Tonggak Sejarah Perjuangan Nasional

Salah satu tonggak sejarah perjuangan Bangsa Indonesia adalah Sumpah Pemuda yang selalu diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Namun momen penting ini tidaklah berdiri sendiri, Sumpah Pemuda merupakan hasil dari serangkaian perjuangan-perjuangan Bangsa Indonesia sejak ribuan tahun silam dalam usaha membebaskan diri dari belenggu penjajahan.

Seperti kita ketahui bersama, sebelum 1928, perjuangan telah dimulai sejak abad ke-17, dimana waktu itu perlawanan-perlawanan secara fisik dari berbagai daerah muncul akibat kekejaman dan penindasan kaum penjajah. Tak heran, kalau di tahun 1628 dan 1629 Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram berani menyerang kompeni hingga ke Batavia.

Tahun 1662 – 1669 Sultan Hasanuddin, Raja Gowa XVI juga mengadakan perlawanan mengusir penjajah di Makasar. Lalu 1817 di Ambon ada Pattimura, kemudian 1825 -1830 terjadi Perang Diponegoro, demikian pula di Sumatera, Tuanku Imam Bonjol memimpin perlawanan pada tahun 1824 hingga 1837. Perlawanan lainnya pun muncul dengan tujuan yang sama mengusir penjajah dari bumi Indonesia.

Akan tetapi sangat disayangkan, perjuangan tersebut tidak membawa hasil yang diharapkan karena politik devide et impera yang diterapkan Belanda waktu itu mampu menaklukkan semua perlawanan. Belanda mampu menaklukkan hampir seluruh wilayah nusantara sehingga bangsa ini semakin mengalami penderitaan panjang.

Sadar akan hal tersebut, para pemuda Indonesia yang memiliki semangat dan jiwa patriotisme kemudian melakukan bentuk perlawanan dalam bentuk yang lain. Mereka melawan – bukan dalam arti fisik – melalui organisasi Budi Oetomo yang didirikannya pada 20 Mei 1908. Momen ini kemudian dijadikan sebagai tonggak sejarah kebangkitan pemuda Indonesia dalam pergerakan kebangsaan Indonesia, yang kemudian diakui sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Beberapa tahun kemudian tepatnya 1911 muncul Sarekat Islam yang didirikan oleh HOS Tjokroaminoto. Setahun kemudian namanya diubah menjadi Sarekat Dagang Islam. Selain itu di tahun yang sama, berdiri pula Indische Partai yang dipimpin oleh tiga serangkai yaitu Danudirdja Setia Budi, Ki Hajar Dewantara dan Tjipto Mangunkusumo. Tujuan politiknya sangat jelas yaitu untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda. Ketiga tokoh ini kemudian dibuang karena dianggap membahayakan kelangsungan Pemerintah Hindia Belanda melalui tulisan-tulisannya yang tajam di surat kabar. Demikian pula gerakan dan aksi-aksi yang mereka lakukan.

Organisasi-organisasi lain pun kemudian bermunculan, namun belum memberikan harapan yang menggembirakan. Mereka tetap tak mampu menghadapi dan memberikan perlawanan berarti disebabkan perjuangan yang mereka lakukan masih sendiri-sendiri.

Setelah menyadari kondisi seperti itu, keadaan pun lalu berubah. Para pemuda kemudian berfusi, menyatukan diri dan mengusung rasa kebangsaan yang selama ini belum tersentuh. Ini kemudian melahirkan Kongres Pemuda Indonesia I pada tahun 1926. Waktu itu cita-cita persatuan menjadi tujuan utama, namun masih belum dapat diwujudkan secara nyata.

Rasa kebangsaan dan persatuan itu mencapai puncaknya dengan kemunculan pemuda Soekarno, anggota Jong Java. Ia terus mengobarkan rasa persatuan dan kesatuan Indonesia sebagai landasan untuk mencapai kemerdekaan. Pemuda yang kemudian terkenal dengan julukan Bung Karno ini mendasarkan perjuangan mencapai kemerdekaan pada kekuatan sendiri, anti kapitalisme dan imperialisme serta non-cooperation atau tak bersedia bekerja sama dengan Hindia Belanda.

Atas prakarsa Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia, maka diadakan Kongres Pemuda Indonesia II di Jakarta pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928. Kongres dihadiri oleh berbagai perhimpunan pemuda yang ada di Indonesia. Dalam sidang ketiga, 28 Oktober 1928 itulah kemudian dicetuskan Sumpah Pemuda yang sangat terkenal hingga sekarang.

Sumpah Pemuda sebagai tonggak sejarah perjuangan yang bersifat nasional, meliputi seluruh wilayah nusantara mencapai cita-cita bersama. Pada Kongres ini pula diperkenalkan lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza oleh Wage Rudolf Supratman.

Kata-kata keramat yang dicetuskan dalam Kongres II Pemuda Indonesia tersebut terus mengakar dalam diri setiap anak bangsa. Perjuangan terus berlanjut, perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda pun tak berhenti hingga mencapai puncak dengan diproklamasikannya Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Rasa kebangsaan, persatuan dan kesatuan harus tetap kita jaga dengan jiwa dan semangat Sumpah Pemuda. Jangan sampai kerja keras para pemuda pada masa perjuangan dahulu terbuang percuma dengan kondisi Bangsa Indonesia di masa sekarang.

Kalau dulu kaum penjajah yang memecah belah bangsa Indonesia, bukan tidak mungkin persatuan dan kesatuan yang selama ini kita bina terkoyak oleh ulah bangsa sendiri. Bahasa Indonesia yang selama ini diakui sebagai bahasa persatuan rusak justru oleh perilaku bangsa sendiri.

Iklan

Cinta Tanah Air Dan Bangsa

Bagaimana perasaan Anda ketika membaca informasi yang ada di sini??

Meski berita ini sudah lama berlalu namun saya yakin Anda akan merasa geram, kesal dan marah. Sudah pasti, siapa pun yang menawarkan pulau tersebut kepada pihak lain akan dianggap sudah kehilangan rasa cinta tanah air.

Coba saja bayangkan, ketika ada pihak asing yang mau membelinya dan kemudian dipergunakan untuk aktivitas yang justru merugikan bangsa sendiri. Siapa yang bertanggung jawab? Pasti pihak yang telah menjualnya pun tak tahu menahu lagi dengan akibat yang mungkin terjadi di kemudian hari. Mereka lepas tangan setelah memperoleh keuntungan yang cukup banyak.

Dalam hal ini, pulau yang ditawarkan melalui berbagai situs internet termasuk pulau yang sudah punya nama. Lalu bagaimana pemerintah bisa kecolongan seperti itu. Aneh juga, sebuah pulau yang termasuk dalam wilayah suatu negara kepemilikannya ada di tangan perseorangan. Di daratan mancanegara sana, hal semacam ini mungkin bukan barang aneh.

Sangat disayangkan, respon pemerintah yang baru bertindak setelah ada gelagat kurang menguntungkan ini. Padahal setelah lepasnya sejumlah wilayah Indonesia beberapa waktu lalu, pemerintah telah melakukan berbagai langkah untuk mengantisipasi masalah serupa agar tidak terulang lagi. Misalnya dengan memberi nama pulau-pulau yang masih anonymous. Rasanya usaha yang dilakukan pemerintah masih belum maksimal, mengingat jumlah pulau di negara kita sangat banyak jumlahnya. Lebih disayangkan lagi, kalau di Indonesia kepemilikan sebuah pulau ada ditangan orang asing.

Tindakan yang diambil pemerintah lebih sering dilakukan setelah ada kejadian. Bukannya melakukan langkah-langkah preventif. Lho, bukankah pemerintah sudah melakukannya? Menamai pulau-pulau yang masih belum ada namanya, inventarisasi pulau yang ada di wilayah Indonesia, menyelesaikan beberapa wilayah yang masih menjadi sengketa dengan negara tetangga dll. Kenyataan menunjukkan bahwa pemerintah masih kecolongan. Nyatanya, ada pulau yang mau dijual. Kalaupun dijual, seharusnya pemerintah RI yang lebih berhak menjualnya.

Sudah sejauh manakah inventarisasi yang dilakukan pemerintah terhadap status pulau-pulau yang ada di wilayah negara kita ini. Kita sebagai rakyat jelata tak pernah tahu secara pasti. Bahkan kita tahu tak pernah mengetahui pulau-pulau mana saja yang sudah ada namanya. Secara umum, kita hanya tahu pulau yang besar-besar. Lebih kecil, lebih kecil lagi entahlah, apalagi pulau-pulau yang belum berpenghuni.

Kita tidak berharap ini diajarkan di sekolah, akan terlalu berat bagi siswa kalau disuruh menghapal ribuan nama-nama pulau. Akan tetapi, minimal ada informasi yang bisa diakses publik dalam hal ini, baik mengenai nama pulau, letaknya dimana, statusnya bagaimana dan sebagainya.

Selama ini, rakyat baru mengetahuinya jika ada masalah-masalah seperti Sipadan dan Ligitan misalnya. Demikian pula dengan blok Ambalat, kita baru mengetahui ada wilayah yang bernama Ambalat setelah ada konfrontasi di tempat tersebut beberapa waktu yang lalu. Sebelumnya nama-nama itu tak pernah terdengar sama sekali.

Rasa memiliki wilayah tanah air seharusnya ada di dalam diri setiap anak bangsa. Kasihan para pejuang yang telah rela mengorbankan dirinya demi merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah. Apa jadinya ketika mereka melihat hasil jerih payahnya, ternyata hanya diperjualbelikan sebagai dagangan.

Keseriusan pemerintah untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan potensi setiap jengkal wilayahnya sangat diharapkan. Kalau pemerintah lamban dalam bertindak, bukan tidak mungkin akan ada lagi puluhan pulau yang siap dijual oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Tak hanya wilayah yang mesti dipertahankan. Budaya dan seluruh karya anak bangsa ini harus tetap dipertahankan sebagai milik bangsa. Satu kesatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Itu semua merupakan pencerminan dari sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Indonesia. Kecuali Pancasila sudah dilupakan, dikesampingkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maka masalah yang semacam itu wajar saja bisa terjadi. Kesaktian Pancasila dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya lambat laun akan luntur dan lenyap justru tergerus oleh perilaku bangsa sendiri.

Jika sudah demikan, masih saktikah Pancasila?

Semoga saja ini menjadi pelajaran yang mampu menumbuhkan kesadaran pada diri setiap anak bangsa akan rasa memiliki dan cinta tanah air.

Untuk Indonesia Raya

Artikel ini hanya sekedar ungkapan isi hati saja mengenai kondisi negeri kita tercinta dan berbagai masalah yang sedang dihadapinya. Bukan kecaman atau hujatan, namun semata-mata untuk mengingatkan diri kita semua bahwa kita adalah bangsa yang besar. Bangsa yang merdeka karena berjuang dan bersatu dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan itu serta berpartisipasi aktif mengisi kemerdekaan sehingga apa yang menjadi tujuan negara seperti yang tercakup dalam pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 dapat tercapai

Menurut Pak Koesbini, lagu kebangsaan Indonesia Raya merupakan lagu yang paling megah. Memang betul, megah irama musiknya, megah pula syair lagunya. Terlebih jika sudah dinyanyikan secara formal dalam suatu upacara resmi kenegaraan. Seluruh badan ini mungkin akan bergetar mendengar dan merasakan kebesaran lagu kebangsaan kita. Coba, tanyakan pada saudara-saudara kita yang berada di luar negeri sana. Pasti mereka akan mengalami perasaan yang sama. Termasuk di pesta olahraga atau pertandingan internasional yang membawa nama Indonesia.

Semua itu bisa dirasakan hanya oleh Bangsa Indonesia. Meskipun kita hidup di negeri orang dan telah berpindah kewarganegaan, kalau masih merasa sebagai Bangsa Indonesia – sekali lagi Bangsa Indonesia – pastilah akan tergetar hatinya, perasaannya bahkan seluruh tubuh dan jiwanya kalau Indonesia Raya diperdengarkan. Hanya mereka yang bukan Bangsa Indonesia saja yang cuek.

Pada kenyataannya kini, tak sedikit mereka yang cuek dengan lagu Indonesia Raya. Mereka lahir dan hidup di bumi Indonesia, mereka mengaku Bangsa Indonesia, mereka mencari makan di Indonesia tetapi rasa kebangsaannya telah luntur. Lagu Indonesia Raya hanya dianggap sebagai lagu biasa, tak ada istimewanya sama sekali. Mereka terkesan dingin ketika lagu Indonesia Raya diperdengarkan. Bahkan di kampung-kampung hampir tak lagi kita jumpai upacara memperingati Hari Ulang Tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Upacara lebih sering dijumpai pada sekolah-sekolah, instansi pendidikan, dan kantor pemerintah.

Dulu, ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya pada upacara peringatan HUT RI terdengar, orang-orang yang melewati tempat upacara langsung berhenti sejenak sampai lagu Indonesia Raya selesai. Sekarang…??? Ini bukan mengkultuskan, tapi sekedar sebagai penghormatan saja terhadap lagu kebangsaan.

Saya menilai bahwa hasil temuan Roy Suryo tentang lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza beberapa waktu yang lalu sebenarnya hanyalah mengingatkan kepada kita sebagai Bangsa Indonesia. Kita patut mempertanyakan pada diri kita masing-masing apakah rasa kebangsaan masih kita miliki. Apakah cita-cita Sumpah pemuda 1928 masih melekat pada diri kita.

Dalam syair Indonesia Raya sendiri sebenarnya telah disebutkan bahwa kita berdiri dan hidup di Indonesia adalah sebagai pandu ibu pertiwi atau tanah air tumpah darah kita. Tetapi cukupkah kita hanya berdiri sebagai pandu saja?

Tidak, masih ada terusannya. Marilah kita berseru Indonesia bersatu. Apakah sekarang kita bersatu? Antar etnis saling menyerang, sesama rakyat saling berbaku hantam, perpecahan terjadi di berbagai daerah. Antar pertai politik saling menjatuhkan. Pemerintah dan rakyat tidak akur dan masih banyak lagi. Padahal dengan bersatu dalam ketenangan segala urusan akan menjadi mudah diselesaikan.

Mana tugas kita sebagai penjaga ibu sejati? Nyatanya, satu persatu wilayah kita ada yang lepas. Dimulai dari Propinsi Timor-timur, sekarang sudah menjadi negara sendiri dan Bangsa Indonesia dianggap sebagai penjajah negeri itu. Lalu, Pulau Sipadan dan Ligitan masuk ke wilayah negera lain. Entah mana lagi nanti. Tapi kita berharap hal itu tak akan terjadi lagi. Bersatu bukan hanya rakyatnya, namun juga wilayahnya dengan seluruh budaya dan tradisi yang ada di dalamnya harus tetap dijaga kesatuannya dalam bingkai NKRI.

Juga disebutkan dalam syair, Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya. Apa yang sudah kita bangun? Badan kita, fisik rakyat yang kuat? Kemiskinan masih banyak, pengangguran ribuan, untuk makan saja harga kebutuhan pokok mahal dan semakin melambung tinggi, sedangkan rakyat tidak semuanya mampu mendapatkan itu. Dari mana mereka akan membangun badan yang sehat dan kuat, kalau gizi saja tidak tercukupi karena tekanan ekonomi. Pembangunan di berbagai daerah juga kurang merata karena hanya terpaku di Pulau Jawa. Ini yang menyebabkan beberapa daerah bergejolak dan ingin memisahkan diri dari Indonesia.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk membangun jiwa agar rasa kebangsaan menjadi semakin tebal kalau generasi mudanya rusak. Narkoba, miras dan penyakit masyarakat yang lain justru menyerang generasi penerus bangsa ini. Operasi miras memang dilakukan, tapi pabrik pembuatnya jalan terus. Pecandu narkoba kelas teri ditangkap dan dihukum, tapi bandar kelas kakap tetap bebas berkeliaran. Di samping itu banyak generasi muda yang sudah terpengaruh oleh budaya barat. Bagaimana bisa membangun jiwa? Sedangkan ajaran agama tidak akrab lagi dalam kehidupan yang modern ini.

Indonesia adalah tanah yang subur. Apa pun bisa diupayakan untuk kesejahteraan rakyatnya yang bisa didapat dari darat seperti hutan, perkebunan, ladang dan barang tambang. Begitu pula dengan hasil lautnya, Indonesia tidak kalah dengan Jepang maupun negara kepulauan lainnya. Pantaslah kalau Koes Plus bilang, Bukan lautan hanya kolam susu, Kail dan jala cukup menghidupimu, Tiada badai tiada topan kau temui Ikan dan udang menghampiri dirimu. Bahkan tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman. Sungguh nikmat sekali bukan?

Tapi, mengapa semua itu tidak mampu membuat rakyat sejahtera. Mengapa tidak semua rakyat bisa menikmati hasilnya? Kemana sajakah larinya hasil dari semua itu selama ini? Korupsi semakin meraja lela dan tak terkendali. Berbagai kasus korupsi yang ketahuan pun banyak yang tak selesai perkaranya. Bahkan, konon penjahat korupsi justru tetap merasa senang dan tenang menikmati hasil jarahannya itu. Sungguh ironis, melihat kenyataan yang ada.

Kalau kita mengatakan bahwa kita ini sudah merdeka, harusnya kita perlu menanyakan lebih jauh merdeka dari apa. Kalau merdeka secara fisik dari penjajahan, memang iya. Tetapi dari segi ekonomi, sosial budaya, apalagi teknologi ternyata masih jauh.

Di negeri ini produk luar negeri membanjiri pasar dan supermarket. Contohnya aja fast food, lebih terkenal daripada produk lokal sejenis. Begitu pula dalam hal budaya, generasi muda lebih tertarik untuk bergaya hidup bebas ala barat. Mode pakaian, rokok, sepeda motor, mobil, rumah dan sebagainya dipenuhi oleh buatan luar negeri. Padahal kualitas produk kita belum tentu kalah dengan buatan luar negeri. Dan pasar tradisional pun makin terpuruk dengan bermunculannya mini market, supermarket maupun swalayan dengan sistem waralaba.

Coba tanya, banggakah kita menggunakan produk lokal?

Hanya kesadaran kita sebagai bangsalah yang mampu mempertebal rasa kebangsaan Indonesia itu sendiri. Kalau bukan kita, lantas siapa lagi. Pemerintah, aparat, generasi tua maupun generasi muda dan seluruh lapisan masyarakat harus menyadari bahwa kita adalah pandu negeri. Pandu yang mestinya mampu mempersatukan seluruh elemen bangsa, agar amanat Sumpah Pemuda dengan bangunlah jiwanya bangunlah badannya dapat tercapai untuk kesejahteraan rakyat. Untuk Indonesia Raya.

Satu lagi yang menjadi catatan saya, betapa menyedihkannya kalau arsip-arsip penting seperti dokumen rekaman lagu Indonesia Raya asli dan yang lainnya tidak kita miliki. Negara lain saja memilikinya, mengapa kita justru tidak? Bagaimanapun juga, arsip penting menyangkut segala sesuatu tentang Indonesia di masa lalu adalah sangat berharga. Sebab itu merupakan sebuah dokumen penting, sebagai catatan sejarah yang akan sangat berguna bagi perjalanan hidup Bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Seharusnya semua itu kita miliki dan ada di negeri kita tercinta.

Merupakan tugas pemerintah dan kita semua dalam hal ini untuk bisa mendapatkan kembali catatan sejarah Bangsa Indonesia yang berada di negeri orang. Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai semangat dan jasa para pahlawannya.

Tukul Arwana Dan Laptop

Masih ingatkan ketika beberapa tahun yang lalu para wakil rakyat yang ada di gedung dewan sana ribut mau bagi-bagi laptop? Meski hal itu sudah lama berlalu, namun saya yakin semua pasti masih ingat deh…

Tukul Arwana seakan bikin gerah para wakil rakyat di gedung DPR sana. Dengan kata-kata mujarabnya “kembali ke laptop”, ia bagaikan menyihir para wakil rakyat untuk menggunakan laptop. Konon, nilai laptop yang dibutuhkan mencapai Rp. 21 juta per bijinya. Jika seluruh anggota dewan memperoleh laptop, maka tinggal dikalikan saja dengan Rp. 21 juta berapa hasilnya? Sebuah nilai yang sangat fantastis bukan? Apalagi dalam kondisi dimana rakyat sedang membutuhkan bantuan akibat bencana yang terjadi.

Gempa bumi, angin puting beliung, semburan lumpur panas, tanah longsor, banjir dll, merupakan musibah yang masih terlihat bekas-bekasnya. Rakyat semestinya mendapat perhatian lebih. Bukankah wakil rakyat dipilih oleh rakyat untuk kepentingan rakyat? Orang awam saja pasti akan menilai bahwa rencana pembelian laptop tersebut sangat tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Rakyat jelata, bukan rakyat yang duduk di tingkat pejabat pemerintahan ataupun rakyat kalangan atas, apalagi konglomerat.

Walaupun rencana pembelian laptop tersebut akhirnya batal, tetap saja hal itu memunculkan rasa ketidakpuasan. Anggaran yang sedianya untuk membeli laptop dialihkan untuk kepentingan lain. Kepentingan apa, itu juga pun juga tidak pernah dijelaskan.

Masih hangat dalam ingatan ketika para wakil rakyat waktu itu menerima dana sebagai tunjangan yang dirapel sejak setahun yang memicu komentar banyak pihak. Sebab muaranya tidak berpihak pada rakyat kecil, sehingga akhirnya muncul revisi dari undang-undang yang sudah ada. Rakyat yang sudah menderita semakin mengalami luka hati. Sedangkan mereka yang sudah berduit banyak, menerima limpahan duit semakin banyak.

Memang sih, untuk meningkatkan kinerja agar lebih optimal diperlukan sarana dan prasarana yang memadai. Namun bukan berarti harus melukai hati rakyat jelata. Kalau kemudian muncul berbagai komentar miring dari berbagai pihak, itu sudah menunjukkan adanya ketidakpuasan.

Melihat keadaan rakyat yang waktu itu sedang terkena musibah bencana, misalnya saja korban gempa 27 Mei 2007. Bantuan dana rekontruksi bagi rumah yang roboh hampir sebagian besar masih belum diterima seluruhnya oleh para korban. Nah, kemana mampirnya dana tersebut?

Dana rekontruksi yang nilainya hanya Rp. 15 juta saja sampai ke tangan rakyat secara bertele-tele, memerlukan waktu berbulan-bulan. Itu pun dengan persyaratan yang cukup banyak. Entah, siapa yang salah ataukah memang prosesnya demikian. Tapi bandingkan saja dengan rencana pembelian laptop senilai Rp. 21 juta, jika sempat terlaksana pasti dananya akan langsung cair.

Cobalah sejenak kita bayangkan, perbandingan bantuan rumah roboh yang Rp. 15 juta dengan laptop yang Rp. 21 juta itu. Padahal rencananya setiap rumah roboh akan mendapat RP. 30 juta . Sedangkan proses membangun rumah tidak gampang, bahan-bahannya langka dan mahal. Sebab permintaan jauh melebihi dari stok yang ada. Rakyat bisanya ya cuma geleng-geleng kepala dengan dana yang minim tersebut. Itu saja baru yang gempa bumi, bagaimana dengan bencana yang lainnya?

Demikian sekilas gambaran yang terjadi pada saat itu. Kini masyarakat kembali diributkan oleh rencana pembangunan gedung dewan yang mewah dan akan memakan biaya besar. Ada fasilitas kolam renang, fitness dan spa segala, sungguh asyik. Kita juga belum tahu, apakah rencana tersebut akan tetap dilaksanakan ataukah ada pertimbangan lain kita tunggu saja hasilnya.

Kembali ke Tukul Arwana

Mr. Tukul yang enerjik, lucu dan menggemaskan di acara Bukan Empat Mata itu ternyata menyimpan pesan-pesan dari gaya yang sering diperlihatkannya. Gaya Tukul yang khas bertepuk tangan ala simpanse, menarik-narik bibir atau mulut ke depan dan juga telinganya. Kesan yang tampak mungkin hanya sekedar lucu dan kocak. Namun dibalik itu, Mr. Tukul ingin menyampaikan suatu pesan terutama buat para petinggi negeri ini.

Bertepuk tangan ala simpanse mengandung pesan bahwa kalau menerima uang, apalagi uang rakyat jangan hanya digunakan untuk kepentingan sendiri. Kocok atau distribusikan uang tersebut dan gunakan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Intinya, jangan ada korupsi karena korupsi merugikan bangsa dan negara..

Menarik-narik mulut ke depan bermakna bahwa kalau ngomong ya mesti hati-hati. Jangan asal bicara yang tidak sesuai dengan kenyataan. Janji manis hanya di bibir saja, lupa kacang dengan kulitnya. Kalau cuma ngomong atau janji gombal, semua orang bisa. Rakyat sudah bosan dibohongi, rakyat tak membutuhkan janji. Sekarang bilang begini besok bilang begitu. Jadi mana yang benar? Intinya, jangan gampang memberi janji karena jika tidak ada bukti hal itu akan melukai perasaan.

Menarik-narik telinga berarti suara rakyat mesti didengar. Keluh kesah rakyat yang membutuhkan perhatian mesti diutamakan. Jangan cuma mau mendengar apa kata orang berpangkat yang kemudian langsung ditindaklanjuti. Tapi dengarkan pula suara rakyat, penderitaan rakyat. Rakyat jelata juga perlu kesejahteraan, perlu hidup layak. Intinya, buka telinga lebar-lebar dan dengarkan suara rakyat.

Yang paling fenomenal adalah ketika dia bilang : “Pe… pe… pemirsa! Sambil tangannya mengacung ala jurus bangau kungfu shaolin, lalu disambut audiens dengan eya…e ya… eya… itu dapat ditafsirkan lebih luas lagi. Apalagi saat dia mencolokkan dua jari tangannya di bukan empat mata, “Saya colok matanya, kalau untuk nonton konten porno saat bertugas …”

Tukul yang sederhana, wong nDesa bahkan sering menjadi bahan ejekan itu ternyata merupakan sebuah simbol. Simbol bagi rakyat jelata bahwa rakyat punya hak untuk hidup sejahtera, rakyat punya hak untuk bicara, rakyat punya hak untuk diperhatikan, rakyat punya hak untuk menikmati uang yang dibayarkannya sebagai pajak dll.

Satu lagi, rakyat kecil juga berhak untuk punya “laptop” (LAhan/tempat untuk bernaung, Pangan, perTOlongan dan Perhatian).

Kalau sudah begini manjurlah kata Tukul “kembali ke laptop”

Peran Kaum Wanita

Setiap memperingati hari Kartini tanggal 21 April selalu terlintas dalam benak tentang nasib kaum wanita zaman dahulu. Kita masih ingat bahwa pada zaman jahiliyah, waktu itu masyarakat Arab benar-benar amat bodohnya hingga mereka mengesampingkan kaum wanita padahal kaum wanita adalah ibu yang melahirkan kita. Mereka amat malu bila istri mereka yang sedang hamil melahirkan anak perempuan. Hal itu dianggap membawa aib bagi keluarga. Setiap anak perempuan yang lahir lantas dibunuh supaya tidak membikin malu. Dari sini tampak bahwa anak perempuan tidak diberi hak untuk hidup dan berkembang. Sungguh malang nasib anak perempuan waktu itu. Apa yang diperbuat oleh masyarakat Arab pada masa itu tak luput dari kecaman Allah Swt. (QS. An Nahl : 58-59)

Pada masa rasulullah Saw wanita diberikan hak yang sama dalam pemikiran dan peranan. Khadijah, wanita yang pertama kali masuk Islam adalah seorang janda kaya raya. Setelah menjadi isteri rasulullah ia mempunyai peranan penting yaitu membantu secara langsung dengan mengorbankan seluruh harta bendanya untuk berjihad, membiayai perjuangan rasulullah dalam menyiarkan dan menyebarluaskan agama Islam.

Begitu pula dengan isteri rasulullah yang lain yaitu Siti Aisyah, merupakan contoh wanita yang memberikan sumbangan pemikiran terhadap kemajuan ilmu pengetahuan Islam. Oleh rasulullah Saw biasanya Aisyah dijadikan sebagai juru berita dalam banyak hal mengenai agama. Sebab keterangan yang diberikannya selalu dapat diterima dan dapat memuaskan orang banyak.

Di tanah air kita mengenal pahlawan-pahlawan wanita yang dengan gigih berjuang untuk menegakkan kemerdekaan. Sebut saja Nyi Ageng Serang, Cut Nyak Dien dengan semangat jihad mereka berjuang mengusir kompeni yang menduduki bumi Nusantara. Walau harus mengorbankan nyawa mereka tetap tak gentar membela dan memperjuangkan kemerdekaan tanah air dan bangsa. Di samping kedua tokoh tersebut nama Dewi Sartika dan R.A. Kartini tercatat sebagai tokoh wanita yang memperjuangkan hak-hak kaum wanita dalam mengenyam pendidikan.

Hak-hak kaum wanita untuk memperluas pengetahuan dan menduduki bangku sekolah waktu itu tidak mereka dapatkan terutama bagi penduduk pribumi yang miskin. Cita-cita luhur yang dilakukan dengan perbuatan nyata dalam membebaskan kaum wanita dan memperjuangkan mereka memperoleh hak yang sama dengan kaum pria akhirnya membuahkan hasil tetapi juga disertai dengan pengorbanan yang tak sedikit. Mereka itu adalah para ibu yang juga merupakan pejuang.

Peran kaum wanita sekarang ini boleh dibilang sejajar dengan kaum pria. Tak lagi hanya berkutat pada dapur, sumur dan kasur. Untuk urusan-urusan tertentu seperti urusan sosial kemasyarakatan, kesehatan maupun kemanusiaan bahkan sampai dalam bidang politik dan kenegaraan pun kaum wanita sudah ada yang berkecimpung di dalamnya. Memang, jika kita saksikan kemampuan kaum wanita zaman sekarang sudah lebih berkembang di berbagai bidang. Dalam Al Qur’an juga dijelaskan ada tokoh wanita yang mempunyai kemampuan dalam bidang politik dan kenegaraan.

“Sesungguhnya aku dapati seorang perempuan (ratu) yang memerintahi mereka (namanya Bulqis) sedang dia mempunyai segala sesuatu dan tahta kerajaan yang besar”. (QS. An Naml : 23).

Jadi sekarang ini kaum wanita mempunyai kebebasan yang luas dalam menuntut ilmu, bebas menentukan langkah-langkahnya dalam mencapai cita-cita, bebas mengambil peran di masyarakat dan bebas berpartisipasi dalam pembangunan di berbagai bidang. Karena mempunyai hak yang sama maka tak ada salahnya jika kaum wanita turut serta berpartisipasi dalam mengisi pembangunan. Sudah bukan saatnya jika kaum wanita hanya membicarakan masalah seputar hak-hak mereka saja di mata kaum pria. Semestinya kaum wanita lebih memfokuskan diri pada hal-hal atau perbuatan nyata, dengan aktivitas yang bermanfaat dan memberikan hasil yang patut diacungi jempol. Tidak hanya ngerumpi di sana sini dengan membicarakan hal-hal yang tiada bermanfaat.

Kaum wanita harus mampu mengambil perannya masing-masing dengan ilmu pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya. Apalagi jika perannya itu diwujudkan dalam pengabdian semata-mata karena Allah, bukan karena untuk diakui kedudukannya agar sama dengan kaum pria. Pengabdiannya harus sesuai dengan fitrah, harkat dan martabatnya sebagai wanita karena Allah Swt telah menggariskan batas-batas bahwa antara pria dan wanita mempunyai kedudukan yang berbeda.

“…….(Hak-hak) untuk perempuan seumpama (kewajiban) yang di atas pundaknya, secara ma’ruf dan untuk laki-laki ada kelebihan satu derajat dari perempuan. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al Baqarah : 228).

Berbuat Kerusakan

Tentu Anda semua masih ingat peristiwa atau kejadian di tahun 1998. Unjuk rasa gencar dilakukan oleh para mahasiswa yang tergabung dalam berbagai wadah. Hal itu membuat kita semakin prihatin. Betapa tidak, gerakan mahasiswa itu tidak hanya dilakukan di satu tempat saja, akan tetapi nyaris di berbagai kampus dari berbagai daerah. Hampir tidak ada kampus yang tak melakukan aksi semacam itu.

Tak jarang aksi tersebut akhirnya diwarnai dengan bentrokan antara aparat keamanan dan pelaku aksi itu sendiri. Kita menyadari bahwa aksi yang kebanyakan dilakukan oleh para mahasiswa itu rata-rata mempunyai tuntutan yang sama yakni menuntut diadakannya reformasi di bidang politik, ekonomi, hukum maupun bidang yang lain. Dan yang paling penting adalah mundurnya Pak Harto dari jabatan presiden.

Namun yang terjadi waktu itu sungguh membuat kita tak habis mengerti. Setiap unjuk rasa yang dilakukan oleh para mahasiswa, yang telah berubah menjadi gerakan massa hampir selalu berbuntut dengan terjadinya insiden serta kericuhan. Dan hal ini berakibat jatuhnya korban baik dari pihak aparat keamanan dan juga pelaku unjuk rasa. Tak sedikit dari mereka yang mengalami luka-luka bahkan mengakibatkan korban jiwa di kedua belah pihak.

Bukan hanya itu akibat insiden yang terjadi, kita menyaksikan sendiri atau paling tidak kita baca di koran adalah rusaknya berbagai fasilitas umum. Entah itu milik perorangan, fasilitas kampus ataukah fasilitas-fasilitas milik warga masyarakat. Ini patut kita sesalkan, padahal aksi itu sendiri sepengetahuan kita adalah untuk memperjuangkan nasib dan kesejahteraan rakyat, bangsa dan negara yang makin lama makin tak menentu. Tapi buntutnya malah membuat kita prihatin. Kerusakan yang diakibatkan oleh amukan massa tersebut tentu saja menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.

Terlepas dari siapa pelaku perusakan, apakah itu mahasiswa ataukah ada pihak lain yang sengaja memancing di air keruh. Yang jelas perbuatan merusak, membuat kekacauan dan yang sejenisnya dalam agama tidak dibenarkan. Allah Swt berfirman :

“Janganlah kamu berbuat bencana di muka bumi, sesudah baiknya. Mintalah kepada-Nya dengan ketakutan dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS. Al A’raf : 56).

Jika Allah saja memperingatkan kepada manusia agar tak membuat bencana atau kerusakan di muka bumi, apakah kita manusia akan menyepelekan begitu saja peringatan tersebut. Kita seharusnya sadar bila kita tak mengindahkan peringatan Allah sama halnya dengan menentang. Dan Allah Swt tiada mengasihi orang-orang yang berbuat bencana dan kerusakan. (QS. Al Qashash : 77).

Tindakan pengrusakan yang dilakukan oleh amukan massa saja tak bisa dibenarkan. Lebih-lebih kalau hal itu justru malah dilakukan oleh aparat keamanan tentunya sangat tidak bisa dibenarkan. Aparat keamanan mestinya bisa menahan diri dan berlaku lebih bijaksana. Tidak asal main pukul dan penthung atau main injak dan tendang. Sebab ini tidak mencerminkan sikap arif dari aparat yang notabene adalah pengayom, pengaman dan pelindung masyarakat.

Rasanya memang terlalu berlebihan jika warga masyarakat yang tak tahu menahu tentang unjuk rasa apalagi turut melakukan aksi tiba-tiba saja sampai babak belur kena pukul, kena gebuk atau kena hantam dan menjadi korban semena-mena oleh sejumlah oknum aparat keamanan. Belum lagi tindakan yang mengakibatkan rusaknya fasilitas pendidikan dan fasilitas milik warga masyarakat serta sisa-sisa gas air mata yang belum habis, sungguh sangat disayangkan dan sangat mengecewakan. Dan Allah Swt telah memperingatkan:

“Apakah kiranya jika kamu menjadi wali (berkuasa) kamu berbuat bencana di muka bumi dan memutuskan silaturrahmi”. (QS. Muhammad : 22).

Bukannya kita tidak setuju adanya aksi unjuk rasa, bukan pula kita tak setuju kalau aparat bertindak mengendalikan massa. Tetapi tindakan-tindakan yang dilakukan dan tak dapat dipertanggungjawabkan itulah yang tidak bisa kita terima. Karena akibat yang ditimbulkan ternyata sangat merugikan kepentingan umum dan yang pasti beban bangsa dan negara akan semakin bertambah berat. Akan sangat kita sesalkan jika peristiwa yang membawa korban dan mengakibatkan kerusakan itu terulang kembali atau terus berlanjut.

Kalau selama ini yang gencar melakukan tuntutan adalah para mahasiswa, kiranya itu wajar saja. Sebab mereka hidupnya di tengah masyarakat. Tentu mereka mendengar sendiri keluhan-keluhan dari masyarakat dan sebagai mahasiswa mereka tak bisa berdiam diri begitu saja melihat kenyataan yang dihadapi terutama oleh rakyat kecil.

Para wakil rakyat seharusnya juga mendengar dan mengetahui serta ikut membantu menyalurkan suara-suara rakyat kepada pihak yang bersangkutan tidak hanya berdiam diri saja. Bukankah menjadi wakil rakyat adalah suatu amanah? Dan orang yang telah diberi amanah wajib menyampaikan amanah itu (QS. An Nisa : 58). Bukankah para wakil rakyat itu juga hidup di tengah masyarakat dan hidup sebagai warga masyarakat?. Mustahil rasanya jika tidak mendengar dan mengetahui suara-suara yang langsung berasal dari rakyat.

Tindakan berbuat kerusakan seperti tersebut di atas pun masih sering kita saksikan sekarang ini. Misalnya kericuhan dalam pertandingan sepakbola, kereta api lewat dilempari orang, penghancuran tempat ibadah, corat-coret dan merusak fasilitas umum, teror bom hingga merusak keperawanan anak gadis orang tanpa ikatan yang sah.

Kekuatan Rasa

Allah SWT menciptakan manusia dengan derajat lebih tinggi dibanding makhluk lainnya sebab ia dikaruniai Allah dengan akal, yang dengan itu manusia mampu mengubah dunia dan seisinya. Selain dikaruniai akal Allah juga memberikan anugerah berupa perasaan atau rasa yang ditanamkan di hati manusia. Jika kita renungkan, sebenarnya rasa mempunyai kekuatan yang amat hebat dan terkadang kita manusia tidak begitu menyadarinya.

Kehidupan kita sehari-hari tak bisa lepas dan akan selalu bersentuhan dengan yang namanya rasa. Entah itu rasa lapar, haus, rasa syukur, cinta kasih, rasa duka maupun perasaan lain yang sifatnya negatif yang dapat hinggap pada diri manusia. Perasaan-perasaan tersebut masing-masing memiliki kekuatan dan kelebihannya. Rasa lapar dan haus misalnya, akan menggerakkan setiap makhluk yang bernyawa untuk mencari makan dan minum karena itu sudah merupakan kebutuhan hidupnya. Tak jarang untuk urusan yang satu ini orang tak segan-segan saling menjegal satu sama lain.

Kalau itu sudah sampai pada taraf lapar atau haus akan kekuasaan dan harta, tentu akan lebih parah lagi akibatnya sampai-sampai tega melahap hak yang bukan miliknya. Jika dalam hal ini kekuatan rasa syukur mempunyai peran yang lebih besar pada diri manusia maka hal-hal semacam itu tak perlu dilakukan bahkan Allah justru akan menambah nikmat yang diberikan kepada kita.

“Sesungguhnya jika kamu mensyukuri nikmatKu maka akan Kami tambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkarinya maka sesungguhnya siksaKu amat pedih”. (QS. Ibrahim : 7).

Rasulullah SAW jelas merupakan suatu contoh dan teladan yang baik bagi kita. Kita mengetahui bagaimana beliau mengungkapkan rasa syukurnya dengan memperbanyak ibadah kepada Allah. Dalam sebuah hadits juga dikatakan: “Sesuatu yang sedikit tetapi mencukupi adalah lebih baik daripada banyak tetapi melalaikan”.

Diantara perasaan-perasaan yang kita miliki, ada satu karunia yang sangat agung yang dianugerahkan Allah SWT yaitu rasa cinta kasih. Jika saja rasa cinta kasih ini diterapkan terhadap sesama makhluk Allah dalam seluruh aspek kehidupan niscaya dunia akan penuh kedamaian, tidak ada kejahatan, kemungkaran ataupun peperangan. Tetapi kadang terlihat rasa cinta dapat melenyapkan sifat malu dan sopan bila perasaan itu telah hingap pada diri seseorang dan mendominasi jiwanya seperti diceritakan dalam Al Qur’an Surat Yusuf ayat 23-25 dan 30.

Dari situ dapat kita simpulkan bahwa Zulaikha yang merupakan istri pejabat tinggi saja saking cintanya kepada Yusuf sampai melupakan kedudukannya sebagai majikan, hilang sifat sopan dan malu pada dirinya. Perumpamaan lain yang sering kita dengar adalah tatkala seorang pemuda yang sedang dilanda cinta terlepas dari belenggu rasa rindu yang membara begitu menerima sepucuk surat atau kalau sekarang SMS dari sang kekasih, padahal itu hanya sehelai kertas atau  tulisan saja.

Begitu pun rasa cinta bahkan dapat membuat jarak yang jauh seolah-olah menjadi dekat. Ini pengalaman seorang teman yang saking cintanya terhadap seorang gadis maka jarak Kota Yogya-Magelang masih belum ada apa-apanya meski harus ditempuh dengan mengendarai sepeda onthel cuma untuk menjumpai sang pujaan hati. Jarak kota tersebut sekitar 40 km dan ditempuh dengan naik sepeda memakan waktu sekitar 7 jam. Sebaliknya karena rasa sedih dan duka akibat cintanya ditolak bisa saja seseorang menjadi gelap mata, stres berat, nglokro bahkan ada yang sampai bunuh diri segala.

Tidak hanya itu saja, kekuatan rasa ternyata juga mampu menjatuhkan rezim yang sekitar 30 tahun berkuasa di negara kita. Rakyat yang sudah tidak mempunyai rasa percaya lagi terhadap pemerintahan Soeharto akhirnya terus menerus melakukan aksi unjuk rasa menuntut reformasi serta menuntut pengunduran diri Soeharto sebagai presiden. Kita melihat sendiri bagaimana massa meluapkan rasa marahnya sehingga timbul kerusuhan, kekacauan dan bencana atau kerusakan di berbagai kota.

Akhirnya karena ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah itu sudah sedemikian memuncak disusul dengan pernyataan MPR/DPR agar Soeharto segera mengundurkan diri dari jabatan presiden, maka tak ada pilihan lain kecuali memenuhi tuntutan terrsebut. Kita menyaksikan bersama bagaimana hasilnya. Rezim Soeharto akhirnya tumbang dan kabinet pun bubar lantas terjadilah perubahan–perubahan yang selama ini diharapkan.

Baru-baru ini pun, lengsernya Presiden Mesir Husni Mobarak membuktikan betapa dahsyatnya kekuatan rasa dari rakyat Mesir yang sudah tak lagi percaya terhadap pemerintahannya. Gelombang unjuk rasa bahkan kerusuhan dengan tindak anarkis yang terjadi tiada hentinya di Kairo membuat sang presiden berpikir seribu kali untuk tetap mempertahankan kekuasaannya di Mesir. Kejadian yang hampir sama dengan Indonesia beberapa waktu lalu pun akhirnya terulang saat ini di negerinya para nabi tersebut.

Kalau diperhatikan sesungguhnya kita ini hanyalah merupakan obyek penderita saja dari perasaan-perasaan yang ada pada diri kita. Akan tetapi kalau kekuatan rasa, baik rasa yang bersifat positif ataukah negatif itu dilandasi oleh agama dan keimanan kepada Allah, maka insya Allah hal itu justru akan lebih terkendali dan membuat kita menjadi semakin ingat kepadaNya bahkan mungkin mampu menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai positif.

Kekuatan rasa dapat diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pelukis misalnya, ia akan mengekspresikan segenap perasaannya ke dalam bentuk sebuah lukisan. Seorang kolomnis akan menuangkan perasaannya menjadi sebuah tulisan yang enak dibaca dan seorang penyair dapat melantunkannya menjadi bait-bait syair atau puisi yang indah. Seorang Blogger atau Narablog, jelas akan menyampaikan atau posting melalui blognya.