun gelar semacam ini lebih sering dihubungkan dengan kepahlawanan. Sehingga ada pahlawan nasional, kemerdekaan, pahlawan pembangunan, pahlawan lingkungan hidup, pahlawan olahraga dan sebagainya. Bagi mereka yang masih berkarya sebagai pegawai pemerintah atau tentara mendapat tanda jasa sebagai penghargaan.

Gelar keagamaan berkaitan dengan aktivitas dalam agama tertentu seperti Kyai sebutan untuk pengasuh pondok pesantren atau orang yang dianggap memiliki kharisma dalam agama Islam. Mereka yang berangkat ke tanah suci Mekkah pada Bulan Zulhijjah dan melakukan ritual di sana oleh masyarakat akan di panggil Haji. Dalam agama lain pun demikian, ada Pendeta, Pastur, Begawan, Resi, Mpu dan sebagainya.

Ada pula orang yang bergelar karena julukan semata. Hal ini umumnya berlaku untuk lingkungan tertentu dalam masyarakat. Bahkan julukan yang melekat pada seseorang kadang sampai menghilangkan nama yang sebenarnya. Sehingga ada orang yang dikenal dengan julukannya saja, nama sebenarnya justru banyak yang tidak tahu. Coba kita perhatikan lingkungan tempat tinggal kita masing-masing.

Tentu banyak yang merasa senang memperoleh gelar tertentu. Ada kebanggaan tersendiri karena dengan gelar yang disandang dapat membuat seseorang menjadi berbeda dengan yang lainnya. Ada pula yang tidak suka karena namanya jadi jelek akibat embel-embel gelar yang diberikan oleh masyarakat untuk membedakan antara orang yang satu dengan lainnya yang kebetulan bernama panggilan sama.

Contohnya di sekitar tempat tinggal saya ada dua orang yang dipanggil Heri. Untuk membedakannya dipakai embel-embel dibelakang nama mereka. Yang satu berambut gondrong sehingga nama panggilannya menjadi Heri Gondrong. Ada lagi Pak Sastro, yang satu memelihara “kethek” (monyet) menyebabkan embel-embel pada namanya menjadi Sastro Kethek. Kemudian Gunawan, karena yang satu tinggalnya di daerah ledok atau lembah maka dipanggil Gunawan Ledok.

Gelar yang bermakna positif mungkin akan menyenangkan yang bersangkutan. Sebaliknya gelar yang terkesan negatif atau sangar membuat orang dapat bersikap negatif pula terhadap yang menyandang gelar. Walaupun kenyataannya bisa berkebalikan namun demikianlah yang banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Hal serupa mungkin bisa kita jumpai di sekolah, organisasi, kantor dan lain-lain. Untuk membedakan agar tidak salah orang berbagai macam embel-embel dilekatkan pada nama tergantung kondisi dan keadaan orang tersebut. Mari kita lihat lagi mereka yang ada di sini

Tak sedikit yang protes hanya karena gelar yang lupa dicantumkan pada namanya. Atau ada orang yang lebih senang dipanggil Pak Haji ketimbang dipanggil dengan namanya sendiri. Bahkan ada yang sampai marah-marah segala jika nama yang dituliskan tidak disertai dengan semua gelar yang sudah diperoleh.

Entah apa yang membuatnya demikian, yang jelas gelar memang memberikan nuansa perbedaan. Itu semua tergantung alasan masing-masing apakah akan protes ketika gelarnya tak dicantumkan pada namanya atau bagaimana.

Seseorang yang memiliki banyak gelar akademis dan semuanya mesti dicantumkan pasti akan memakan tempat yang lebih untuk menuliskannya. Kadang hanya untuk menuliskan sebuah nama dengan banyak gelar memerlukan sampai dua baris tempat terutama dalam undangan pernikahan atau dalam daftar nama-nama.

Jika dalam sebuah lagu kita mengenal guru sebagai pahlawan tanpa tanda saja. Lalu gelar apakah yang seharusnya pantas kita berikan pada Ibu kita sendiri yang telah berbuat banyak dalam kehidupan kita?

Iklan

11 thoughts on “Gelar

  1. dengan atau tanpa gelar ibu adalah ibu. takkan ada yang bisa melebihi apa yg telah diberikan, kecuali gusti allah tentunya 🙂

    — —
    *kasih ibu tak terhingga sepanjang masa

  2. profesor bukannya jabatan ya? jabatan fungsional jika di indonesia, jabatan struktural jika di luar negeri
    salam kenal anyway

    — —
    *betul sekali pak, makasih atas ralatnya

  3. aku bangga punya gelar IBU, hehehe…. 🙂
    tapi kadang masih kheki juga kalo orang lain manggil ibu, lah masih muda je 😛
    kecuali anakku atau bapaknya yg manggil BUNDA seneng banget

    — —
    *paling pas kalau suami atau anaknya sendiri yang memanggil, apalagi dengan panggilan romantis

  4. gelar untuk ibuku…malaikat…:)

    mempertaruhkan nyawa untuk melahirkanku
    menjagaku dengan caranya….

    — —
    *surga ada di bawah telapak kaki ibu

  5. memang bagi sebagian orang, gelar apalagi kebangsawanan, dianggap sangat penting bahkan “rela” mencak2 jika gelar tsb tidak dicantumkan dalam rangkaian tulisan namanya.. ah, dunia..

    — —
    *demikian pula gelar yang dibeli dengan mahal

  6. Saking bangganya sama gelar, sampai2 ‘gelar’ HAJIpun mereka masukkan dalam rangkaian namanya. Aneh2 sajah orang Indonesia ini. Semua pasti ada tujuannya. hanya satu menurutku, RIYA’

    SALAM KENAL BUNG

    — —
    *bisa jadi karena biayanya yang mahal untuk menunaikannya

  7. Gelar yang cocok untuk ibu…apa ya?

    Tidak ada gelar yang dapat di berikan untuk ibu,karena jasanya begitu besar,seorang ibu yang melahirkan para akademis,para diploma,para kiyai,para pemimpin negri ini,para pahlawan kemerdekaan dan yang melahirkan….yang melahirkan….yang melahirkan….

    saya jadi bingung gelar apa yang cocok untuk ibu…(pahlawan tanpa tanda jasa)

    — —
    *kalau di sebuah lagu disebutkan bahwa ibu bagaikan sang surya yang menyinari dunia

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s