Kibarkan Merah Putihmu

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 merupakan peristiwa yang sangat bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Dari titik inilah bangsa kita memulai kehidupan baru sebagai bangsa yang merdeka, lepas dari belenggu penjajahan. Kemerdekaan yang bukan merupakan hadiah dan tidak juga diperoleh secara gratis. Semua ditebus dengan perjuangan para  pahlawan yang gugur sejak jaman kerajaan nusantara dahulu hingga masa pergerakan nasional.

Paska proklamasi pun rakyat Indonesia bersama tentara tetap berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan dari incaran pihak lain yang masih ingin menduduki Indonesia. Banyak peristiwa yang dapat dijadikan sebagai pengingat bahwa jiwa patriotisme dan nasionalisme tumbuh dalam diri seluruh rakyat yang tidak mau lagi dikuasai oleh bangsa lain. Misalnya pertempuran di Surabaya 10 Nopember 1945, Puputan Margarana, di Denpasar, Bandung Lautan Api, Pertempuran Lima Hari di Semarang, Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta dan juga daerah lainnya. Peristiwa pertempuran tersebut menunjukkan eksistensi Bangsa Indonesia yang tetap teguh mempertahankan kemerdekaannya.

Perjuangan yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu itu bukan didasari atas kepentingan pribadi. Bukan pula untuk pamrih agar dianggap sebagai pahlawan, tetapi mereka ikhlas, semata-mata berjuang demi kepentingan bangsa dan tanah air tercinta. Apapun dilakukannya dan mereka rela mengorbankan harta benda bahkan jiwa raga sekalipun dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Kalau bukan untuk kepentingan bersama, mustahil rasanya para pahlawan itu mau berjuang dengan peralatan perang yang terbatas dan seadanya. Persenjataan yang kalah modern ternyata tak menyurutkan langkah dan semangat dalam menghalau pihak musuh. Meskipun banyak korban berjatuhan akibat terbatasnya persenjataan, namun hal itu justru semakin menumbuhkan semangat perlawanan di berbagai daerah.

Kemerdekaan pun berhasil diraih, akan tetapi sudah selesaikah perjuangan para pahlawan? Rasanya belum. Perjuangan masih panjang dan berliku. Kita yang menikmati alam kemerdekaan inilah yang meneruskan jejak mereka. Perjuangan yang kita lakukan sekarang tak lagi mengandalkan fisik dan senjata. Berjuang bukan lagi mengusir penjajah, tetapi berjuang untuk mengisi alam kemerdekaan yang meliputi segala bidang. Bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya merupakan ladang bagi kita dalam meneruskan jejak para pahlawan agar Indonesia mampu menjadi bangsa dan negara yang kuat sekaligus adil, makmur dan sejahtera.

Yang perlu dicontoh dari para pemimpin dahulu adalah bagaimana mereka berjuang untuk negeri sampai titik darah penghabisan tanpa berharap balas jasa maupun penghargaan. Bandingkan dengan para pemimpin kita jaman sekarang yang banyak mengejar materi, jabatan maupun kedudukan. Sudah diberi gaji dan kedudukan yang tinggi masih saja ada yang korupsi yang jelas sangat merugikan rakyat dan negara.

Entahlah, apakah perilaku korupsi ini sudah menjadi budaya ataukah mental mereka yang memang benar-benar rusak. Kalau perbuatan semacam itu masih tetap berlanjut, bagaimana akan tercapai tujuan negara seperti yang diamanatkan dalam pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945?

Mestinya kita semua menganut prinsip “Apa yang dapat saya lakukan untuk negara, bukan apa yang dapat dilakukan negara untuk saya”. Bila prinsip yang dianut adalah yang sebaliknya, maka demikianlah yang terjadi. Korupsi dan segala perbuatan maupun tindakan yang dapat merugikan negara tumbuh dan berkembang sehingga menjadi sulit diberantas. Padahal masih banyak lagi yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah bersama rakyat.

Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, warga masyarakat ramai-ramai menghias lingkungan tempat tinggalnya. Selain melakukan pengecatan, umumnya umbul-umbul dan bendera merah putih besar maupun kecil-kecil dipasang berjajar sehingga menambah semaraknya suasana. Demikian pula tirakatan, merupakan satu acara yang tidak terlupakan. Biasanya di sini dibacakan pidato kenegaraan resmi dari pemerintah setempat serta doa bersama.

Selain itu, beberapa hari sebelum tanggal 17 Agustus ada imbauan resmi dari pemerintah kepada masyarakat untuk mengibarkan bendera satu tiang penuh. Namun saya lihat, ternyata masih banyak warga masyarakat yang tidak menghiraukan imbauan ini. Ada sejumlah warga masyarakat yang tidak memasang Sang Merah Putih di depan rumahnya (kecuali itu rumah kosong yang tak ada penghuninya). Entah karena tidak sempat, tak punya bendera, halaman rumah nge-press, tidak tahu, lupa atau memang mereka tidak peduli sama sekali dengan hal ini. Padahal ada diantara mereka yang profesinya adalah pegawai negeri  sipil atau pegawai pemerintahan. Nah lho…!!!

Meskipun bukan sesuatu yang wajib dilaksanakan dan tak ada sanksi bagi yang tidak mengibarkannya, namun setidaknya hal itu merupakan salah satu wujud kepedulian kita sebagai warga negara. Di samping itu sebagai penghormatan kepada simbol kedaulatan negara dan penghargaan kita kepada para pahlawan yang telah berjuang dengan ikhlas demi kemerdekaan tanah air yang kita cintai ini.

Jangan sampai kelupaan, seperti yang terjadi dalam Sidang Paripurna DPR RI dengan agenda tunggal Pidato Kenegaraan Presiden RI menjelang Peringatan HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus lupa mengumandangkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya di pembukaannya. Padahal itu acara protokoler resmi kenegaraan yang dihadiri oleh seluruh lembaga negara.

Ayo, Kibarkan Sang Merah Putihmu…!!!

Iklan

11 thoughts on “Kibarkan Merah Putihmu

  1. memang benarlah negara kita sudah merdeka, tapi hingga kini pun kita masih terjajah oleh intervensi asing, terjajah oleh terorisme import yang mulai membuka cabang dan mengangkat didikan dari lokal; warga kita sendiri.

    kita juga belum merdeka dalam berbicara dan berpendapat, lantaran ada pasal pencemaran nama baik. kita juga belum merdeka dari kemacetan, kebodohan cara berpikir dan lain sebangsanya.

    e tapi tetaplah saya ingin mengucapkan selamat hari kemerdekaan 😉

    — — —
    *Semoga saja kita dapat bangkit kembali untuk meraih kemerdekaan yang lebih luas

  2. Mari kita ambil hikmah dari hari kemerdekaan kita ini, untuk menyongsong indonesia ke depan yang lebih baik

    — — —
    *ya, semoga saja kemakmuran dan kesejahteraan yang adil dan merata dapat terwujud untuk seluruh rakyat

  3. Semoga saja yg di DPR nantinya ga lupa ma lagu Indonesia Raya, wah…kalau lupa ya kelaut aja.

    — — —
    *pihak kesekretariatan dewan perlu lebih cermat lagi dalam bertugas.

  4. Merdeka

    Merdeka layak diperjuangkan secara terus menerus.
    Jangan hanya menyalahkan, marilah kaum muda berbuat kebaikan..kalau ada yang salah, tunjukkan dengan kebaikan hati.
    Semoga Indonesia bisa menjadi negara yang besar….

    — — —
    *Semoga kejayaan bagi Indonesia, tugas kita bersama untuk mewujudkannya.
    Merdeka!

  5. kemerdekaan mempunyai arti yang sangat luas,ada sebagaian yang mersa belum merdeka ada yang sudah..contoh orang papua yang tergabung di OPM,atau maluku RMS..atau aksi Teror Bom-mereka adalah orang2 yang merongrong kewibawaan bangsa..mari jadikan moment 64 tahun HUT RI ini untuk menyadarkan kita tentang “Nasionalisme sejati”

    — — —
    *Nasionalisme sejati perlu dipupuk terus agar tumbuh dan menjadikan diri kita dan seluruh wilayah tanah air adalah bagian dari NKRI

  6. Malu juga ya, kok bisa lupa padahal udah tiap tahun upacara……
    Mungkin harus upacara lagi tiap Senin biar gak lupa.

    — — —
    *perlu tuh, agar lebih mendarah daging he… he…

  7. Ya setuju bung, kalau cita-cita kemerdekaan membuat negara adil dan makmur, keadilan–baik hukum maupun substantif–bagi seluruh rakyat, kemakmuran juga untuk seluruh rakyat. Begitulah arti kemerdekaan bagi rakyat. Rakyatlah sebagai pemilik sah negara ini, sehingga semua kelembagaan representasi negara wajib melayani pemilik negara, yakni rakyat.

    Namun, dalam setiap hak pemilikan terhadap apa pun, di dalamnya inheren kewajiban pemilik terhadap miliknya itu ,Punya kambing, orang berkewajiban membuatkan kandangnya, memberi makannya, punya mobil, orang harus menservisnya secara teratur, mengganti oli, mengisi bensin. Begitu pula hak pemilikan rakyat terhadap negara, harus melaksanakan kewajibannya atas pemilikan itu. Merdeka !

    Salam sejahtera selalu Bung Mufti,

    — — —
    *benar sekali pak, hak dan kewajiban merupakan konsekuensi logis yang tak pernah terpisah. Makasih pak…

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s