Ketika Masih SD

Setelah sekian lama ngeblog, mbak yang beralamat di sini membidikku untuk mengerjakan tugas. Hal semacam ini memang sudah lama beredar di kalangan para blogger. Banyak blogger yang kena sasaran untuk melanjutkan perjuangan sehingga pesan beredar terus menerus dari satu blog ke blog yang lain. Kadang ada yang kena dua kali bahkan lebih. Ada yang mesti pasang logo, dapat award yang juga mesti diedarkan, mengerjakan tugas, juga mengirimkan sesuatu untuk di pajang pada blog targetnya dan sebagainya dan sebagainya. Mirip dengan pesan berantai, begitulah.

Namanya juga ketiban keberuntungan sehingga saya dipercaya untuk mengerjakan tugas ini sekaligus meneruskan ke target sasaran selanjutnya. Rencananya ini mau kukerjakan setelah lebaran idul adha kemarin, namun karena suatu pertimbangan maka tugas ini kuselesaikan sekarang aja deh.

Maaf banget kalau telat mengerjakannya. Kali ini saya kebagian tugas untuk menceritakan segala sesuatu yang berhubungan saat-saat di SD dulu. Memang, bagi saya masa SD – meski per kelasnya hanya ada dua yaitu A dan B – adalah masa yang paling menyenangkan kalau dibandingkan dengan masa SMP atau SMA.

Oke, daripada basa-basi terlalu banyak, langsung aja deh saya segera mengerjakan tugas tersebut.

Di bawah ini adalah tugas yang mesti kukerjakan, kaitannya dengan jaman SD dulu :

Kembali ke masa SD

Oleh bapak, saya disekolahkan di sekolah Muhammadiyah. Waktu itu bapak masih dinas di Kota Banjarmasin. Sekolahku tidak terlalu jauh dari rumah, kurang lebih sekitar satu atau dua kilometer saja. Kebetulan dekat pula dengan kantor tempat bapak kerja. Masa pertama masuk sekolah hingga kelas dua, berangkat sekolah diantar bapak, pulangnya pun mampir ke kantor bapak dulu, kemudian beliau mengantarkan pulang ke rumah.

Seiring dengan berpindahnya kantor bapak ke tempat lain yang agak jauh, saya pun sudah tak lagi tergantung dengan bapak. Berangkat dan pulang sekolah lebih banyak berjalan kaki atau naik sepeda. Terkadang pulangnya gak langsung ke rumah, tapi mampir dulu ke tempat teman meskipun hanya sebentar.

Oh, ya, di belakang sekolah mengalir sebatang sungai kecil yang tidak bisa dilewati perahu. Airnya tidak terlalu penuh bahkan seringkali yang kelihatan hanya lumpurnya. Di situlah saya dan teman-teman sering bermain kapal-kapalan yang terbuat dari kertas. Ada satu kejadian lucu yang tak pernah terlupa dari ingatan saya saat itu, kalau tak salah kelas 4.

Di tempat itu, teman saya – sebut saja Isa – pernah tercebur masuk lumpur, namun saya yang disalahkan karena menghalangi jalannya ketika ia mau lewat. Hal itu yang menyebabkan ia terpeleset kemudian tercebur sehingga pakaiannya basah berkubang lumpur hitam. Ketika Isa saya suruh memperagakan bagaimana kejadiannya kok bisa saya yang menghalangi , ia pun segera memperagakannya. Ketika Isa memperagakan kronologisnya dari awal, saat itu pula ia terpeleset dan tercebur lagi ke lumpur.

Kami semua tertawa terbahak-bahak karena Isa tercebur untuk yang kedua kalinya dalam satu waktu. Ia kemudian disuruh pulang karena tak mungkin lagi mengikuti pelajaran sampai akhir dengan pakaian yang basah dan kotor oleh lumpur itu.

Guru favorit

Bagi saya mungkin gak ada guru yang favorit karena semua guru saya anggap sama. Hanya saja soal kedekatan dengan beberapa orang guru memang ada. Misalnya Pak Syachrum, guru olahraga sekaligus pengelola perpustakaan, Pak Siswanto, Guru IPA, beliau sering menggantikan guru olahraga ketika guru yang bersangkutan tidak bisa hadir.

Kebetulan Pak Sis ini asli Jogjakarta, jadi terasa dekat sekali sama-sama orang Jogja. Kemudian Pak Ramsyi, guru IPA juga. Nah, Pak Ramsyi ini kostnya dekat dengan tempat tinggal saya. Kalau waktu senggang saya sering main ke kostnya sambil tanya-tanya tentang pelajaran atau hasil ulangan tentunya. Meski ketiga orang tersebut dekat, namun saya tidak pernah memposisikan mereka sebagai guru favorit.

Guru killer

Saya rasa tak ada guru killer yang sering memberikan nilai jelek atau sikap buruk kepada saya. Entah penilaian teman-teman yang lain, mungkin ada salah satu yang dianggap killer. Tapi saya pernah melihat Pak Hamid, guru agama kelas 3 yang memukul kaki Khairil dengan penggaris kayu karena tidak bisa menulis huruf Ba’ ketika disuruh maju ke depan. Dan Pak Syachrum berkelahi dengan anak kelas 6 karena anak tersebut menyerangnya duluan secara bertubi-tubi dengan sebab yang tidak saya ketahui.

Kalau secara umum, Kepala sekolah, Pak Nasri yang paling ditakuti para siswa. Beliau sering masuk kelas pada saat jam kosong tak ada gurunya. Beliau pula yang meminta kami menyiapkan satu buku tulis khusus yang di sampulnya harus ditulisi “Pelajaran Khusus Kepala Sekolah” kemudian di bawahnya dikasih nama masing-masing.

Teman bolos

Tak ada tuh teman bolos. Waktu itu saya kan murid yang rajin dan taat he… he… jadi gak pernah bolos. Kalau teman akrab ada, tapi bukan untuk hal-hal yang seperti itu, namanya Amrullah. Paling sering pulang bareng dengan jalan kaki kalau dia sedang tidak dijemput papanya. Kalau pas di jemput, saya ikutan nebeng pulang sampai ke rumahnya yang satu jurusan dengan tempat tinggalku. Hal itu terus berlanjut hingga kelas 6. Entah papanya atau sopirnya yang menjemput, saya tetap diajak bersamanya, bahkan sampai menjemput kakaknya di satu sekolah yang agak jauh dari sekolah kami.

Teman berantem

Berantem? Gak pernah kali ye… Tetapi saya masih ingat, sejak kelas 2 hingga kelas 4 sering sekali terjadi perkelahian antara kelas A dan kelas B. Anak yang sering berantem ya itu-itu juga orangnya. Hanya karena pertandingan sepakbola kelas B kalah, lalu terjadilah perkelahian karena tidak puas. Bisa juga perkelahian diawali dengan saling mengejek kemudian adu mulut yang dilanjutkan dengan perkelahian. Ketika kelas 5, kelas A dan B digabung dan disitu kemudian suasana menjadi akur, perkelahian tak lagi terjadi.

Makanan/minuman/mainan favorit

Untuk minuman saya sering jajan es dawet gula Jawa yang dijual di sebelah sekolah, sedangkan makanan sering beli arum manis karena ada hadiahnya. Lumayan, buku tulis kerap saya dapat ketika beli arum manis ini. Teman-teman saya sampai iri, karena buku tulis adalah hadiah paling mahal dan bermanfaat waktu itu. Untuk mainan, tak ada mainan khusus yang saya suka. Kalau bermain yang paling suka adalah main di air atau sungai dengan kapal kayu kecil bikinan sendiri yang bisa dinaiki. Sekedar bermain, bisa juga untuk memancing. Selain itu bermain di sawah yang banyak airnyasaya juga suka, kemudian berenang. Khusus untuk berenang ini, saya pernah merasakan berenang di Sungai Martapura, sungai yang membelah kota Banjarmasin, Waduk Riam Kanan, juga Pantai Takisung yang merupakan bagian dari laut Jawa.

Tas/sepatu favorit

Masa SD yang paling saya suka adalah tas koper kecil “president”. Tas tersebut kiriman dari om yang ada di Jogja. Sampai sekarang itu tas masih ada dan masih berfungsi dengan baik. Untuk sepatu, paling suka sepatu boot dan warrior. Sepatu boot dipakai ketika musim hujan yang menyebabkan jalan sering becek sedangkan warrior dipakai diluar musim penghujan. Terkadang tak mesti juga sih.

OK, kiranya itu sedikit yang bisa saya ceritakan ketika masih SD dulu. Bagaimana wujud dan rupa sekolahku,  saya sudah tak tahu lagi. Sejak lulus SD saya sudah tak pernah menginjakkan kaki ke sana alias pindah ke Jogja mengikuti bapak yang pindah tugas. Namun SD ku itu sampai sekarang ternyata masih ada dan telah berubah baik dari sisi penampilan maupun fisiknya. Demikian informasi terakhir dari kakakku yang ke pernah datang ke sana untuk legalisir ijazah.

PR ini tidak saya teruskan kepada siapa-siapa, karena saya yakin banyak yang sudah pernah mendapatkannya bahkan mungkin ada yang lebih dari dua kali.

57 thoughts on “Ketika Masih SD

  1. indah ya mas kalau kita mengenang masa kecil kita dulu.. sayang anak sekarang mungkin tak bisa merasakan manisnya bermain dia alam.. sungainya dah kotor, sawah semakin habis dan banyak lagi tempat bermain yang dulu ada sekarang telah menjadi langka

    kok saya jadi iri ya dengan rekoe sampean mandi di sungai hihihi

  2. hehe.. wah masih ada nih musim ngerjain PR kirain udah lewat..benar2 bersaing dg musim kawin..🙂
    terimakasih telah berkunjung ke blog saya mas Mufti..
    Blognya sudah ada di Sahabat yg Berbagi..
    tetap menginspirasi mas..!!
    salam,🙂

  3. wah wah…. masa-masa ketika SD memang menjadi suatu kenangan yang tak bisa dilupakan… mulai dari guru, teman sampai ke tukang kebunnya pun saya masih ingat…😀

  4. Masa-masa SD memang memiliki kisah2 tersendiri yg kadang suka geli kalau diingat😀 Yang paling lucu ya karena sekolah saya deket banget, jadinya kalau istirahat suka pulang ke rumah n makan trus lupa balik lagi, sampe dicari gurunya hehe.

    Ceritanya seru juga mbak🙂

  5. PRe ijik ana sing durung ditulis mas: SDne tahun pira luluse? Aku tahun 1985. Tak tekokkan aja-aja nek aku adik kelase😀

    — — —
    *Lha, malah aku je pak seng adik kelase sampeyan. Wong luluse taun wolu pitu ki…

  6. Kepala sekolahe kreatif kuwi mas, guru agamane coba kon marai bocah-bocah maca iki :

    Alif fatkah
    Kaf dhommah
    Ba’ fatkah
    Ba’ kasrah.🙄
    Mesthi dha cekikian semuwa kabeh😆

  7. Wah ternyata rekaman masa SD masih dapat diputar dengan baik ya, salut deh. Kalau saya sudah banyak yang lupa #hehehe. Indah memang mengenang masa kecil dulu ya. Nice share bro🙂

  8. waaahh, artikel dengan tema ini banyak sekali ya yang membahasnya. artikel bergilir itu bagus sekali untuk viral marketing!

    sedikit komentar, saya juga memiliki banyak kenangan di waktu sekolah dasar. saya sering berkelahi dengan teman2.😀
    haha, tapi saat itu juga adalah momen di mana banyak masa2 lucu dan lugu yang saya alami.🙂

  9. wihiii…lengkap amat mas.
    memori waktu sd’nya mantep banget nih😀
    kalo guru killer semenjak sd sih saya juga punya mas, guru agama pula
    kalo murid2 gak bisa jawab, kepala kita ditoki pake mistar kayu yang panjang itu😦

  10. Pelajaran Khusus Kepala Sekolahnya macam gimana mas?

    — — —
    *Pak kepala sekolah suka ngajarin pelajaran berhitung yang pecahan itu lho baik penjumlahan, pengurangan dan sebagainya pokoknya bilangan pecahan.

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s