Nikmat Membawa Sengsara

Mulanya dikira cuma satu rumah saja yang terserang diare. Ternyata tetangga yang satu dan lainnya pun cerita bahwa mereka juga terserang diare. Gara-gara hajatan perkawinan, hampir separo warga kampungku mengalami diare. Dari yang ringan sampai opname di rumah sakit dengan gejala berbeda.

Ada yang merasa hanya mual saja, sakit perut, mules, pusing dan muntah, ada yang sampai buang air beberapa kali dalam satu malam, dan ada yang lemas sekujur tubuhnya hingga tak bisa beranjak dari tempat tidur. Kesimpulannya cuma satu, yaitu mereka keracunan makanan yang dihidangkan ketika itu.

Daya tahan tubuh orang memang berbeda. Hal ini dapat dilihat seberapa cepat pulihnya kesehatan seseorang dari sakitnya. Beberapa orang langsung menunjukkan gejalanya sepulang dari menghadiri hajat perkawinan. Mereka langsung mengalami buang air beberapa kali sampai sore hari. Namun ada pula yang mengalami gejalanya baru pada malam harinya.

Yang parah lagi dirasakan adalah gejala muncul pada keesokan harinya ketika aktivitas harian sudah berjalan. Kalau langsung tuntas maka badan yang tadinya lemas berangsur-angsur jadi enteng dan segar, lemas-lemasnya cepat pulih. Tapi bila sempat tertahan sampai beberapa hari, kemudian baru muncul gejalanya, nah ini yang bikin pusing.

Jadi repot juga kalau begitu. Seberapa sengsaranya mereka yang terkena musibah ini. Perut melilit, mules dan berulangkali ke belakang hanya untuk melepaskan beban yang bergelayut di perut. Kalau sampai berlanjut susah dikeluarkan dan semakin parah maka rumah sakitlah yang akhirnya menjadi tujuan.

Bapakku pun terkena dampak dari acara tersebut dan opname masuk rumah sakit (kini sudah tiada). Maklum namanya juga orang tua, otomatis daya tahan tubuh pun sudah banyak menurun. Mereka yang masih muda cepat sekali pulihnya, bahkan terkesan tidak menderita sama sekali akibat kejadian itu. Dokter praktek yang tinggal di wilayah kampungku pun mendadak panen pasien dengan diagnosa yang sama yakni keracunan makanan.

Pembicaraan dari mulut ke mulut menyatakan bahwa daging ayamnya yang menjadi penyebab utama keracunan itu. Mereka yang lidahnya peka merasakan bahwa daging ayam yang mereka makan itu rasanya sudah tidak enak dan berbau. Seketika itu juga mereka langsung menghentikan makan. Namun bagi yang kurang peka lidahnya terhadap rasa maupun bau, dengan enaknya terus menyantap sampai habis sehingga tak sempat terhindar dari akibatnya.

Tetangga dekatku, yang punya hajat menikahkan puteri pertamanya saat itu tak tahu-menahu soal ini,. Semua urusan sudah diserahkan pada orang-orang yang terhitung masih saudaranya dalam sebuah kepanitiaan. Hidangan tidak dipesan pada catering tetapi pake acara masak sendiri, ada seksi masak untuk keperluan itu. Seharusnya kebersihan dan keamanan makanan lebih terjamin karenanya.

Perkiraan tuduhan hanya berkisar pada seksi konsumsi, seksi memasak dan seksi belanja. Kiranya mereka tidak merasakan sesuatu yang “istimewa” itu dari bahan yang tersedia. Ada seseorang yang melihat daging ayamnya ketika dibeli sudah berbalur es batu namun tidak mengatakannya saat itu. Bisa jadi itu daging ayam yang sudah bangkai. Tapi seksi-seksi tersebut merasa tidak bersalah, begitu pengakuan mereka dalam evaluasi dan pembubaran panitia.

Lalu siapa yang patut disalahkan??

Tak ada yang mau mengakuinya dan tak ada yang mau disalahkan, apalagi menyatakan bertanggung jawab padahal separo warga kampung sudah terkena akibatnya. Warga kampung sebelah yang mendapat undangan dan menghadirinya juga ada yang mengalami hal demikian yaitu mules dan muntah-muntah.

Itulah kejadian beberapa tahun silam yang tetap hangat dalam ingatan. Masih ada yang trauma dengan kejadian itu sehingga untuk menghadiri acara pernikahan pun menjadi ragu-ragu. Ya, maklum sajalah karena pernah mengalami kejadian “nikmat membawa sengsara”. Mudah-mudahan tidak terulang lagi.

Iklan

25 thoughts on “Nikmat Membawa Sengsara

  1. Wah,, gawat juga ya kalau ada hajatan begini.. satu kampung kena deh! 😀
    seksi konsumsi gak bertanggung jawab tuh!! hemmm…

    — — —
    *tak ada yang menyatakan atau berani bertanggung jawab dalam hal ini

  2. tidak bisa membayangkan satu kampung trauma gitu. mungkin kalo ada undangan mesti ditulis, makanan sudah melewati seleksi ketat, bila menderita diare ditanggung asuransi. gitu kali…

    — — —
    *perlu juga POM kalau begitu

  3. Mas,besok malem bloggerjogja.ner mau kopdar dijogja.Sampean ikutan ndak?
    kalau mau ikut sepertinya hubungi mas Tomi di http://www.tomipurba.net.
    maaf, komentarnya ini ndak nyambung dengan posting.hehee

    Oh ia, link blog sampean juga sudah saya pasang,Salam n sukses selalu.

    — — —
    *makasih infonya bang… semoga waktunya gak berbarengan dengan acara saya

  4. semoga tidak terulang lagi dan lebih berhati2 lagi untuk mengloah makanan, apalagi dalam acara besar seperti nikahan sob.

    — — —
    *semoga saja, karena bisa merugikan orang banyak kalau kejadian

  5. bahkan sampai sekarang, sohibul hajat waktu itu masih sering termenung merasa bersalah atas kejadian tersebut.. *halah*

    — — —
    *ha… ha.. ya jangan cuma termenung lah, kasih ganti biaya pengobatannya dong…

  6. wah… ngeri banget…
    yang terpenting kalo dalam hajatan itu.. para panitia harus dilandasi semangat membantu mereka yang sedang punya hajat.

    jadi ya jangan sampe beli bahan2 yang kurang baik kualitasnya.
    kalo emang duitnya kurang, bilang aja sama yang punya hajat… daripda seperti ini ..

    — — —
    *seharusnya begitu mbak, entah karena pertimbangan apa kok jadinya lain

  7. mas anda orang jogja kan?
    yuk gabung di blogger jogja. Ada FB enggak?
    kalau mau ikut kunjungi blog mas tomy purba.
    atau search di fb ” blogger jogja”
    okey? kemarin udah kopdar

    — — —
    *insya Allah, makasih infonya ya…

  8. Syukurnya, itu kejadian beberapa tahun silam…
    Semoga bisa dijadikan pelajaran sehingga tidak terjadi lagi hal tersebut…

    — — —
    *Ya, mudah2an menjadikan semua orang lebih berhati2 lagi. Makasih mas…

  9. wah kalo ayam udah berbau kalo ga busuk berarti ayam sakit tuh mas….untung saya kalo makan selalu dicium dulu biar ketahuan masih bagus atau gaknya tuh makanan….

    — — —
    *Untuk jaga diri, berhati2 memang suatu langkah yang baik mas.

  10. Salam jumpa kembali sobat Alhamdulillah sekarang dah bisa posting dan insay Allah bisa blogwalking juga semoga demikian kedepannya

    — — —
    *semoga tetap eksis di dunia blog, salam jumpa kembali

  11. hhm, aku pernah tau kejadian serupa. sang pemilik catering dituntut…dan usahanya bangkrut karena gak ada lagi klien yang percaya…
    semuanya jadi kasihan…

    — — —
    *kalau seperti ini, ya semua pihak mestinya harus sangat berhati-hati

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s