Hijrah Menuju Kebaikan

Konsep hijrah yang selama ini kita pahami adalah pindahnya Rasulullah Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Beliau meninggalkan tanah kelahirannya yang berpenduduk kaum kafir Quraisy menuju negeri Yastrib, yang kemudian menjadi Madinah. Orang-orang yang berhijrah mengikuti nabi tersebut lantas mendapat sebutan sebagai kaum muhajirin, sedangkan penduduk Madinah yang menampung kaum muhajirin itu kemudian disebut sebagai kaum anshor.

Akan tetapi sebenarnya hijrah itu sendiri  bisa mempunyai dua arti, yaitu hijrah makani (hijrah secara fisik atau berpindah tempat) dan hijrah maknawi (hijrah dalam arti filosofis). Hijrahnya Rasulullah dimaknai sebagai hijrah secara fisik atau tempat). Dari sinilah awal mulanya penetapan tahun hijriyah, didasarkan pada peristiwa hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah.

Raqib Al-Ishfahani, seorang pakar leksikografi Al Qur’an memberikan makna hijrah ke dalam tiga arti yaitu :

  1. Meninggalkan negeri yang berpenduduk kafir ke negeri yang berpenduduk muslim
  2. Meninggalkan akhlak buruk atau perbuatan tercela kepada kebaikan (akhlakul karimah)
  3. Menundukkan hawa nafsu untuk martabat kemanusiaan (mujahadah an-nafs)

Kalau melihat ketiga poin di atas, kiranya poin pertama tersebut tidaklah diperlukan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri kita, karena penduduk Indonesia ini mayoritas adalah muslim. Namun kalau melihat kondisi masyarakat kita dewasa ini, mungkin poin kedua dan ketiga tersebut bisa kita jadikan pertimbangan untuk berhijrah.

Moral yang makin tidak tertata sudah mendominasi berbagai sektor kehidupan. Mulai dari tawuran pelajar, korupsi, kasus narkoba, pungli, mafia peradilan, tender yang tidak dilakukan secara jujur hingga mafia narkoba yang ditengarai masuk istana menjadi segelintir bukti bahwa moral sebagian masyarakat sudah semakin parah.

Belum lagi para calo  yang menawarkan jasa perekrutan pegawai negeri yang menjanjikan lolos seleksi alias diterima dengan membayar sejumlah uang menambah perbendaharaan kebejatan moral di lingkungan aparatur negara. Padahal, jika mereka itu sudah bermoral baik tentu hal-hal tersebut tak akan pernah dilakukan sehngga tes seleksi pun akan berjalan lebih jujur, adil dan transparan hasilnya.

Agaknya akan lebih tepat kiranya jika di tahun baru hijriyah ini kita mencoba untuk menghayati lagi makna hijrah secara komprehensif. Tak hanya hijrah dalam artian berpindah tempat saja, tetapi hijrah kepada kebaikan baik itu moral, sikap, sifat, perilaku maupun tindakan dan perbuatan hendaknya dapat kita lakukan.

Demikian pula seandainya kita merasa sesuatunya sudah terlihat baik, tak ada salahnya untuk lebih ditingkatkan lagi sehingga kualitas diri kita di hadapan Allah SWT pun akan selalu bernilai dan berkualitas. Sebagaimana yang selalu diharapkan orang dari waktu ke waktu, dari tahun ke tahun bahkan sepanjang waktu. Kita berhijrah menuju kepada kebaikan.

Iklan

Kualitas Hati Manusia

Di dalam diri manusia ada segumpal daging, yang jika baik daging itu maka baik pula manusia. Sebaliknya, jika buruk daging itu maka buruk pula kualitas  orangnya. Daging yang dimaksud adalah hati. Pada lain hal,  setiap amalan manusia tergantung dari niatnya. Jika niatnya baik maka akan baiklah amalnya, tetapi jika niatnya tidak baik maka amalnya pun akan bernilai jelek.

Kedua hal di atas amat berkaitan dengan hati, yang dalam hal ini bukan hati sebagai organ tubuh. Hati sebagai organ tubuh biasa disebut sebagai liver menurut ilmu kedokteran. Yang dimaksud adalah qalbu, maka tak heran jika kemudian ada orang berkata sedang sakit hati, tentu yang sakit bukan organ livernya.

Hati merupakan cerminan segala perbuatan yang kita lakukan dan perbuatan belum tentu merupakan cermin hati. Perbuatan yang kelihatannya baik bisa saja ada niat jelek yang tersembunyi di dalamnya.

Kita ambil contoh sedekah, bila dilandasi sifat riya’ atau ingin dianggap sebagai orang dermawan maka sedekah itu tak ada nilainya. Demikian pula sholat, zakat maupun amalan-amalan lainnya sehingga dalam salah satu ayat, Allah menyatakan celaka bagi orang-orang yang shalat. Hal itu disebabkan karena mereka itu lalai dari shalatnya dan senang berbuat riya.

Termasuk dalam hal ini kurban yang dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha kemarin. Kalau tidak dilandasi sifat ikhlas tentu yang didapat bukanlah ketaqwaan pada Allah. Berkurban bukan karena Allah, tetapi karena menginginkan namanya sering disebut-sebut sebagai sohibul qurban atau karena niat yang lainnya.

Dalam Al Qur’an dinyatakan ada beberapa tingkatan kualitas hati sehingga masing-masing dari kita dapat menilai ada di kualitas yang manakah hati kita selama ini. Kualitas hati yang disebut dalam firman Allah itu antara lain :

  1. Hati yang berpenyakit, yaitu orang yang dalam hatinya terdapat sifat atau rasa iri, dengki, dendam, pendusta, munafik, riya’, kasar dan sifat-sifat yang sejenisnya. Sebagaimana disebutkan dalam Surat Al Baqarah ayat 10 : “Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta”. Kemudian dalam Surat Al Hajj ayat 53 juga disebutkan : “Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu benar-benar dalam permusuhan yang sangat”.
  2. Hati yang mengeras, yaitu hati yang berpenyakit namun tak diobati sehingga menyebabkannya menjadi keras. Kerasnya hati tersebut menyebabkan seseorang tak lagi mempunyai kepekaan terhadap jeleknya perbuatan yang dilakukan. Bahkan perbuatan jahat pun akan dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Allah pun menyinggung hal ini dalam Surat Al An’am ayat 43 : “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan”.
  3. Hati yang membatu, yaitu kualitas hati yang makin memburuk kondisinya sehingga kalau tak disadari akan meningkat kualitas keburukannya. Sebagaimana Allah berfirman : “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantra batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”. (Surat Al Baqarah : 74)
  4. Hati yang tertutup, jika hati sudah tertutup maka ia tidak lagi bisa menerima petunjuk, tetapi masih menunjukkan reaksinya. Setiap kebaikan pasti akan dikesampingkannya. Allah menyatakan hal itu dalam firmanNya : “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka”. (Surat Al Muthaffifin : 14)
  5. Hati yang mati, kalau hati sudah tertutup maka tingkat yang lebih buruk lagi adalah hati menjadi mati. Mereka yang memiliki hati yang sudah mati sudah tidak akan bereaksi lagi dalam menerima petunjuk. Diberi petunjuk ataukah tidak sama saja, tak ada bedanya. Firman Allah : “Sesungguhnya orang-orang kafir itu, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa amat berat”. (Surat Al Baqarah : 6-7)

Namun demikian ada satu kualitas hati yang baik, yaitu hati yang suci di mana ia akan selalu bergetar apabila disebut nama Allah, sebagaimana yang disebut di dalam Surat Al Hajj ayat 35 :

“(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rizkikan kepada mereka”.

Orang yang memiliki hati seperti itu lembut dan ikhlas adanya. Ia akan mudah iba melihat penderitaan orang lain, suka menolong sesama, tidak suka kekerasan, sabar, penuh kasih sayang, pemaaf, penuh keikhlasan, dan selalu ingin berbuat amal kebaikan.

Lalu, bagaimana caranya agar kualitas hati kita itu menjadi semakin baik? Atau jika hati kita sakit bagaimana mengobatinya?

Tentu semua masih ingat lagunya Opik. Obat hati ada lima perkaranya. Yang pertama baca Qur’an dan maknanya. Yang kedua, sholat malam dirikanlah. Yang ketiga berkumpullah dengan orang-orang sholeh. Yang keempat, perbanyaklah berpuasa. Yang kelima dzikir malam perpanjanglah. Salah satunya siapa bisa menjalani (kalau bisa semua dijalani), moga-moga Gusti Allah mencukupi.

Mudah-mudahan kita terhindar dari kualitas hati yang jelek seperti di atas. Sedapat mungkin kita mengarahkan hati kita agar menjadi hati yang suci diantara orang-orang yang beriman. Meskipun kenyataannya sulit, dengan niat yang sungguh-sungguh insya Allah, Allah SWT memberikan kemudahan.

Nasehat Imam Al Ghozali

Dalam suatu majelis ilmu, terjadi dialog antara Al Ghozali dengan murid-muridnya. Imam Al Ghozali memberikan beberapa pertanyaan kepada murid-muridnya. Setiap jawaban oleh Al Ghozali kemudian langsung dijelaskan dengan referensi Al Qur’an.

Tanya : Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Jawab : Orang tua, guru, kawan, kekasih, saudara…

Penjelasan : Semua mungkin benar, tetapi hakekatnya yang paling dekat dengan kita adalah “kematian”. Kenapa? Sebab, itu merupakan janji Allah. Setiap yang hidup pasti akan mati. (QS. Ali Imran : 185).

Tanya : Apa yang paling jauh di dunia ini?
Jawab : Negeri Cina, bulan, matahari, bintang…

Penjelasan : Semua jawaban mungkin benar, tetapi yang paling benar adalah “masa lalu”. Karena dengan cara apapun kita tidak pernah bisa mencapainya kembali. Oleh karena itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang. “Wal tandhur nafsun maa qaddamat lighodin…” (QS. Al Hasyr : 15)

Tanya : Apakah yang paling besar di dunia ini?
Jawab : Gunung, bumi, matahari, gurun pasir, lautan…

Penjelasan : Semua jawaban benar, tapi yang paling benar adalah “nafsu”. Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, karena nafsu bisa membawa kita terjungkal ke neraka (QS. Al A’raf : 179)

Tanya : Apa yang paling berat di dunia ini?
Jawab : Besi, gajah, batu besar, Ka’bah…

Penjelasan : Semua jawaban bisa benar, tetapi yang paling berat adalah “memegang amanah”. Setiap pemegang amanah nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah (QS. Al Ahzab : 72)

Tanya : Apa yang paling ringan di dunia ini?
Jawab : air, kapas, bulu, angin, debu, daun…

Penjelasan : Jawaban itu dapat dibenarkan, tetapi yang paling ringan adalah “meninggalkan sholat”. Hanya gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat. Hanya gara-gara musyawarah, rapat, diskusi kita tinggalkan sholat. Padahal sholat dikerjakan tidak memakan waktu lama.

Tanya : Apa yang paling tajam di dunia ini?
Jawab : Pedang, belati, tombak, batu runcing, anak panah…

Penjelasan : Jawaban itu benar, tetapi semua itu masih kalah tajam dengan “lidah manusia”. Dengan lidahnya, manusia dapat melukai dan menyakiti hati saudaranya sendiri. Luka dan sakitnya tak bisa sembuh sampai mati. Bahkan dengan lidahnya yang kecil itu, manusia bisa menyombongkan sesuatu menjadi besar.

Demikian nasihat-nasihat Imam Al Ghozali untuk dapat kita jadikan sebagai pelajaran dan bahan renungan.

Tanda-tanda Datangnya Lailatul Qadar

Allah memberitahukan melalui firmanNya bahwa Al Qur’an diturunkan pada malam yang penuh berkah (QS. Ad Dukhaan : 3), sedangkan malam itu ada pada bulan Ramadhan (QS. Al Baqarah : 185). Malam yang penuh berkah dan disebut sebagai Lailatul Qadar, yaitu suatu malam yang agung dan utama di sisi Allah. Hal ini secara gamblang difirmankan dalam Al Qur’an melalui Surat Al Qadar ayat 1-5. Di situ Allah menegaskan tentang keutamaan Lailatul Qadar, yakni malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Tetapi apa dan bagaimana Lailatul Qadar itu secara lebih lanjut, Al Qur’an tidak menjelaskan secara rinci. Begitu pula Rasulullah SAW tidak memberikan gambaran secara khusus dalam hal ini. Kaum muslimin hanya diperintahkan untuk mencarinya pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, terutama di malam-malam ganjil.

Di tengah masyarakat banyak berkembang cerita-cerita bahwa Lailatul Qadar itu datang dengan membawa tanda-tanda tertentu. Ada tanda-tanda fisik yang menyertainya sehingga dapat dengan mudah diketahui oleh orang yang memperhatikan keadaan alam. Misalnya air yang membeku di berbagai tempat, menunduknya pepohonan, binatang-binatang tak ada yang bersuara, malam yang sangat hening, tak ada angin berhembus, semua benda pada bersujud di hadapan Allah dan sebagainya.

Opini yang bermunculan tersebut pada akhirnya membekas dan menimbulkan sebuah anggapan baru bahwa apabila orang tidak mendapati tanda atau gejala alam yang demikian berarti tidak memperoleh Lailatul Qadar. Gejala fisik yang ditunjukkan alam menjadi tolok ukur seseorang telah memperoleh Lailatul Qadar ataukah tidak dalam hidupnya.

Sebenarnya adakah tanda-tanda mengenai turunnya Lailatul Qadar?

Dalam sejumlah hadits hanya disebutkan bahwa turunnya Lailatul Qadar baru dapat diketahui pada pagi harinya, bukan pada saat malam ketika ia turun, seperti beberapa hadits di bawah ini :

Dalam hadits Ubay bin Ka’ab RA, beliau berkata bahwa: Rasulullah SAW mengabarkan kepada kami: “Keesokan hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR. Muslim)

Ibnu Abbas RA berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Lailatul Qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist Hasan)

“Tandanya adalah matahari terbit pada keesokan harinya putih cemerlang, sinarnya tidak panas seperti mangkuk.” (HR. Ahmad)

Dari Zirr bin Hubaisy berkata: “Aku berkata kepada Ubay bin Ka’ab RA, ‘Sesungguhnya saudara Anda, Ibnu Mas’ud menyatakan bahwa barangsiapa melakukan shalat malam sepanjang tahun niscaya ia akan mendapatkan Lailatul Qadar’. Maka Ubay bin Ka’ab berkomentar: “Dia ingin agar masyarakat tidak mengandalkan (pencarian Lailatul Qadar pada satu malam tertentu saja). Dia sendiri sebenarnya mengetahui bahwa Lailatul Qadar terjadi di bulan Ramadhan, yaitu pada sepuluh malam terakhir, lebih tepatnya pada malam kedua puluh tujuh.” Ubay bin Ka’ab lalu bersumpah bahwa Lailatul Qadar pasti terjadi pada malam kedua puluh tujuh. Aku (Zirr bin Hubaisy bertanya) kepadanya, “Wahai Abu Mundzir, atas dasar apa Anda berkata begitu?” Ubay bin Ka’ab menjawab, “Dengan pertanda yang telah Rasulullah SAW beritahukan kepada kami, yaitu pada keesokan harinya matahari terbit namun sinarnya tidak panas membakar.” (Diriwayatkan oleh Muslim, Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad)

Dari beberapa hadits di atas, nampaklah bahwa gejala alam turunnya Lailatul Qadar itu baru dapat diketahui pada pagi harinya.

Berikut beberapa kesimpulan berdasarkan sejumlah hadits mengenai tanda-tanda turunnya Lailatul Qadar :

  1. Cahaya matahari bersinar lemah, terang namun tidak membakar berwarna kemerah-merahan
  2. Malam yang tenang cerah, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan) (HR. At-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir dengan sanad hasan)
  3. Udara dan suasana pagi yang tenang
  4. Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya nikmat ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya.
  5. Terbawa dalam mimpi seakan-akan melihat wajah Allah sehingga seluruh tubuh akan tergetar (merinding) sebagaimana yang dialami oleh sebagian sahabat

Ketika Lailatul Qadar turun, apakah setiap orang yang terjaga otomatis akan mengetahui kehadirannya?

Tak ada yang bisa memastikannya, hanya Allah saja yang mengetahuinya. Sebab kalau hanya berdasarkan pengamatan terhadap gejala-gejala yang ditunjukkan alam, maka setiap orang pasti akan dengan mudah mengetahuinya termasuk mereka yang tidak mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, dan juga mereka yang sedang berbuat maksiat.

Keagungan dan keutamaan Lailatul Qadar hanya akan diraih oleh orang-orang tertentu yang telah dipilih olehNya. Mereka yang telah terpilih akan menerima Lailatul Qadar dengan tingkat kesadaran dan kesucian yang sangat memungkinkan bagi mereka untuk menerimanya. Itulah sebabnya kita dianjurkan supaya beri’tikaf, mensucikan diri dan hanya fokus mendekatkan diri kepada Allah. Saat itulah merupakan saat yang sangat menentukan bagi sebuah perjalanan hidup seseorang pada masa mendatang menuju kebaikan dan kemuliaan.

Mengetahui ataukah tidak datangnya Lailatul Qadar bukanlah persoalan, ibadah harus tetap jalan terus. Ganjil ataukah genap malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan tak jadi masalah, kita tetap konsisten dan istiqomah dalam beribadah. Lailatul Qadar adalah sebuah anugerah dan karunia Allah yang teramat agung, namun Allah Maha Agung dengan segala Keagungan dan KuasaNya yang meliputi seluruh alam semesta.

Wallahu Alam…

Meraih Malam Kemuliaan

Ramadhan telah masuk pada periode sepuluh hari terakhir. Pada saat inilah Allah mengobral ganjaran atau pahala kepada hamba-Nya yang melakukan amal kebaikan. Kalau pada sepuluh hari pertama Ramadhan merupakan masa dimana Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, dan sepuluh hari kedua merupakan periode pengampunan dosa-dosa, maka pada sepuluh hari yang terakhir adalah masa pembebasan diri dari api neraka.

Namun demikian untuk lebih menambah semangat kita berpuasa di bulan Ramadhan, jangan lupakan juga bahan bakar puasa Ramadhan yang ada di sini.

Pada sepuluh hari terakhir ini pula, umat Islam yang berpuasa dianjurkan untuk berbondong-bondong melakukan I’tikaf di masjid. Karena pada malam-malam ganjil Allah menurunkan suatu malam yang penuh dengan kemuliaan yang disebut sebagai Lailatul Qadar. Inilah hal yang paling istimewa yang terjadi di bulan Ramadhan. Titik puncak obral pahala dari Allah SWT terjadi pada malam yang mulia ini. Setiap amal kebaikan yang dikerjakan sama nilainya dengan seribu bulan atau kurang lebih 83 tahun (QS. Al Qodar : 1-5).

Dapat dibayangkan, ketika kita melakukan shalat, sedekah, taddarus, infaq dan ibadah lainnya berapa nilai ganjaran yang bakal kita peroleh. Kalau setiap amal kebaikan di bulan Ramadhan saja sudah mendapatkan balasan ganjaran sebesar sepuluh kali lipat, apalagi di malam kemuliaan. Satu kali saja amalan dilakukan sudah sama dengan bila kita melakukan satu amalan selama 83 tahun. Allah tidak tanggung-tanggung mengobral ganjaran bagi hamba-hamba-Nya.

Namun, semua itu bukan berarti bisa kita dapatkan begitu saja tanpa usaha. Konsekuensi yang harus dilakukan untuk memperoleh anugrah dari Allah itu tentu saja dengan upaya yang tidak ringan. Perlu kesungguhan bila ingin mendapatkan karunia memperoleh Lailatul Qadar.

Di beberapa daerah sering ada istilah malam selikuran dengan berbagai cara untuk menyambutnya. Hal ini dimaksudkan agar tumbuh niat dan kesungguhan untuk mengoptimalkan ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Banyak orang berharap akan Lailatul Qadar dengan melakukan I’tikaf di masjid selama sepuluh hari terakhir itu. Dan menurut beberapa rujukan, malam kemuliaan itu biasanya turun pada malam-malam ganjil.

Rasulullah bersabda : “Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil (khususnya) pada sepuluh hari terakhir Ramadhan” (HR. Bukhari dari Aisyah).

Semasa hidupnya, Rasulullah selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadhan sampai beliau wafat, demikian disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari-Muslim dari Aisyah.

Masih banyak lagi hadits-hadits yang menerangkan untuk mencari Lailatul Qadar pada malam ganjil. Karena istimewanya malam itu, maka malaikat pun berbondong-bondong turun ke bumi untuk mengatur segala urusan. Lailatul Qadar sendiri merupakan rahasia Allah, tak seorangpun mengetahui kapan ia diturunkan. Sampai-sampai Rasulullah berpesan untuk mencarinya di malam ganjil pada sepuluh hari yang terakhir.

Seandainya Lailatul Qadar sudah ditentukan waktunya dan bukan merupakan sebuah rahasia lagi, niscaya orang tak akan mau bersusah payah menyongsong datangnya malam itu. Cukup langsung kerjakan amal kebaikan dan beri’tikaf pada waktu tertentu saja, maka mereka akan langsung mendapatkannya. Tetapi karena ini masih merupakan rahasia besar, maka mau tidak mau kita mesti rajin dan intens dalam menghidupkan malam di sepuluh hari yang terakhir Ramadhan.

Terlebih lagi, kalau sebelumnya terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan awal Ramadhan. Bukankah ada banyak malam ganjil? Malam ke 21 bagi satu umat bisa jadi malam yang ke 22 bagi umat Islam yang lain, demikian pula sebaliknya. Dan bisa jadi semua malam adalah malam ganjil, tak ada malam-malam genap. Dan Lailatul Qadar akan turun pada malam yang mana? Hanya Allah yang mengetahuinya.

Lalu bagaimana baiknya melakukan I’tikaf?

Meskipun dalam hadits dinyatakan untuk mencari Lailatul Qadar pada malam ganjil, menurut hemat saya, I’tikaf sebaiknya dilakukan setiap malam dan tidak terpaku pada malam ganjil atau genap. Sebab kalau hanya terpaku pada malam ganjilnya saja, itu menandakan bahwa kita ini termasuk golongan orang yang malas, mau dapat enaknya. Inilah mengapa waktu turunnya Lailatul Qadar tidak diketahui dan merupakan rahasia Allah semata. Itu semua dimaksudkan agar manusia lebih giat dan bersungguh-sungguh dalam menyongsong malam kemuliaan itu.

Kalau perlu, I’tikaf boleh dilakukan semenjak hari pertama Ramadhan pada setiap malam. Toh, di masjid kita bisa melakukan shalat malam, taddarus Al Qur’an, dzikir dan amalan lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bila hal ini sudah biasa dilakukan, Insya Allah pada sepuluh hari yang terakhir kita tak berpikir lagi apakah ini malam ganjil atau malam genap. Ibadahnya dapat, niatnya untuk beri’tikaf pun tidak percuma.

Apabila suatu saat kita mendapat karunia dari Allah SWT dengan ditunjukkan datangnya Lailatul Qadar apa yang mesti dilakukan?

Rasulullah SAW mengajarkan untuk membaca : “Asyhadual Laa Ilaaha Ilallah, Astaghfirullah, As’alukal Jannata Wa Audzubika Minannaar. Allahumma Innaka Afuwwun Tuhibbul Afwa Fa’fuanna”

Mari kita tingkatkan amal ibadah kita di sepuluh hari terakhir Ramadhan dan beri’ktikaf di masjid. Siapa tahu kita dikaruniai Allah dengan memperoleh malam kemuliaan itu. Insya Allah segala dosa kita diampuni, kita terhindar dari api neraka dan termasuk ke dalam golongan orang yang masuk surga.

Ammiin, Yaa Rabbal ‘alamiin.

Amalan Bagi Yang Hamil

klik gambar untuk memperbesar

Amalan ini dikasih oleh Pak Drs. KH. Muhadi Zainuddin, Lc, Sesepuh dan Pembina Pondok Pesantren Al Muhsin Krapyak Yogyakarta, waktu istri saya hamil.  Dibaca sesudah sholat fardhu dan setiap malam sesudah sholat tahajjud.

Beliau berpesan untuk menyebarluaskan ini kepada siapa saja terutama bagi  yang sedang hamil. Sejauh ini baru saya sebarkan kepada teman-teman di dunia nyata. Agar lebih jauh dan meluas lagi saya posting ini untuk rekan-rekan di dunia blog  terutama bloggerwati baik untuk sendiri, istri, kakak, adik, famili, tetangga dan sebagainya, melengkapi “Tujuh Resep Agar Tetap Lengket”,

Silahkan saja diterima bagi yang memerlukannya. Tidak juga tak apa-apa karena ini hanya sebuah amalan, masih banyak bacaan atau do’a lain yang bisa diamalkan.

Tujuh Resep Agar Tetap Lengket

Bulan syawal disebut sebagai bulan peningkatan. Peningkatan iman, peningkatan amal ibadah, peningkatan kualitas hidup maupun peningkatan dalam beragama. Namun di sebagian masyarakat, Syawal juga dianggap sebagai peningkatan pengeluaran, karena pada bulan ini banyak hajatan di gelar. Dari sungkeman di keluarga, syawalan atau halal bi halal, syukuran sampai pada hajat mantu atau pernikahan.

Bulan ini saja saya sudah mendapat tiga undangan pernikahan dari tetangga dan teman sekantor. Lumayan, setiap minggu saya mendatangi hajatan mantu hingga tanggal 25 September nanti. Yang jelas pengeluaran tak terduga pun menambah jadwal merogoh isi kantong.

Satu hajatan mantu yang menarik perhatian saya adalah ada satu materi yang disampaikan yang cukup bagus bagi kita, khususnya untuk pasangan penganten yang baru menikah yaitu mengenai bekal untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang disampaikan oleh seorang kawan, kyai pengasuh pondok pesantren di Krapyak, Jogjakarta.

Berikut isi materi yang dapat saya rangkum untuk menjadi bekal kita semua.

Dalam menjalani kehidupan bahtera rumah tangga bagai orang mengarungi samudera nan luas dan penuh gelombang. Siang, malam. Panas dan hujan bahkan badai dan gelombang harus kita lalui. Cuaca yang tidak pernah dapat kita prediksi bisa datang dengan tiba-tiba. Kita harus selalu siap untuk menghadapinya.

Perjalanan yang panjang dan sangat melelahkan dengan tujuan pantai kebahagiaan, tentunya kita harus mempersiapkan berbagai keperluan keperluan dan bekal agar perjalanan kita lancar. Dan yang tidak kalah penting adalah persiapan diri dan mental agar ketika datang badai dan gelombang kita siap menghadapinya, tidak grogi, takut atau bahkan gentar dengan gelombang dahsyat itu.

Untuk memulai perjalanan itu ada tujuh hal yang perlu diperhatikan :

1. Kita perlu mempersiapkan kapal yang kokoh agar tidak mogok ditengah jalan.

Kapal yang kokoh adalah rumah tangga harus dibangun atas dasar taqwa, cinta, suka sama suka dan didukung dengan kedua belah pihak keluarga yang merestui serta mengharap ridho ilahi. Niat dan bulatkan tekad atas dasar Lillahita’ala insya Allah rumah tangga akan kokoh dengan landasan Taqwa.

2. Mesinnya betul-betul bagus. Mesin yang bagus adalah hati.

Suami istri harus punya tujuan sama. Berumah tangga bukan hanya sekedar melepas nafsu birahi, tetapi harus punya tujuan mencetak generasi penerus bangsa yang kuat, tangguh serta bertaqwa kepada Allah SWT. Tanpa punya perasaan sehati, mana mungkin tujuan akan tercapai. Maka suami istri harus tahu kepribadian masing-masing. Ini yang dinamakan Ta’aruf.

3. Bahan bakar yang cukup dan memadai.

Bahan bakar adalah akhlaq, karena kalau hanya punya cinta dan perasaan tapi tidak dibarengi dengan akhlaq mulia jangan harap kita bisa menguasai medan perjuangan itu. Akhlaq adalah bertujuan saling menghargai, menghormati, menyayangi, penuh dengan senyuman. Ini dinamakan Tabassum yang sangat dianjurkan rasulullah SAW.

4. Membawa peta untuk pedoman perjalanan agar tidak nyasar atau tersesat.

Petanya adalah Al Qur’an dan Hadits. Ketika menemukan kesulitan, keresahan maka bacalah Al Qur’an kembalikan kepada Allah. Suami dan istri harus saling mengingatkan dan Ta’awun atau kerja sama dalam menghadapi kesulitan hidup.

5. Membawa peralatan atau onderdil kalau-kalau diperjalanan macet.

Peralatannya adalah nasehat. Sepenuh apa pun cintanya suami terhadap istri atau istri terhadap suami, kesalahpahaman pasti ada. Maka kita butuh nasehat-nasehat orang tua, ustadz atau orang yang lebih berpengalaman untuk memperbarui cinta atau memperbarui tujuan hidup yang salah. Maka setelah kita mendapat nasehat akan ada tumbuh saling menghargai kesalahpahaman itu. Ini dinamakan Takarrum atau saling menghargai.

6. Nahkoda yang lihai mengemudikan kapal itu.

Nahkodanya adalah suami. Suami harus pandai memainkan peranan, harus bisa menjadi panutan, harus cerdas melihat situasi agar penumpangnya tenang, aman dan nyaman. Tentunya menjadi supir atau nahkoda tidak boleh ugal-ugalan. Bahkan seburuk apapun cuaca yang dihadapinya, nahkoda tetap tenang, perlahan tapi pasti tetap dia lalui. Maka seluruh penumpang pasti akan menghormati dan menghargainya. Penghargaan itu akan datang dengan sendirinya. Mungkin berupa ucapan, ciuman, pelukan bahkan dengan kepasrahan diri penumpang itu yang tak lain adalah istri. Inilah yang dinamakan Tala’ub.

7. Membawa bekal yang cukup.

Bekal yang cukup berupa kepasrahan. Dalam menjalani kehidupan rumah tangga kita harus banyak berusaha dan berdo’a. Karena usaha tanpa do’a akan sia-sia, do’a tanpa usaha adalah angan-angan belaka. Suami istri harus bisa bekerja sama untuk melindungi perjalanan panjang. Suami tahu kebutuhan istri, sebaliknya istri sangat tahu kebutuhan suami. Maka toleransi sangat dibutuhkan dan ini yang dinamakan Tasamuh.

Demikianlah tujuh hal yang oleh pak Kyai dinamakan dengan “tujuh resep agar tetap lengket”. Ketujuh hal tersebut bertujuan jelas, pasti dan sampai dengan selamat di atas ridho Allah SWT. Insya Allah, selalu untuk selamanya. Kedua pasangan akan selalu diberkati oleh Allah SWT sebagaimana do’a yang selalu diucapkan orang kepada pasangan pengantin baru, sesaat setelah mereka menikah :

“Barokallahu Laka Wa Baroka’alaika Wa Jama’a Baynakumaa Fii Khoir”

Semoga Allah memberkahimu, dan semoga Allah melimpahkan barokahNya padamu, dan semoga Dia menempatkan kalian berdua di dalam kebaikan.

Amien Yaa Robbal’alamiin.

Materi ini boleh diamalkan dan disebarluaskan kepada para penganten baru dan juga mereka yang sudah lama menikahnya. Demikian pesan dari beliau pak Drs. KH. Muhadi Zainuddin, Lc.

(Sumber : Drs. KH. Muhadi Zainuddin, Lc. – Pengasuh Pondok Pesantren Al Muhsin, Krapyak, Yogyakarta)