Bulutangkis Indonesia, Bagaimana Nih?

Kegagalan Indonesia dalam merebut Piala Sudirman, lambang supremasi kejuaraan bulutangkis beregu campuran semakin melengkapi  buramnya dunia bulutangkis negeri kita. Bagaimana tidak, sasaran mendapat tempat di final bahkan target juara tak dapat terpenuhi lantaran Indonesia sudah menyerah duluan dari Korea Selatan di semifinal.

Jika kita melihat hasil pertandingan di babak penyisihan  grup, tidak dapat dipungkiri kalau Cina memang pantas memboyong Piala Sudirman daripada tim manapun. Dalam setiap pertandingan  sampai babak final Cina tidak pernah kehilangan angka, alias selalu membungkam rivalnya dengan skor 0. Kenyataan ini menunjukkan keperkasaan Cina masih belum dapat ditandingi oleh tim manapun.

Berbeda dengan Indonesia, meskipun memiliki tim yang cukup solid tapi masih perlu dipertanyakan lagi kekuatannya. Yang dihadapi Indoensia pada dua pertandingan awal adalah tim lemah. Itu pun Indonesia sempat kehilangan satu angka ketika melawan Jepang dan Inggris, sedangkan pertandingan terakhir melawan Cina menyerah 3-0.

Indonesia sebagai salah satu negara kuat dalam bulutangkis seharusnya mau melihat dan berkaca pada Cina. Dari segi pembinaan, regenerasi maupun proyeksi bagi para atletnya boleh dibilang sangat sukses. Saat pemain seniornya masih berada pada masa kejayaannya sudah muncul lapis kedua dan ketiga yang kekuatannya sejajar dengan seniornya.

Indonesia selama ini masih tetap berkutat pada pemain yang itu-itu saja. Baru kelabakan menyiapkan lapis kedua dan ketiga saat pemain senior mengundurkan diri dari bulutangkis. Sudah itu pemain junior kita masih belum dapat diandalkan sepenuhnya. Belum lagi pengalaman bertanding di tingkat internasional yang minim sehingga sering dijadikan alasan ketika kalah dalam satu pertandingan.

Memang, di beberapa sektor Indonesia masih mampu mencetak beberapa atlet yang cukup bisa diandalkan. Tapi entah mengapa di sektor tunggal putri dan ganda putri tetap saja masih mengenaskan. Setelah era kejayaan Susi Susanti belum ada atlet yang prestasinya mendunia. Secara umum, sepanjang tahun kita bisa menghitung hanya sedikit gelar kejuaraan yang bisa  dibawa pulang. Itu pun dari sektor yang menjadi andalan.

Melihat peta kekuatan bulutangkis dunia saat ini terutama di kejuaraan beregu, tim Cina rasanya merupakan kekuatan yang sangat dahsyat dan sangat sulit diruntuhkan oleh tim manapun jua. Kekuatan mereka merata di semua sektor dan skill setiap atlet bulutangkis yang dimiliki Cina rata-rata bagus. Namun begitu bukan berarti Cina tak bisa dikalahkan. Hanya saja saat ini Cina sedang berada di puncak kejayaan dalam bidang olahraga secara umum, tak hanya di bulutangkis saja. Hal ini sudah dibuktikan dalam olimpiade beberapa waktu yang lalu.

Lalu bagaimana dengan Indonesia???

Sudah terlalu sering kita mendengar ribut-ribut yang terjadi di pelatnas bulutangkis. Kalau saja para pengurus PBSI mampu mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia seperti eranya Alan Budikusuma – Susi Susanti, kita tidak perlu bingung mau menurunkan pemain yang mana ketika berlaga di kejuaraan beregu. Waktu itu kualitas  atlet bulutangkis yang kita miliki sama dengan Cina saat ini. Merata, Kuat dan sulit ditundukkan.

Entah apa yang sedang terjadi di PBSI saat ini. Adakah program pembinaan yang salah? Entahlah, sebagai masyarakat penggemar bulutangkis saya hanya berpendapat bahwa tak ada jeleknya jika kita melihat bagaimana pola pembinaan yang dilakukaan Cina saat ini. lalun memperbaiki pola pembinaan yang ada. Kalau sudah tidak relevan ya perbarui saja.

Soal pendanaan selalu menjadi masalah klasik terkait dengan pengiriman atlet untuk mengikuti kejuaraan di tingkat internasional dan pembinaan di pelatnas. Nilai kontrak pemain  juga kerap menjadi permasalahan serius yang menyebabkan sejumlah atlet memutuskan keluar dari pelatnas.

Tapi bukan itu saja yang menjadi alasan untuk dapat berprestasi. Kenyataannya para atlet pada masa lalu juga memiliki masalah serupa namun mereka tetap mampu berprestasi di tingkat dunia. Yang jelas seluruh masyarakat Indonesia mengharapkan agar bulutangkis Indonesia kembali menjadi yang terhebat di dunia.

Ada mitos yang mengatakan bahwa negara pemrakarsa piala kejuaraan beregu akan sulit mengambil kembali pialanya karena piala tersebut disediakan untuk negara lain agar nama yang digunakan untuk piala tersebut tetap mendunia. Contohnya Piala Thomas dan Piala Uber sekaligus Piala Sudirman tentunya, berapa kali ia pulang ke negara asalnya setelah sempat direbut oleh negara lain, pasti sedikit sekali. Rata-rata terbangnya ke Asia, bukan ke Eropa atau benua lainnya.

Seharusnya Indonesia mampu mematahkan mitos ini, karena Indonesia merupakan salah satu raksasa bulutangkis dunia sejak dulu hingga sekarang. Tapi, sebagaimana Piala Thomas dan Piala Uber, Piala Sudirman pun terbang dan belum pernah kembali ke  tanah air. Indonesia menguasainya hanya pada saat kejuaraan ini digelar untuk pertama kalinya di tahun 1989.

Iklan

6 thoughts on “Bulutangkis Indonesia, Bagaimana Nih?

  1. Akhir-akhir ini memang bulu tangkis Indonesia mengalami kemunduran, jauh di bawah generasi emas di era Susi, Alan, Ardi, di mana Indonesia disegani di mana-mana, Piala Thomas, Uber dan Sudirman semakin jauh …

    — — —
    *Dominasi Cina di kejuaraan beregu beberapa tahun belakangan ini semakin kuat. Timnya sangat sulit ditundukkan…

  2. Harusnya para pebulutangkis kelas kampung juga dilatih di pelatnas, siapa tau mereka jauh lebih jago 🙂

    — — —
    *Pencarian bibit atlit berprestasi rasanya memang tidak merata karena pemasok atlitnya hanya dari klub-klub besar sekelas PB Djarum.

  3. piye yo..ikut bersedih..tapi mungkin emang sudah saatnya para juara kelas kampung dibina deh..sapa tao mereka lebih jago dari pada taufik riwayatmu kini, atau maria krisis kemenangan..kwkwkw

    — — —
    *Seharusnya bulutangkis lebih digiatkan lagi di kampung2. Potensi kaum muda di negeri ini sangat banyak, sayangnya belum dapat dikelola dengan baik.

  4. Kayaknya Indonesia memang semakin menurun saja prestasinya di bidang olahraga. Mungkin ini jg masalah motivasi ya…

    — — —
    *Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan olahraga Indonesia terutama bulutangkis sebagai olahraga yang sangat diandalkan.

  5. Lhah, saya baru tahu kalo kejuaraan beregu “dibuat” untuk dimenangkan negara lain…

    — — —
    *Fakta yang ada memang demikian. Piala Thomas & Uber sejak pertama diperebutkan tak pernah kembali ke Inggris sampai sekarang. Piala Sudirman pun sama, sejak lepas dari Indonesia belum pernah kembali ke tanah air.

  6. di kampungku sono mas, ada tempat khusus di pabrik rokok djarum buat mendidik pebulutangkis, banyak juga namanya dulu merajai perbulutangkisan nasional nggak tahu sekarang ya

    — — —
    *Sampai sekarang PB Djarum merupakan penyumbang terbesar atlit pelatnas bulutangkis Indonesia

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s