Ayah Menyusui

dadSelama ini jika membicarakan perihal ASI, maka yang paling sering diingat adalah ibu. Ya, ASI selalu dikaitkan dengan ibu. Peran ayah yang mendampingi ibu selama proses kehamilan, melahirkan hingga menyusui dilupakan begitu saja. Apakah memang demikian?

Seorang ibu dari sononya sudah dikaruniai kemampuan memproduksi ASI untuk minum si bayi. Bahkan kemasannya pun praktis dan mudah dibawa kemana saja. Selain itu proses pemberiannya juga mudah, tidak berbelit-belit namun higenis. Tidak demikian halnya dengan ayah. Meskipun ayah tidak memiliki modal seperti ibu tetapi sebetulnya peran seorang ayah dalam proses menyusui juga penting. Memang, sang ayah tidak terlibat secara langsung menyusui bayi layaknya ibu.

Beberapa kelompok pendukung ASI di dunia membuat konsep yang melibatkan peran seorang ayah dalam proses menyusui. Konsep tersebut sering dikenal dengan tim trio yaitu ibu, bayi dan ayah. Oleh karena itu kemudian muncul istilah breastfeeding father yang menempatkan peran ayah begitu penting dalam proses menyusui. Ayah menyusui, demikian istilah yang sering dikenal di Indonesia.

Di negara kita bahkan di dunia, biasanya seorang ayah tidak tertarik dengan urusan ini. Umumnya segala sesuatu menyangkut ASI dan yang berkaitan dengan itu diserahkan sepenuhnya kepada ibu. Pada perkembangannya, paradigma seperti ini lambat laun berubah seiring berkembangnya konsep baru dalam sebuah keluarga. Ayah juga dilibatkan dalam urusan susu-menyusu.

Apakah hanya itu yang dapat dilakukan ayah?

Pada prinsipnya peran ayah yang terpenting adalah memberikan perasaan tenang, senang dan bahagia kepada ibu. Sebab jika perasaan ibu tidak senang, risau atau tidak merasa nyaman maka hormon adrenalinnya akan meningkat. Peningkatan hormon adrenalin bisa menekan pengeluaran hormon oxytocin dan prolactin yang berfungsi memproduksi susu. Jika itu terjadi, produksi susu akan menurun baik kualitas maupun kuantitasnya. Sebaliknya jika seorang ibu gembira, tenang dan bahagia, maka produksi ASI-nya akan banyak.

Sebetulnya banyak hal yang bisa dilakukan oleh ayah. Prosesnya sudah dimulai sejak kehamilan pertama kali diketahui. Calon ayah bisa mengawali dengan mulai membaca buku atau artikel yang berhubungan dengan kehamilan, kelahiran dan ASI. Akan lebih baik jika itu dilakukan bersama dengan istri sekaligus berdiskusi. Dengan demikian akan diperoleh manfaat ganda, yaitu calon ayah dan calon ibu mengetahui secara pasti mengenai kehamilan, kelahiran dan ASI. Di samping itu calon ayah juga tahu apa manfaat menyusui bagi ibu dan bayi sehingga akan tumbuh motivasi untuk selalu membantu ibu.

Selain hal di atas, ayah juga perlu memikirkan rumah bersalin. Tentunya rumah bersalin yang bagus adalah klinik dengan perawatan bayi dan ibunya tidak terpisah, sehingga ibu bisa menyusui bayinya setiap saat. Begitu pula saat akan melahirkan, ayah sudah harus membicarakan pada dokter atau perawat yang menangani persalinan bahwa bayi hanya akan diberi ASI saja bukan ASPI (air susu sapi) alias susu kemasan atau susu formula.

Banyak pihak tidak menganjurkan pemberian susu formula, karena dapat menurunkan daya tahan tubuh bayi. Hal itu disebabkan susu formula tidak memiliki zat yang dinamakan colostrums sebagai anti bakteri dan berkemampuan meningkatkan daya tahan bayi. Menurut catatan kesehatan, 98% ibu mampu memproduksi ASI dengan cukup.

Ketika proses kelahiran berlangsung, sebaiknya ayah yang mendampingi ibu di ruang bersalin. Biasanya para istri akan lebih tenang jika yang mendampingi adalah suaminya. Dan jika terjadi sesuatu, maka pihak yang paling berwenang dalam mengambil keputusan adalah sang ayah, bukan yang lainnya.

Secara umum, ayah mestinya memberikan sikap yang positif kepada ibu dan bayi. Sebab jika sang ibu tenang, bayinya pun menjadi tenang. Sering kita lihat bayi yang sehat menangis terus menerus tanpa berhenti meskipun sudah disusui. Bisa jadi ini disebabkan oleh perasaan ibu yang tidak tenang atau ayah si bayi yang jarang berada di sampingnya.

Tak kalah pentingnya ialah ayah yang mau membantu ibu pada masa-masa kelelahan paska melahirkan. Bantuan ayah diwujudkan dalam mengambilkan makan, mencuci pakaian saat istri masih lelah paska melahirkan, mencuci popok bayi atau mengganti popok bayi saat dibutuhkan. Peran ayah seperti ini membuat ibu jadi lebih banyak beristirahat guna memulihkan kondisinya.

Ayah juga bisa membantu menggendong bayi yang masih rewel meskipun sudah kenyang disusui. Biasanya ayah merasa senang ketika mampu menenangkan bayinya. Bayi tenang, ayah pun senang, begitu pula ibunya pasti lebih senang lagi.

Secara psikologis, adanya tim trio yang menempatkan peran ayah dalam proses menyusui memberikan dampak positif bagi ibu dan bayi. Beban ibu menjadi lebih ringan dan perasaannya pun tenang. Demikian juga dengan si kecil, ia bahkan mampu merasakan peran dan kehadiran ayah untuk dirinya. Dalam perkembangan selanjutnya, bayi tak hanya dekat dengan ibunya namun juga dekat dengan ayahnya.

Peran ayah dalam hal menyusui lebih dikaitkan dengan faktor psikologis terhadap ibu dan bayi. Breastfeeding father adalah hal-hal yang dilakukan ayah dalam rangka mendukung proses menyusui. Ayah menyusui bukan berarti ayah yang memberikan air susunya. Selain modal dan sarananya yang berbeda dengan ibu, barangkali bayi juga akan merasa aneh kalau tiba-tiba ayah menggantikan ibu untuk menyusui dalam praktek yang sebenarnya.

Iklan

11 thoughts on “Ayah Menyusui

  1. Kalau ayah adalah tulang punggung bagi keluwarga,dan ibu adalah sosok wanita yang agung

    — — —
    *keduanya seakan menganut prinsip yim dan yang

  2. Apa istilahnya sudah betul begitu? Karena tadinya saya berpikir menyusui adalah memberikan susu yang berasal dari payu dara.

    Ternyata ayah yang membantu memberikan bayi, memberikan botol susu saat si bayi mau minum susu. Hubungan erat antara ibu, ayah dan bayinya, memang ada pengaruhnya terhadap perkembangan bayi.

    — — —
    *Memang sulit untuk mencari istilah yang tepat, karena istilah ayah menyusui lebih bermakna kiasan, bukan dalam arti yang sebenarnya. Seperti istilah yang sudah berlaku secara global, “breastfeeding father” sangat bekaitan dengan faktor psikologis yang berdampak positif terhadap ibu dan bayi. Tujuannya untuk lebih membangun hubungan erat diantara ketiganya sejak dini sebelum bayi dilahirkan.

  3. Mas, jngan2 mas ini bapak2 yg suka email2an di milis afb ya? ๐Ÿ™‚
    Selamat ya mas, jarang2 lho ada bapak menyusui…

    — — —
    *he… he… gak juga kok, saya lebih fokus ke dunia blog.

  4. Besok kalo sudah jadi ayah insyaalloh saya juga akan mbantu istri saya merawat anak2… biar istri saya gak kecapekan ngurusin anak dan bisa gantian ngurusi saya, hehehehe

    — — —
    *insya Allah terlaksana mas, saya doakan dari jauh…

  5. Aku kok malah jebul jarang mbikinin susu utk si kecil ya… pernah suatu kali bikin susu botol kepanasen …

    — — —
    *lha, kasihan dong si kecil pak…

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s