Asyura

Asyura adalah hari kesepuluh di Bulan Muharam tahun Hijriyah. Dalam pandangan Islam hari kesepuluh merupakan hari yang istimewa. Ditandai dengan beberapa peristiwa penting dari sejarah para nabi. Karena keistimewaan hari Asyura inilah maka Sultan Agung Hanyokrokusuma ketika menciptakan kalender Jawa Islam mengambil nama Sura sebagai bulan pertama. Sura diambil dari kata Asyura dan diabadikan sebagai nama bulan pada tahun Jawa.

Dalam Kalender Jawa Sultan Agung, nama-nama bulan mengadopsi dari nama bulan pada kalender Hijriyah sehingga ada kesesuaian dengan kondisi masyarakat Jawa Islam pada waktu itu. Nama-nama bulan tersebut adalah : Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, Besar. Dari adopsi nama di tahun Hijriyah itulah kemudian muncul nama Bulan Sura, yang diambil dari hari ke sepuluh Bulan Muharam.

Di beberapa daerah di Indonesia, pada hari ke sepuluh ini biasanya digelar pengajian akbar atau acara-acara lain dalam rangka memperingati keistimewaannya. Kalau di Banjarmasin ada acara membuat bubur Asyura yang kemudian bubur tersebut dibagi-bagikan kepada masyarakat sebagai sedekah. Demikian pula di daerah lainnya banyak yang menggelar acara seperti ini.

Karena keistimewaan dan keutamaan hari Asyura, maka pada hari tersebut umat Islam disunahkan untuk melaksanakan puasa sehari. Namun ada juga yang melaksanakannya selama dua hari yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharam.

Dari Ibnu Abbas RA beliau berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)

Memang, berpuasa sunah pada tanggal 10 Muharam merupakan salah satu tuntunan yang diajarkan oleh Islam. Dan ini juga dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW di samping puasa sunah lainnya seperti puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah, puasa 6 hari di bulan Syawal, puasa senin kamis dan puasanya nabi Daud.

Sabda Rasulullah saw : “puasa hari asyura menghapus dosa setahun sebelumnya” (HR Muslim)

Kalau kita menengok kembali ke belakang, hari Asyura erat kaitannya dengan peristiwa penting dari sejarah para nabi sejak nabi Adam sampai nabi Muhammad.

Ada satu riwayat yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam telah berhijrah dan tiba di Madinah, beliau mendapati Yahudi yang ada di Madinah ternyata juga bershaum pada hari tersebut. Maka Rasulullah bertanya kepada mereka sebagaimana dikisahkan oleh sahabat Abdullah bin Abbas RA :

Bahwa Nabi shalallahu’alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah, beliau mendapat Yahudi berpuasa pada hari asyura. Maka beliau bertanya (kepada mereka) : “Hari apakah ini yang kalian bershaum padanya?” Maka mereka menjawab : “ini merupakan hari yang agung, yaitu pada hari tersebut Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun bersama kaumnya. Maka Musa bershaum pada hari tersebut dalam rangka bersyukur (kepada Allah). Maka kami pun bershaum pada hari tersebut”

Maka Rasulullah bersabda : “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka Rasulullah pun kemudian bershaum pada hari tersebut dan memerintahkan (para shahabat) untuk bershaum pada hari tersebut. (HR. Bukhari dan  Muslim)

Di Yogyakarta, bulan Muharam atau Sura ini dilaksanakan pemasangan patok pasar malam untuk perayaan sekaten. Beda dengan masyarakat Jawa yang mengintensifkan tirakatnya pada malam pergantian tahun, maka masyarakat Islam justru lebih konsentrasi pada hari ke sepuluh bulan Muharam ini dengan melaksanakan puasa sunah.

Iklan

Kalender Hijriyah Dan Kalender Jawa

Kalender Hijriyah

Kalender Hijriyah dikenal pula sebagai kalender Islam. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, pada tahun ketiga pemerintahannya yang menyadari akan pentingnya kalkulasi ulang terhadap perhitungan masa yang sudah ada karena bulan-bulan tersebut belum ada tahunnya. Dengan demikian maka timbul pertanyaan, misalnya pada bulan Ramadhan itu bulan Ramadhan tahun lalu ataukah sebelumnya? Akhirnya Khalifah Umar mengundang tokoh-tokoh dalam bidang tersebut. Kemudian disepakati bersama bahwa awal tahun (tahun 1 Hijriyah) adalah pada saat hijrahnya Nabi dari mekkah ke Madinah bersama umat beliau. Tanggal dan bulannya tatap dan tak berubah, yaitu saat hijrah nabi adalah pada pada tanggal 2 Rabi’ul Awal dengan tahun yang telah disepakati yaitu tahun pertama hijriyah. Jadi hijrah Rasulullah SAW adalah tanggal 2 Rabi’ul Awal 01 H.

Tahun hijriyah perhitungannya berdasarkan peredaran bulan. Bulan saat mulai kelihatan hingga habisnya adalah 29 hari 8 jam 43 menit. Setahun dihitung 354 hari untuk tahun biasa (non kabisat) dan 355 hari untuk tahun kabisat. Kalau untuk kalender masehi satu siklus adalah 4 tahun (siklus kecil) maka untuk kalender Islam siklusnya adalah 30 tahun dengan ketentuan bahwa tiap-tiap 30 tahun ada 11 tahun kabisat dan 19 tahun biasa. Tahun hijriyah tak mengenal siklus besar.

Asal mula perhitungan untuk satu siklus adalah 354 11/30 hari. Jumlah hari untuk satu siklus adalah (30 X 354) + 11 = 10631 hari. Untuk mengetahui bahwa suatu tahun adalah tahun kabisat atau bukan adalah angka tahun dibagi 30, apabila ada sisa 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26 dan 29 adalah tahun kabisat sedangkan selain itu dianggap sebagai tahun biasa. Pada tahun biasa umur bulan Dzulhijjah (bulan ke-12) adalah 29 hari sedangkan pada tahun kabisat umurnya 30 hari.

Kalender Masehi perhitungannya berdasarkan peredaran matahari, maka dari itu pada tanggal dan bulan yang sama posisi matahari adalah sama sehingga jadwal waktu sholat yang disusun berdasarkan tanggal dan bulan Masehi berlaku abadi. Tanggal 01 Muharram 01 H berdasarkan yang telah disepakati oleh ahli hisab bertepatan dengan tanggal 15 Juli 622 M.

Adapun nama-nama bulan pada tahun hijriyah itu adalah : Muharam, Shafar, Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah.

Kalender Jawa

Tahun Jawa disebut juga tahun Saka memberlakukan perhitungan berdasarkan peredaran bulan sebagaimana kalender Hijriyah. Dalam kalender Jawa ini terdapat perputaran waktu khusus (siklus) yaitu Windu, Pasaran, Selapan dan Wuku. Setelah Islam masuk maka banyak istilah yang diubah menjadi istilah Islam. Nama hari pada kalender umum di Indonesia hari Ahad sampai Sabtu juga istilah dari Islam.

Pada Jaman Kerajaan Mataram, kalender Jawa Islam dibuat yang merupakan sebuah kalender perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Budha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Kalender ini dikenal pula dengan Kalender Jawa Sultan Agungan. Pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung menyebarluasakan agama Islam di pulau Jawa dalam suatu wadah negara Mataram memprakarsai untuk mengubah penanggalan saka. Ada analisis, agar penyebaran Agama Islam itu tidak memunculkan konflik, maka lewat budayalah penyebaran itu dilakukan. Hal itu sudah dimulai oleh para wali sejak pemerintah Kasultanan Demak pada beberapa dekade sebelumnya.

Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender komariah atau lunar yaitu perhitungan penanggalan berdasarkan peredaran bulan, namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan yang dilakukan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun yang dipakai saat itu tahun 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

Satu Windu = 8 tahun, sedangkan nama-nama tahun pada satu Windu adalah tahun pertama disebut Wawu, kedua (Jimakir), ketiga (Alip), keempat (Ehe), kelima (Jimawal), keenam (Je), ketujuh (Dal) dan kedelapan (Be).

Satu siklus pasaran ada 5 hari. Lima pasaran itu adalah 1 (legi), 2 (pahing), 3 (pon), 4 (wage), 5 (kliwon). Untuk selapanan, satu selapan adalah 7 siklus pasaran tersebut yaitu dari 7 X 5 = 35 hari. Misalnya tanggal 1 Januari 2000 untuk hari pasarannya adalah Sabtu Legi, selapannya adalah 35 hari lagi yaitu 5 Februari 2000 yang hari pasarannya adalah sama yaitu Sabtu Legi. Satu wuku = satu minggu berjumlah 30 wuku, jadi dalam satu siklus wuku adalah selama 30 minggu.

Dalam Kalender Jawa Sultan Agungan, nama-nama bulan mengadopsi dari nama bulan pada kalender Hijriyah sehingga ada kesesuaian dengan kondisi masyarakat Jawa Islam pada waktu itu. Nama-nama bulan tersebut adalah : Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, Besar.

Pembuatan Kalender Jawa Islam itu sekaligus juga untuk merangkul seluruh rakyat Jawa untuk menyatu di bawah kekuasaan Mataram. Dan pada gilirannya kemudian dijadikan sebuah momentum politik menggalang kekuatan untuk menyerbu Belanda dengan VOC-nya di Batavia pada tahun 1628 dan 1629.

Pada prinsipnya antara Kalender Jawa dan Kalender Jawa Sultan Agungan tidak ada perbedaan. Sebab Kalender Jawa versi Sultan Agung juga tetap menggunakan apa yang sudah ada pada kelender Jawa bertahun Saka dengan beberapa penyesuaian dari kalender Hijriyah.

Tonggak Sejarah Perjuangan Nasional

Salah satu tonggak sejarah perjuangan Bangsa Indonesia adalah Sumpah Pemuda yang selalu diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Namun momen penting ini tidaklah berdiri sendiri, Sumpah Pemuda merupakan hasil dari serangkaian perjuangan-perjuangan Bangsa Indonesia sejak ribuan tahun silam dalam usaha membebaskan diri dari belenggu penjajahan.

Seperti kita ketahui bersama, sebelum 1928, perjuangan telah dimulai sejak abad ke-17, dimana waktu itu perlawanan-perlawanan secara fisik dari berbagai daerah muncul akibat kekejaman dan penindasan kaum penjajah. Tak heran, kalau di tahun 1628 dan 1629 Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram berani menyerang kompeni hingga ke Batavia.

Tahun 1662 – 1669 Sultan Hasanuddin, Raja Gowa XVI juga mengadakan perlawanan mengusir penjajah di Makasar. Lalu 1817 di Ambon ada Pattimura, kemudian 1825 -1830 terjadi Perang Diponegoro, demikian pula di Sumatera, Tuanku Imam Bonjol memimpin perlawanan pada tahun 1824 hingga 1837. Perlawanan lainnya pun muncul dengan tujuan yang sama mengusir penjajah dari bumi Indonesia.

Akan tetapi sangat disayangkan, perjuangan tersebut tidak membawa hasil yang diharapkan karena politik devide et impera yang diterapkan Belanda waktu itu mampu menaklukkan semua perlawanan. Belanda mampu menaklukkan hampir seluruh wilayah nusantara sehingga bangsa ini semakin mengalami penderitaan panjang.

Sadar akan hal tersebut, para pemuda Indonesia yang memiliki semangat dan jiwa patriotisme kemudian melakukan bentuk perlawanan dalam bentuk yang lain. Mereka melawan – bukan dalam arti fisik – melalui organisasi Budi Oetomo yang didirikannya pada 20 Mei 1908. Momen ini kemudian dijadikan sebagai tonggak sejarah kebangkitan pemuda Indonesia dalam pergerakan kebangsaan Indonesia, yang kemudian diakui sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Beberapa tahun kemudian tepatnya 1911 muncul Sarekat Islam yang didirikan oleh HOS Tjokroaminoto. Setahun kemudian namanya diubah menjadi Sarekat Dagang Islam. Selain itu di tahun yang sama, berdiri pula Indische Partai yang dipimpin oleh tiga serangkai yaitu Danudirdja Setia Budi, Ki Hajar Dewantara dan Tjipto Mangunkusumo. Tujuan politiknya sangat jelas yaitu untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda. Ketiga tokoh ini kemudian dibuang karena dianggap membahayakan kelangsungan Pemerintah Hindia Belanda melalui tulisan-tulisannya yang tajam di surat kabar. Demikian pula gerakan dan aksi-aksi yang mereka lakukan.

Organisasi-organisasi lain pun kemudian bermunculan, namun belum memberikan harapan yang menggembirakan. Mereka tetap tak mampu menghadapi dan memberikan perlawanan berarti disebabkan perjuangan yang mereka lakukan masih sendiri-sendiri.

Setelah menyadari kondisi seperti itu, keadaan pun lalu berubah. Para pemuda kemudian berfusi, menyatukan diri dan mengusung rasa kebangsaan yang selama ini belum tersentuh. Ini kemudian melahirkan Kongres Pemuda Indonesia I pada tahun 1926. Waktu itu cita-cita persatuan menjadi tujuan utama, namun masih belum dapat diwujudkan secara nyata.

Rasa kebangsaan dan persatuan itu mencapai puncaknya dengan kemunculan pemuda Soekarno, anggota Jong Java. Ia terus mengobarkan rasa persatuan dan kesatuan Indonesia sebagai landasan untuk mencapai kemerdekaan. Pemuda yang kemudian terkenal dengan julukan Bung Karno ini mendasarkan perjuangan mencapai kemerdekaan pada kekuatan sendiri, anti kapitalisme dan imperialisme serta non-cooperation atau tak bersedia bekerja sama dengan Hindia Belanda.

Atas prakarsa Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia, maka diadakan Kongres Pemuda Indonesia II di Jakarta pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928. Kongres dihadiri oleh berbagai perhimpunan pemuda yang ada di Indonesia. Dalam sidang ketiga, 28 Oktober 1928 itulah kemudian dicetuskan Sumpah Pemuda yang sangat terkenal hingga sekarang.

Sumpah Pemuda sebagai tonggak sejarah perjuangan yang bersifat nasional, meliputi seluruh wilayah nusantara mencapai cita-cita bersama. Pada Kongres ini pula diperkenalkan lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza oleh Wage Rudolf Supratman.

Kata-kata keramat yang dicetuskan dalam Kongres II Pemuda Indonesia tersebut terus mengakar dalam diri setiap anak bangsa. Perjuangan terus berlanjut, perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda pun tak berhenti hingga mencapai puncak dengan diproklamasikannya Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Rasa kebangsaan, persatuan dan kesatuan harus tetap kita jaga dengan jiwa dan semangat Sumpah Pemuda. Jangan sampai kerja keras para pemuda pada masa perjuangan dahulu terbuang percuma dengan kondisi Bangsa Indonesia di masa sekarang.

Kalau dulu kaum penjajah yang memecah belah bangsa Indonesia, bukan tidak mungkin persatuan dan kesatuan yang selama ini kita bina terkoyak oleh ulah bangsa sendiri. Bahasa Indonesia yang selama ini diakui sebagai bahasa persatuan rusak justru oleh perilaku bangsa sendiri.

Sebutan Peringatan HUT Pernikahan

Setiap pasangan yang telah menikah, pasti akan memperingati ulang tahun pernikahannya setiap tahun. Dirayakan dengan pesta ataukah tidak tergantung dari yang bersangkutan. Ada yang memperingatinya setiap tahun dengan perayaan-perayaan tertentu sebagaimana orang memperingati ulang tahun kelahiran.

Perayaan atau peringatan ulang tahun pernikahan ini kalau di dalam agama Islam memang tidak ada dasarnya sehingga hal itu oleh sebagian muslim dianggap sebagai hal yang biasa saja. Akan tetapi bagi masyarakat pada umumnya, pernikahan dianggap sebagai tonggak sejarah baru bagi kehidupan yang dijalaninya. Peristiwanya kemudian dijadikan sebagai suatu hal yang luar biasa dan layak untuk diperingati.

Tahukah Anda, bahwa peringatan hari ulang tahun pernikahan tersebut ternyata tidak muncul begitu saja. Ada sedikit sejarah yang melatarbelakangi munculnya perayaan peringatan ulang tahun pernikahan atau perkawinan. Berawal dari sebuah buku yang ditulis dan dipublikasikan oleh seseorang, dari situlah kemudian muncul istilah kawin perak, kawin emas dan sebagainya.

Pada tahun 1659, John Evelyn menulis buku mengenai pesta ulang tahun pernikahan dengan judul “Diary”. Kemudian Samuel Pepys juga menulis buku serupa, namun fokusnya mengenai pesta kawin perak, yaitu pesta peringatan yang telah berlangsung setelah perkawinan berusia 25 tahun. Tulisan itu selanjutnya dipublikasikan pada tahun 1806 oleh Anna Letina Barbauld yang juga menulis tentang kawin perak.

Selanjutnya pada tahun 1860, di Inggris dipublikasikan mengenai kawin emas. Peringatan pernikahan yang telah berlangsung selama 50 tahun. Selang beberapa waktu kemudian yaitu tahun 1872 pesta kawin intan menyusul sebagai peringatan bagi pasangan yang telah menikah selama 60 tahun. Sejak itulah ulang tahun pernikahan diperingati oleh segenap masyarakat.

Belakangan muncul pula istilah atau sebutan untuk memperingati ulang tahun pernikahan mulai dari yang pertama hingga pada bilangan tertentu. Di bawah ini adalah sebutan untuk peringatan ulang tahun pernikahan ke :

  1  = kawin kertas
  2  = kawin kapas / mori
  3  = kawin kulit
  4  = kawin buah-buahan / bunga / buku
  5  = kawin kayu / balok
  6  = kawin besi
  7  = kawin tembaga / kuningan
  8  = kawin karet
  9  = kawin gerabah
10 = kawin aluminium
11 = kawin baja
12 = kawin sutera / linen / nilon
13 = kawin renda
14 = kawin gading
15 = kawin kristal

Selanjutnya peringatan ulang tahun pernikahan yang ke :

20 = kawin cina
25 = kawin perak
30 = kawin mutiara
35 = kawin jade / karang / koral
40 = kawin rubi
45 = kawin saphire
50 = kawin emas
55 = kawin zamrud
60 = kawin intan

Nah, sudah sampai peringatan yang ke berapa pernikahan Anda???

Perang

Perang merupakan bencana besar yang terjadi di muka bumi ini. Dampaknya sudah pasti, kehancuran terjadi dan umat manusia mengalami penderitaan berkepanjangan. Dimanapun dan kapanpun terjadi perang, untuk memulihkan kondisi seperti sebelumnya sangat sulit dilakukan. Perlu waktu yang panjang dan biaya yang besar.

Perang sudah dilakukan manusia sudah sejak beberapa abad yang lalu. Dan nama tokoh-tokohnya pun banyak yang menghiasi cerita-cerita sejarah. Di buku sejarah, ensiklopedia, surat kabar dan buku-buku lain banyak nama tokoh disebutkan di situ terkait dengan peperangan yang pernah dilakukannya.

Jaman Nabi Muhammad SAW, perang melawan kaum kafir Quraisy sering dilakukan. Bahkan sepeninggal Rasulullah pun masih terjadi perang diantara pengikut-pengikutnya. Baik perang melawan kaum kafir yang dekat dengan wilayah kekhalifahan maupun perang dengan wilayah yang jauh letaknya. Perang antara kaum muslimin dengan Romawi pun pernah dilakukan. Padahal letak Romawi sangat jauh dari negeri Arab. Waktu itu kendaraan yang digunakan hanya kuda, onta atau gajah.

Perang juga banyak berkecamuk di daratan Eropa. Napoleon Bonaparte merupakan tokoh perang dari Perancis yang termasyhur saat itu. Kemenangan demi kemenangan selalu diraihnya saat menaklukkan musuh-musuh. Selain dari Perancis, tokoh sekaliber Adolf Hittler juga merupakan sosok yang ditakuti oleh lawan. Pengaruhnya pada tentara yang dipimpinnya sangat kuat. Tujuan utama tokoh Nazi ini membasmi kaum Yahudi dari muka bumi. Tentara Nazinya memang sangat kuat dan dahsyat membuat lawan takluk. Meski akhirnya Nazi kalah, namun nama Hittler tetap tercatat sebagai tokoh yang menggemparkan.

Perang Dunia ke-2 tercatat sebagai perang yang paling menimbulkan penderitaan bagi umat manusia setelah dijatuhkannya bom atom oleh Amerika di kota Hiroshima dan Nagasaki. Akibatnya banyak yang mengalami cacat seumur hidup akibat radiasi. Di samping ribuan orang tewas seketika. Hal ini menyebabkan Jepang langsung menyerah tanpa syarat kepada sekutu.

Di Indonesia, sudah sejak ribuan tahun silam perang selalu terjadi. Pada masa kerajaan-kerajaan Hindu berkuasa ataupun kerajaan Budha seperti Sriwijaya kita sudah mendengar betapa kuat angkatan perang yang dimiliki oleh kerajaan. Tujuan utama untuk memperluas wilayah kerajaan. Bahkan perang saudara yang terjadi di Majapahit justru menghancurkan kerajaan itu sendiri dari kebesaran yang telah melekat sejak masa pemerintahan Raden Wijaya.

Pada masa kerajaan Islam, perang dilakukan untuk mengusir penjajah kolonial dari bumi Indonesia. Negeri kita dijajah selama 350 tahun dan selama itu pula perjuangan melawan penjajah dilakukan tiada henti. Berbagai wilayah di Indonesia memiliki tokoh-tokoh perjuangan tersendiri. Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Pattimura, Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro dan pahlawan perjuangan yang lain adalah tokoh-tokoh daerah. Mereka pemimpin perjuangan dalam mengusir penjajah.

Perang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia juga berkecamuk setelah proklamasi 17 Agustus 1945. Demikian pula perang melawan pemberontak di berbagai daerah di Indonesia yang merongrong pemerintahan. Semua pemberontak yang melawan pemerintah berhasil digagalkan.

Memasuki bulan Ramadhan, kaum muslimin pun melakukan perang, perang yang sudah ada di depan mata. Perang melawan hawa nafsu dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Perang yang disebut-sebut Nabi Muhammad SAW sebagai perang yang lebih besar daripada Perang Badar. Di bulan Ramadhan kaum muslimin berpuasa menunaikan perintah Allah sebagai jalan untuk membersihkan diri dari segala dosa dan kesalahan. Insya Allah dengan melakukan puasa Ramadhan, kita akan kembali kepada fitrah.

Di bulan Ramadhan ini pula segala amal kebaikan dan ibadah akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat  sampai 700 kali lipat serta dosa-dosa  diampuni oleh Allah SWT. Tegakkan diri, kuatkan hati dengan niat suci untuk berperang melawan hawa nafsu.

Mari kita persiapkan diri lahir dan batin. Mensucikan seluruh jiwa dan raga  menyambut datangnya Bulan Ramadhan dan mengisi bulan Ramadhan, bulan yang sangat mulia di sisi Allah SWT.

Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Mulai malam ke 21 di bulan Ramadhan, orang-orang mulai melakukan apa yang dinamakan I’tikaf. Tujuan melakukan ibadah ini biasanya adalah mencari suatu malam yang paling mulia atau malam Qadar (Lailatul Qadar). Di sebagian masyarakat sering dikenal dengan tradisi selikuran.

Apabila seseorang dianugerahi kemuliaan oleh Allah dengan kata lain mendapatkan Lailatul Qadar maka dosa-dosanya diampuni dan ia memperoleh kemuliaan yang berlipat ganda. Ibadah yang dilakukan pada malam Qadar ini nilainya lebih baik dari ibadah selama 1000 bulan atau kurang lebih 83 tahun (QS. Al Qodar : 1-5)

Subhanallah….

Rasulullah SAW pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan menggiatkan ibadah dengan mengajak seluruh keluarga beliau untuk melakukan I’tikaf di masjid. Demikian pula kita hendaknya juga semakin meningkatkan ibadah kita. Jangan malah loyo atau lemes, justru di sinilah ujian beratnya. Menghidupkan malam di sepuluh hari terakhir sangat dianjurkan.

Kita bisa mengisinya dengan bertadarus Al Qur’an, berdzikir, memperbanyak shalat sunnah, bersedekah, mengkaji ilmu-ilmu agama dll ibadah yang bernilai positif. Insya Allah semua itu akan mendapat balasan dari Allah. Meskipun demikian harapan akan bertemu dengan Lailatul Qodar adalah merupakan tujuan utama bagi setiap orang sehingga banyak yang rela mengurangi tidur pada malam harinya.

Barangkali dalam pengertian banyak orang bahwa Lailatul Qodar akan turun pada satu malam terutama di malam-malam ganjil antara malam ke 21 sampai 29 Ramadhan. Otomatis banyak yang mencarinya hanya pada malam tersebut sedangkan malam genapnya kembali dengan kebiasaan semula tidur nyenyak. Lalu bagaimana jika terdapat perbedaan awal puasa?

Kita tidak tahu pasti kapan turunnya malam kemuliaan tersebut, karena hal itu merupakan rahasia Allah dan hanya Dia yang berhak mempertemukan seseorang dengan Lailatul Qodar. Begitu pula mengenai waktunya tak seorang pun yang tahu persis pada jam berapa. Hal ini sesungguhnya menunjukkan bahwa kita harus siaga setiap saat jika ingin memperoleh kemuliaan tersebut. Bukan hanya berjaga pada saat tertentu saja. Kebanyakan orang jaman sekarang maunya yang instant dan mudah tanpa usaha keras untuk memperolehnya.

Begitu pun dengan malam Qodar, yang bisa didapatkan oleh orang yang selalu siaga dan berjaga-jaga jauh hari di awal Ramadhan, insya Allah. Ketika sepuluh hari terakhir tiba maka ia tinggal meningkatkan intensitas ibadahnya saja. Bukankah tidak ada jaminan bahwa Lailatul Qodar itu turun hanya di malam yang ganjil saja?

Sejak awal Ramadhan ada orang yang sudah memperbanyak amalan dan ibadah. I’tikaf sudah dilakukan sejak hari pertama puasa, begitu pula tadarus Al Qur’an, dzikir, sedekah, zakat, shalat tarawih maupun shalat sunnah lainnya dan terakhir tinggal menghidupkan malam sampai berakhirnya Ramadhan.

Yang kita tak tahu adalah kapan akan memperoleh keberuntungan tersebut padahal kita begitu menginginkannya. Namun apa yang kebanyakan orang lakukan? Biasanya orang masih malas sejak awalnya karena berpendapat bahwa malam ke 21 itu masih jauh. Masih ada kesempatan untuk bermalas-malasan, toh jika sepuluh hari terakhir tiba maka banyak orang yang berduyun-duyun ke masjid untuk beri’tikaf. Saat itulah orang lantas kelabakan mempersiapkan diri. Sedangkan bagi yang sudah terbiasa menghidupkan malamnya sejak awal puasa maka ia tidak akan kaget lagi.

Siapapun boleh memohon apa saja kepada Allah, namun di sepuluh hari terakhir ini yang paling tepat adalah bermohon ampun kepada Allah atas segala dosa-dosa yang telah dilakukan. Dalam I’tikaf hendaknya juga direnungi apa saja yang telah kita lakukan sebagai langkah evaluasi diri dalam rangka membentuk pribadi yang berkualitas. Apakah amal baik yang kita lakukan sudah maksimal ataukah perbuatan buruk yang justru lebih banyak kita kerjakan.

Semoga doa kita dikabulkan Allah SWT dan iman serta ketaqwaan kita pun semakin meningkat.

Allahumma Innaka Afuwwun Kariim Tuhibbul Afwa Fa’fuanni……

(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun maka ampunilah segala dosa dan kesalahan hambaMu ini)

Doa tersebut merupakan doa yang sering dibaca ketika melakukan I’tikaf terutama di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Demikian yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya.

Nah, tidakkah Anda ingin memperoleh malam yang lebih baik dari 1000 bulan….?

Ritual Dan Tradisi Di Bulan Sura

Beberapa waktu yang lampau tulisan ini pernah tampil di blog saya yang sampai sekarang masih terkunci rapat. Diantara pembaca mungkin ada yang sudah pernah mengikutinya waktu itu. Kini saya posting kembali sekedar untuk mengajak pembaca baru menikmati tahun baru Jawa dengan berbagai ritualnya itu.

Tahun baru Hijriyah 1 Muharam bertepatan dengan tahun baru Jawa 1 Sura. Hal ini bisa terjadi karena tahun Jawa adalah kalender yang diciptakan oleh Sultan Agung adalah hasil adaptasi dengan kalender Hijriyah, sedangkan tahunnya meneruskan tahun saka. Jadi sampai kapanpun tahun baru Hijriyah dan tahun baru Jawa besar kemungkinan akan terus terjadi secara bersamaan waktunya.

Pergantian tahun bagi masyarakat Jawa, terutama penganut paham kejawen tidak identik dengan keramaian. Berbeda dengan pergantian tahun lainnya, maka malam 1 Sura ini justru diperingati secara tenang dan hening. Tidak nampak acara-acara atau pesta peringatan yang sifatnya hura-hura. Meskipun demikian aktivitas masyarakat yang berpaham kejawen bukannya tidak ada. Ternyata, banyak yang melewatkan malam pergantian tahun dengan laku tirakat atau ritual tertentu. Aktivitas ini tidak hanya dilakukan oleh penganut paham kejawen saja. Tak sedikit masyarakat umum yang mengikuti tirakat pada malam 1 Sura dengan laku yang berbeda. Demikian juga dengan tujuan, tempat maupun kepentingannya.

Di Jogja dan sekitarnya, laku tirakat yang sering dilakukan masyarakat paling banyak adalah mendatangi Gunung Merapi dan pantai selatan, yaitu Pantai Parangkusumo. Ini berkaitan erat dengan penguasa pantai selatan yang dikenal sebagai Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul.

Selain di pantai selatan, ada yang melakukan kungkum (berendam) semalam suntuk di sungai besar atau di muaranya. Terutama Kali Opak, sungai yang alirannya langsung menuju pantai selatan sering di datangi orang. Namun ada juga yang bertapa di goa-goa, di hutan atau tempat lain yang dianggap sakral. Bahkan ada yang melakukan ritual mandi setahun sekali yang pelaksanaannya bertepatan dengan tanggal 1 Sura bagi orang tertentu.

Sementara itu di malam 1 Sura orang pada mubeng benteng, yaitu berjalan mengelilingi benteng kraton dengan ritual tapa bisu atau tidak berbicara sedikitpun sampai ritual selesai. Ritual lainnya adalah puasa ngebleng tanpa makan dan minum selama 40 hari sejak tanggal 1 Sura. Memang, bervariasi orang melaksanakan ritual dengan cara dan kebiasaan masing-masing.

Di samping ritual yang dilakukan oleh masyarakat, Kraton Jogja, Surakarta dan beberapa kraton lainnya menggelar upacara jamasan pusaka, seperti kereta, keris, tombak dan pusaka-pusaka lain. Jamasan atau memandikan pusaka kraton ini pasti didatangi oleh banyak orang. Tujuannya adalah mengambil sisa air yang digunaan untuk jamasan yang diyakini akan mendatangkan berkah.

Di makam raja-raja Mataram Imogiri ada tradisi menguras enceh (gentong) pusaka yang terletak di depan makam. Airnya habis diperebutkan oleh orang banyak yang juga diyakini mampu mendatangkan berkah bagi yang mendapatkannya. Sisa air ini kemudian digunakan untuk berbagai keperluan. Misalnya digunakan untuk mandi, dibuang ke sawah dan lain-lain sampai ada yang diminum segala.

Di bulan Sura ini pula jarang orang berani menyelenggarakan hajat besar seperti perkawinan misalnya. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, bulan Sura adalah bulan yang tidak baik untuk melangsungkan hajat apapun. Wajar saja kiranya karena sebagian besar masyarakat Jawa menganggap bahwa bulan Sura adalah bulan yang sangat sakral. Takut terjadi kenapa-napa kalau nekat menggelar hajat. Bagi yang meyakininya, adalah jauh lebih penting ngalap berkah ke kraton atau tempat lain yang mengelar upacara. Tradisi yang sudah berjalan dari waktu ke waktu sejak jaman Mataram Islam dulu. Sedangkan hajat pribadi bisa dilangsungkan di luar bulan Sura.

Jika tahun baru Masehi atau Imlek disambut dengan perayaan atau keramaian yang terkesan penuh dengan hura-hura, beda sekali dengan tahun Jawa. Kesan yang muncul adalah penuh dengan nuansa spiritual, magis, hening dan tenang.