Sayangilah Ibumu Setiap Waktu

Beberapa waktu yang lalu saya menerima email dari seorang teman. Intinya ia ingin mengingatkan bahwa tanggal 22 Desember adalah hari ibu. Isi email tersebut mungkin sudah pernah diposting dan diantara pembaca semua pun barangkali sudah pernah membacanya. Tapi tak mengapa, posting ini pun hanya sekedar mengingatkan saja akan kasih ibu kepada kita yang tak terhingga sepanjang masa.

Ini adalah sebuah cerita mengenai nilai kasih ibu kepada seorang anak sekaligus kisah nilai cinta seorang anak kepada ibunya. Suatu kebetulan seorang anak mendapati ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Di pandanginya sang ibu dan sebentar kemudian dia mengulurkan tangan yang memegang sehelai kertas yang bertuliskan sesuatu. Si ibu segera membersihkan tangan lalu menerima kertas yang dihulurkan oleh si anak. Sejurus kemudian si ibu asyik membacanya kertas yang diberikan si anak.

Apakah yang ditulis si anak di dalam sehelai kertas itu?

Dalam sehelai kertas itu si ibu mendapati daftar yang dibuat anaknya yang antara lain isinya begini :

Upahku membantu ibu :

  • membantu pergi ke warung/belanja Rp. 20.000
  • menjaga adik Rp. 20.000
  • membuang sampah Rp. 5.000
  • membereskan tempat tidur Rp10.000
  • menyiram bunga Rp. 15.000
  • menyapu halaman Rp. 15.000

Total upah yang harus dibayar Rp. 85.000

Selesai membaca daftar yang dibuat si anak, si ibu pun tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar. Lalu si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama tersebut dan disodorkan kepada si anak. Ternyata si ibu juga memberikan daftar seperti yang dibuat si anak yang isinya adalah :

  • ongkos mengandungmu selama 9 bulan GRATIS
  • ongkos melahirkanmu GRATIS
  • ongkos menyusuimu waktu masih bayi GRATIS
  • ongkos bangun malam karena menjagamu GRATIS
  • ongkos air mata yang menetes karenamu GRATIS
  • ongkos khawatir selalu memikirkan keadaanmu GRATIS
  • ongkos makan minum, pakaian dan keperluanmu GRATIS

Jumlah keseluruhan nilai kasihku GRATIS

Begitu kertas disodorkan langsung dibaca si anak. Sejenak si anak termenung dan air mata si anak berlinang setelah membaca tulisan yang dibuat ibunya. Si anak menatap wajah ibunya memeluknya dan berkata : “Saya Sayang Ibu”. Terakhir si anak mengambil pena dan menulis sesuatu di depan daftar yang ditulisnya pada kertas tadi dengan huruf balok “TELAH DIBAYAR”.

Untuk kita renungkan :

Dari kisah tadi kita memperoleh makna yang dalam bahwa kasih ibu kepada anaknya tak bisa dinilai dengan apapun juga.

Diantara kita, mungkin banyak yang tidak sabar saat menghadapi orang tua yang sudah lanjut dan renta dimakan usia. Padahal pengorbanan mereka untuk mengasuh dan merawat kita sejak masih bayi hingga dewasa, bahkan bisa menjadi orang sukses tiada terkira. Tak dapat dinilai dengan apapun jua. Kesabaran mereka dalam menghadapi perilaku anak yang terkadang nakal dan bengal pun tak perlu diragukan lagi.

Kasih sayang orang tua tulus untuk anak-anaknya. Apa pun mereka lakukan demi kebaikan kita di masa mendatang. Khususnya ibu, ia rela membawa beban berat di perutnya saat masih mengandung kemudian mempertaruhkan nyawa saat melahirkan. Ia rela terbangun dari tidur lelapnya hanya karena mengganti popok yang basah karena kita ngompol. Ia pun mau tidak tidur karena tangisan kita yang lapar lalu memberikan ASI-nya. Dan ketika kita sakit, ibu juga yang begadang hingga semalaman karena harus menunggui anaknya tanpa menghiraukan letih dan lelah.

Lalu, saat ibunda berada di usia senja dengan tubuh renta dan lemah, mengapa kita menjadi tidak sabar melayaninya sebagaimana yang pernah mereka lakukan dulu kepada kita? Bahkan terkadang kata-kata tak sedap dan bentakan pun muncul dari mulut kita karena kerewelan orang tua.

Jangan lupakan peran ibu terhadap kita. Karena ibu menyayangi dan mengasihi kita jauh dari pamrih apapun jua. Biarpun sudah tua renta dan pikun, tidak sepantasnya kita memisahkan beliau dari sisi kehidupan kita. Apalagi sekedar dititipkan di panti jompo karena kita tidak ingin repot dan hanya untuk menghindari kerewelannya.

Kasih ibu tulus tak terhingga yang tiada berharap balasan dari anak-anaknya. Maka sayangilah ibumu khususnya dan orang tuamu pada umumnya.

Selagi mereka masih ada, kesempatan berbakti dan membalas kebaikan orang tua masih sangat terbuka. Kita akan merasa menyesal dan pasti sangat kehilangan tatkala mereka sudah pergi selamanya dan tidak lagi berada di tengah-tengah kehidupan kita.

Iklan

41 thoughts on “Sayangilah Ibumu Setiap Waktu

  1. Sebagai seorang ibu dengan 5 anak, saya mengerti sekali apa arti cerita diatas.
    Trimakasih sudah memberikan penghargaan kepada sosok ibu.

    Tapi kadang saya mengajarkan kpd anak, tentang bagaimana jika ingin mendapatkan sesuatu. Yaitu dgn bekerja. Pada saat2 tertentu, bila anak sdg mengharapkan subuah barang, tidak langsung dibelikan. Tapi saya minta tolong kepada anak, kemudian saya bayar. Agar dia mrs utk mendapatkan barang itu dia harus berusaha.
    Jadi kadang saya juga disodori dgn daftar seperti itu. Dan anak bisa membeli barang idamannya setelah berusaha dulu.

  2. Terima kasih Mas diingatkan kembali pengorbanan dan kasih sayang ibu, ibu telah meneladani melaksanakan bagiannya, semoga kitapun dimampukan melakukan bagian kita. Salam

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb,

    SELAMAT HARI IBU untuk semua anak-anak, ayah dan ibu-ibu di Indonesia yang meraikan HARI IBU pada hari ini. Sebagai menghargai ibu yang dicintai, saya menghadiahkan 2 AWARD HARI IBU untuk dijadikan kenangan dari Malaysia.

    Silakan kutip award-award tersebut di sini: mas Muhammad…

    http://webctfatimah.wordpress.com/2012/12/22/ct143-22-disember-2012-selamat-hari-ibu-untuk-sahabatku-ibu-ibu-di-indonesia/

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.

  4. ” Sungguh merugi seseorang yang mempunyai orang tua yang renta tetapi tidak bisa membuat dirinya masuk surga ” kutipan dari hadits atau perkataan ulama (maaf nggak inget)

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s