Saling Mengingatkan

Manusia tidak bisa lepas dari kekeliruan atau kekhilafan baik yang disengaja atau tidak sengaja. Setiap manusia pasti pernah melakukan kekeliruan dalam tindakannya, baik berupa perbuatan maupun ucapan (perkataan). Oleh karena itu, jika seseorang melihat saudaranya, yang melakukan suatu kekhilafan atau suatu hal yang dianggap keliru hendaklah ia mengingatkannya. Sebab sebagian dari tanda-tanda orang beriman ialah kalau ia bermaksud meluruskan saudaranya dengan memberi peringatan atau memberikan nasihat secara ikhlas dan sabar tanpa pamrih apapun kecuali karena iman kepada Allah.

“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, nasehat-menasehati dengan kebenaran dan nasehat menasehati dengan kesabaran”. (QS. Al Ashr, ayat 3).

Allah Swt memberikan petunjukNya dengan kata-kata “kecuali”. Hal ini semata-mata agar manusia terhindar dari keadaan yang merugi (QS. Al Ashr : 2), dan merupakan kewajiban diantara diantara kita untuk saling mengingatkan sehingga kekeliruan atau kekhilafan dapat dihindarkan. Tanpa ada yang mengingatkan, kita tak akan pernah tahu dimana letak kesalahan yang kita perbuat.

Kita memang banyak melakukan kesalahan, kekeliruan maupun kekhilafan dalam setiap tindakan, karena kita bukanlah orang yang terjaga dari hal tersebut. Hanya Rasulullah SAW sajalah yang memiliki jaminan terhindar dari segala dosa dan kesalahan (sifat ma’shum) yang diberikan oleh Allah SWT. Nabi Adam AS diturunkan ke bumi juga karena kesalahan yang diperbuatnya dengan melanggar larangan Allah.

Rasulullah Saw bersabda : “Dan jika seseorang meminta nasihat darimu, maka berikanlah nasihat kepadanya”. (HR. Muslim).

Maksudnya jika ada seseorang yang meminta nasehat, kita dianjurkan untuk memberikannya meskipun hanya sebuah nasehat yang ringan. Hal ini merupakan suatu amanat atau kepercayaan. Karena sesungguhnya orang tersebut percaya sepenuhnya bahwa kita adalah orang yang tepat untuk keperluan itu. Sebagai orang yang beriman, hendaklah tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan. Kita juga menjaga hati dan perasaan agar orang lain agar tidak kecewa.

Ada kalanya orang menyangka yang bukan-bukan terhadap kita manakala kebetulan mereka melihat kita sedang memberikan nasihat pada seseorang. Apalagi orang yang berlainan jenis dan tak jarang hal ini lantas menjadikan suatu fitnah atau pemberitaan yang tidak benar terhadap yang bersangkutan. Padahal maksudnya baik, namun ini menjadi disalahartikan. Jika sudah demikian akan timbullah sesuatu yang tak menyenangkan dan ramai diperbincangkan sedang mereka tidak mengetahui sama sekali hal yang sebenarnya.

Sesungguhnya Allah Swt telah memberi peringatan akan hal ini : “Hai orang-orang yang beriman, jauhkanlah kebanyakan sangka-sangka (dugaan terhadap sesama muslim). Karena sebagian sangka-sangka itu ialah dosa…….” (QS. Al Hujurat : 12).

Jelaslah bahwa sebagian sangka-sangka itu adalah dosa. Tentu saja setiap dosa ada hukumannya kecuali jika mendapat ampunan dari Allah. Dugaan saja tidak cukup untuk mendapatkan kebenaran sebagaimana firman Allah Swt : “Kebanyakan mereka tiada mengikut, melainkan semata-mata dugaan saja. Sesungguhnya dugaan itu tiada cukup untuk mendapatkan kebenaran sedikitpun. Sesungguhnya Allah mengetahui apa-apa yang mereka perbuat”. (QS. Yunus, ayat 36)

Jika kita mampu, nasihatilah dengan ikhlas dan lemah lembut. Terkadang ada orang yang bermaksud menasehati atau mengingatkan, namun nadanya justru seperti orang marah-marah, mencela atau merendahkan. Itu pun dilakukan dihadapan orang banyak, sehingga orang yang diperingatkan menjadi malu. Hal ini banyak terjadi di kalangan masyarakat sekitar kita. Maksudnya memang baik namun caranya yang tidak tepat.

Sebagai contoh, di daerah tempat tinggal saya, dalam suatu shalat berjamaah. Imam yang ditunggu sebut saja Pak eMeS belum hadir, padahal di masjid lain iqamat sudah disuarakan. Karena sudah ketinggalan maka diputuskan agar salah satu jamaah yang dianggap mampu maju sebagai imam. Pak eMeS datang terlambat sehingga ia hanya menjadi ma’mum sampai shalat selesai.

Entah, karena dianggap kurang fasih atau bagaimana, setelah selesai shalat jamaah, orang yang bertindak sebagai imam ini langsung diperingatkan oleh Pak eMeS di hadapan para jamaah. Pak eMeS dengan serta merta mengatakan bahwa yang bertindak sebagai imam saat itu belum pantas mengimami jamaah. Lain waktu tak usah lagi maju sebagai imam, karena masih banyak orang lain yang lebih pantas. Si imam yang tak tahu menahu persoalannya ini pun bengong sambil menahan malu.

Yang seperti itu sering terjadi juga dalam hal-hal lain misalnya shalat memakai kaos yang di bagian belakang ada tulisannya, ada gambarnya dan sebagainya. Kemudian masjid yang dipakai untuk kegiatan di luar ibadah shalat maupun pengajian juga dipermasalahkan. Masjid tidak boleh dipakai untuk bisnis, seperti koperasi masjid yang letaknya memang ada di kompleks masjid. Semua itu langsung mendapat peringatan dari Pak eMeS tanpa peduli sedang di hadapan orang banyak atau tidak. Tentu saja karena hal ini banyak yang kapok dan merasa ragu untuk melakukan sesuatu.

Intinya, Pak eMeS ini dalam memperingatkan tak memperhatikan etika dan adab sopan santun. Bahkan pernah ada becak yang dijungkirkan sampai terbalik dan tukang becaknya mau digebukin karena dianggap menghalangi jalan masuk ke masjid, padahal sebenarnya tidaklah demikian. Itu hanyalah menurut anggapan dari Pak eMeS seorang. Tapi semua orang sudah pada tahu kalau beliau itu memang seperti itu. Sering bikin ulah yang sebenarnya tak perlu dipermasalahkan.

Kejadian yang apabila terus berulang akan membuat orang kemudian enggan datang ke masjid. Banyak yang merasa dipermalukan di hadapan orang banyak. Orang-orang pun menganggap bahwa ulah Pak eMeS ini bisa menghalangi siapa pun untuk shalat berjamaah. Bahkan orang luar yang mampir shalat seperti tukang becak, sopir taksi, pedagang dan sebagainya tak luput mendapat teguran semacam itu.

Tidak ada orang yang memberi nasihat kecuali karena kasih sayang dan mengharapkan kebaikan serta ridha Allah. Bukan karena menganggap dirinya paling pintar, pandai dan paling benar sendiri. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan petunjuk-Nya pada orang-orang yang belum mengerti agar mereka mau mengerti. Hanya saja caranya tentu harus disesuaikan dengan kondisi dan keadaan sekeliling kita. Jangan sampai orang yang seharusnya berubah ke arah yang baik justru menjadi malu, kecewa dan berhenti dalam berbuat kebaikan.

9 thoughts on “Saling Mengingatkan

  1. Mmmm, sangat disayangkan sekali kalau orang jadi takut ke masjid hanya gara2 seseorang yang sering bikin ulah. Padahal tujuan orang beibadah ke masjid kan baik. Ternyata ada juga ya orang seperti itu di dunia ini???

    — — —
    *Ada, bahkan mungkin lebih dari sekedar yang kita perkirakan.

  2. hemmm…mungkin kalo beribadah “harus” membawa yang terbaik yg bisa di bawa karena menghadap Sang Pencipta. Hati yg terbaik..pakaian yg terbaik dan lain2nya..
    mungkin pendpt ini salah..tolong di koreksi….salam kenal mas… makasih dah mampir di blogku

    — — —
    *Lebih tepatnya membawa yang bersih dan suci mas, untuk menghadap kepada Yang Maha Suci . Termasuk badan, pakaian, tempat shalat dan juga hati tentunya…

  3. na.. orang yang seperti pak eMes itu..mungkin juga ada di tempat lain.. saya hanya ingin bertanya..jika dia rajin shalat bahkan imam mesjid..tp prilakunya dalam banyak hal adalah salah bahkan menyakiti orang lain..maka pertanyaan saya, shalat yang dia jalani artinya apa? shalat jd tidak menjamin prilaku seseorang pasti baik ya ? memang sebagai manusia kita pasti melakukan salah …

    — — —
    *Dalam hal ini yang salah bukan shalatnya. Namun lebih pada diri kita masing2 agar mau introspeksi diri sehingga menjadi lebih baik. Bukan merasa lebih dari orang lain apalagi merasa pintar dan mau menangnya sendiri. Tapi sekarang, beliaunya sudah tak dipasang sebagai pengurus, baik sebagai imam maupun takmir.

    • neng ceuceu..yang baik, mengerjakan sholat itu mencegah nahi & munkar…didalam sholat itu ada syarat dan rukunnya yang harus dipenuhi dengan baik sehingga hasil qualitas sholatnyapun akan baik, tapi sebaliknya jika tdk terpenuhi hasilnya kurang maximal.satu contoh syarat sahnya sholat itu berwudhu..lalu wudhunya bener nggak , oiarnya bersih atau memenuhi syarat nggak…nah jika itu semua dapat dilakukan sesuai syariat kemungkinan besar orang itu prilakunya akan baik. Insya Allah.

  4. Mengingatkan orang niatnya baik, tapi jika tak dilakukan secara tepat, bisa malah berakibat negatif

    — — —
    *benar sekali Bu, terkadang malah bisa timbul sakit hati bahkan dendam dari yang bersangkutan

  5. Memang benar ya harus saling mengingatkan, cuma mungkin beberapa orang kurang nyaman bila disampaikan secara terbuka krn bisa mengundang gunjingan orang lain.
    Lebih tepat memang dilakukan dari hati ke hati, biar yang menerima juga ikhlas… itu menurut saya lho.

    — — —
    *ya, sama2 ikhlas dan yang diingatkan juga bisa dan mau menerimanya sehingga tidak jadi masalah di kemudian hari

  6. mengingatkan? ok, tergantung bagaimana cara mengingatkannya khan?

    — — —
    *benar sekali, emosi dan perasaan orang lain juga perlu diperhatikan

  7. manusia tentu banyak kekurangannya antara lain salah dan hilaf, dengan demikian kita dianjurkan untuk saling mengingatkan tentang kebaikan dengan cara yang baik dan benar.

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s