Wakil Rakyat, Janji Atau Bukti?

Mengobral janji adalah hal yang paling sering dilakukan dalam kampanye pemilu. Lagu lama dibawakan kembali oleh para caleg untuk meraih simpati dan dukungan rakyat. Tujuannya hanya satu, yaitu mengantarkannya duduk di kursi dewan. Kita semua tahu bahwa mereka menjanjikan ini itu namun kenyataannya setelah duduk di dewan menjadi lain sama sekali. Rakyat sering dilupakan, apa yang dijanjikan kepada rakyat tak pernah terbukti.

Rakyat makin cerdas dan selektif dalam menentukan pilihannya. Di samping itu, banyaknya jumlah partai dan caleg yang menjadi kontestan pemilu justru menimbulkan kebingungan tersendiri di kalangan masyarakat.  Apalagi kali ini mereka dihadapkan pada pilihan caleg yang rata-rata tidak mereka kenal sebelumnya. Mendengar namanya pun belum pernah sama sekali.

Untuk menentukan mana caleg yang benar-benar berkualitas tentu saja sulit. Karena setiap caleg memiliki program yang tak jauh berbeda dengan caleg lainnya. Pertarungan antar caleg makin sengit dengan diberlakukannya ketentuan baru dengan suara terbanyak. Para caleg saling berebut pendukung. Tidak hanya caleg dari partai yang berbeda, caleg yang partainya sama pun saling bertarung untuk meraih simpati di wilayah yang sama dengan massa yang sama pula.

Entah sudah berapa kali pemilu, para caleg selalu berjanji dengan yang hal yang itu-itu saja. Selain yang sifatnya baru, rasanya rakyat sudah hapal betul dengan apa yang disampaikan. Kalau diperhatikan, ternyata janji yang sering diusung oleh para caleg itu tidak lepas dari lima hal antara lain :

Pertama, adalah membuat pendidikan murah bahkan gratis. Memang, sekarang ini para orang tua boleh bernapas lega dengan dikucurkannya BOS (biaya operasional sekolah) atau BOSDA di lingkup daerah ke berbagai sekolah negeri mulai tingkat SD hingga SLTA. Tetapi, itu saja masih belum cukup, karena masih terbatas untuk sekolah-sekolah negeri. Sementara pendidikan tidak hanya didapat dari sekolah negeri saja. Yang masuk ke sekolah swasta dari kalangan tidak mampu pun banyak. Padahal biaya pendidikan di sekolah swasta cukup mahal, apalagi tidak terjangkau oleh BOS. Pendidikan murah atau gratis sekalipun mestinya dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat tanpa kecuali. Dengan demikian beban rakyat hanya terletak pada pendidikan tinggi yang sekarang statusnya menjadi BHP dan sering disebut-sebut sebagai komersialisasi pendidikan.

Kedua, mengusahakan sembako murah. Naiknya harga kebutuhan pokok atau sembako membuat rakyat semakin susah. Janji wakil rakyat pada pemilu lalu yang akan menurunkan harga sembako ternyata kosong. Sekarang sudah berjanji lagi dengan hal yang sama. Kenaikan harga BBM yang memicu naiknya berbagai harga kebutuhan tak mampu diatasi oleh wakil rakyat. Bahkan turunnya harga BBM beberapa waktu lalu tidak serta merta diikuti oleh turunnya harga-harga yang lain. Lalu, kapan harga sembako akan murah sehingga rakyat bisa tersenyum bahagia?

Ketiga, layanan kesehatan gratis. Entah gratis dalam hal yang mana. Gratis biaya pendaftaran, pemeriksaan dokter, rawat inap di rumah sakit, laboratorium tindakan operasi atau gratis dalam menebus obat-obatan? Ongkos yang mahal barangkali masih bisa diatasi dengan adanya program asuransi kesehatan (askes), jamsostek, jamkesos, KMS, askeskin, dll. Namun itu untuk kategori layanan tertentu, karena tidak semua layanan bisa diperoleh dengan asuransi. Layanan dengan askeskin pun banyak dikeluhkan oleh masyarakat. Ada kesan mereka yang menggunakan askeskin layanannya dibedakan, dipersulit, diacuhkan hingga prosedur yang berbelit-belit. Demikian cerita-cerita yang beredar di kalangan pemakai askeskin. Mereka yang termasuk kategori mampu dan berduit rasanya tak masalah. Tanpa ikut program askes pun tetap saja mampu membayar layanan kesehatan.

Keempat adalah tersedianya lapangan kerja dalam jumlah banyak. Kenyataan yang sering dialami justru sebaliknya. Bukannya lapangan kerja baru yang tersedia, namun pengangguran baru yang makin bertambah. PHK justru banyak terjadi di saat Negara mengalami krisis ekonomi. Korban PHK tidak jelas nasibnya, sedangkan pemerintah tidak segera mampu mengatasinya. Rakyat yang menjadi korban PHK pun butuh makan dan harus mencukupi kebutuhan keluarganya. Hal ini makin diperparah dengan adanya ribuan lulusan sarjana baru yang tak segera mendapatkan pekerjaan.

Terakhir adalah pengentasan kemiskinan. Kemiskinan merupakan masalah sosial yang seakan tiada habisnya. Termasuk pula dalam hal ini gelandangan, pengemis, anak jalanan, orang gila yang berkeliaran perlu mendapat perhatian tersendiri agar kehadiran mereka tidak membuat wajah kota terlihat semrawut. Diperlukan solusi yang tepat dan pas untuk mengatasi persoalan ini. Jika ada yang bertanya siapakah yang bertanggung jawab terhadap masalah ini. Kita melihat konstitusi yang berlaku bahwa di situ disebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Dipelihara dalam arti mereka berhak memperoleh tempat berteduh, pakaian, pendidikan, pengajaran, pekerjaan, usaha dan hal-hal yang membuat mereka mampu mandiri untuk hidup secara sopan dan layak.

Banyak orang pintar dan pandai yang rasanya mampu memberikan formula tepat untuk mengatasi persoalan-persoalan di atas. Tak masalah beda partai atau beda golongan, asalkan mampu memperbaiki kondisi dan membawa perubahan-perubahan yang berarti, toh tak ada salahnya menerima solusi yang mereka tawarkan. Rakyat tidak butuh janji, tapi bukti nyata yang bisa dirasakan manfaatnya tidak hanya oleh kalangan tertentu saja. Masyarakat yang ada di lapisan paling bawah pun berhak merasakan perubahan-perubahan yang baik dalam hidupnya. Seluruh rakyat berhak merasakan perubahan yang lebih baik.

Kini, pemilu sudah bisa kita lihat hasilnya. Apakah janji kepada rakyat akan terwujud dalam hasil yang nyata atau bagaimana? Entahlah, mari kita buktikan bersama setelah mereka dilantik.

Ayo wakil rakyat, buktikan dan wujudkan janjimu.

Iklan

21 thoughts on “Wakil Rakyat, Janji Atau Bukti?

  1. rakyat indonesia spt dikacangin….terlalu banyak janji2 yg di obral , semakin banyak janji semakin hilang rasa kepecayaan thd pemerintahan

    — — —
    *janji yang hanya manis di bibir saja

  2. janji mah biasa… kaya orang ngeblog yang pada ngebisnis, jadi referal, apa mereka ga janji….. marilah kita sikapi dengan pemikiran yang dingin dan lebih dewasa…

    — — —
    *ya, harus cerdas dalam memilih

  3. mereka itu sadar ga ya, kalo janji sama dengan hutang.

    tapi kemarin aku nyontreng loh….
    sebagai warga negara yang baik hahaha…. 😀

    — — —
    *tapi tak terbuai dengan janji khan???

  4. Kita sebagai warga negara juga harus mendukung para wakil rakyat. Tetap optimis, semoga membawa aura positif untuk semua.

    — — —
    *memang, tidak semua caleg negatif tujuannya

  5. lagu lama yang dibawakan kembali berarti masuk dalam kategori album nostalgia, jadi isinya ya hanya untuk bernostalgia saja ….

    Jadi , nostalgia janji gitu maksudnya ? yo embuh, tanyakan pada calegnya saja ….

    — — —
    *he… he… betul sekali pak, nostalgia

  6. although bla bla bla reasons happend, but still a enjoyed the ellection day 🙂 hehehehe 🙂

    mas mufty nyontreng gag yaaahhhh?!!! ;p

    — — —
    *nyontreng, iya lah…

  7. waaa…..janji seh gampang…melaksanakannya yg sulit….kebanyakan klo udah duduk dikursi legislatif trus mikir Sak (iki) sambil memperlihatkan kantong nya masing2……laah sak e wong liyo piye? yo mbuh

    — — —
    *kalo dah sidang banyak yang tidur

  8. Pemilihlah yang harus menyikapi dan memperhatikan apa yang dijanjikan caleg tadi, apalah setelah terpilih akan dilaksanakan. Masalahnya, tak ada jalur yang langsung, untuk dapat meminta pertanggungjawaban untuk menuntut janji tsb..paling2 nanti dia nggak terpilih lagi (kalau pemilihnya masih ingat rapornya)

    — — —
    *Dan anehnya kok ya masih ada yang terpilih ya Bu. Padahal rapornya banyak yang jelek. Kalau sudah begitu memang susah untuk meminta pertanggungjawaban.

  9. yang jelas pascapemilu rumah sakit jiwa jadi laris, kebanjiran pasien …

    — — —
    *malah ada caleg yang tega meminta kembali bantuan yang telah diberikan

  10. jangji-jangji para caleg semuahnyah kan nyaris sama aja satu sama lain. mereka juga kan maju jadi caleg bukan atas nama pribadi tapi diusung oleh parpol. nah, parpol-parpol ikut tanggung jawab tidak kalo anggotanya ingkar janji?

    — — —
    *betul sekali, mau nggak nih parpol tanggung jawab???

  11. hmmm..
    terbukti di pemilu 9 April kemaren, suara terbanyak adalah: GOLPUT.
    Dan jumlah golput pemilu 9 April kemarin jauh meningkat dibanding pemilu sebelumnya.

    Golput sendiri dibagi menjadi 3 golongan kalau tidak salah. Golput karena nggak terdaftar jadi DPT, golput karena nggak ngerti sama sistematika pemilu, dan golput yang memang karena tidak percaya pada caleg2 yang ada.

    Nah, golput yang muncul karena nggak percaya ini lah yang membuktikan bahwa rakyat udah muak sama mereka yang setiap masa kampanye obral janji terus menerus.

    Yah, sebagai bagian dari bangsa indonesia, saya juga berharap indonesia mengalami kemajuan dari berbagai sisi termasuk sisi ini.. Dengan makin banyaknya golput yang menjamur, semoga saja mereka, para calon mengerti bahwa kita membutuhkan bukti dan bukan sekedar janji…

    — — —
    *realisasi yang diharapkan rakyat bukan sekedar omong kosong aja, buktikan dong…

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s