Perubahan Dan Peningkatan Kualitas Diri

PanahAllah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW dengan membawa ajaran Islam ialah untuk membenahi dan memperbaiki kehidupan manusia yang waktu itu sangat tidak beradab. Misi yang diemban tersebut tidak bisa dikatakan ringan, sedangkan kehadiran Beliau sudah pasti mendapat rintangan dan hambatan dari kaum kafir. Begitu pula dengan para nabi dan rasul yang diutus sebelumnya selalu mendapat kecaman dan rintangan dari para kaumnya.

Walau bagaimanapun beratnya, ternyata kehadiran Rasulullah Muhammad SAW di muka bumi benar-benar telah membawa perubahan yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan sabda Beliau bahwa : “Sesungguhnya aku diutus di muka bumi tak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia”.

Islam tidak melarang umatnya untuk mengubah dan memperbaiki keadaan, baik itu perubahan pada dirinya sendiri, lingkungan ataukah dalam bidang lain seperti politik, pemerintahan, kemasyarakatan dll. Tentu saja tendensi perubahan itu untuk membuat suatu keadaan menjadi lebih baik dari sebelumnya, bukan malah sebaliknya. Sebab jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka bukanlah kemajuan yang diperoleh. Apalagi kalau sampai mengalami kemunduran, hal itu mungkin akan membawa dampak buruk bagi yang bersangkutan.

Firman Allah SWT : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. (QS. Al Ro’ad : 11).

Kalau Allah saja mengisyaratkan demikian, itu berarti hanya kita sendirilah yang bisa mengubah keadaan diri kita, bangsa kita atau negara kita bukan orang lain. Seperti yang kita alami misalnya, bangsa dan negara kita tercinta ini sedang berusaha memperbaiki diri dalam berbagai sektor kehidupan.

Sejak reformasi digulirkan 1998 lampau, rakyat menghendaki adanya perubahan menyeluruh menyangkut berbagai aspek tatanan pemerintahan negara RI agar tercipta pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme yang sangat merugikan bangsa dan negara. Coba saja kita lihat kasus korupsi yang terjadi di negeri ini, belum semuanya tersentuh oleh hukum.

Rakyat pasti bersyukur jika pemerintah dan para wakil rakyat terpilih dalam pemilu lalu terdiri dari orang-orang yang bersih dan bertanggung jawab. Meskipun mendapat dukungan rakyat, namun bila cara dan tindakan yang mereka lakukan masih tetap hanya mementingkan dirinya sendiri maka itu bukanlah perubahan namanya. Itu bukan seperti apa yang diharapkan rakyat. Itu hanya pergantian pada manusianya saja, manusia baru versi lama.

Lebih-lebih saat ini, negara kita sedang mengalami situasi yang tidak menyenangkan oleh karena berbagai keadaan seperti musibah gempa bumi yang terjadi di berbagai tempat baru-baru ini. Parahnya, ternyata ada saja pihak-pihak yang tak bertanggung jawab dan sengaja mengambil keuntungan dari bencana itu sehingga malah membuat suasana menjadi semakin kacau. Padahal masih ada korban gempa yang sampai saat ini masih belum memperoleh bantuan karena distribusi yang belum merata.

Kita boleh berharap, pemerintah yang sekarang atau yang akan terbentuk nanti mampu mengatasi dan memulihkan kondisi serta dapat membawa perubahan yang berarti dalam berbagai aspek, sehingga bangsa dan negara kita dinilai positif oleh bangsa-bangsa di dunia. Demikian pula bantuan dari pihak lain jangan sampai dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab yang tega menari di atas penderitaan orang lain.

Begitu pula halnya dengan diri kita masing-masing. Jika kita ingin dihargai secara positif oleh orang lain semestinya kita senantiasa introspeksi diri dan melakukan perbaikan. Terkadang kita tidak menyadari bahwa segala sesuatu yang kita anggap baik dan benar belum tentu demikian menurut penilaian orang lain.

Rasulullah bersabda : “Seseorang yang sempurna akalnya adalah orang yang mengoreksi dirinya menyediakan amal sebagai bekal untuk mati. Dan orang yang rendah budinya yaitu orang yang selalu menurutkan hawa nafsunya, disamping mengharapkan berbagai angan-angan atas Allah”. (HR. Turmudzi).

Kalau kita ingin melakukan perubahan pada diri sendiri, entah itu sikap, tingkah laku, perkataan, tindakan atau perbuatan tidaklah harus dengan menyatakannya di hadapan orang lain. Akan tetapi cukup diniatkan dalam hati saja dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Orang lain yang menilai dan melihat apakah kita benar-benar telah berubah ataukah masih sama saja. Pernyataan yang kita lontarkan sembarangan bisa malah justru menjadi bumerang bagi diri kita. Kita terjebak oleh pernyataan yang kita buat sendiri. Orang menganggap apa yang kita lakukan hanyalah untuk menarik simpati atau perhatian saja.

Tentunya kita harus benar-benar mampu mengubah dan berubah sehingga terlihat jelas perubahannya. Jangan sampai kita justru mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat. Ingat pepatah yang mengatakan bahwa seekor keledai tak akan terperosok pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Dengan semangat yang masih tersisa di bulan Syawal ini, marilah kita senantiasa introspeksi diri dengan melakukan perbaikan maupun peningkatan kualitas aqidah serta keimanan. Demikian juga di berbagai sektor kehidupan yang kita jalani. Semua meningkat menjadi lebih baik dan positif di mata manusia, juga di hadapan Allah SWT sehingga amal ibadah yang telah kita lakukan tidak menjadi sia-sia.

Iklan

18 thoughts on “Perubahan Dan Peningkatan Kualitas Diri

  1. (maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
    Inilah yang sering kali dilupakan oleh para pemimpin (negara maupun agama) kita. Sibuk ngomong sampe mulut berbusa-busa tetapi kelakuan bertolak belakang dengan yang diomongkan.

    — — —
    *Semoga mereka yang begitu itu cepat sadar kembali mas…
    Makasih banyak

  2. Semoga Al Amin terpancar dan Melekat di hati kita khususnya..
    Terutama Para Pejabat,Dan Pemimpin Kita..

    — — —
    *Insya Allah, itu yang kita harapkan bersama

  3. Mungkin saking banyaknya kasus korupsi kali ya sampai-sampai KPK POLISI KEJAKSAAN kewalahan menyelesaikan.

    — — —
    *juga kasus2 lainnya barangkali

  4. Selamat siang Mufti, Dalam setiap situasi baik jika kita mau meningkatkan kualitas diri, bekerja lebih efektif dan efisien, sesuai apa yang diucapkan dan yang dilakukan. Bekerja dengan cerdas berarti kita dituntut untuk selalu mengutamakan akal pikiran dari pada otot. Otot penting tetapi yang lebih penting adalah akal. Otot itu hanya penunjang saja untuk memaksimalkan kemampuan kerja akal pikiran kita. Yang kita alami selama ini adalah porsi otot lebih besar dari pada otak. Akibatnya kita menjadi manusia yang kurang efektif dan efisien. Ketatnya persaingan memaksa kita untuk selalu pintar-pintar berkelit dari segala keadaan. Pintar memanfaatkan waktu yang sempit sehingga pekerjaan tetap bisa beres meskipun bagi sebagian orang rasanya tidak mungkin. Dan itu saja membutuhkan kerja otak yang optimal dari pada kerja otot semata. Apa yang kita kerjakan selama ini perlu disempurnakan/ditingkatkan kualitas diri nya. Terima kasih postingan yang bagus, Sukses untuk anda.

    Regards, agnes sekar

    — — —
    *Kemampuan otot, akal dan pikiran merupakan perpaduan yang sempurna. Makasih banyak atas komennya Bu…

  5. musibah datang bertubi-tubi… semoga kita mengambil hikmah dari semua itu.. kita juga hanya dapat berharap agar para pemimpin bangsa ini dapat mengemban amanah dengan sebaik-baiknya.. menjadi pemimpin adalah bukan hal mudah karena kepemimpinan itu akan dipertanggungjawabkan kelak di Hari Akhir..

    tetaplah berbuat yang terbaik, berbuat di jalan Allah dimulai dari kita sendiri… keep blogging ok…

    — — —
    *Hendaknya semua bisa kita jadikan pelajaran. Selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa.

  6. mudah2 an blog bisa menjadi jalan dakwah bagi kita semua

    — — —
    *Ya, itu merupakan salah satu cara mudah yang bisa kita lakukan

  7. Dalam Islam ada faham yang dikenal dengan nama Kadariyah dan Jabariyah. Nampaknya faham itu berkaitan dengan tulisan ini ya?

    — — —
    *Kurang lebih demikian Bu. Namun, seperti ilmu dunia dan ilmu akhirat, keduanya saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan.

  8. …..” Dengan semangat yang masih tersisa di bulan Syawal ini, marilah kita senantiasa introspeksi diri dengan melakukan ……”
    ya mas…mestinya memang begitu……agar kita tidak menjadi tinggi hati..dan tidak juga melupakan anugerahNya…

    — — —
    *Manusia tak ada apa2nya dibandingkan penciptanya. Apalagi sampai berbuat sombong dan melupakan apa yang telah dikaruniakanNya

  9. Apa kabar bung Mufti?
    Mohon maaf lama saya tak berkunjung. Intropeksi diri adalah bijak ketika kita berhikmat untuk mensyukuri pemberian Tuhan dan mengerti rencana-Nya pada saat kita mengalami suka dan duka. Thanks atas renungannya yg menyejukkan.

    Salam sejahtera selalu

    — — —
    *Sudah seharusnya kalau kita mensyukuri segala anugerah dan karuniaNya.
    Semoga sehat selalu bang…

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s