Bukan Sekedar Gengsi

Beberapa waktu yang lampau yang namanya ikan arwana pernah mengalami masa-masa kejayaan. Banyak orang tertarik, terutama yang termasuk kategori golongan orang berduit. Ikan hias ini harganya cukup mahal bahkan terbilang fantastis dan tidak sembarang orang mampu membelinya. Meskipun mahal, ia tetap diburu karena ikan jenis ini memang lagi digandrungi masyarakat.

Selain arwana, demam ikan koi juga sempat melanda negeri kita yang sebagian besar berupa air. Yang paling heboh adalah demam ikan lohan. Tak jarang, ikan lohan yang dijual bisa laku beserta aquariumnya. Meskipun harganya mencapai jutaan rupiah, orang tetap saja mau membelinya.

Memelihara binatang air yang mahal dan sedang tren memang akan menaikkan gengsi si empunya. Terutama jika harganya sudah ditaksir tinggi oleh seseorang, Sampai berapa juta pun rasanya akan sayang melepasnya ke tangan orang lain. Sebab biasanya semakin tinggi taksiran harganya maka peminatnya pun bertambah dan berani memberikan harga yang lebih tinggi lagi.

Lain binatang air, lain pula hewan yang hidup di tanah. Jangkrik dan cacing jenis lumbricus sempat pula menembus harga jual yang cukup lumayan. Dimana-mana orang memelihara jangkrik dan cacing. Katanya sih banyak kalangan industri yang membutuhkan kedua binatang ini. Ada yang menjadikannya sebagai bahan campuran untuk kosmetika, ada juga yang memanfaatkannya sebagai obat-obatan dan keperluan lainnya.

Di banyak tempat, akhirnya orang mulai membuka kursus, pelatihan bahkan pendidikan mengenai pemeliharaan jangkrik dan cacing dari pembibitan, perkembangbiakan sampai pada tahap pemeliharaan dan penjualannya ke pasar. Ada yang sampai menawarkan berani membeli produk yang dihasilkan dengan harga tinggi. Inilah yang kemudian membuat orang beramai-ramai membudidayakan kedua makhluk yang berlainan tersebut.

Lagi-lagi yang namanya tren, suatu saat pasti tenggelam dengan sendirinya. Sekarang sudah tak ada lagi yang menyebut-nyebut tentang itu.

Di dunia tumbuh-tumbuhan tren serupa juga bermunculan. Jenis tanaman hias menduduki peringkat pertama di masyarakat. Sebut saja anggrek, kaktus, euphorbia, anthurium, adenium, aglaonema, puring, sanseviera sampai yang disebut sebagai gelombang cinta dan entah apalagi istilahnya. Harganya sempat menembus puluhan ribu rupiah untuk kategori “anakan” atau tunas baru. Setelah beberapa tahun harganya pun melonjak, mencapai puluhan juta bahkan ratusan juta sampai milyaran rupiah per pohonnya. Itu belum termasuk kategori yang dilombakan. Semakin sering tanaman memenangkan kontes maka semakin tinggi pula nilainya.

Semua hal yang sedang booming atau sedang mengalami tren pada puncaknya akan menarik perhatian orang. Banyak orang tertarik untuk memiliki, memelihara hingga membuat pelatihan tertentu mengenai hal yang bersangkutan. Apakah tujuannya hanya sekedar ikut-ikutan, menaikkan gengsi, mencari keuntungan, bisnis, atau untuk tujuan lainnya, yang jelas masyarakat sangat mudah terpengaruh akan hal ini.

Demi gengsi dan ingin disebut hebat serta dikagumi, ada orang rela menjual mobil guna mendapatkan sesuatu yang sedang menjadi tren. Tak peduli berapapun harga yang harus dibayar, yang penting orang mengagumi apa yang koleksinya. Ia sendiri sebenarnya hanya mendompleng tren yang sedang berlaku saat itu. Kalau tren atau yang sedang booming berubah maka ia juga akan berusaha mengikuti perubahan tersebut.

Ada banyak cerita lucu dari orang lain menyangkut hal ini. Ketika arwana, lohan, hingga gelombang cinta milik seseorang telah mencapai harga yang sangat fantastis ia tersebut enggan menjualnya. Ia merasa sayang kalau apa yang dimilikinya itu jatuh ke tangan orang lain. Ia tak ingin kekaguman orang berubah atas dirinya sehingga koleksinya itu tidak dijualnya dengan harga berapapun.

Pada akhirnya ia hanya gigit jari tak mampu berkata apa-apa tatkala koleksi kesayangannya itu mati secara percuma entah dimakan kucing, di makan ayam bahkan ada yang sampai masuk ke panci penggorengan hanya karena istri atau pembantunya tidak tahu bahwa yang ia masak adalah koleksi kesayangan yang harganya telah mencapai jutaan rupiah.

Tragis memang, ditawar orang ratusan juta rupiah saja tak diberikan malah cuma menjadi santapan yang hanya sekejap. Entahlah, besok tren apalagi yang bakal menjadi booming yang membuat masyarakat menjadi latah karenanya.

Termasuk menjelang pemilu, banyak orang beramai-ramai menjadi caleg (wakil rakyat) sehingga wajah-wajah mereka terpampang di sepanjang jalan dalam bentuk baliho, poster atau spanduk. Selain itu ada yang beredar dalam bentuk leaflet, stiker atau kalender.

Sama seperti ikan dan tanaman hias tadi. Berapapun biaya yang dikeluarkan tidak masalah, asalkan apa yang diinginkan dapat tercapai. Intinya cuma satu yaitu nampang alias tebar pesona agar rakyat memilih mereka saat pemilu.

14 thoughts on “Bukan Sekedar Gengsi

  1. biasanya yang jadi faforit itu kalo bagi2 kaos ato duit
    dulu pas jamannya saya masih SD, ada kampanye PDI di lapangan dekat rumah
    yang dateng, ikut joget2 dapet uang 25rb
    lumayan buat uang saku

    — — —
    *Jaman sekarang pun masih ada caleg yang bagi2 duit, sembako dll.

  2. hmm.. aku jadi inget klu dulu pernah punya ikan arwana tea, dari sejengkal sampe akhirnya sepanjang lengan, tp sayangnya akhirnya tewas krn keracunan air..

    salam kenal yaaa ^^

    — — —
    *Wah, sayang sekali dong kalo begitu. Salam kenal juga, makasih.

  3. mahal mas biaya tebar pesona. blom tentu kepilih pula. tapi paling gak udah berani unjuk tampang yak.

    — — —
    *Yang jelas berani keluar duit juga pak

  4. kalau aku sih mending nggak ikut trend mas, kalau harus beli tanaman yang harganya muahal, misalnya….mending dibeliin gadget…hahahahah

    — — —
    *sama mbak, aku juga gak hobi…

  5. Saya selalu memulai dengan menghitung risiko, cara perawatan, dan tentu biayanya. Dan karena mengatur waktu udah membuat pontang panting, mendidik anak, menemani belajar, tugas kantor, kuliah lagi…akhirnya ya benar-benar hanya melakukan yang prioritas.

    — — —
    *Kalau gak begitu tentu urusan yang benar2 penting jadi terbengkalai ya Bu?

  6. kasihan ya mas yg dimakan kucing itu, yg punya pasti gethun setengah hidup😛

    bangga pastinya para caleg itu yg wajahnya terpampang di baliho2😛

    — — —
    *Jelas getun mbak, lha si empunya aja merasa sayang untuk dikonsumsi sendiri malah diembat kucing.

  7. Kelihatannya sepele, tapi kalau ditekuni bisa mendapatkan penghasilan yang luar biasa.

    — — —
    *Apalagi jika dibekali keterampilan dan pengetahuan dalam merawatnya pasti lebih menguntungkan

  8. Kasian yah yg dah pada kena penyakit gengsi ……saya juga kadang-kadang suka keserang sih , tapi untung gag ampe segitu2 amat😀

    — — —
    *Nah, beda kan dengan mereka yang benar2 hobi…

  9. Kalao inget2 masa lalu,,terkadang sedih,kedang juga seneng,,
    dulu ikan cupang ku mati gara2 di obok2 sama adik ku,,,padahal tuh ikan cupang sering menang..namanya masa lalu hanya bisa di kenang.

    — — —
    *dan tak akan pernah terulang kembali

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s