Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Mulai malam ke 21 di bulan Ramadhan, orang-orang mulai melakukan apa yang dinamakan I’tikaf. Tujuan melakukan ibadah ini biasanya adalah mencari suatu malam yang paling mulia atau malam Qadar (Lailatul Qadar). Di sebagian masyarakat sering dikenal dengan tradisi selikuran.

Apabila seseorang dianugerahi kemuliaan oleh Allah dengan kata lain mendapatkan Lailatul Qadar maka dosa-dosanya diampuni dan ia memperoleh kemuliaan yang berlipat ganda. Ibadah yang dilakukan pada malam Qadar ini nilainya lebih baik dari ibadah selama 1000 bulan atau kurang lebih 83 tahun (QS. Al Qodar : 1-5)

Subhanallah….

Rasulullah SAW pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan menggiatkan ibadah dengan mengajak seluruh keluarga beliau untuk melakukan I’tikaf di masjid. Demikian pula kita hendaknya juga semakin meningkatkan ibadah kita. Jangan malah loyo atau lemes, justru di sinilah ujian beratnya. Menghidupkan malam di sepuluh hari terakhir sangat dianjurkan.

Kita bisa mengisinya dengan bertadarus Al Qur’an, berdzikir, memperbanyak shalat sunnah, bersedekah, mengkaji ilmu-ilmu agama dll ibadah yang bernilai positif. Insya Allah semua itu akan mendapat balasan dari Allah. Meskipun demikian harapan akan bertemu dengan Lailatul Qodar adalah merupakan tujuan utama bagi setiap orang sehingga banyak yang rela mengurangi tidur pada malam harinya.

Barangkali dalam pengertian banyak orang bahwa Lailatul Qodar akan turun pada satu malam terutama di malam-malam ganjil antara malam ke 21 sampai 29 Ramadhan. Otomatis banyak yang mencarinya hanya pada malam tersebut sedangkan malam genapnya kembali dengan kebiasaan semula tidur nyenyak. Lalu bagaimana jika terdapat perbedaan awal puasa?

Kita tidak tahu pasti kapan turunnya malam kemuliaan tersebut, karena hal itu merupakan rahasia Allah dan hanya Dia yang berhak mempertemukan seseorang dengan Lailatul Qodar. Begitu pula mengenai waktunya tak seorang pun yang tahu persis pada jam berapa. Hal ini sesungguhnya menunjukkan bahwa kita harus siaga setiap saat jika ingin memperoleh kemuliaan tersebut. Bukan hanya berjaga pada saat tertentu saja. Kebanyakan orang jaman sekarang maunya yang instant dan mudah tanpa usaha keras untuk memperolehnya.

Begitu pun dengan malam Qodar, yang bisa didapatkan oleh orang yang selalu siaga dan berjaga-jaga jauh hari di awal Ramadhan, insya Allah. Ketika sepuluh hari terakhir tiba maka ia tinggal meningkatkan intensitas ibadahnya saja. Bukankah tidak ada jaminan bahwa Lailatul Qodar itu turun hanya di malam yang ganjil saja?

Sejak awal Ramadhan ada orang yang sudah memperbanyak amalan dan ibadah. I’tikaf sudah dilakukan sejak hari pertama puasa, begitu pula tadarus Al Qur’an, dzikir, sedekah, zakat, shalat tarawih maupun shalat sunnah lainnya dan terakhir tinggal menghidupkan malam sampai berakhirnya Ramadhan.

Yang kita tak tahu adalah kapan akan memperoleh keberuntungan tersebut padahal kita begitu menginginkannya. Namun apa yang kebanyakan orang lakukan? Biasanya orang masih malas sejak awalnya karena berpendapat bahwa malam ke 21 itu masih jauh. Masih ada kesempatan untuk bermalas-malasan, toh jika sepuluh hari terakhir tiba maka banyak orang yang berduyun-duyun ke masjid untuk beri’tikaf. Saat itulah orang lantas kelabakan mempersiapkan diri. Sedangkan bagi yang sudah terbiasa menghidupkan malamnya sejak awal puasa maka ia tidak akan kaget lagi.

Siapapun boleh memohon apa saja kepada Allah, namun di sepuluh hari terakhir ini yang paling tepat adalah bermohon ampun kepada Allah atas segala dosa-dosa yang telah dilakukan. Dalam I’tikaf hendaknya juga direnungi apa saja yang telah kita lakukan sebagai langkah evaluasi diri dalam rangka membentuk pribadi yang berkualitas. Apakah amal baik yang kita lakukan sudah maksimal ataukah perbuatan buruk yang justru lebih banyak kita kerjakan.

Semoga doa kita dikabulkan Allah SWT dan iman serta ketaqwaan kita pun semakin meningkat.

Allahumma Innaka Afuwwun Kariim Tuhibbul Afwa Fa’fuanni……

(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun maka ampunilah segala dosa dan kesalahan hambaMu ini)

Doa tersebut merupakan doa yang sering dibaca ketika melakukan I’tikaf terutama di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Demikian yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya.

Nah, tidakkah Anda ingin memperoleh malam yang lebih baik dari 1000 bulan….?

25 thoughts on “Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

  1. itikaf … udah lama absen … udah sekitar 3 kali ramadhan …
    semoga saja ramadhan kali ini denuzz sempat buat itikaf … amin …
    semoga kita semua menjadi insan yang lebih baik setelah bulan ramdhan yang penuh pahala ini …

    salam akrabdari burung hantu …

  2. Biasanya, jika sudah menjelang final seperti ini, pesertanya tinggal sedikit😦

    Mengharap ridha dari-Nya kapan dan dimanapun, syukur-syukur jika diberikan pada malam-malam terakhir menjelang ramadhan.

  3. Assalaamu’alaikum sahabat..

    Ibadah yang berterusan dan ikhlas mengharapkan redha-Nya bisa menuntun kita mendapat rahmat dan ampunan Allah bagi memperolehi keberkatan malam tersebut. semoga peluang diberikan untuk kita melaluinya walau sekali dalam seumur hidup.

    Salam mesra dari Sarawak.😀

  4. Ramadhan bagi saya seperti buah durian. Berduri dan keras di luar, tapi manis buah di dalamnya. Banyak orang, termasuk saya, masih terbatas merasakan kulit durian yang keras dan berduri, belum mampu membelahnya hingga merasakan buahnya yang manis. Puasa sering membuat kita terasa berat, lemas, ngantuk, persis seperti kulit durian. Jarang kita bisa mengupas Ramadhan hingga merasakan buahnya yang manis, apalagi sampai bertemu Lailatul Qadar.

  5. Assalaamu’alaikum sahabat Halaman Putih..

    Andai langkah berbekas lara . Andai kata merangkai dusta. Andai tingkah menoreh luka . Andai bahasa membedah jiwa. Maaf dipohon seribu ampun. Dari jauh ku kirim salam. Kuhulur tangan memohon kalam . Buatmu sahabat, di hari mulia kita bermaafan. MAAF ZAHIR DAN BATHIN.

    Taqabbalallohu minna wa minkkum. Kullu am wa antum bikhairiin.

    Salam Ramadhan Yang Barakah dan Salam Aidil Fitri Yang Bahagia.

  6. “SELAMAT IDUL FITRI 1431 H” Mohon maaf lahir batin . Mufti, langkah pertama dalam menjalankan puasa adalah niat.Seribu langkah diawali dengan langkah pertama, artinya tidak ada langkah tanpa niat. Jadi niat itu penting, dan jangan sampai kita salah berniat. Sebagai umat yang beragama tentu saja niat itu adalah untuk mencari kemuliaan baik di dunia maupun di akherat Akhirnya Taqabbalallohu minna wa minkkum. Kullu am wa antum bikhairiin. trims ya ?

    Regards, agnes sekar

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s