Nama Turun Temurun

Orang yang terjun dalam kancah politik Indonesia semakin beragam. Kita bisa melihat dari daftar caleg yang ikut dalam pemilihan umum lalu. Selain nama politisi yang sudah kita kenal ada juga nama-nama artis. Beberapa artis dapat dipastikan menduduki kursi anggota DPR setelah mereka meraih suara yang lumayan.

Di samping artis, sejumlah nama politisi muda pun menghiasi bursa pemilihan caleg. Bukan hanya muda, tapi di belakang mereka berdiri nama-nama besar tokoh yang telah malang melintang di kancah politik Indonesia. Politisi muda yang mengikuti jejak orang tua mereka. Bahkan dalam satu daerah pemilihan ada yang namaanya menduduki peringkat teratas dari daftar perolehan suara bersaing dengan tokoh senior.

Tak sekedar mendompleng beken nama orang tua belaka Kenyataannya, banyak anak pejabat maupun tokoh-tokoh partai yang serius mengincar kursi wakil rakyat ataupun posisi di pemerintahan. Orang tua pun mendukung langkah putra putrinya di dunia politik. Sebagai generasi penerus, orang-orang muda ini aktif berkiprah dalam partai yang sama dengan orang tuanya.

Tentu tak mengherankan, jika ada salah satu anak tokoh politik yang diproyeksikan menggantikan orang tuanya memimpin partai di masa mendatang. Bukan saja memimpin partai, tapi lebih dari itu mereka diharapkan menduduki posisi strategis di pemerintahan. Beberapa waktu ke depan, mungkin akan kita lihat bahwa tokoh-tokoh partai didominasi oleh anak keturunan tokoh besar partai atau pendiri partai.

Namanya juga anak keturunan, wajar jika di belakang nama asli atau nama panggilan tercantum nama beken orang tua. Kaum bangsawan juga tak sedikit yang memakai nama orang tua mereka di belakang nama asli. Seperti orang Batak yang umumnya memakai nama marga di belakang nama asli mereka. Ini menunjukkan identitas tertentu sebagai identitas kedaerahan.

Sebaliknya, ada orang tua yang memang sengaja menambahkan namanya untuk nama anaknya ketika lahir. Entah dengan tujuan sebagai identitas, agar lebih dikenal masyarakat ataukah numpang beken nama orang tua, hal seperti ini memang sering dilakukan. Hal itu sekarang tak hanya didominasi oleh orang-orang tertentu saja, tapi sudah umum dilakukan oleh sebagian besar masyarakat.

Nama orang tua (biasanya nama ayah) kemudian dipakai secara turun temurun hingga beberapa generasi di bawahnya. Sehingga jika kemudian ada anak seorang tokoh, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup menduduki posisi di pemerintahan kita sudah dapat menebak siapa ayahnya.

Nama-nama seperti Hamengkubuwono, Paku Alam, Mangkunegoro, Paku Buwono adalah nama yang dipakai oleh raja-raja keturunan dinasti Mataram dari Yogyakarta dan Surakarta. Ini melanjutkan tradisi yang sudah lama dipergunakan oleh raja-raja jaman dahulu. Nama tersebut dipakai secara turun temurun hingga sekarang ini sejak generasi pertama mereka bertahta.

Diantara para tokoh, politikus, artis sampai pahlawan Indonesia ada nama-nama mereka yang disandang oleh putra-putrinya. Kiprah mereka dalam dunianya akan lebih dikenal khalayak karena nama orang tua (ayah) ada di belakang namanya. Masyarakat jadi lebih  mudah paham siapa mereka dan bagaimana latar belakang orang tuanya.

Misalnya di kalangan artis, orang jadi kenal Gading Marten karena ia anak Roy Marten artis senior. Cindy Claudia Harahap yang bapaknya Rinto Harahap pencipta lagu. Kemudian Lisa A. Riyanto, bapaknya juga pencipta lagu yaitu A. Riyanto. Lalu ada Nana Mirdad dan Naysila Mirdad, merupakan anak dari Jamal Mirdad dan Lydia Kandow artis penyanyi dan pemain film. Ridho Rhoma yang baru-baru ini lagi menanjak mengikuti jejak Rhoma Irama.

Kalau Annisa Pohan, meskipun Aulia Pohan bukan artis tapi kondang sebagai pejabat negara. Demikian pula di kalangan tokoh politik dan pemerintahan nama orang tua kerap dicantumkan. Misalnya Halida Hatta dan Meutia Hatta, Megawati Soekarno Putri, Amelia Ahmad Yani merupakan beberapa anak keturunan dari tokoh besar di jamannya. Sedangkan Tommy Soeharto yang tidak terjun di dunia politik tapi menekuni dunia bisnis tentu semua orang kenal siapa ayahnya. Masih banyak lagi anak orang terkenal lainnya yang mengikuti jejak orang tuanya.

Itu semua hanyalah contoh kecil betapa nama besar tokoh yang dipakai di belakang nama anak-anaknya ternyata memiliki pengaruh yang cukup hebat. Nama yang bisa dipakai secara turun temurun dari generasi pertama entah sampai ke genarasi ke berapa. Kalau bisa turun sampai ke generasi keempat atau kelima betapa hebatnya.

Satu yang unik adalah nama yang dipakai oleh keluarga Gus Dur. Yang dipakai adalah nama depan ayahnya. Kalau pendiri Nahdhatul Ulama (NU) dulunya adalah KH. Hasyim Asy’ari (mbahnya Gus Dur), nama tersebut turun ke putranya menjadi KH. Wahid Hasyim kemudian turun lagi ke Gus Dur menjadi Abdurrahman Wahid. Meskipun nama yang sebenarnya tidak memakai wahid tetapi Ad Dakhil.

Tapi, selanjutnya nama tidak turun ke Yenni (Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid) menjadi Yenni Abdurrahman melainkan tetap Yenny Wahid dengan mengambil nama belakang Gus Dur. Mungkinkah kelak akan ada keturunan yang menggunakan nama kombinasi dari semuanya menjadi Hasyim Wahid Abdurrahman Zannuba???

Iklan

8 thoughts on “Nama Turun Temurun

  1. Nama boleh sama, tapi potensi tentulah berbeda seperti Jordy Cruiff tak sementereng Johan Cruiff bapaknya , sebaliknya Paolo Maldini lebih kesohor timbang bapaknya Cesare Maldini

    — — —
    *Sama juga dengan Brandon Lee tak sehebat Bruce Lee bapaknya. Bahkan Tommy Sugiarto belum mampu menyamai Icuk Sugiarto dalam hal bulutangkis.

  2. Jika nama anak sudah panjang, ditambah nama orangtua makin panjang lagi.
    Di satu sisi menambahkan nama orangtua ada plus minusnya, kalau ortu nya tokoh terkenal, maka si anak akan selalu dibandingkan ayahnya, dan ini tak nyaman, apalagi jika anaknya tak terlalu sukses

    — — —
    *Menyandang nama orangtua mestinya mampu berkiprah minimal sama seperti orangtuanya syukur kalau bisa lebih hebat lagi. Kalau sebaliknya, berarti hanya sekedar nebeng ketenaran orangtua saja.

  3. Apalagi kalo orang batak ya, dari marganya langsung ketauan deh dia anak si A or anak si B.

    Tp asalkan si anak jg bisa berprestasi harusnya itu gak masalah..

    — — —
    *banyak orangtua berharap kepada anak untuk mampu melebihi kehebatannya

  4. repot juga ya urusan nama. anak sayah malah sama sekali gak ada embel-embel nama sayah.

    — — —
    *sama bang, saya juga nggak pasang nama saya ke anak

  5. Kalo di kantor saya krn mayoritas berasal dari jawa dengan nama yang sama, maka untuk membedakan dipakai Bin. Contoh : Slamet Bin Resotaruno, Slamet Bin Tjokro, Supardi Bin Kasan, Supardi Bin Noto dst. Bukan numpang beken krn nama orang tua, hanya untuk menghindari keliru.

    — — —
    *Tapi yang betul memang begitu kan mbah. Untuk identitas keturunan kita pergunakan bin, seperti pada waktu orang menikah.

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s