Kemul Alias Selimut

Kemul, istilah bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia berarti selimut merupakan sebuah benda yang sangat dibutuhkan pada musim dingin. Kehangatannya mampu membuat orang tertidur pulas dan nyenyak. Saat hawa malam terasa dingin, kebutuhan akan kemul pun semakin mendesak. Bukan kemul tipis yang dibutuhkan tetapi kemul tebal yang bahannya lumayan hangat untuk berselimut. Ini dapat kita lihat pasca gempa yang terjadi di beberapa wilayah kita beberapa waktu yang lalu. Banyak orang yang tidur di luar rumah menghuni tenda atau barak sehingga kemul sangat dibutuhkan.

Omong-omong soal kemul, ada sekelumit cerita unik tentang seorang anak dengan kemulnya yang tak terpisahkan dengan dirinya. Sebut saja ia Awi anak tetanggaku. Sejak kecil ia terbiasa tidur memakai kemul meskipun itu siang hari. Juga kebiasaan lain yaitu mengulum dua jari tangan, telunjuk dan jari tengah sampai tertidur.

Kemul yang dipakainya ya cuma itu-itu saja tak ada yang lain karena merupakan barang kesayangan. Padahal sebenarnya kemul yang lain ia pun punya. Entah mengapa yang disayanginya cuma kemul itu doing. Lucunya lagi, si Awi ini tidak memperbolehkan siapa pun mengusik kemul yang sangat disayanginya bahkan memegang pun tak boleh. Hanya boleh dilihat dipegang jangan (kaya di supermarket aja ya…)

Tanpa kemul kesayangan, si Awi tak bisa tidur nyenyak alias sering rewel. Bahkan kemul yang sudah sejak kecil dipakainya itu tak boleh diganti, dicuci atau dibersihkan. Sehingga kemul tersebut baunya huenak tenaan. Apek, pesing, kumal, lusuh dan bikin muak orang yang memandangnya. Tetapi si Awi enjoy aja dengan kemul ini. Ia bahkan merasa sangat nyaman tidur dengan selimut kesayangannya.

Suatu hari ada orang yang sengaja ngerjain si Awi dengan menyembunyikan kemul bututnya itu. Seharian Awi menangis tak mau diam. Dibujuk dengan diajak jalan-jalan atau dibelikan kemul baru pun ia tetap saja menangis. Kemul baru yang sudah ada dihadapannya dibuang begitu saja. Pokoknya ia mau kemul kesayangannya yang sudah kumal, lusuh, apek, pesing dan aroma lain yang huebat itu. Ketika kemul kesayangannya diberikan ia pun langsung diam dan tertawa-tawa senang.

Pernah suatu ketika oleh sang nenek kemul Awi ini dicuci bersih, pakai sabun dan direndam pewangi sbiar baunya OK. Tak disangka si Awi malah mencak-mencak, marah-marah, menangis sejadi-jadinya. Ia menuntut agar kemul yang sudah bersih dikembalikan lagi seperti sebelumnya. Hal ini menyebabkan si Awi sakit panas, meriang dan rewel selama beberapa hari karena tak lagi bisa tidur nyenyak.

Entah bagaimana, kok akhirnya kemul kesayangan Awi itu kembali lagi ke wujud semula setelah beberapa waktu. Mungkin bapaknya Awi memasukkan kemul itu ke gudang yang banyak tikusnya atau diapain tak jelas. Si Awi puas, senang dan bahagia karena bisa berselimut kembali dengan barang antiknya. Hanya karena sebuah kemul usang Awi bisa tidur nyenyak dan karena selimut pula Awi jatuh sakit.

Hal ini terus berlanjut sampai si Awi lulus SMP. Saat memasuki bangku SMA kebiasaannya ini pun hilang dengan sendirinya. Begitu pula kebiasaannya mengulum dua jari tangan yang selalu dilakukannya ketika akan tidur ikutan lenyap. Mungkin ia merasa malu dengan teman-temannya atau karena ia merasa sudah dewasa. Akhirnya oleh Awi kemul butut kesayangannya itu dibuangnya sendiri. Kata orang Jawa “dilarung” atau dihanyutkan di Kali Code sebuah sungai yang membelah Kota Yogyakarta dan kebetulan dekat dengan rumah Awi.

Kemul = selimut, kehangatannya memang bisa membuat orang terlena dan terhanyut dalam mimpi seperti si Awi. Biarpun jelek, lusuh, kumal atau sebutut apapun sebuah kemul tetap saja dibutuhkan untuk memberikan kehangatan. Daripada kedinginan dan tidur tak nyenyak, kemul butut dan usang pun ternyata lumayan OK digunakan.

Ya, begitulah kemul alias selimut.

Nah, Anda atau keluarga Anda punya pengalaman menarik dengan selimut?

35 thoughts on “Kemul Alias Selimut

  1. gak punya pengalaman gimana amat ama selimut sih.
    cuma emang kalo tidur lebih suka pake selimut buat nutupin tapak kaki. tapi kalo lagi panas banget ya gak pake lah…🙂

  2. saya kurang suka pakai kemul, cuma kalau memang cuacanya lagi super duper dingin (dibogor hujan angin mulu lagi) jadi kadang pakai juga.:mrgreen:

  3. Selamat malam Halaman Putih, saya mempunyai ceritra tersendiri tentang kemul ini, ya mulanya ketika suka blog walking ketemu dg blogger namanya Alris dia menjual selimut Jepang ya tadinya hanya coba-coba benar tidak seperti yang ia promosikan, nggak taunya bener selimut Jepang yang dijual Alris sangat lembut dan membuat tidur tambah tenang, selain itu enteng mudah untuk mencucinya. Kelembutannya membuat saya ketagihan menggunakannya, walaupun di Palangka Raya hawanya panas tapi jika dengan AC dibuatnya menjadi suejuk, sejak inilah saya selalu menggunakan kemul Jepang yang dijual dari Alris, Mufti, terima kasih sharenya..

  4. wkwkwk … parah juga kalo gini kejadiannya saking sayangnya sama selimut …
    Denuzz sendiri sih orangnya paling malas pake selimut … kalo dingin, Denuzz lebih milih untuk pake jaket dan celana panjang …
    perasaan gak nyaman aja kalo pake selimut …

    ~~~ Salam BURUNG HANTU ~~~

  5. Kemulan memang enak, apalagi kelonan😀

    Yup, klo dingin memang lebih asyik kemulan..sekaligus menutup diri dari serangan nyamuk🙂

    Salam hangat.

  6. selamat pagi.

    kisahnya si Awi itu kayaknya udah lumayan umum juga.

    seperti orang yg gak mau pisah dengan bantal kesayangannya.

    btw,
    saya paling gak suka pakai kemul.
    mending menikmati hawa dingin malam aja.
    malahan gak bisa tidur nyenyak kalo pake kemul/selimut.

    terima kasih dan mohon maaf😮

  7. masalahnya ya itu
    saya biasanya mancal kemul tiap pagi, tapi tidak sekedar mancal. Mancal di sini untuk menyamankan tidur berkemul sehingga kemul tidak berantakan.

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s