Lebaran Dan Tradisi Keluarga Kami

Lebaran merupakan suatu hal yang paling berharga bagi siapa saja. Pada hari raya Idul Fitri kesempatan berkumpul dengan keluarga sangat terbuka. Hal inilah yang sebenarnya diharapkan oleh setiap orang terutama bagi mereka yang berada di luar kota. Kesempatan menikmati libur lebaran dimanfaatkan untuk pulang ke tempat asalnya atau mudik istilah kerennya. Jika keuangan mencukupi mudik lebaran tak akan dibiarkan berlalu begitu saja.

Silaturrahmi adalah kegiatan yang pasti dilakukan saat lebaran. Silaturrahmi dengan orang tua, keluarga, kerabat, tetangga tak bisa dipisahkan dalam kehidupan masyarakat dalam merayakan Idul Fitri. Ini bahkan sudah menjadi tradisi dan mendarah daging sebagai suatu budaya bagi kalangan masyarakat Indonesia yang sangat dikenal dengan istilah syawalan atau halal bi halal.

Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk saling bermaaf-maafan diantara mereka. Demikian juga dengan kami sekeluarga, mempunyai tradisi tersendiri dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama seluruh kerabat yang tergabung dalam suatu keluarga besar. Di samping itu syawalan dengan para tetangga kampung juga tetap kami laksanakan.

Selepas sholat Ied, rumah orang tua adalah tempat yang paling utama bagi saya dan saudara-saudara bersama anak istri. Karena kebetulan tempat tinggal kami masih dalam satu kota, maka begitu mudah kami berkumpul pada hari pertama Idul Fitri. Di rumah orang tua kami, tradisi sungkeman saling memaafkan dilakukan berurutan sebagaimana yang dilakukan masyarakat Jawa pada umumnya. Dimulai dari anak tertua sampai anak bungsu memakan waktu yang tak begitu lama.

Selesai sungkeman di rumah orang tua, kami semua langsung menuju tempat simbah (orang tua dari bapak). Di tempat simbah berkumpul pula seluruh putra-putranya (om dan tante). Kebetulan Bapak adalah anak tertua maka sungkeman diawali dari beliau dilanjutkan dengan adik-adik beliau. Giliran selanjutnya adalah sungkem dari para cucu yang dilakukan dari cucu tertua demikian urut sampai pada cucu terakhir.

Sungkem kepada simbah, putra tertua simbah sampai pada yang putra paling bungsu mendapat giliran disungkemi. Dari keluarga besar Bapak, hampir semua bertempat tinggal di satu kampung yang sama sehingga tradisi ini tetap bisa bertahan dan selalu dilaksanakan beberapa waktu setelah sholat Ied.

Dari rumah simbah kami semua menuju masjid besar untuk mengikuti acara syawalan bersama seluruh warga masyarakat kampung kami. Seluruh warga berkumpul dalam acara ini. Hal ini dilakukan mengingat banyak warga masyarakat yang bukan penduduk asli, sehingga begitu acara selesai tak sedikit diantara mereka langsung mudik atau melanjutkan silaturrahmi ke tempat keluarga mereka yang ada di luar kota. Acara halal bi halal di masjid diisi dengan tausiyah hikmah syawalan dilanjutkan dengan ikrar syawalan (ucapan permohonan maaf) dari pengurus takmir dan pengurus kampung kepada warga masyarakat dan sebaliknya.

Sebagai acara penutup dilakukan salam-salaman, saling berjabat tangan oleh seluruh yang hadir. Laki-laki menempati tempat tersendiri demikian pula dengan para wanitanya, berdiri berjajar saling berurutan dari ujung sampai ke ujung masjid terus berputar dari shaf terdepan hingga shaf paling belakang hingga selesai seluruhnya.

Selepas acara syawalan di masjid, kami sekeluarga langsung menuju kediaman Bude (Putra tertua simbah dari Ibu). Karena simbah dari ibu sudah meninggal dunia maka tempat syawalan berpindah ke kediaman Bude. Demikian seperti yang dilakukan di keluarga Bapak, sungkeman berurutan. Hanya saja sungkeman dari keluarga besar Ibu ini sudah sampai kepada cicitnya simbah, jadi anggota keluarga lebih banyak daripada yang ada di keluarga besar Bapak. Putra, cucu, cicit demikian acara sungkeman yang dilakukan secara berurutan, berdiri berjajar yang semuanya sudah lebih dari 70 orang. Laki-laki maupun perempuan berjajar sesuai dengan urutan dalam keluarganya masing-masing.

Hari pertama selesai maka acara syawalan atau tepatnya sungkeman di keluarga besar kami juga selesai. Khusus untuk saya pribadi acara dilanjutkan dengan silaturrahmi ke mertua di kota sebelah, Klaten..Di tempat mertua biasanya waktu dua hari kucukupkan untuk saling bertemu dengan kakak-kakak ipar dan juga beberapa kerabat dan tetangga. Setelah semua selesai kami pun kembali ke rumah.

Tradisi yang sudah sejak sekian lama di lingkungan keluarga besar kami ini tetap diusahakan untuk dipertahankan meskipun sesepuhnya sudah meninggal dunia. Dan ini sudah berjalan selama puluhan tahun, bahkan aku sendiri tak tahu kapan pertama kali ini dilakukan.

Lebaran Idul Fitri dan tradisi keluarga besar kami sampai saat ini masih tetap dilakukan seperti sebelumnya. Jumlah anggota keluarga pun semakin bertambah. Dari yang dulu bujang lalu punya istri sampai kemudian punya anak. Bahkan ada yang sudah punya cucu.

Nah, bagaimana dengan lebaran keluarga Anda??

24 thoughts on “Lebaran Dan Tradisi Keluarga Kami

  1. Wah, acara syawalan di kampung mas meriah sekali ya. Beda jika dilakukan di kota besar, kemeriahan tidaklah terlalu heboh. Tentu ini sesuatu yang menyenangkan sekali bisa bertemu sanak keluarga untuk saling bersilaturahmi.

    Dan pada kesempatan yang baik ini, saya mengucapkan SELAMAT IDUL FITRI 1431 H. Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Semoga amal ibadah puasa yang kita laksanakan selama 1 bulan diterima Allah SWT. Juga mohon dimaafkan apabila selama ini ada komentar-komentar saya yang saya utarakan di blog kerabat tidak berkenan di hati kerabat. Semata-mata karena ketidaktahuan dan ketidakpekaan saya. Semoga persahabatan dan silaturahmi ini selalu berkekalan🙂

  2. Assalaamu’alaikum sahabat Halaman Putih..
    pertamanya, selamat hari raya dan maaf zahir bathin kembali sesudah lebaran.
    Subhanallah…. saya sangat mengkagumi acara tradisi keluarga yang diamalkan oleh keluarga sahabat. ia satu tradisi yang sangat bermanfaat bagi mengumpul seluruh keluarga agar sentiasa erat dan kukuh jalinannya serta merapatkan hubungan antara generasi lama dengan generasi baru.

    Keakraban sedemikian harus dipertahankan agar generasi baru yang hadir tidak akan melupakan begitu sahaja budaya keluarga yang telah sekian lama diamalkan. kalau dalam keluarga saya, sudah tidak ada budaya sedemikian kerana tidak semua adik beradik balik dan berkumpul, tambahan lagi orang2 tua dalam keluarga semuanya sudah meninggal dunia. Yang tingal hanya ibu bapa sahaja. Jarak dan tempat selalu menyukarkan untuk berkumpul serentak dalam satu waktu.

    Semoga tradisi keluarga Halama Putih akan terus kekal dan menjadi kebanggaan bagi generasi baru dalam keluarga sahabat untuk meneruskan perjuangan tradisi ini.

    Semoga berbahagia dan salam mesra dari Sarawak.

  3. Keluarga saya sudah mengikuti tradisi jawa mas, padahal saya asli kalimantan.
    Tapi lebaran kali ini terasa agak sepi, karena mertua lebaran dijawa. Rumah hanya dimeriahkan oleh saudara-saudara saya yang kebetulan berbeda kepercayaan dengan saya. Dan asyik sekali.

  4. mohon maaf lahir dan batin …
    sebenarnya tidak ada kegiatan spesial keluarga denuzz di hari lebaran, kecuali betapa spesialnya dan betapa bahagianya bersua dengan sanak famili yang lama tak jumpa …

    ~~~ Salam BURUNG HANTU ~~~

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s