Setiap Orang Pasti Merasakan

Hidup di dunia ini tidak berjalan lurus dan abadi. Allah menciptakan kehidupan penuh dengan warna-warni yang pasti dirasakan oleh setiap manusia. Ada rasa sedih dan duka, ada pula rasa senang dan gembira yang mewarnai hidup manusia silih berganti. Tak ada yang tetap. Dari waktu ke waktu pasti lambat laun terus mengalami perubahan.

Kalau diperhatikan orientasi dunia dan akhirat manusia maka akan terbagi menjadi tiga kelompok besar :

Pertama, kelompok yang menganggap bahwa hidup ini hanya satu kali. Oleh karena itu mereka beranggapan bahwa hidup ini harus dinikmati sepuas-puasnya. Mereka tidak meyakini ada kehidupan sesudah mati. Bila nyawa sudah tak lagi berada di raga, maka berakhirlah dan tak ada kelanjutannya. Demikian yang termaktub dalam Al Qur’an Surat Al Jatsiyah : 24.

Kedua, kelompok yang memburu dunia dengan meninggalkan akhirat, padahal mereka tahu ada kehidupan setelah mati. Akhirnya yang didapat hanyalah kesia-siaan. Sebab dunia tidak berlaku abadi, pada akhirnya semua akan musnah. Dunia yang dikejar tak dapat, akhirat yang ditinggalkan pun hilang begitu saja. Mereka tak memperoleh apa-apa.

Ketiga, kelompok yang menjadikan dunia sebagai sawah ladang untuk bercocok tanam dan hasilnya akan dinikmati di akhirat nanti. Mereka beranggapan bahwa dunia hanyalah sebagai tempat persinggahan. Segalanya akan kembali dan abadi di alam akhirat (QS. Al An’am : 32). Oleh karena itu hidup di dunia tidak boleh disia-siakan. Untuk menikmati hasil di akhirat harus melalui dunia sebagai sawah ladangnya.

Nah, termasuk kelompok yang manakah kita?

Pada hakekatnya, hidup di dunia ini hanyalah sebuah antrian panjang menuju pada kehidupan akhirat yang abadi. Sedangkan akhirat hanya bisa dicapai melalui pintu kematian. Namun jenis antrian yang satu ini saya yakin, tak ada seorangpun yang senang mendapat gilirannya. Bahkan kalau mungkin dihindari sejauh-jauhnya.

Kalau jenis antrian yang lain orang ramai-ramai ingin mendapatkan tempat terdepan. Antri karcis, antri sembako, antri berobat, apalagi antri untuk mengambil uang maka setiap orang pasti senang sekali ketika gilirannya dipanggil. Lega rasanya ketika telah berada di barisan paling depan. Namun dalam antri menuju ajal, tak seorangpun ingin berada di barisan terdepan. Pasti, kalau boleh memilih yang belakangan saja.

Bagaimanapun, ajal tak akan pernah bisa dihindari, sebab waktunya telah ditetapkan Allah dan tak bisa diubah lagi. Kita ini hanyalah sekelompok manusia yang sedang mengalami antrian panjang. Menunggu saatnya berada di barisan terdepan. Yang lebih dulu dipanggil bukan mereka yang sudah tua usia. Banyak orang muda segar bugar malah mendahului yang tua. Bahkan bayi yang baru lahir malah berangkat lebih dahulu. Sedangkan manusia tidak tahu sudah di baris terdepan atau di barisan yang keberapa. Tak ada yang mengetahui waktu kematian seseorang selain Allah.

Dalam antrian yang satu ini, semua orang boleh keluar dari jalur antrian untuk melakukan apa saja dan berbuat apa saja sampai tiba saatnya mereka dipanggil. Sebab nomor panggilan sudah didapat sebelumnya, persis seperti kalau orang antri berobat di rumah sakit. Bila sudah sampai nomornya dipanggil, saat itulah orang akan langsung menghadap tanpa bisa menghindar lagi.

Allah berfirman : “…Setiap yang berjiwa pasti merasakan mati…” (QS. Ali Imran : 185)

Demikian pula dengan dunia beserta seluruh isinya, planet-planet dan seluruh semesta yang telah diciptakan Allah tak ada yang kekal. Semuanya pasti mengalami kehancuran, pada saatnya akan musnah.

Firman Allah : “Segenap apa yang dibumi akan musnah, sedangkan Dzat Tuhanmu akan tetap kekal selamanya. Yang penuh dengan Kebesaran dan Kemuliaan” (QS. Ar Rahman : 26-27).

Hanya Allah, Sang Maha Pencipta saja yang tidak pernah berada dalam baris antrian. Allah kekal dan abadi, tidak akan musnah ditelan masa. Allah yang mematikan, Allah pula yang menghidupkan atau membangkitkan seluruh makhluk setelah hari akhir nanti. Allah Maha Hidup, Menghidupkan dan Menghidupi seluruh makhluk yang diciptakannya. Demikian pula sebaliknya, Allah yang memanggil setiap manusia untuk menghadap pada-Nya.

Setiap manusia pasti merasakan dan akan mengalaminya. Kalaupun belum sampai saatnya, paling tidak kita akan merasakan kehilangan orang yang dicintai. Orang yang telah bersama kita sekian waktu. Orang yang telah membesarkan dan memelihara kita. Orangtua, saudara, sahabat, tetangga, keluarga dan yang lainnya. Kita pasti akan merasakan kehilangan mereka semua. Tinggal antriannya saja lebih dulu mana, mereka atau kita sendiri yang berada di barisan terdepan.

Tak ada yang bisa menghindar dari hal itu. Ketentuan Allah mutlak dan tak bisa ditawar-tawar. Yang tetap kekal dan abadi hanyalah Dzat Allah semata. Hal ini dipertegas oleh Allah dalam firman-Nya : “…Segala sesuatu akan binasa kecuali Dzat Tuhan…” (QS. Al Qashash : 88).

Demikian pula yang terjadi dengan bapak mertua beberapa hari yang lalu. Setelah terbaring sakit selama kurang lebih 20 hari, akhirnya Allah berkenan pula memanggilnya. Keluarga yang ditinggalkan harus ikhlas dan tabah, karena ketentuan Allah tak dapat diubah oleh siapa pun. Istri saya pun sudah ikhlas dengan kepergian bapaknya, sehingga rasa sedih dan duka tidak terjadi secara berlarut-larut.

Ketika orang meninggal dunia maka putuslah semua amalnya, kecuali tiga hal yaitu 1) amal jariyah atau amal kebaikan yang dikerjakan selama hidup, 2) ilmu yang bermanfaat, yang dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat dan 3) anak yang sholeh, yang selalu mendoakan kedua orangtuanya. Hanya tiga itulah yang pahalanya selalu mengalir bagi mereka yang telah meninggal dunia. Insya Allah doa yang baik dari seorang anak untuk orangtuanya pasti sampai.

Satu catatan yang perlu digarisbawahi adalah bahwa setiap orang pasti merasakan. Merasakan kehilangan orang yang dicintainya dan pasti merasakan akhir dari kehidupannya. Meninggalkan atau ditinggalkan.

Iklan

53 thoughts on “Setiap Orang Pasti Merasakan

  1. Pas dibaca saat bulan puasa.
    Ya benar, hidup ibarat sebuah antrean yang panjang menuju alam yang kekal. Dan tidak ada yang bisa menghindari kematian karena kita semua berjiwa. Yuk kita nabung buat rumah masa depan..

  2. Assalamu’alaikum Kang,
    semoga sakit beliau menjadi penghapus dosa dan keikhlasan keluarga serta do’a anak yang shalih/shaliha menjadi jalan kemudahan dalam segala urusan di alam kubur dan di akhirat kelak. Amin

  3. InsyaAllah aku termasuk golongan yang ketiga mas. Semoga kehidupan akherat ku lebih beruntung dari pada kehidupan di dunia fana ini πŸ˜›

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  4. kehilangan yang paling terasa berat adalah ketika sahabat dekat saya meninggal karena leukimia, awal menikmati rasa kehilangan sebelum akhirnya ruh ini yang menghilang dari kandung badan. selamat berburu amal kebaikan mas, menyiapkan hasil yang akan kita bawa di akhirat kelak. πŸ™‚

  5. saya selalu berusaha untuk yang ke 3 mas…saya sudah menyiapkan diri dari 6 tahun yang lalu, jaman2 nya saya tertarik dengan dunia spiritual…saya sering membayangkan kalo saya uda meninggal, siapa saja yang saya tinggalkan, siapa saja yang kehilangan, siapa saja yang menangis untuk saya…padahal kalo ajal sudah tiba roh nya tetap berada di dunia selama pikiran kita belum tenang (dari berbagai sumber)…

    dan sekarang masih berusaha membuat orang2 disekitar saya selalu tersenyum meskipun raga saya sudah tidak ada….dan emang susahhhh bener…

  6. inalilahwainalilahirojiun. turut berduka cita buat bapak mertuanya ya. semoga smemua amal yang di sebebutkan di atas semlalu menemani nya. bacaan nya cocok banget penyegaran rohani selagi puasa

  7. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, turut mendoakan bapak mertuanya pak, semoga mendapat tempat terbaik di sisiNya.. aamiin..

    semoga saja kita termasuk orang2 yg masuk ke dalam golongan ke-3. Meskipun godaan dan rintangan pastinya akan ada, namun dengan berusaha keras agar tetep berada di jalan Allah, insya Allah bisa..

  8. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun…

    mitra juga ngucapin turut berbela sungkawa ya mas…

    hmmm, ini juga yg mitra rasakan ketika adik mitra ga ada beberapa tahun yg lalu…

    mas, sabar ya…

  9. inalillahi wainna ilaihi raajiun…

    semoga semua amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya, dan bagi yang ditinggalkan semoga senantiasa diberi kesabaran…

  10. ass
    ikut bela sungkawa
    atas meninggalnya bapak mertuanya.
    semoga amal ibadahnya diterima Allah swt
    benar, doa untuk orangtua dari anak sholeh-sholeha akan dijabah.
    selamat berpuasa.

  11. inna lillahi wa inna ilaihi roji’un…wkt baca posting kemarin, sebelumnya tidak menyebutkan ini,…

    seperti saya, juga kehilangan kakak ipar beberapa tahun lalu masih teringat dan sedih…bahkan sekarang menjadi lebih takut kehilangan lagi..tapi jika ingin jadi manusia takwa, maka semua memang harus diserahkan padaNya..

  12. Inna Lillahi Wa Inna Illaihi Rojiunnn.
    Aku turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga arwah ayahanda diterima disisiNya disaat Ramadhan yang mulia ini. Dan keluarga yg ditinggalkan tabah selalu.

  13. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun …. Semoga Almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisiNya diampuni dosa2nya dan diterima amal ibadahnya … Amin
    Yang tabah ya Mas !

    ayahku meninggal sekitar lima bulan setelah ibuku berpulang, saat itu aku baru beberapa tahun lulus dari SMA, rasa kehilangan tak tergambarkan saat itu 😦
    sekarang hanya panjatan doa usai Maghriban yang bisa kupersembahkan buat arwah mereka

  14. saya sendiri percaya adanya kehidupan setelah kematian yang dikenal dengan reinkarnasi. tapi saya juga percaya ada kalanya seseorang tidak terlahir lagi, tapi benar-benar kembali kepadaNya. Dalam kepercayaan saya ada hal seperti itu. Saya Hindu. πŸ™‚

  15. Duh, aku di dunia ini masih belum melakukan amal perbuatan yang maksimal. Seringnya tergoda oleh gemerlap dunia. Mudah2an Allah SWT membimbingku untuk kembali ke jalannya dan mempersipakan diri untuk kehidupan akhirat kelak. Amin Ya Rabbal Alamin

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s