Lebaran Di PMI

Ini hanya sebuah cerita singkat saja dari lebaran beberapa tahun sebelumnya yang saya lakukan di rumah tempat asal istri. Acaranya ya seperti umumnya orang bersilaturrahmi ketika idul fitri tiba. Seakan menjadi sebuah tradisi, entah dengan lebaran yang sama ataukah mengalami perbedaan 2 versi, hal tersebut kami lakukan secara rutin setiap tahunnya.

Silaturahmi pada hari pertama Idul Fitri di keluarga besar dan tetangga kampung di Yogyakarta sudah selesai. Seperti tahun sebelumnya, di hari kedua lebaran adalah giliran untuk bersilaturahmi ke PMI alias Pondok Mertua Indah. Boleh dibilang hari kedua ini sebagai hari yang melelahkan bagiku. Sehari penuh hampir tak ada waktu untuk istirahat. Semua habis tersita untuk keluarga besar istri yang kediamannya tidak berada di dalam satu kota.

Pagi hari kami berangkat dari rumah. Perjalanan menuju pondok mertua indah memakan waktu sekitar 2 jam. Itu pun jika perjalanannya lancar tanpa hambatan macet atau diselingi istirahat di suatu tempat. Memang jaraknya tidak terlalu jauh tetapi tidak juga bisa dibilang dekat. Untuk urusan yang hanya satu atau dua hari bisa jadi akan membuat badan lelah dan capek kalau istirahatnya tidak cukup.

Sesampai di pondok mertua indah, setelah sungkeman dengan para penghuni pondok, silaturahmi dilanjutkan ke tetangga dekat, sesepuh kampung dan juga takmir masjid. Siang harinya lepas waktu dzuhur kami sekeluarga meneruskan langkah mengunjungi keluarga besar istri dari pihak ibu di Sukoharjo. Perjalanannya memakan waktu kurang lebih satu jam.

Giliran pertama yang kami kunjungi adalah kakak tertua ibu (pakde), disusul kemudian ke tempat kakak kedua ibu dan terakhir ke tempat adiknya ibu. Di keluarga besar bapak, hal itu tak kami lakukan karena semua saudara bapak tempat tinggalnya sudah berpencar atau tidak menetap dalam satu kota yang berdekatan. Jadi hanya pada keluarga besar ibu kami berkunjung secara berurutan.

Kalau dilihat dari apa yang kami lakukan dalam satu hari itu, sebetulnya bukanlah suatu hal yang melelahkan. Semuanya biasa-biasa saja seperti yang sudah kami lakukan pada hari pertama. Mungkin karena segala sesuatunya yang serba diatur oleh ‘beliau’ itu yang membuatku lelah dan capek. Semua anggota keluarga di pondok mertua indah mendapat perlakuan yang sama dalam hal ini. Tak bisa bebas seperti ketika berada di rumah sendiri. Apalagi istriku merupakan anak bungsu dari lima bersaudara dan satu-satunya perempuan, jelas memperoleh perhatian yang lebih dalam hal pengaturan ini.

Anda yang sudah berkeluarga terutama perempuan tentu paham mengenai hal yang satu ini. Barangkali Anda juga mengalami hal yang sama ketika berada di pondok mertua indah meskipun cuma satu atau dua hari saja. Bahkan ada cerita yang sempat stres, tegang dan cemas duluan sebelum sampai di sana. Betul lho….

Memang rasanya lebih nyaman mengatur perjalanan sendiri kemana pun kita mau tanpa campur tangan pihak lain. Bisa lebih santai dan leluasa tanpa tekanan dan paksaan dari siapapun juga. Apa yang ingin kita lakukan, ya ditentukan sendiri menurut keinginan kita. Tetapi walau bagaimanapun juga, ya harap maklum karena posisi pada saat itu hanyalah sebagai penumpang. Numpang nginap, numpang makan, numpang mandi, numpang istirahat, numpang tidur dll. Mau tidak mau tetap harus mengikuti aturan dan kemauan yang punya pondok. Tak bisa berbuat sekehendak sendiri walau untuk kepentingan keluarga sendiri dan tak melibatkan orang lain. Susah deh, banyak hal yang tidak sreg dan lepas dari rencana semula.

Cerita di atas tersebut kini hanya bisa menjadi suatu kenangan saja, karena kedua beliau bapak dan ibu mertua sudah tiada sehingga berlebaran ke pondok mertua indah pun telah mengalami perubahan, tidak lagi seperti dulu.

Bagaimana dengan Anda…..???

Iklan

34 thoughts on “Lebaran Di PMI

  1. Assalamu’alaikum Kang,
    wah saya kira sampean bener-bener lebaran di Palang Merah Indonesia.
    Meski melelahkan, tentu sisi positipnya jauh lebih banyak ya kan ?

    “Taqabbalallahu minna wa minkum, Shiyamana wa Shiyamakum .
    Ja’alanallaahu Minal Aidin wal Faidzin”

  2. Saleum,
    Begitupun dengan saya sob, ada aturan yang tak tertulis ketika menjalankan Lebaran hari pertama, Utamanya ke Orang tua duluan setelah itu ke famili dekat si Istri, karena adat dikampung saya bahwa si suami harus tinggal dirumah istri. setelah habis disana barulah ke famili dekat saya sbg suami. pkok nya hari pertama lebaran itu betul2 lelah tapi menggembirakan hati karena bisa bersilaturahmi kembali.
    saleum dmilano

  3. Sekarang semua itu tinggal kenangan ya…sudah lama saya juga tidak punya PMI, karena mereka sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu…

    Selamat lebaran ya, mohon maaf lahir dan batin!

  4. Tinggal di PMI emang kudu bisa menyesuaikan dg kebiasaan, cara plus adat apalagi di Daerah Sumatera Selatan, pernikahan berbeda suku sangat biasa terjadi.
    Tentu adat dan tata cara berinteraksi jg berbeda. Sabar, lapang dada dan menerima undang-undang yg berlaku di tempat kita tumpangi sebagian yg mesti kita lakukan sebagaimana yg diuraikan mas Mufti.

  5. sebelumnya saya ucapkan “Taqabbalallahu minna wa minkum, Shiyamana wa Shiyamakum .
    Ja’alanallaahu Minal Aidin wal Faidzin”
    lebaran DI PMI, positif gak melelahkan karena terlaksana denga iklas

  6. Ass…
    Justru kl sy sama istri hrs jagain PMI dulu sblm silaturahim ke kp.org tua saya,stelah lebaran hari ke 2 dan di rumah mertua sdh berkumpul kel.dari kakak2 ipar,saya baru bisa pulkam hahahaha…

  7. Kok di sini masih lebaran sih, padahal disana dah lama berlalu, hmm ok lah Minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir batin ya, semoga kita kembali fitrah seperti bayi yang baru keluar, eh lahir 😯

  8. yah suatu kenangan itu akan sangat mengharukan..

    aku di Jakarta cuma ada saudara jauh,, orang tua dan mertua ada di Padang,, jadi cuma bisa lewat tlfon ..

    salam sukses 🙂

  9. Syukurlah orang tua saya tak begitu cerewet ke menantu. Jadi husband saya ya kayak liburan saja, dia tidur sampai siang, kapan mo makan teerserah dia. Ya mungkin juga karena tak begitu banyak yang harus dikerjakan di rumah juga ya… 🙂
    Minal aidin wal faidzin ya mas.

  10. ternyata nggak perempuan saja ya mas, ternyata pria juga punya perasaan spt itu di PMI .. tapi emang bener kok, di rumah sendiri itu lbh bebas merdeka

  11. Walah, ini curhat kenangan masa lalu ya? Selama ini lebaran pertama selalu kuhabiskan bersama keluarga suami ke Jombang, karena eyangnya suami masih ada. Aku yg sudah tak punya eyang mengalah dan baru pada lebaran kedua di rumah ortuku.
    Untungnya selama ini semua masih baik2 aja.. jadi tak ada keterpaksaan… karena tak ada pengaturan ‘ketat’ spt di atas hehehe

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s