Pak Tani Butuh Pacul

Siapa pun tahu bahwa beras yang kita konsumsi sehari-hari itu berasal dari padi. Nah, siapa yang menanam padi? Demikian juga beraneka ragam hasil bumi lainnya, tak lain adalah Pak Tani. Kerjaan sehari-hari Pak Tani memang di sawah. Ia juga yang memelihara tanaman padinya agar tetap tumbuh subur sehingga berasnya enak. Hama atau gulma yang mengganggu tanamannya dibersihkannya tanpa mengeluh sedikitpun. Semua itu dia kerjakan untuk mencukupi kebutuhan pangan.

Sebelum padi ditanam, biasanya tanahnya diolah terlebih dahulu. Kalau pengairannya lancar dan terjamin tidak perlu menunggu musim hujan tiba. Tanah dibajak, kotoran yang tersisa diangkat. Kotoran tanah dalam hal ini bisa berupa ranting kayu dan segala sesuatu yang sulit membusuk sehingga mengotori sawah. Setelah itu, baru kemudian ditanam benih padi.

Dalam masa penantian panen, Pak Tani dengan rajin memberi pupuk dan mengairi sawahnya dengan tertib. Kadangkala nyemplung juga ke tengah sawah untuk membersihkan gulma yang tumbuh tak terkendali. Selain itu, pematang sawah pun tak luput dari tangan dinginnya. Rumput yang tumbuh dicabuti agar pematang tetap bersih dan mudah dilalui.

Ketika padi mulai menguning, Pak Tani pula yang bertugas mengusir burung-burung pemakan padi yang banyak bertengger di atas tanaman padinya. Tak jarang ia berteriak-teriak hanya sekedar membuat kaget makhluk pemakan padi itu. Biasanya pada tahap ini, Pak Tani juga tidak lupa membuat orang-orangan atau “memedi sawah” kata orang Jawa bilang. Orang-orangan tadi dikalungi kaleng berisi kerikil atau batu agar burung terkejut dan hengkang dari sawah saat memedi sawah tersebut digoncang-goncangkan.

Setelah usia padi genap memasuki masa panen, padi diambil dari sawah untuk diproses menjadi beras. Dan kita semua tahu bahwa beras yang sehari-harinya masuk ke perut dalam wujud nasi itu adalah hasil kerja keras Pak Tani. Tanpa dia, mungkin kita tak akan bisa menikmati nasi. Sungguh kerja Pak Tani perlu dihargai dengan harga yang sangat tinggi. Teriknya panas tak dirasa, hujan lebat juga tetap bekerja tanpa kenal lelah.

Ironisnya, penghargaan yang seharusnya diterima Pak Tani ternyata tidak dinikmatinya. Mengapa? Walau harga beras di pasaran menjadi semakin tinggi, namun Pak Tani tidak justru serta merta menjadi kaya atau banyak duit. Ia pun sempat mengeluh, karena untuk membeli beras tetap saja harganya melambung bukannya murah. Tak ada sejarahnya harga beras turun secara drastis. Kalau pun ada yang murah, beras raskin dapatnya. Yang untung justru para distributor atau pedagang besar.

Lalu dimana jasa Pak Tani ini ditempatkan?

Meski harga beras tetap melambung tinggi, Pak Tani yang notabene sebagai produsen tetap tidak menangguk untung besar. Panen padinya tidak memberikan hasil yang memuaskan. Hasil yang didapatnya hanya kembali ke sawah lagi yang digunakan untuk mengolah tanah, membeli benih, membayar tambahan tenaga, membeli pupuk dll. Kalaupun sisa, itu tidak seberapa dibanding untung yang didapat oleh para pedagang besar.

Indonesia, yang katanya sempat menjadi negara swasembada beras tempo dulu ternyata tak berkelanjutan sampai saat ini. Buktinya, impor beras tetap dilakukan dengan alasan untuk mencukupi kebutuhan beras nasional yang katanya kurang. Informasi lain mengatakan ketersediaan beras cukup, jadi mana yang benar? Padahal lahan yang ada di Indonesia ini tidak kurang bahkan lebih dari cukup, sebab Indonesia kan negara agraris.

Celakanya, lahan pertanian makin lama makin menyempit karena sudah digunakan untuk mendirikan bangunan perumahan. Coba aja lihat di Jakarta, berapa lahan pertanian yang masih tersisa? Di Kota Jogja saja lahan pertanian hanya tinggal beberapa saja. Itu pun terhimpit oleh perumahan yang sudah berdiri. Bahkan di sekitar tempat tinggal saya, yang dulu punya sekitar 1,5  hektar kini tinggal 1500 meter persegi.

Meskipun demikian, Pak Tani tetap saja dengan aktivitasnya dari waktu ke waktu, yakni menyediakan beras untuk kepentingan pangan nasional. Ia tidak ngambek, atau lantas demo besar-besaran sampai mogok menanam padi. Kalau itu terjadi, wah… bisa kacau pangan nasional kita. Pemerintah pasti juga bakalan bingung.

Saat kita makan nasi, jarang yang ingat sama Pak Tani. Saat kita beli beras tak ada yang menyebut-nyebut jasa Pak Tani. Yang diingat hanya harga yang selalu melambung tinggi . Yang disebut-sebut hanya jenis berasnya, enak ataukah tidak. Mungkinkah para petinggi yang duduk di atas sana juga ingat akan nasib Pak Tani? Saya yakin tak ada yang ingat, yang diingat barangkali adalah bagaimana agar makan tetap bisa makan dengan beras yang enak.

Sebenarnya Pak Tani tidak membutuhkan penghargaan, tidak perlu disebut-sebut namanya. Ia hanya butuh pacul atau cangkul. Ya, Pak Tani butuh pacul itu saja, namun pacul dalam arti luas menyangkut segala aspek termasuk pupuk, fasilitas pertanian, bantuan modal, hibah dan sebagainya yang berkaitan agar produksi beras tetap bagus dan melimpah. Kecuali petani seperti Bob Sadino, nah itu lain ceritanya.

Ya, saya rasa cuma itu. Pak Tani butuh pacul.

Anda yang orang Banjarmasin janganlah tertawa membaca yang terakhir ini, karena Pak Tani benar-benar butuh pacul.

Iklan

52 thoughts on “Pak Tani Butuh Pacul

  1. paculnya Pak Tani ini tanggung jawab kita bersama ya Mas buat menyediakannya.
    Ga usah beli beras Thailand dan semacamnya gitu ya? Dan yang lebih penting lagi peningkatan pengetahuan petani biar bisa memiliki daya saing yang lebih kuat saya rasa perlu dilakukan juga.

  2. Petani, seringkali berada pada posisi sulit. Ketika panenan melonjak, harga melorot. Ketika harga naik, pupuk menjadi langka. Yang lebih menyakitkan adalah ketika import beras terus digerojok, petani menjadi menangis

  3. Protes 😀 Yang menanam padi kebanyakan malah bu tani lho mas. Pak tani mah yang ndhaut, mluku, nggaru, dll 🙄

    — — —
    *Iyo lah, tapi sing butuh pacul tetep pak tani. Bu Tani butuh empring sing kanggo njejegke tandurane 🙂

  4. sebagian besar orang2 di tempatku tinggal biasa mencangkul kebunnya masing2 di rumah, termasuk saya, menyehatkan, dan tidak ada perbedaan antara kedudukan petani dan orang2 yang berprofesi lainnya misalnya pengacara, atau orang2 yang berkecimpung dalam dunia politik, semua diperlakukan sama oleh pemerintah, hak asasi hewan saja dijunjung tinggi, apalgi hak asasi manusia

  5. nah….hidup itu beragam yah? tapi jaman tambah maju..bertani ngga harus make pacul…make traktor he he he……dan semoga pak tani akan selalu dikenang

  6. bener sekali Pak, memang petani butuh pacul, termasuk buat macul org2 yg maunnya cuma ambil untung tanpa bersusah payah…….

    Ada apa di bagian tgerakhir? orang Banjarmasin kasih tau saya dong…..

  7. Yup, saya setuju.
    Para petani yang menanam padi dan merubahnya menjadi beras yang kita makan, sesungguhnya tidak butuh penghargaan. Mereka hanya perlu kemudahan dan kenyamanan dalam menghasilkan bahan pangan…
    🙂

  8. harusnya malu ya
    dulu kita bia swasembada beras kok sekarang impor
    jadi memang benar pak tani butuh pacul

    *buat macul kepala mentri pertanian dan perdagangan…

  9. hare gene masih macul? eits, maksudna sampe skrg nasib petani spt pacul gak berubah. dibutuhkan tp dicuekin. tragis. ironis.

  10. kalaupun hasil panen meningkat, pasti harganya akan tetep rendah. karena ketika panen raya tiba, selalu ada impor beras sehingga supply beras meningkat. di samping itu ada permainan harga dari tengkulak juga.

    *idem ama kalimat terakhir dari komen brow rawins

  11. Lah tempat saya di Flores ladang pertanian yang sudah sejak zaman sebelum merdeka mau dijadikan hutan lindung dan Petaniu silahkan mengungsi…. Najib,,,,

  12. Kampung saya, lahan sawah dan pertanian lainnya masih luas sampai sekarang, cuma bisa berharaf, kelak 10 tahun dan puluhan tahun ke depan gak akan diganti dengan lahan-lahan yang lain. Tetap sawah dan lahan pertanian yang luas, para petani pun hidup sejahtera dan tidak kekurangan pacul. 🙂

  13. kalo kata pak tani, kembalikan tanahku….

    mau nyangkul dimana coba kalo tanah pada dibangun gedung semua.. 🙂

    btw, itu pemerintah udah kayak makelar ajah yah. dari pada bantu petani nanam padi, nyedian bibit dll tapi hasilnya belum tentu, mendingan import ajah. keuntungannya lebih jelas.

  14. Waktu SMP saya pernah membantu ayah saya bertani menanam padi. Sawahnya menyewa dari petani. Untuk sawah seluas 500 meter persegi hasilnya lumayan. Selain kebutuhan untuk makan tercukupi, masih ada sisa untuk dijual. Petani desa umumnya sawahnya sempit sehingga hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kalau yang bisa jual itu petani yang sudah juragan. Umumnya mereka bukan petani, tapi memang orang kaya yang bisa menyewa lahan atau membeli sawah luas untuk bisnis beras.
    Dulu, untuk mengolah sawah biayanya sedikit karena semua dikerjakan sendiri. Dari bikin galengan, nyangkul, sampai nyebar, dikerjakan sendiri. Minta tolong buruh tani waktu ndaut (mencabut bibit), menanam, dan saat panen. Tidak perlu bayar, cukup bagi hasil dengan sistem derep. Misalnya, sistem 8:1 (artinya 8 bagian gabah milik ayah saya (yang punya sawah) dan 1 bagian milik buruh yang ikut memanen. Karena namanya hidup gotong royong, pada saat tanam dan panen kami menyediakan makan untuk mereka.
    Ayah saya sekarang sudah 83 tahun dan sudah tidak bisa bertani lagi. Yang masih bertani mertua saya yang tinggal di Lampung. Kata mertua saya, masalah bibit, mengolah lahan, dan merawat, petani sudah bisa mengatasi sendiri. Yang selalu jadi masalah adalah masalah pupuk atau mes. Masalahnya harganya mahal. Katanya disubsidi, tapi nyatanya masih harus nebus juga. Kadang yang subsidi hilang, yang ada hanya di pedagang.
    Kalau dulu, saya gak pakai mes. tapi pakai pupuk kandang karena kami memelihara kambing atau membeli pupuk kandang dari petani. Tapi kalau di tempat mertua saya di Lampung, budaya memeligara ternah untuk diambil pupuknya belum ada. Jadi hanya mengandalkan mes.
    Menurut saya, petani bisa membeli cangkul, bahkan mampu menyewa traktor. Yang perlu dibantu adalah adanya Pusat Pertanian yang bisa membantu mencarikan pupuk dengan harga wajar dan memasarkan hasil pertanian dengan harga menguntungkan tanpa dipermainkan oleh tengkulak. Sekarang ini, semua hasil pertanian yang menentukan harga adalah pedagang besar dari Jakarta.
    Semoga berguna…

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s